Archive | LAPAU

Pelatihan Budidaya (pembesaran) Lele Sangkuriang, Depok – Minggu 27 Mei 2012

Posted on 27 January 2011 by novalramsis

LNK FARM , Budidaya, Niaga, Pelatihan dan AgroWisata Lele Sangkuriang

Testimoni Peserta Pelatihan Pembesaran Lele

Mohammad Sesario – Artis Management, Kakak kandung Dude Herlino, JAKARTA.

Kami ingin kembangkan usaha agrobisnis selain tetap menjalankan usaha dibidang entertainment. Dengan belajar di LNK Farm, kami “dipaksa” harus siap memulai jalankan usaha. LNK Farm memberikan jaminan akan terus dampingi peserta pelatihan untuk berkonsultasi tentang berbagai masalah yang dihadapi, dari saat menyiapkan kolam sampai saat pasarkan hasil ternak Lele. Semua ilmu dibagi dengan terbuka.


Sigit Hardi, Entrepenuer  DEPOK JAWA BARAT

Alhamdulillah materi pelatihan bagus & mudah dipahami. Peserta memperoleh pengetahuan praktis sistematis agar bisa langsung action. Dan yang lebih penting lagi, peserta mendapat jaminan bimbingan mulai dari perawatan sampai tahap pemasaran lele serta strategi bisnisnya … menarik deh.  Siap action!

Ida Prihatin, Praktisi Property, Ibu Rumah Tangga, DEPOK JAWA BARAT

Secara materi cukup, akan praktek langsung cara bikin kolam.  Mau sewa tempat praktek pembesaran lele. Apa bisa sewa di LNK Farm? Saat istirahat makan siang, cicip Lele hasil dari kolam LNK Farm, ternyata tidak amis dan enak, padahal saya bukan penyuka Lele.

Ali Qudsy, CILEGON BANTEN

Saya datang dari jauh ke LNK Farm Depok, karena sudah lama ingin belajar budidaya Lele Sangkuriang. Setahu saya investasi pelatihannya jutaan rupiah. Di LNK Farm investasi pelatihan cukup Rp. 350.000,-

Agung Prasetio, Karyawan perusahaan pertambangan, Praktisi Property, DEPOK JAWA BARAT

Setelah ikut pelatihan ini saya merasa bersyukur mendapat ilmu budidaya lele dari A-Z. Semua dikupas tuntas tanpa ada yang ditutupi. Langsung liat kolamnya dan cara2nya secara riil. Pengajarnya kompeten di bidangnya, dapat menyajikan ringkasan cara budidaya lele yang mudah dipahami oleh pemula. Ilmu yang didapat membuat saya yakin untuk mulai action. Sangat recommended !!!

Bagi Sahabat yang ingin memiliki bisnis menguntungkan dan tak merepotkan.

Info lengkap Peluang Usaha Budidaya Lele Sangkuriang, baca DISINI

PELATIHAN BUDIDAYA LELE SANGKURIANG

1. Latar Belakang

Lele, sekarang ini terus diminati masyarakat.  Image buruknya telah terhapus seiring makin banyaknya warung-warung pecel lele, restoran lele, produk olahan lele, dan berbagai program pemerintah.

Maka, lele sekarang telah menjadi salah satu ikan primadona dimana-mana.  Tingkat konsumsi masyarakat akan lele meningkat terus dari waktu ke waktu.  Apalagi setelah pemerintah – melalui Balai Besar Ikan Air Tawar Sukabumi – menghasilkan varietas baru: Lele Sangkuriang.  Lele jenis ini terbukti bisa menghasilkan lele yang rendah lemak, gurih dan enak.  Selain itu, lele sangkuriang juga dapat dibudidayakan dengan cara yang praktis dalam jangka waktu yang relatif singkat (2 bulan).

Masyarakat pun makin berminat untuk beternak lele, terutama lele sangkuriang.   Bahkan para karyawan kantoran dan ibu-ibu rumah tangga mulai banyak yang beternak lele sangkuriang.  Karena itu, diperlukan suatu pelatihan budidaya lele sangkuriang yang efektif, sudah terbukti berhasil dan terjangkau oleh banyak kalangan di masyarakat.

2. Tujuan

Tujuan diadakannya pelatihan budidaya lele sangkuriang ini, yaitu memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat agar dapat beternak lele sangkuriang dengan baik dan menguntungkan.

