Archive | Sukses, Tidak Harus Kaya

Kisah 2 Manusia Super Ibukota

Posted on 31 January 2011 by novalramsis

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita orang – orang super dalam keindahan hari ini.
Mereka makhluk – makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira – kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar – lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Om…!” Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki – laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi – lagi sayup – sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.

Ketika melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit Jakarta. “Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. “Maaf, nggak ada kembaliaanya. .. ada uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. “Om boleh tukar uang nggak,
receh sepuluh ribuan…? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya, tungkas saya…!” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik…!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, gak apa – apa ambil saja…!” namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan.. !” Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.

Mereka menghampiri saya dan berujar “Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!”. “Eeeeh.. nggak usah… nggak usah… biar aja…, nih…!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, “Nanti dulu om, biar ditukar dulu… sebentar”. “Nggak apa – apa…, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan… jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga” anak Itu bersikeras. “Sudah nggak apa – apa…. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh Om …. kalau kelamaan, maaf ya…” ia memberikan saya 8 pack tissue. “Lho buat apa…?” saya terbenggong. .
????“Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu” Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya.

Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan. “Terima kasih Om…!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup – sayup terdengar percakapan.. ..”Duit Mbak tadi bagaimana ya..?” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja kita ketemu lagi ntar kita berikan uangnya” Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribuperasaan.

Ya ALLAH …. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta tap dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia. Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain…. “Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

‘YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO’

‘ENGKAU HANYA SEMULIA YANG ENGKAU KERJAKAN’

*) Diambil dari sebuah pesan BlackBerry Messenger

terimakasih pak Kun IndoNLP


Share

Comments (0)

GURUKU SEORANG TUKANG BECAK

Posted on 05 September 2010 by adibustaman

Takbir bergema membuatku merinding. Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilahaa Illallaha, Wa Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu.

Aku menunggu istri dan anakkku yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri 1428 H bersama dengan warga Muhamadiyah. Aku sendiri duduk di luar Stadion, berkumpul dengan para Polisi yang sedang bersiaga mengamankan jemaah Muhamadiyah yang akan melaksanakan Sholat Idul Fitri tersebut. Aku sendiri masih puasa karena baru akan melaksanakan sholat Idul Fitri keesokan harinya bareng bersama dengan warga Nadhiyin.

Ketika sholat dan khotbah selesai dilakukan, berduyun-duyun jemaah berjalan keluar dari Lapangan. Mataku tertuju pada seorang tua yang agak kurus, dengan sarung dan kopiah hitam. Wajahnya tampak teduh dan putih, dahinya seekan-akan bercahaya lalu menuju ke becak. Lalu Bapak tua itu melepas sarung dan kopiah hitamnya dan kembali bercelana pendek, dan mengayuh becaknya dan lalu berhenti didepan pintu gerbang. Ternyata di pintu gerbang sudah menunggu, dua wanita, yang seorang sudah tua seumur dengannya dan yang satunya masih muda. Dari raut wajah ketahuan bahwa yang muda itu adalah anaknya sedangkan yang tua itu adalah istrinya Ternyata mereka bertiga pergi jamaah sholat Idul Fitri dengan naik becak, sedangkan yang lainnya banyak yang naik mobil mewah.

Ketika ku perhatikan lagi, ada sesuatu yang lain dari Pak Tua itu, wajah yang teduh, dengan senyum yang selalu mengembang, membuat hatiku tergetar. Ya Allah, Engkau telah memberikan sedemikian banyaknya nikmat kepadaku, dibandingkan Pak Tua itu, tetapi kenapa aku masih belum bisa bersyukur kepada-Mu.

Kubandingkan diriku dengan Pak Tua itu, Pak Tua yang sudah tua berumur 60 tahuan, sedangkan aku masih muda berumur 37 tahun, tetapi di dalam dada ini masih bersemayam kesombongan-kesombongan, emosi, ego dan harga diri. Sedangkan Pak Tua itu, meskipun sudah mulai uzur tapi masih dengan semangat pergi Sholat Idul Fitri dengan pakaian yang sederhana dan hanya dengan naik becak tua bersama dengan istri dan anaknya.

