Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong adalah figur yang selalu menolak menyerah kepada keterbatasan. Pendiri taman bacaan Rumah Dunia (www.rumahdunia.net) yang berbasis di Serang, Banten, ini tak pernah berhenti mengejar impiannya: menjadikan bacaan bagian dari kultur masyarakat. Pengarang serial legendaris Balada Si Roy ini percaya, membaca adalah basis bagi kemajuan masyarakat.
Dengan segala keterbatasan yang harus ia sandang, dari ketidaksempurnaan fisik (tangan kirinya diamputasi saat ia berusia 11 tahun) hingga dana yang pas-pasan, ia menggerakkan Rumah Dunia menjadi sumbu gerakan literer masyarakat Serang dan sekitarnya. Dari Rumah Dunia kemudian lahir bakat-bakat penulis andal.
Akhir Februari lalu, Gol A Gong dipercaya menakhodai Forum Taman Bacaan Masyarakat, sebuah forum yang menghimpun tak kurang dari 5.000 taman bacaan di Indonesia. Ia mesti menjalankan organisasi itu di tengah deraan penyakit hernia nukleus pulposus yang diidapnya sejak 2005.
Akhir pekan lalu Gol A Gong kembali meluncurkan Balada Si Roy, novel yang pernah booming di era 1980-an itu, dengan sejumlah tujuan. Ia ingin memberikan bacaan alternatif di tengah serbuan bacaan remaja yang dinilainya lembek. “Laki-laki itu harus macho,” kata dia. Gol A Gong yakin novelnya, yang mengisahkan petualangan remaja mandiri bernama Si Roy, masih relevan untuk era kini.
Ditemui Akbar Tri Kurniawan dan fotografer Yosep Arkian dari Tempo, Kamis lalu, Gol A Gong terlihat segar. Di tengah guyuran hujan deras di kediamannya di Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten, Gol A Gong bersemangat mengudar pikiran dan gagasan-gagasannya.

Apa alasan Anda meluncurkan kembali Balada Si Roy (BSR)?
Saya luncurkan kembali setelah 20 tahun karena permintaan pembaca. Tidak diduga mereka ingin mengoleksi lagi. Hal lain, untuk memotivasi penulis-penulis muda. Saya juga membutuhkan modal untuk menerbitkan buku-buku mereka (penulis Serang) lewat Gong Publishing, salah satu lini usaha Rumah Dunia.
Anda tahu dari mana soal permintaan BSR itu?
Facebook, e-mail (surat elektronik), ada yang mengirim SMS (pesan pendek). “Ayo dong diterbitkan lagi.” Lalu saya umumkan, akan neh tapi print on demand (dicetak setelah ada pemesanan) untuk 1.000 orang. Ternyata yang memesan sekitar 500. Saya buka akhir Februari. Sabar saya tunggu, terus saja, saya sendiri tidak tahu kapan akan diterbitkan. Akhirnya, Sabtu (15 Mei) kemarin, memperingati hari kebangkitan buku, saya luncurkan kembali. Alhamdulillah, dukungan para pembaca bagus.
Ada yang ditambahkan di BSR kedua?
Hanya ada tambahan esai orang yang menulis tentang BSR. Ada bab testimoni, komentar di grup Facebook BSR. Menunya jadi lebih variatif. Total jadi 600 halaman.
Menurut Anda, tema yang diangkat dalam BSR masih relevan untuk sekarang ini?
Awalnya saya juga bilang begitu. Tetapi lalu ada anak muda dari Solo (Jawa Tengah), namanya Anggit, umur 19 tahun. Dia bela-belain datang ke sini sekitar akhir tahun lalu. Sebelumnya kami tidak saling kenal. Dia bercerita, suatu hari mencari sebuah buku di pasar loak. Tetapi yang ia temukan buku BSR seri keempat berjudul Bad Days. Menurut dia, (buku itu) membangkitkan semangat dia. Mata kiri dia ini buta akibat kecelakaan. Lalu dia memburu dari yang pertama sampai ketiga, dan mencari karya-karya saya. Saya tanya, “Emang masih relevan?” Kata dia, masih, kalau dibaca orang di luar Jakarta. Orang-orang kampung menilai BSR masih bagus. Kecil kemungkinan orang metropolis yang tidak mengenal sungai-gunung untuk menyukai Roy. Kehadiran Anggit meyakinkan saya, BSR masih relevan.