 

3. Manfaat

Manfaat yang didapat peserta yaitu:

a.     Mengetahui prospek dan berbagai peluang bisnis lele.

b.     Mendapat keterampilan beternak lele

c.      Mendapat jaminan pasar penjualan lele

d.     Mendapat kemudahan untuk pengadaan sarana beternak lele (terpal, jaring, benih, pakan, ramuan herbal, obat-obatan, dll)

e.     Dapat terus berkonsultasi tentang berbagai masalah yang dihadapi.

f.      Dapat menjadi anggota peternak lele.

g.     Peluang untuk bisa Investasi budidaya Lele

 

4.     Materi

a.     Kenapa Usaha Budi Daya Lele Sangkuriang

b.     Penyiapan Kolam

c.      Penyiapan Air

d.     Penyiapan Benih

e.     Teknik pakan dan alternatif pakannya.

f.      Pemeliharaan Sehari-hari

g.     Pencegahan dan pengobatan dari Hama dan Penyakit.

h.     Pemanenan

5.     Jadwal Pelatihan & Durasi

Minggu 27 Mei 2012

Durasi pelatihan selama 4 jam efektif.  Dimulai pukul 09.00 – 14.00.  Waktu pelatihan dapat ditambah sesuai kebutuhan peserta.

 

6.     Lokasi Pelatihan

LNK Farm

Jl. Tiparsari No. 25 Rt.04/08, Kp. Tipar, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok

(1 km dari Balai Pertemuan Gumilang dan 300 meter dari gerbang Perumahan Permata Puri 3)

lihat peta menuju lokasi dengan klik   DISINI

7.     Investasi Pelatihan

Investasi pelatihan Rp. 350.000 per peserta. First Transfer, First Serve (batas akhir transfer,  Jumat  25 Mei 2012  jam 17.00 WIB)

Maksimal untuk 20 orang peserta. Pelatihan akan tetap diadakan jika hanya ada 5 (lima) peserta.

Info tentang Noval Youmal klik DISINI atau cari di Google dengan keyword: Noval Y. Ramsis

 

8.     Pembayaran Investasi Pelatihan & Informasi

Setor tunai atau transfer ke BCA KCP Proklamasi Depok

No rekening: 6610258041

Atas nama: Noval Youmal

Info tentang Noval Youmal klik DISINI atau cari di Google dengan keyword: Noval Y. Ramsis

Setoran tunai atau transfer investasi senilai Rp. 350.000 dengan tambahkan 3 digit angka terakhir no hape anda:  jadi setor tunai atau transfer investasi pelatihan senilai Rp. 350.xxx ,- (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)

Konfirmasi pembayaran di sms atau email ke Noval Y. Ramsis:

no hape: 085 6166 4227  – Email ke: pelatihan@buyanur.com atau novalramsis@gmail.com

Isi konfirmasi: Nama Peserta [spasi] LELE [spasi] tgl transfer [spasi] 350.xxx (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)

 

9.     Fasilitas

a.     Modul Pelatihan

b.      Konsumsi Makan Siang

c.     Konsultasi setelah pelatihan

 

 

10. Instruktur

 

Bapak Supardi Lee

Pengusaha, Petani Ikan Lele dan Penulis. Tinggal di Depok. Setiap Kamis jam 05.00 – 06.00 mengisi acara Mutiara Pagi The Power of Life di Radio Trijaya Jakarta 104,6 FM. Menulis artikel di www.BuyaNur.com .

Radio Sindo (d/h: Trijaya Network) : Jabodetabek : 104,6 FM, Surabaya : 104,7 FM, Jember : 102,9 FM, Semarang : 89,8 FM, Jogja : 97,0 FM, Medan : 95,1 FM, Menado : 95,3 FM, Dumai : 100,5 FM, Pontianak : 95,7 FM, Kendari : 92,4 FM, Palembang : 87,6 FM, Madiun : 106,0 FM

Bapak Saryana

Beternak lele berpengalaman. Berhasil menamatkan pelatihan lengkap di BBAT Sukabumi, Peternakan Lele Pak Nasrudin dan Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang.

Telah bertahun-tahun berfokus dalam beternak lele, mengalami jatuh bangun bisnis lele dan menemukan detail-detail tentang lele yang sangat penting bagi kesuksesan beternak lele.

 

Share

Comments (1)

FILM CATATAN SI BOY, LUPUS, & BALADA SI ROY?

Posted on 20 January 2011 by novalramsis

Doain, temen.
Saya akan menulis dulu, Roy dengan era 80 – 90an. Ikhtiar, setelah itu tawaqal. Kalo produser nggak tertarik, para pembaca Balada Si Roy jadi
produsernya aja. Kita patungan, ya. Saya taksir, kalo ada 10 ribu pembaca berkumpul, partungan Rp. 1 jt, berapa tuh? Rp. 10.000.000.000,-? Cukup kali ya. Nanti kita cari sutradara dan crewnya. Tokoh Roy kita konteskan aja, kerjasma dengan Majalah HAI. Gimana, sobat?