Aku masih ingat kata-kata Pak Tua itu ketika akan pulang, “Monggo Mas, kulo wangsul riyin, ngaturaken sugeng riyadi, lahir batin Mas”, (Mari Mas, saya pulang dulu. Selamat lebaran, minta maaf lahir dan batin), sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak kenal dengan dia, tapi ketika dia pulang dengan mengayuh becak masih sempat mengucapkan pamit kepadaku yang kebetulan duduk didekat becaknya. Pak Tua itu segera mengayuh becaknya, dengan damainya dan sesekali menyapa jemaah yang berpasan dengannya, dan mataku pun mengikuti becaknya sampai becaknya berbelok dan tidak kelihatan lagi.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengutus makhluk-Mu untuk mengajar diriku, Engkau telah membuka mataku melalui Pak Tua, tukang becak itu. Pak Tua itu telah mengajariku untuk selalu senyum, rendah hati dan sabar.

*) Artikel Diambil dari http://muchtohar.wordpress.com/guruku-tukang-becak/

**) Foto diambil dari http://www.treklens.com/gallery/photo183951.htm

Share

Comments (1)

KISAH DUA TUKANG SOL

Posted on 03 June 2010 by novalramsis

(kisah fiksi, yang diambil dari realita)

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Ditengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukang sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Share

Comments (1)

IDEALISME ITU BUTUH ONGKOS

Posted on 23 May 2010 by novalramsis

Gol A Gong, Novelis dan Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat:
Idealisme Itu Butuh Ongkos

dikutip dari Koran Tempo

Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong adalah figur yang selalu menolak menyerah kepada keterbatasan. Pendiri taman bacaan Rumah Dunia (www.rumahdunia.net) yang berbasis di Serang, Banten, ini tak pernah berhenti mengejar impiannya: menjadikan bacaan bagian dari kultur masyarakat. Pengarang serial legendaris Balada Si Roy ini percaya, membaca adalah basis bagi kemajuan masyarakat.

Dengan segala keterbatasan yang harus ia sandang, dari ketidaksempurnaan fisik (tangan kirinya diamputasi saat ia berusia 11 tahun) hingga dana yang pas-pasan, ia menggerakkan Rumah Dunia menjadi sumbu gerakan literer masyarakat Serang dan sekitarnya. Dari Rumah Dunia kemudian lahir bakat-bakat penulis andal.

Akhir Februari lalu, Gol A Gong dipercaya menakhodai Forum Taman Bacaan Masyarakat, sebuah forum yang menghimpun tak kurang dari 5.000 taman bacaan di Indonesia. Ia mesti menjalankan organisasi itu di tengah deraan penyakit hernia nukleus pulposus yang diidapnya sejak 2005.

Akhir pekan lalu Gol A Gong kembali meluncurkan Balada Si Roy, novel yang pernah booming di era 1980-an itu, dengan sejumlah tujuan. Ia ingin memberikan bacaan alternatif di tengah serbuan bacaan remaja yang dinilainya lembek. “Laki-laki itu harus macho,” kata dia. Gol A Gong yakin novelnya, yang mengisahkan petualangan remaja mandiri bernama Si Roy, masih relevan untuk era kini.

Ditemui Akbar Tri Kurniawan dan fotografer Yosep Arkian dari Tempo, Kamis lalu, Gol A Gong terlihat segar. Di tengah guyuran hujan deras di kediamannya di Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten, Gol A Gong bersemangat mengudar pikiran dan gagasan-gagasannya.

Apa alasan Anda meluncurkan kembali Balada Si Roy (BSR)?