Ada contoh lain?
Ada seorang perempuan yang aktif di Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam). Menurut saya, dia ini generasi kedua, kalau Anggit generasi ketiga dari BSR. Dia datang ke sini memborong 35 buku BSR untuk anak-anak Mapala UI (Universitas Indonesia).
Dulu, apa yang membuat Anda berhenti melanjutkan BSR?
Ada komentar miring yang berasal dari orang tua. Ini yang membuat saya berhenti menulis BSR. Pada 1994, banyak orang tua datang ke saya. Mereka cerita, anak-anaknya keluar dari sekolah (setelah membaca BSR). Ada juga anak-anak datang ke rumah, cerita dengan bangga tidak naik kelas seperti Roy. Padahal BSR ini kan ideologinya keluar dari sekolah karena tak punya guru inspiratif. Dia merasa jadi korban kurikulum kala itu. Sekolah itu tidak diajari pintar, hanya statistik. Itu yang saya mau dobrak. Kalau mau belajar sosiologi, pergi saja ke luar, gabung sama tukang becak. Belajar marhaen, pergi saja ke petani.
Ideologi perlawanan itu kemudian diterima remaja kala itu….
Pada awalnya saya suka. Ideologi saya masuk, menggiring anak sekolah pada kehidupan. Tapi, ketika bertemu orang tua di suatu kota, atau memprotes lewat surat, mereka mengingatkan kembali tentang pertanggungjawaban. Lalu saya konsultasi ke orang tua, dan berhenti. Padahal masih ada peluang (melanjutkan).
Dan Anda memutuskan menghentikan serial itu?
Saya ini berasal dari keluarga yang berkecukupan secara moril. Kami berdiskusi di meja makan. Punya moto hidup sederhana: kalau lebih, ya, membantu. Ketika masuk dunia penulis, pesan orang tua: “Tulislah hal yang baik.” Kalau kita menulis yang jelek, akan membebani, lalu akan ada pertanggungjawaban. Saya ini tidak taat agama, tapi rupanya ini mempengaruhi dan membebani saya.
Sebenarnya bagaimana figur Roy yang Anda bentuk?
Roy itu di wilayah abu-abu. Tokoh Roy itu manusiawi saja seperti kebanyakan remaja Indonesia. Kalau ditolak cewek, patah hati, mabuk, lalu tobat lagi. Tapi Roy adalah remaja yang melawan ketidakadilan. Kala itu remaja Indonesia seperti itu. Mau baca buku Pram (Pramoedya Ananta Toer) dilarang. Memang banyak yang kecewa buku ini dihentikan.
Anda sendiri memang ingin menghentikannya?
Biarlah sampai di situ. Setelah menulis BSR juga muncul dampak-dampak positif. Misalkan, (ada yang) keluar dari ketergantungan obat. Ada yang semangat bekerja di outdoor, misalkan di hutan. Ini membuktikan pembaca Roy beragam. Saya senang orang mengambil spiritnya.
Tidak tergoda menulis Roy lagi melihat larisnya tetralogi Laskar Pelangi, misalnya?
Saya sudah mengalami (kesuksesan) semacam itu. Masa itu cukup bagus, dengan akses toko buku yang sedikit. Itu sulit diulang. Buku-buku saya paling cetakan ketiga. Setiap masa ada orangnya (penulis hebat) masing-masing. Andrea Hirata juga meyakini dia tidak akan mampu mengulang lagi. Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-ayat Cinta) juga. Juga sebelum saya, Ali Topan. Pasti nanti ada lagi giliran orang lain. Saya yakin ada lagi. Mudah-mudahan adik-adik di Rumah Dunia.
Anda terdengar ingin realistis….
Godaan itu ada. Tetapi saya tahu diri, harus realistis. Itu proses alam kemampuan berpikir. Orang selalu beranggapan membuat buku itu tidak mengerahkan pikiran, energi, waktu, dan sebagainya. Saya kira saya sudah mendapatkan kesempatan itu. Dan kesempatan itu tidak datang dua kali.
Peluncuran BSR kembali ini sebagai respons atas bacaan remaja sekarang yang didominasi chick lit?