Gol A Gong

****

Film Catatan Si Boy, Lupus, dan Balada Si Roy

oleh Daniel Mahendra pada 19 Januari 2011 jam 4:24

Mengapa Generasi 90an?

oleh Daniel Mahendra

Semacam Prolog:

Di tahun 2011 ini, rasanya aku bisa menghitung berapa kali
membuka akun facebook. Pertama, saat mendapat kabar dari Mbak Astuti Ananta
Toer tentang meninggalnya Ibu Maemunah Thamrin, istri mendiang Pramoedya Ananta
Toer, pada 8 Januari 2011 lalu. Aku merasa berkewajiban mem-posting
berita tersebut ke fb. Namun itu pun tak dapat dikatakan membuka fb dalam arti
sepenuhnya. Karena aku mem-posting-nya melalui akun twitter.

Kedua, ketika mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang
kawan pada 14 Januari 2011 kemarin. Itu pun tetap bukan di laptop, melainkan
melalui handphone mengingat kondisi sedang menyetir di perjalanan.
Ketiga, saat ini, ketika harus mem-posting tulisan ini. Mengapa?

Hari Selasa pagi 18 Januari 2011 lalu, masuk sebuah SMS dari Gol A Gong. Begini isi SMS-nya:

Upaya maksimal sy skrg mencari uang utk pembebasan tanah rumah dunia adlh menulis skenario layar lebar Balada Si Roy.support ya dgn
public opini. kalo udah jadi, sy asongkan ke PH/Produser.gmna ya, Roy tetep gen
90an, atau gen HP n laptop? doain lancar. kalo lolos, ke tanah,sisanya buat ke haji. insya Allah

Ya, kabar mengenai Gol A Gong sedang menggarap skenario film
Balada Si Roy kali pertama kudapat dari akun twitter Tias Tatanka, istri
Gol A Gong. Dan secara tak sengaja, aku pun sempat membaca akun twitter Gol A
Gong bahwa ia sedang meminta pendapat: kalau Balada Si Roy diangkat ke
layar lebar, apakah Roy tetap sebagai generasi 90an atau generasi HP dan
laptop. Ingin sekali menimpali kedua postingan twitter tersebut, namun
kondisi saja yang sangat-sangat tidak memungkinkan untuk merespon dengan
segera. Akhirnya datanglah SMS di atas.

Dalam berbalas SMS, Gol A Gong memintaku membuat semacam
esai mengenai hal tersebut. Mengingat Rumah Dunia dalam enam bulan ini sedang
membutuhkan dana sebesar Rp360 juta untuk pembebasan tanah seluas 1.800m2, aku
berkewajiban memenuhi permintaannya. Siapa tahu banyak orang yang kelebihan
duit terketuk hatinya bukan? Andai saja aku punya uang Rp20 miliar, pasti Rp1
miliar akan aku berikan untuk Rumah Dunia. Lalu sisanya yang Rp19 miliar? Rp14
miliar buat bikin film Balada Si Roy. Lha yang Rp5 miliar?
Ya buat bikin
film Di Bawah Sinar Bulan Purnama dong, yang skenarionya juga sedang
kugarap. Hehehe.

Baiklah. Aku kira cukup basa basinya. Itu sekadar pembenaran
belaka mengapa aku membuka akun fb lagi dan memenuhi permintaan Gol A Gong demi
pembebasan tanah di komplek Rumah Dunia, Serang, Banten. Semoga bermanfaat!
Amin.

* * *


FILM CATATAN SI BOY, LUPUS, DAN BALADA SI ROY

MENGAPA GENERASI 90AN?

Tentu sebagian besar dari kita masih lagi mengingat film Catatan
Si Boy dan Lupus di era 90an silam. Film-film itu mendulang sukses
dan laris manis di pasaran. Kalau Catatan Si Boy mengangkat tokoh lelaki
muda, anak orang kaya, tampan, pintar, alim, tapi tidak kolokan, sementara Lupus
bercerita tentang kehidupan remaja SMA dengan permen karet dan rambut a la John
Taylor.


Kalau Catatan Si Boy terlalu sempurna sebagai
manusia, posisinya nyaris bagaikan dewa di langit yang bisa mendapatkan apa
saja yang diinginkan, barangkali Lupus layaknya remaja kebanyakan pada
umumnya. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah: tak semua anak muda
bisa menjadi Si Boy. Pun demikian, tak semua remaja bisa memasuki pergaulan
Lupus yang khas ibukota, meski ia jauh lebih membumi dibanding Si Boy.