Saya luncurkan kembali setelah 20 tahun karena permintaan pembaca. Tidak diduga mereka ingin mengoleksi lagi. Hal lain, untuk memotivasi penulis-penulis muda. Saya juga membutuhkan modal untuk menerbitkan buku-buku mereka (penulis Serang) lewat Gong Publishing, salah satu lini usaha Rumah Dunia.

Anda tahu dari mana soal permintaan BSR itu?

Facebook, e-mail (surat elektronik), ada yang mengirim SMS (pesan pendek). “Ayo dong diterbitkan lagi.” Lalu saya umumkan, akan neh tapi print on demand (dicetak setelah ada pemesanan) untuk 1.000 orang. Ternyata yang memesan sekitar 500. Saya buka akhir Februari. Sabar saya tunggu, terus saja, saya sendiri tidak tahu kapan akan diterbitkan. Akhirnya, Sabtu (15 Mei) kemarin, memperingati hari kebangkitan buku, saya luncurkan kembali. Alhamdulillah, dukungan para pembaca bagus.

Ada yang ditambahkan di BSR kedua?

Hanya ada tambahan esai orang yang menulis tentang BSR. Ada bab testimoni, komentar di grup Facebook BSR. Menunya jadi lebih variatif. Total jadi 600 halaman.

Menurut Anda, tema yang diangkat dalam BSR masih relevan untuk sekarang ini?

Awalnya saya juga bilang begitu. Tetapi lalu ada anak muda dari Solo (Jawa Tengah), namanya Anggit, umur 19 tahun. Dia bela-belain datang ke sini sekitar akhir tahun lalu. Sebelumnya kami tidak saling kenal. Dia bercerita, suatu hari mencari sebuah buku di pasar loak. Tetapi yang ia temukan buku BSR seri keempat berjudul Bad Days. Menurut dia, (buku itu) membangkitkan semangat dia. Mata kiri dia ini buta akibat kecelakaan. Lalu dia memburu dari yang pertama sampai ketiga, dan mencari karya-karya saya. Saya tanya, “Emang masih relevan?” Kata dia, masih, kalau dibaca orang di luar Jakarta. Orang-orang kampung menilai BSR masih bagus. Kecil kemungkinan orang metropolis yang tidak mengenal sungai-gunung untuk menyukai Roy. Kehadiran Anggit meyakinkan saya, BSR masih relevan.

Ada contoh lain?

Ada seorang perempuan yang aktif di Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam). Menurut saya, dia ini generasi kedua, kalau Anggit generasi ketiga dari BSR. Dia datang ke sini memborong 35 buku BSR untuk anak-anak Mapala UI (Universitas Indonesia).

Dulu, apa yang membuat Anda berhenti melanjutkan BSR?

Ada komentar miring yang berasal dari orang tua. Ini yang membuat saya berhenti menulis BSR. Pada 1994, banyak orang tua datang ke saya. Mereka cerita, anak-anaknya keluar dari sekolah (setelah membaca BSR). Ada juga anak-anak datang ke rumah, cerita dengan bangga tidak naik kelas seperti Roy. Padahal BSR ini kan ideologinya keluar dari sekolah karena tak punya guru inspiratif. Dia merasa jadi korban kurikulum kala itu. Sekolah itu tidak diajari pintar, hanya statistik. Itu yang saya mau dobrak. Kalau mau belajar sosiologi, pergi saja ke luar, gabung sama tukang becak. Belajar marhaen, pergi saja ke petani.

Ideologi perlawanan itu kemudian diterima remaja kala itu….

Pada awalnya saya suka. Ideologi saya masuk, menggiring anak sekolah pada kehidupan. Tapi, ketika bertemu orang tua di suatu kota, atau memprotes lewat surat, mereka mengingatkan kembali tentang pertanggungjawaban. Lalu saya konsultasi ke orang tua, dan berhenti. Padahal masih ada peluang (melanjutkan).

Dan Anda memutuskan menghentikan serial itu?