Waktu saya menulis BSR memang dengan maksud itu. Sekarang menerbitkan lagi juga dengan maksud itu. Mudah-mudahan yang membeli itu memberikan kepada keponakannya, adiknya, anaknya. Entah bagaimana sirkulasi buku ini.
Mengapa Anda memiliki maksud seperti itu?
Ada satu kecemasan saya, karena saya pernah di media massa, bagaimana (kerja) industri ini. Kita sebagai generasi muda dilemahkan oleh globalisasi, dengan iming-iming modernisasi. Kita ini tidak kuat dari segi kurikulum pendidikan. Jati diri kita tidak kuat. Orang tua cenderung konsumtif sehingga anak-anaknya dibiarkan tidak memiliki karakter. Tentu itu mencemaskan, (apalagi) saya sekarang menjadi orang tua. Saya rasa ini kecemasan hampir (ada pada) semua orang tua, bagaimana anaknya menjadi anak rumahan. Teknologi, di satu sisi, melemahkan generasi muda di negara berkembang. Ini saya terapkan di sini. Saya tidak anti-asing. Tapi, kalau kita tinggal di Indonesia, kita harus kuat.
Toh, di di era globalisasi ini pula tidak sedikit siswa Indonesia berprestasi di perhelatan internasional?
Anak-anak saya sekolah di sekolah konvensional, begitu saya mengistilahkan. Biar ada sekolah alternatif di sini, saya coba sekolahkan mereka ke sekolah itu. Ternyata mereka ingin pindah ke sekolah alam, terbuka, tidak ada dinding. Padahal anak saya sudah kelas tiga, terpaksa turun lagi ke kelas dua. Beberapa orang tua, ketika mendengar anak-anak saya sekolah di sana, ikutan pindah. Lalu saya ditanya mana yang bagus. Ini selera.
Anda kritis terhadap sekolah “konvensional”?
Saya tidak menyebut konvensional itu jelek, banyak orang sukses dari cara itu. Saya juga termasuk produk itu. Orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya di sekolah konvensional, tapi di rumah disediakan buku-buku. Kalau mau mengukur, seharusnya sukses semua. Kenapa sedikit yang sukses? Karena kita ini cuma user, epigon, gurunya tidak inspiratif, kurikulumnya tidak membebaskan, mengekang. Seharusnya sekolah konvensional harus lebih sukses. Tapi sayang, ukuran kesuksesan itu dari lomba. Di kita, ini selalu dilombakan. Juara-juara di event-event internasional itu kan lomba. Aplikasinya seperti apa? Orang-orang digiring ke statistik, angka, juara-juara.
Anda menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Apa yang bisa Anda lakukan dengan posisi itu?
Saya menyadari masih ada yang berpikiran menjalankan TBM itu berbasis proyek, seremonial, kunjungan ke sana kemari. Saya langsung bikin perubahan. Saya minta ketua umum di masing-masing kota provinsi harus punya TBM. Mereka harus menggali potensi bacaan masyarakat, dana, fund raising. Kalau tidak, coret! Kebanyakan jualannya proposal. Pidato pertama saya mengatakan kita harus pakai otak kanan. Mulai sekarang tidak ada lagi gaya-gaya birokrat. Mulai sekarang kita harus mengelola TBM ini (secara) gila, harus informal.
Forum TBM konon mencanangkan Gerakan Literasi. Apa maksudnya?
Problem utama Indonesia itu adalah pendidikan. Partisipasi kami secara informal lewat TBM. Bagaimana mengaktifkan TBM dalam bentuk kegiatan literasi. Orang menganggap literasi itu sekadar mengeja. Ini harus diubah. Teater juga kegiatan literasi, tapi fasenya lebih tinggi. Kalau orang Indonesia masih mengurus ejaan, kita akan tertinggal terus. Diknas ini mempermasalahkan akan banyak orang yang kembali buta huruf. Nah, TBM ini memfasilitasi. Yang sudah tidak buta aksara digiring agar tidak buta informasi. Mereka harus dimulai misalkan lomba menulis puisi. Di Rumah Dunia, sudah ada semua itu. Ini yang dinamakan Gerakan Indonesia Membaca. Sehingga ada gempa-gempa literasi di kota-kota Indonesia.