Lantas bagaimana dengan Balada Si Roy. Dulu aku
pernah membayangkan, Balada Si Roy dibuat sinetron saja dan diputar di
TV tentunya. Setiap satu cerita dari serial novel Balada Si Roy dibuat
satu episode tayangan. Kalau ditotal akan menjadi 103 episode, 103 minggu,
selama kurang lebih 2 tahun. Supaya tidak jenuh, bisa dibuat session
seperti sinetron Cinta Fitri itu (halah!).


Tapi sinetron? Mengapa sinetron? Bisa saja kan membuat sinetron
berkualitas. Seperti Si Doel Anak Sekolahan, misalnya. Atau Keluarga
Cemara. Menurutku itu contoh dari sedikit tayangan-tayangan cerita yang
berkualitas, membumi, sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia
kebanyakan, dan tidak sekadar menjual mimpi.


Tak melulu menyodorkan cerita: anak orang kaya pasti mudah
dapat kerja, atau masih muda (tapi culun) sudah mewarisi perusahaan ayah atau
kakeknya, berdasi, duduk di balik  meja, kerjanya cuma menandatangani
berkas yang disodorkan oleh sekretaris (yang juga culun), sementara itu ia
sibuk soal perseteruan cinta. Atau pertentangan kelas: yang kaya jelas
berkuasa, yang miskin pasti awalnya sial, berlinangan air mata, tapi
ujung-ujungnya beruntung dan happy ending, dengan episode yang
dipanjang-panjangkan nyaris never ending stories (apakah kalian tidak
bosan?).


Begitu pun dengan Balada Si Roy. Dibuat sinetron?
Mengapa tidak. Remaja Roy yang doyan traveling ke berbagai tempat,
berani, punya sikap, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi,
cinta keluarga, humanis, membumi, disukai perempuan, dan jago menulis, rasanya
bisa menjadi pengejawantahan anak muda mana pun di Indonesia. Ia wakil dari
golongan kebanyakan. Ia duta dari kaum yang kerap tersisihkan. Roy bisa menjadi
hero di dalam hati anak muda yang kesepian.


Roy memang bandel. Sekolah SMA-nya selalu tak beres. Hobinya
nongkrong atau menggombali cewek-cewek dengan cengiran dan kedipan matanya.
Cintanya nyaris selalu kandas dan terlunta-lunta. Doyan ke pantai, naik gunung,
atau bertualang dari kota ke kota. Tetapi Roy adalah juga seorang lelaki
sejati. Punya sikap, sedikit urakan, tapi tidak kampungan. Nilai-nilai
kebenaran dan keberanian sejatinya selalu terpantul dalam cara berpikir dan
tindakannya.


Kalau ia mengeluarkan pendapat, selalu menyodorkan argumen
yang berani ia pertangungjawabkan. Roy adalah sebuah sikap yang terkadang untuk
kalangan tertentu kerap dijadikan solusi dalam menghadapi hidup yang keras dan
tak mululu mudah ini. Bisa jadi, Roy adalah cerminan bagi remaja kebanyakan
yang sesungguhnya di Indonesia.


Lalu ketika datang ide untuk melayar lebarkan Balada Si
Roy apakah tetap dengan “trademark” remaja generasi 90an ataukah
generasi hp dan laptop? Menurutku pribadi, biarlah Roy menjadi sosok aslinya.
Tak perlu mesti dibalut dengan kemajuan jaman era gedget dan internet.
Bukan karena secara pribadi aku berangkat dari remaja generasi 90an yang sempat
mengecap masa “tayang” Balada Si Roy, namun lebih pada: justru di
situlah kekuatan Roy sesungguhnya: keterbatasan!


Roy adalah petualang. Banyak menghabiskan waktunya di
jalanan. Mengongkosi hidup dengan honorarium sebagai pengarang dengan menulis
cerita. Jauh dari teman dan mamanya di rumah. Menghadapi berbagai rintangan
perjalanan. Kesepian dan terlunta-lunta. Rasanya menjadi tidak asyik apabila ia
dengan mudah berbalas SMS dengan mamanya, atau bertelpon dengan gadis-gadisnya
di setiap kota, lantas mengirimkan karangannya menggunakan laptop yang
terkoneksi internet dari mana pun ia berada. Alangkah praktisnya?