Saya ini berasal dari keluarga yang berkecukupan secara moril. Kami berdiskusi di meja makan. Punya moto hidup sederhana: kalau lebih, ya, membantu. Ketika masuk dunia penulis, pesan orang tua: “Tulislah hal yang baik.” Kalau kita menulis yang jelek, akan membebani, lalu akan ada pertanggungjawaban. Saya ini tidak taat agama, tapi rupanya ini mempengaruhi dan membebani saya.

Sebenarnya bagaimana figur Roy yang Anda bentuk?

Roy itu di wilayah abu-abu. Tokoh Roy itu manusiawi saja seperti kebanyakan remaja Indonesia. Kalau ditolak cewek, patah hati, mabuk, lalu tobat lagi. Tapi Roy adalah remaja yang melawan ketidakadilan. Kala itu remaja Indonesia seperti itu. Mau baca buku Pram (Pramoedya Ananta Toer) dilarang. Memang banyak yang kecewa buku ini dihentikan.

Anda sendiri memang ingin menghentikannya?

Biarlah sampai di situ. Setelah menulis BSR juga muncul dampak-dampak positif. Misalkan, (ada yang) keluar dari ketergantungan obat. Ada yang semangat bekerja di outdoor, misalkan di hutan. Ini membuktikan pembaca Roy beragam. Saya senang orang mengambil spiritnya.

Tidak tergoda menulis Roy lagi melihat larisnya tetralogi Laskar Pelangi, misalnya?

Saya sudah mengalami (kesuksesan) semacam itu. Masa itu cukup bagus, dengan akses toko buku yang sedikit. Itu sulit diulang. Buku-buku saya paling cetakan ketiga. Setiap masa ada orangnya (penulis hebat) masing-masing. Andrea Hirata juga meyakini dia tidak akan mampu mengulang lagi. Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-ayat Cinta) juga. Juga sebelum saya, Ali Topan. Pasti nanti ada lagi giliran orang lain. Saya yakin ada lagi. Mudah-mudahan adik-adik di Rumah Dunia.

Anda terdengar ingin realistis….

Godaan itu ada. Tetapi saya tahu diri, harus realistis. Itu proses alam kemampuan berpikir. Orang selalu beranggapan membuat buku itu tidak mengerahkan pikiran, energi, waktu, dan sebagainya. Saya kira saya sudah mendapatkan kesempatan itu. Dan kesempatan itu tidak datang dua kali.

Peluncuran BSR kembali ini sebagai respons atas bacaan remaja sekarang yang didominasi chick lit?

Waktu saya menulis BSR memang dengan maksud itu. Sekarang menerbitkan lagi juga dengan maksud itu. Mudah-mudahan yang membeli itu memberikan kepada keponakannya, adiknya, anaknya. Entah bagaimana sirkulasi buku ini.

Mengapa Anda memiliki maksud seperti itu?

Ada satu kecemasan saya, karena saya pernah di media massa, bagaimana (kerja) industri ini. Kita sebagai generasi muda dilemahkan oleh globalisasi, dengan iming-iming modernisasi. Kita ini tidak kuat dari segi kurikulum pendidikan. Jati diri kita tidak kuat. Orang tua cenderung konsumtif sehingga anak-anaknya dibiarkan tidak memiliki karakter. Tentu itu mencemaskan, (apalagi) saya sekarang menjadi orang tua. Saya rasa ini kecemasan hampir (ada pada) semua orang tua, bagaimana anaknya menjadi anak rumahan. Teknologi, di satu sisi, melemahkan generasi muda di negara berkembang. Ini saya terapkan di sini. Saya tidak anti-asing. Tapi, kalau kita tinggal di Indonesia, kita harus kuat.

Toh, di di era globalisasi ini pula tidak sedikit siswa Indonesia berprestasi di perhelatan internasional?

Anak-anak saya sekolah di sekolah konvensional, begitu saya mengistilahkan. Biar ada sekolah alternatif di sini, saya coba sekolahkan mereka ke sekolah itu. Ternyata mereka ingin pindah ke sekolah alam, terbuka, tidak ada dinding. Padahal anak saya sudah kelas tiga, terpaksa turun lagi ke kelas dua. Beberapa orang tua, ketika mendengar anak-anak saya sekolah di sana, ikutan pindah. Lalu saya ditanya mana yang bagus. Ini selera.