Selemah apa sih budaya membaca di Indonesia ini?
Setelah 10 tahun ini, saya makin yakin aksesnya yang sulit. Tahun 1980-an sulit, karena jarang toko buku. Misalkan di sekolah saya di Serang, hanya tiga orang yang berani mendatangi Kompas dan majalah Haiuntuk mengirim puisi. Pemerintah tidak mampu memfasilitasi ini. Minat membaca masyarakat (sebenarnya) ini tinggi. Di perpustakaan juga begitu, jarang buku sastra, novel. Padahal di sana kita bisa belajar sosiologi dan filsafat.
Dari mana budaya membaca itu harus dimulai?
Membaca ada tingkatannya. Anak kecil tidak perlu dibebani membaca yang berat. Mereka bermain saja. Tapi orang tua mengajari, caranya orang tua harus membaca. Nanti berjalan alami mereka akan ikut. Saya tidak suka dengan yang terjadi di Singapura. Di sana mereka membaca sampai bikin individualis. Menjadi asosial.
Rumah Dunia didirikan untuk mewujudkan idealisme Anda itu?
Tahun 1992-1993, saat saya jadi wartawan, saya melihat Sekolah Muthahari, miliknya Jalaluddin Rahmat. Saya ingin bikin seperti itu. Nah, sekarang jadi Rumah Dunia. Idealisme itu butuh ongkos. Saya sudah mencari donor. Sekarang kami mengais-ngais di sini. Cara kreatif untuk mendapatkan dana salah satunya ini (menerbitkan buku). Anak-anak di sini tidak saya bebani memikirkan operasional, sekarang mereka bertumbuhan.
Apakah masa lalu kuat mempengaruhi diri Anda? Seperti apa?
Orang tua selalu memberitahukan gajinya. Pertama yang dipotong adalah untuk orang lain, 2,5 persen untuk orang lain. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayah juga punya perpustakaan, tapi tidak memaksa untuk membaca. Ayah saya sedikit bicara, dia mencontohkan dengan tindakan. Misalkan ketika dia membuat kolam. Saya bingung buat apa. Tapi ketika mulai besar, saya belajar menangkap ikan. Ada ayam, ditanami pohon. Ayah saya ingin mengajari dengan cara meraba, memegang. Setelah cukup umur, dihancurkan dibuat yang lain yang sesuai umur.
Anda pernah bertualang menjelajahi Indonesia dan Asia. Apa yang Anda peroleh?
Saya melihat masyarakat bergotong-royong, memahami wisdom-nya. Saya pantang hanya melewati daerah. Harus dijelajahi. Berbeda dengan backpacker. Saya memilih tinggal dan bekerja mencari uang. Saya lihat orang baik dan jahat ada di mana-mana. Kita tidak perlu takut. Pada akhirnya itu menjadi instinct. Karena kita memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, kita bisa mencari solusi sendiri. Memang akan lebih bagus itu berpendidikan. Kelemahan saya, tidak berpendidikan.
Anda menyesal meninggalkan kuliah?
Saya agak sulit menjawab ini, kadang-kadang saya tergoda. Kalau saya bergelar, barangkali akan menjadi lebih mudah. Tapi memang jebakan-jebakannya berbahaya juga. Ternyata tidak bisa semua porsi itu diambil semua. Kalau ada yang seperti itu, luar biasa.
Orang tua Anda kecewa?
Ya. Karena saya cacat, orang tua berpikir saya harus memiliki kelebihan, yaitu pendidikan. Tapi saya justru berhenti.
Kini, dengan sakit yang ditanggung, bagaimana Anda beraktivitas?
Saya harus menggunakan neck collar (penyangga leher) untuk menopang leher saya. Tapi sekarang sudah tidak. Saya tidak boleh menulis terlalu lama. Kadang Tias yang menulis, saya yang mendikte. Duduk dan tidur pun tidak boleh salah posisi. Kalau salah duduk, bisa merasakan kesetrum lagi. Saya tidak menjalani pengobatan modern, setiap minggu saya harus terapi. Terapinya berendam di air panas, minum jus setiap hari. Saya sendiri berusaha senang, gembira, pokoknya yang melupakan sakit. Sering saya main hujan bersama anak-anak, menulis di Facebook untuk melampiaskan saja. Setiap pagi saya jalan-jalan.