Perjuangan yang Roy bangun di seluruh cerita Balada Si
Roy menjadi singkat dan instan dengan segala kemudahan jaman sekarang. Tak
ada lagi mesin ketik, tak ada lagi cerita tersesat di tengah jalan, karena si
Roy sudah menggunakan GPS ketika bertualang. Tak ada lagi romantisme berkirim
surat, karena telah tergantikan e-mail.


Keberadaan Roy yang ruhnya dibangun sebagai seorang
petualang yang pergi berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, menjadi
tak berjarak. Posisi dan kabar si Roy akan dengan mudah digapai oleh siapa pun.
Lebih menggelikan lagi kalau Roy sudah mulai menulis status di facebook atau
twitter: sedang menikmati desiran angin Pantai Losari. (halah!).
Parahnya: Roy bakal selalu check-in melalui foursquare. Jadinya
petualangan si Roy lebih ramai dengan denting notification BlackBerry,
riuh chating di YM menanyakan kabar si Roy, dan di setiap tempat yang ia
kunjungi ia sibuk meng-upload foto dari iPhone. Lalu bagaimana cara
bertutur remaja Roy? Menjadi khas gaya bahasa remaja jaman sekarang? Alangkah
sayang, cyiiinnn…


Artinya, bisa saja membuat cerita seperti itu. Tentang
seorang traveler dengan balutan jaman sekarang. Sah-sah saja. Tetapi
rasanya itu bukan lagi si Roy. Bukan Balada Si Roy yang dengan segala
keterbatasannya justru ia berjuang. Sesuatu yang justru merupakan ruh dari
cerita Balada Si Roy: keterbatasan dan perjuangan!


Bukankah Pramoedya Ananta Toer tidak menjadikan Minke
sebagai pemuda tahun 1970an saat roman Bumi Manusia dirawi. Minke tetap
sosok pemuda 1900an karena misi dari bangunan cerita Bumi Manusia tetap:
bercerita tentang awal-awal kesadaran dan kebangkitan suatu bangsa yang kelak
bernama Indonesia. Dan bukankan Soe Hoe Gie dalam film Gie tetap
berenang pada eranya.


Nah, barangkali itu pendapatku. Kalau ada yang memiliki
pemikiran lain, silahkan saja. Mumpung “bapaknya” si Roy masih menggarap 20
scene
sampai dengan hari ini. Hehehe. Semoga film Balada Si Roy betul-betul
bermuara. Dan pembebasan tanah di komplek Rumah Dunia bisa terlaksana. Semoga
semua ini bermanfaat. Never give up!

Demikian. Salam hangat selalu,

D.M.






Share

Comments (0)

MEMULAI USAHA & BISNIS

Posted on 18 January 2011 by novalramsis

*)  Supardi Lee

Berbisnis mempunyai banyak keunggulan dibanding sumber pendapatan atau profesi lain. Dalam hal kemungkinan besaran pendapatan, maka bisnis mempunyai kemungkinan pendapatan yang besar sekali. Hampir tak berbatas.Tapi memang berbagai keunggulan tersebut ada harganya. Maka banyak orang yang ingin mendapat keunggulan bisnis, tapi nggak mau membayar harganya. Maka keinginan tinggal keinginan. Mulailah dengan mencari peluang usaha

Harga bisnis yang paling besar adalah kegagalan. Sesuatu yang dihindari oleh banyak orang. tapi ketika harga itu dibayar, maka kegagalan pun menjadi sesuatu yang asyik dan menyenangkan.

Memulai bisnis harus dari : APA YANG ADA DI DIRI ANDA.Jangan memulai sesuatu yang tak ada di diri anda. Bila tak punya modal, jangan memulai bisnis dari modal. Nggak akan mulai-mulai. Mulai dari yang lain… yang ada. Karena tiap orang punya semangat, maka mulailah dari semangat.  Temukan peluang usaha. Ada modal, tanpa semangat, maka modal itu tak berarti banyak.

Tapi ada SEMANGAT tanpa MODAL, maka anda akan berusaha keras agar sukses.Lalu : TETAPKAN BIDANG BISNIS ANDA (PRODUK / JASANYA). Pilih dan putuskan anda mau bisnis di bidang apa. Buat niat yang teguh tentang ini. Fokuslah pada bidang bisnis tersebut, meski ada godaan yang hebat sekalipun.

Sekali anda tergoda, anda cenderung untuk membiarkan diri anda tergoda terus menerus. BELAJAR LAH TIADA HENTI.