Anda kritis terhadap sekolah “konvensional”?

Saya tidak menyebut konvensional itu jelek, banyak orang sukses dari cara itu. Saya juga termasuk produk itu. Orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya di sekolah konvensional, tapi di rumah disediakan buku-buku. Kalau mau mengukur, seharusnya sukses semua. Kenapa sedikit yang sukses? Karena kita ini cuma user, epigon, gurunya tidak inspiratif, kurikulumnya tidak membebaskan, mengekang. Seharusnya sekolah konvensional harus lebih sukses. Tapi sayang, ukuran kesuksesan itu dari lomba. Di kita, ini selalu dilombakan. Juara-juara di event-event internasional itu kan lomba. Aplikasinya seperti apa? Orang-orang digiring ke statistik, angka, juara-juara.

Anda menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Apa yang bisa Anda lakukan dengan posisi itu?

Saya menyadari masih ada yang berpikiran menjalankan TBM itu berbasis proyek, seremonial, kunjungan ke sana kemari. Saya langsung bikin perubahan. Saya minta ketua umum di masing-masing kota provinsi harus punya TBM. Mereka harus menggali potensi bacaan masyarakat, dana, fund raising. Kalau tidak, coret! Kebanyakan jualannya proposal. Pidato pertama saya mengatakan kita harus pakai otak kanan. Mulai sekarang tidak ada lagi gaya-gaya birokrat. Mulai sekarang kita harus mengelola TBM ini (secara) gila, harus informal.

Forum TBM konon mencanangkan Gerakan Literasi. Apa maksudnya?

Problem utama Indonesia itu adalah pendidikan. Partisipasi kami secara informal lewat TBM. Bagaimana mengaktifkan TBM dalam bentuk kegiatan literasi. Orang menganggap literasi itu sekadar mengeja. Ini harus diubah. Teater juga kegiatan literasi, tapi fasenya lebih tinggi. Kalau orang Indonesia masih mengurus ejaan, kita akan tertinggal terus. Diknas ini mempermasalahkan akan banyak orang yang kembali buta huruf. Nah, TBM ini memfasilitasi. Yang sudah tidak buta aksara digiring agar tidak buta informasi. Mereka harus dimulai misalkan lomba menulis puisi. Di Rumah Dunia, sudah ada semua itu. Ini yang dinamakan Gerakan Indonesia Membaca. Sehingga ada gempa-gempa literasi di kota-kota Indonesia.

Selemah apa sih budaya membaca di Indonesia ini?

Setelah 10 tahun ini, saya makin yakin aksesnya yang sulit. Tahun 1980-an sulit, karena jarang toko buku. Misalkan di sekolah saya di Serang, hanya tiga orang yang berani mendatangi Kompas dan majalah Haiuntuk mengirim puisi. Pemerintah tidak mampu memfasilitasi ini. Minat membaca masyarakat (sebenarnya) ini tinggi. Di perpustakaan juga begitu, jarang buku sastra, novel. Padahal di sana kita bisa belajar sosiologi dan filsafat.

Dari mana budaya membaca itu harus dimulai?

Membaca ada tingkatannya. Anak kecil tidak perlu dibebani membaca yang berat. Mereka bermain saja. Tapi orang tua mengajari, caranya orang tua harus membaca. Nanti berjalan alami mereka akan ikut. Saya tidak suka dengan yang terjadi di Singapura. Di sana mereka membaca sampai bikin individualis. Menjadi asosial.

Rumah Dunia didirikan untuk mewujudkan idealisme Anda itu?