BIODATA
Nama: Heri Hendrayana Harris
Nama pena: Gol A Gong
Tempat dan tanggal lahir: Purwakarta, 15 Agustus 1963
Istri: Tias Tatanka (dengan 4 anak)
Alamat: Kompleks Hegar Alam 40, Ciloang, Serang, Banten 42118
Pekerjaan: penulis
Jabatan lain:
- Mantan wartawan di berbagai media massa
- Asisten manajer di Banten TV
- Direktur GONG Publishing
- Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia
- Penasihat Rumah Dunia.
KARYA:
Sebanyak 70 karya tulis, di antaranya:
- Balada Si Roy (1989″1994, 2004, 2010)
- Happy Valentine (1991)
- Perjalanan Asia (1992)
- Kutunggu di Yogya (1993)
- Menulis Skenario Itu Gampang (1993)
- Tembang Kampung Halaman (1992)
- Surat (1995)
- Langit Tak Lagi Mendung (1993)
- Lukisan (2001)
- Peni (2001)
Sinetron
- Pada-Mu Aku Bersimpuh (2002)
- Al Bahri (2002)
- Keluarga Van Danoe (1996)
- Ikhlas (1996)
- Dua Sisi Mata Uang (1998)
- Anak Gudang (2002)
- Maharani (2002)
- Luv (2002)
PENGHARGAAN:
- Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2007)
- Tokoh Perbukuan pada Islamic Book Fair (2007)
- Anugerah Literasi World Book Day 2008 dari Komunitas Literasi Indonesia pada Hari Buku Internasional (2008)
- XL Indonesia Berprestasi Award Bidang Pendidikan (2008)
- Insan Peduli dari Radio Elshinta (2010).
Keliling Indonesia Bermodal Raket Badminton
Jiwa petualang dimiliki Gol A Gong sejak kecil. Dia memimpikan bisa berkeliling dunia setelah membaca novel Jules Verne, Keliling Dunia dalam 40 Hari. Sampai SMP, saban Sabtu-Ahad dan hari libur, dia berkeliling Banten dengan sepedanya. Pada 1987, ia mengelilingi Indonesia sendirian, dari Purwakarta sampai Irian Jaya. Dan selama sembilan bulan pada 1991-1992, ia berkeliling delapan negara Asia (Malaysia, Thailand, Burma, India, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal) dengan sepeda.
Petualangan benar-benar mengasahnya instingnya. Menurut dia, dengan memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, dia terbiasa mencari solusi sendiri. Ini dibuktikannya ketika kehabisan bekal dalam perjalanan keliling Indonesia, ia manfaatkan keterampilannya bermain bulu tangkis.
Sebagai juara kedua kejuaraan bulu tangkis se-Banten, Gol A Gong selalu membawa raket badmintonnya. Raket itu ia gunakan untuk menantang para atlet badminton di daerah yang ia singgahi. Sebelum bertarung, Gol A Gong dan lawannya bersepakat: yang kalah membayar. Dari cara ini Gol A Gong bisa mengantongi uang Rp 10-20 ribu.
Soal jagoan badminton se-Banten itu, bukan sekadar gertakan untuk calon lawannya. “Saya punya sertifikatnya,” ujarnya. Surat resmi itu juga sering dibawanya saat bertualang, supaya orang-orang yang ditantangnya percaya.
Gol A Gong memang punya beragam cara bertahan hidup dalam petualangannya. Selain menjual barang perlengkapannya, seperti pemutar kaset kecil, kamera, hingga menjual celana, dia kerap menjadi buruh cuci piring di warung-warung makan. “Upahnya makan gratis,” katanya. Kadang dia bernasib mujur, ditraktir orang yang bersimpati.
Untuk transportasi selama perjalanan, Gol A Gong selalu menumpang truk dan mobil pick-up. Dia juga kerap tidur di jalan, terminal, stasiun, dan pasar. Tapi, yang tidak pernah ia lupakan, dia selalu mengunjungi kantor pemerintah untuk meminta stempel sebagai tanda bukti bertamu di daerah tersebut. “Supaya tidak dicurigai,” ujarnya. Akbar Tri Kurniawan