Bisnis memerlukan ilmu dan keterampilan. Karena itu belajar menjadi jantungnya bisnis. Tak ada bisnis tanpa belajar. ATASI MASALAH

Tiap hal ada masalahnya sendiri-sendiri. Karena itu, ketika anda sudah fokus dan belajar, bukan berarti masalah tidak akan datang. Bahkan mungkin akan banyak masalah yang datang. Nah, atasi masalah tersebut. Atasi Masalah berarti : Anda berada pada posisi yang lebih atas dari masalah anda. Anda tidak sama dengan masalah. Anda pun tak berada di bawah pengaruh masalah. Inilah syarat agar anda dapat memecahkan masalah.

JADILAH MAU DIBANTU.Bisnis adalah ajang saling bantu. Karena itu jadilah mau dibantu. Oleh siapa? Oleh mereka yang penting bagi anda dan bisnis anda. karyawan. konsumen. suplayer. bahkan pesaing.

DAPATKAN MENTOR / GURUMentor / guru adalah orang yang telah lama bergelut dalam bisnis. Mereka telah meng-alami kegagalan dalam bisnisnya. Mereka telah mengetahui seluk beluk bidang bisnisnya dari A sampai Z. Maka bergurulah padanya dan ikuti pelatihan usaha. Dapatkan bimbingannya. Kenapa ini perlu? Agar anda bisa menghemat sumberdaya anda. Agar anda bisa lebih cepat meraih sukses…

*)  Pengusaha, Petani Ikan Lele dan Penulis. Tinggal di Depok. Setiap Kamis jam 04.30 – 05.30 mengisi acara Mutiara Pagi The Power of Life di Radio Sindo (d/h Trijaya) Jakarta 104,6 FM.

Berikut ini gelombang  Radio Sindo (d/h Trijaya) Network :

Jabodetabek : 104,6 FM
Surabaya : 104,7 FM
Jember : 102,9 FM
Semarang : 89,8 FM
Jogja : 97,0 FM
Medan : 95,1 FM
Menado : 95,3 FM
Dumai : 100,5 FM
Pontianak : 95,7 FM
Kendari : 92,4 FM
Palembang : 87,6 FM
Madiun : 106,0 FM

Share

Comments (5)

PELUANG BISNIS JADI AGEN AQIQAH TANPA MODAL (DAN TANPA SYARAT YANG RIBET)

Posted on 07 October 2010 by novalramsis

Ada kalanya seseorang lupa untuk bertanya, apakah ketika ia lahir, kedua orang tuanya sudah memenuhi haknya menyembelih hewan aqiqah? Jika belum dan mampu, maka berniatlah! Jangan ragu dan tak sanggup, maka berserah dirilah dan bertawakallah. Karena disetiap tetes keikhlasan pengorbanan aqiqah terdapat seluruh kesempurnaan dan kebaikan.

Aqiqah berasal dari kata ‘Aqq yang berarti memutus dan melubangi, dan ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong, dan dikatakan juga bahwa ia adalah rambut yang dibawa si bayi ketika lahir. Adapun maknanya secara syari’at adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan.[1]

Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunnah muakkadah, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama, berdasarkan anjuran Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan praktek langsung beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam. “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus)darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya).” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataannya Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan),” adalah perintah, namun bukan bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yaitu: “Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan.” (HR: Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “ingin menyembelihkan,..” merupakan dalil yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di sebuah situs memiliki beberapa hikmah diantaranya :

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim alaihissalam tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail alaihissalam.

2. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya.” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini

Hewan Sembelihannya

Hewan yang dibolehkan disembelih untuk aqiqah adalah sama seperti hewan yang dibolehkan disembelih untuk kurban, dari sisi usia dan kriteria.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh dalam aqiqah ini hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan sakit. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam hewan aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Ibnu Abdul Barr berkata: Para ulama telah ijma bahwa di dalam aqiqah ini tidak diperbolehkan apa yang tidak diperbolehkan di dalam udhhiyah, (harus) dari Al Azwaj Ats Tsamaniyyah (kambing, domba, sapi dan unta), kecuali pendapat yang ganjil yang tidak dianggap.

Namun di dalam aqiqah tidak diperbolehkan berserikat (patungan, urunan) sebagaimana dalam udhhiyah, baik kambing/domba, atau sapi atau unta. Sehingga bila seseorang aqiqah dengan sapi atau unta, itu hanya cukup bagi satu orang saja, tidak boleh bagi tujuh orang.

Kadar aqiqah yang mencukupi adalah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas rahimahulloh: “Sesungguh-nya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba satu domba.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Ini adalah kadar cukup dan boleh, namun yang lebih utama adalah mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua ekor, ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

  1. Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak perempuan satu ekor.” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)
  2. Dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Dan karena kebahagian dengan mendapatkan anak laki-laki adalah berlipat dari dilahirkannya anak perempuan, dan dikarenakan laki-laki adalah dua kali lipat wanita dalam banyak hal.