Tahun 1992-1993, saat saya jadi wartawan, saya melihat Sekolah Muthahari, miliknya Jalaluddin Rahmat. Saya ingin bikin seperti itu. Nah, sekarang jadi Rumah Dunia. Idealisme itu butuh ongkos. Saya sudah mencari donor. Sekarang kami mengais-ngais di sini. Cara kreatif untuk mendapatkan dana salah satunya ini (menerbitkan buku). Anak-anak di sini tidak saya bebani memikirkan operasional, sekarang mereka bertumbuhan.

Apakah masa lalu kuat mempengaruhi diri Anda? Seperti apa?

Orang tua selalu memberitahukan gajinya. Pertama yang dipotong adalah untuk orang lain, 2,5 persen untuk orang lain. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayah juga punya perpustakaan, tapi tidak memaksa untuk membaca. Ayah saya sedikit bicara, dia mencontohkan dengan tindakan. Misalkan ketika dia membuat kolam. Saya bingung buat apa. Tapi ketika mulai besar, saya belajar menangkap ikan. Ada ayam, ditanami pohon. Ayah saya ingin mengajari dengan cara meraba, memegang. Setelah cukup umur, dihancurkan dibuat yang lain yang sesuai umur.

Anda pernah bertualang menjelajahi Indonesia dan Asia. Apa yang Anda peroleh?

Saya melihat masyarakat bergotong-royong, memahami wisdom-nya. Saya pantang hanya melewati daerah. Harus dijelajahi. Berbeda dengan backpacker. Saya memilih tinggal dan bekerja mencari uang. Saya lihat orang baik dan jahat ada di mana-mana. Kita tidak perlu takut. Pada akhirnya itu menjadi instinct. Karena kita memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, kita bisa mencari solusi sendiri. Memang akan lebih bagus itu berpendidikan. Kelemahan saya, tidak berpendidikan.

Anda menyesal meninggalkan kuliah?

Saya agak sulit menjawab ini, kadang-kadang saya tergoda. Kalau saya bergelar, barangkali akan menjadi lebih mudah. Tapi memang jebakan-jebakannya berbahaya juga. Ternyata tidak bisa semua porsi itu diambil semua. Kalau ada yang seperti itu, luar biasa.

Orang tua Anda kecewa?

Ya. Karena saya cacat, orang tua berpikir saya harus memiliki kelebihan, yaitu pendidikan. Tapi saya justru berhenti.

Kini, dengan sakit yang ditanggung, bagaimana Anda beraktivitas?

Saya harus menggunakan neck collar (penyangga leher) untuk menopang leher saya. Tapi sekarang sudah tidak. Saya tidak boleh menulis terlalu lama. Kadang Tias yang menulis, saya yang mendikte. Duduk dan tidur pun tidak boleh salah posisi. Kalau salah duduk, bisa merasakan kesetrum lagi. Saya tidak menjalani pengobatan modern, setiap minggu saya harus terapi. Terapinya berendam di air panas, minum jus setiap hari. Saya sendiri berusaha senang, gembira, pokoknya yang melupakan sakit. Sering saya main hujan bersama anak-anak, menulis di Facebook untuk melampiaskan saja. Setiap pagi saya jalan-jalan.


BIODATA

Nama: Heri Hendrayana Harris
Nama pena: Gol A Gong
Tempat dan tanggal lahir: Purwakarta, 15 Agustus 1963
Istri: Tias Tatanka (dengan 4 anak)
Alamat: Kompleks Hegar Alam 40, Ciloang, Serang, Banten 42118
Pekerjaan: penulis
Jabatan lain:

  • Mantan wartawan di berbagai media massa
  • Asisten manajer di Banten TV
  • Direktur GONG Publishing
  • Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia
  • Penasihat Rumah Dunia.