Kadar Jumlah Hewan

Kadar aqiqah yang mencukupi adalah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas rahimahulloh: “Sesungguh-nya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba satu domba.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Ini adalah kadar cukup dan boleh, namun yang lebih utama adalah mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua ekor, ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

  1. Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak perempuan satu ekor.” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)
  2. Dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Dan karena kebahagian dengan mendapatkan anak laki-laki adalah berlipat dari dilahirkannya anak perempuan, dan dikarenakan laki-laki adalah dua kali lipat wanita dalam banyak hal.

Waktu Pelaksanaannya

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama.” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan bila tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan bila tidak bisa, maka pada hari ke dua puluh satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu.” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan saja pelaksanaannya di kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang keguguran dengan syarat sudah berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si bayi. Namun bila seseorang yang belum di sembelihkan hewan aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, maka dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal itu tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Pembagian daging Aqiqah

Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang teman-teman dan kerabat untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang orang yang engkau lihat pantas diundang dari kalangan kerabat, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian orang faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan oleh Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Dalam rangka menyebarkan kesempatan dan memberikan kemudahan bagi masyarakat
untuk melakukan Aqiqah, maka Rumah Aqiqah dan Qurban Indonesia (Raqi)
mengajak seluruh masyarakat untuk berperan serta dalam Program Tanpa (Tebar
Aqiqah Nasional, Peluang Akhirat). Program ini Tanpa Modal, Tanpa Syarat
yang ribet hanya bermodalkan networking dan nomor telephone. Aqiqah menjadi
penting karena hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup, sehingga mari kita
manfaatkan kesempatan ibadah ini untuk kemudahan bersama.

Beberapa keuntungan  menjadi Agen (Sahabat Raqi) adalah :
1.       Diberikan Kesempatan untuk menjual seluruh produk yang dimiliki
Raqi Farm
2.       Mendapatkan kekuasaan wilayah dalam memasarkan produk.
3.       Mendapatkan keuntungan nominal dana atas pencapaiannya.
4.       Tanpa mengeluarkan biaya apapun sudah bisa berjualan.

Cara PENDAFTARAN menjadi agen mengisi formulir dibawah ini dan
mengirimkannya ke studionoval@gmail.com :
1.       Nama :
2.       Alamat :
3.       Email :
4.       No. Telpon :
5.       Motivasi menjadi Agen :

Demikian penjelasan singkatnya, untuk keterangan lengkapnya melalui email
studionoval@gmail.com

materi aqiqah dikutip dari wikipedia dan berbagai sumber

Share

Comments (0)

GURUKU SEORANG TUKANG BECAK

Posted on 05 September 2010 by adibustaman

Takbir bergema membuatku merinding. Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilahaa Illallaha, Wa Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu.

Aku menunggu istri dan anakkku yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri 1428 H bersama dengan warga Muhamadiyah. Aku sendiri duduk di luar Stadion, berkumpul dengan para Polisi yang sedang bersiaga mengamankan jemaah Muhamadiyah yang akan melaksanakan Sholat Idul Fitri tersebut. Aku sendiri masih puasa karena baru akan melaksanakan sholat Idul Fitri keesokan harinya bareng bersama dengan warga Nadhiyin.

Ketika sholat dan khotbah selesai dilakukan, berduyun-duyun jemaah berjalan keluar dari Lapangan. Mataku tertuju pada seorang tua yang agak kurus, dengan sarung dan kopiah hitam. Wajahnya tampak teduh dan putih, dahinya seekan-akan bercahaya lalu menuju ke becak. Lalu Bapak tua itu melepas sarung dan kopiah hitamnya dan kembali bercelana pendek, dan mengayuh becaknya dan lalu berhenti didepan pintu gerbang. Ternyata di pintu gerbang sudah menunggu, dua wanita, yang seorang sudah tua seumur dengannya dan yang satunya masih muda. Dari raut wajah ketahuan bahwa yang muda itu adalah anaknya sedangkan yang tua itu adalah istrinya Ternyata mereka bertiga pergi jamaah sholat Idul Fitri dengan naik becak, sedangkan yang lainnya banyak yang naik mobil mewah.