KARYA:
Sebanyak 70 karya tulis, di antaranya:

  • Balada Si Roy (1989″1994, 2004, 2010)
  • Happy Valentine (1991)
  • Perjalanan Asia (1992)
  • Kutunggu di Yogya (1993)
  • Menulis Skenario Itu Gampang (1993)
  • Tembang Kampung Halaman (1992)
  • Surat (1995)
  • Langit Tak Lagi Mendung (1993)
  • Lukisan (2001)
  • Peni (2001)

Sinetron

  • Pada-Mu Aku Bersimpuh (2002)
  • Al Bahri (2002)
  • Keluarga Van Danoe (1996)
  • Ikhlas (1996)
  • Dua Sisi Mata Uang (1998)
  • Anak Gudang (2002)
  • Maharani (2002)
  • Luv (2002)

PENGHARGAAN:

  • Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2007)
  • Tokoh Perbukuan pada Islamic Book Fair (2007)
  • Anugerah Literasi World Book Day 2008 dari Komunitas Literasi Indonesia pada Hari Buku Internasional (2008)
  • XL Indonesia Berprestasi Award Bidang Pendidikan (2008)
  • Insan Peduli dari Radio Elshinta (2010).

Keliling Indonesia Bermodal Raket Badminton

Jiwa petualang dimiliki Gol A Gong sejak kecil. Dia memimpikan bisa berkeliling dunia setelah membaca novel Jules Verne, Keliling Dunia dalam 40 Hari. Sampai SMP, saban Sabtu-Ahad dan hari libur, dia berkeliling Banten dengan sepedanya. Pada 1987, ia mengelilingi Indonesia sendirian, dari Purwakarta sampai Irian Jaya. Dan selama sembilan bulan pada 1991-1992, ia berkeliling delapan negara Asia (Malaysia, Thailand, Burma, India, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal) dengan sepeda.

Petualangan benar-benar mengasahnya instingnya. Menurut dia, dengan memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, dia terbiasa mencari solusi sendiri. Ini dibuktikannya ketika kehabisan bekal dalam perjalanan keliling Indonesia, ia manfaatkan keterampilannya bermain bulu tangkis.

Sebagai juara kedua kejuaraan bulu tangkis se-Banten, Gol A Gong selalu membawa raket badmintonnya. Raket itu ia gunakan untuk menantang para atlet badminton di daerah yang ia singgahi. Sebelum bertarung, Gol A Gong dan lawannya bersepakat: yang kalah membayar. Dari cara ini Gol A Gong bisa mengantongi uang Rp 10-20 ribu.

Soal jagoan badminton se-Banten itu, bukan sekadar gertakan untuk calon lawannya. “Saya punya sertifikatnya,” ujarnya. Surat resmi itu juga sering dibawanya saat bertualang, supaya orang-orang yang ditantangnya percaya.

Gol A Gong memang punya beragam cara bertahan hidup dalam petualangannya. Selain menjual barang perlengkapannya, seperti pemutar kaset kecil, kamera, hingga menjual celana, dia kerap menjadi buruh cuci piring di warung-warung makan. “Upahnya makan gratis,” katanya. Kadang dia bernasib mujur, ditraktir orang yang bersimpati.

Untuk transportasi selama perjalanan, Gol A Gong selalu menumpang truk dan mobil pick-up. Dia juga kerap tidur di jalan, terminal, stasiun, dan pasar. Tapi, yang tidak pernah ia lupakan, dia selalu mengunjungi kantor pemerintah untuk meminta stempel sebagai tanda bukti bertamu di daerah tersebut. “Supaya tidak dicurigai,” ujarnya. Akbar Tri Kurniawan

 

Share

Comments (6)

KISAH TUKANG BAKSO

Posted on 21 May 2010 by novalramsis

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?

“Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”

“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?

Menurur saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri ebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.

“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Sahabat…..
Cerita perjalanan spiritual ini sangat sederhana dan jadi inspirasi. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amien……..

Dalam hadits Qudsi,
“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhari Muslim)

Share

Comments (10)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 256909Total dibaca:
  • 113403Total pengunjung:
  • 190Pengunjung hari ini:

Palanta Discussion Forum Schedule

May 2012
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031EC

 

Upcoming Discussion

  • No events.