Ketika ku perhatikan lagi, ada sesuatu yang lain dari Pak Tua itu, wajah yang teduh, dengan senyum yang selalu mengembang, membuat hatiku tergetar. Ya Allah, Engkau telah memberikan sedemikian banyaknya nikmat kepadaku, dibandingkan Pak Tua itu, tetapi kenapa aku masih belum bisa bersyukur kepada-Mu.

Kubandingkan diriku dengan Pak Tua itu, Pak Tua yang sudah tua berumur 60 tahuan, sedangkan aku masih muda berumur 37 tahun, tetapi di dalam dada ini masih bersemayam kesombongan-kesombongan, emosi, ego dan harga diri. Sedangkan Pak Tua itu, meskipun sudah mulai uzur tapi masih dengan semangat pergi Sholat Idul Fitri dengan pakaian yang sederhana dan hanya dengan naik becak tua bersama dengan istri dan anaknya.

Aku masih ingat kata-kata Pak Tua itu ketika akan pulang, “Monggo Mas, kulo wangsul riyin, ngaturaken sugeng riyadi, lahir batin Mas”, (Mari Mas, saya pulang dulu. Selamat lebaran, minta maaf lahir dan batin), sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak kenal dengan dia, tapi ketika dia pulang dengan mengayuh becak masih sempat mengucapkan pamit kepadaku yang kebetulan duduk didekat becaknya. Pak Tua itu segera mengayuh becaknya, dengan damainya dan sesekali menyapa jemaah yang berpasan dengannya, dan mataku pun mengikuti becaknya sampai becaknya berbelok dan tidak kelihatan lagi.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengutus makhluk-Mu untuk mengajar diriku, Engkau telah membuka mataku melalui Pak Tua, tukang becak itu. Pak Tua itu telah mengajariku untuk selalu senyum, rendah hati dan sabar.

*) Artikel Diambil dari http://muchtohar.wordpress.com/guruku-tukang-becak/

**) Foto diambil dari http://www.treklens.com/gallery/photo183951.htm

Share

Comments (1)

KISAH DUA TUKANG SOL

Posted on 03 June 2010 by novalramsis

(kisah fiksi, yang diambil dari realita)

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Ditengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukang sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Share

Comments (1)

IDEALISME ITU BUTUH ONGKOS

Posted on 23 May 2010 by novalramsis

Gol A Gong, Novelis dan Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat:
Idealisme Itu Butuh Ongkos

dikutip dari Koran Tempo

Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong adalah figur yang selalu menolak menyerah kepada keterbatasan. Pendiri taman bacaan Rumah Dunia (www.rumahdunia.net) yang berbasis di Serang, Banten, ini tak pernah berhenti mengejar impiannya: menjadikan bacaan bagian dari kultur masyarakat. Pengarang serial legendaris Balada Si Roy ini percaya, membaca adalah basis bagi kemajuan masyarakat.

Dengan segala keterbatasan yang harus ia sandang, dari ketidaksempurnaan fisik (tangan kirinya diamputasi saat ia berusia 11 tahun) hingga dana yang pas-pasan, ia menggerakkan Rumah Dunia menjadi sumbu gerakan literer masyarakat Serang dan sekitarnya. Dari Rumah Dunia kemudian lahir bakat-bakat penulis andal.

Akhir Februari lalu, Gol A Gong dipercaya menakhodai Forum Taman Bacaan Masyarakat, sebuah forum yang menghimpun tak kurang dari 5.000 taman bacaan di Indonesia. Ia mesti menjalankan organisasi itu di tengah deraan penyakit hernia nukleus pulposus yang diidapnya sejak 2005.

Akhir pekan lalu Gol A Gong kembali meluncurkan Balada Si Roy, novel yang pernah booming di era 1980-an itu, dengan sejumlah tujuan. Ia ingin memberikan bacaan alternatif di tengah serbuan bacaan remaja yang dinilainya lembek. “Laki-laki itu harus macho,” kata dia. Gol A Gong yakin novelnya, yang mengisahkan petualangan remaja mandiri bernama Si Roy, masih relevan untuk era kini.

Ditemui Akbar Tri Kurniawan dan fotografer Yosep Arkian dari Tempo, Kamis lalu, Gol A Gong terlihat segar. Di tengah guyuran hujan deras di kediamannya di Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten, Gol A Gong bersemangat mengudar pikiran dan gagasan-gagasannya.

Apa alasan Anda meluncurkan kembali Balada Si Roy (BSR)?

Saya luncurkan kembali setelah 20 tahun karena permintaan pembaca. Tidak diduga mereka ingin mengoleksi lagi. Hal lain, untuk memotivasi penulis-penulis muda. Saya juga membutuhkan modal untuk menerbitkan buku-buku mereka (penulis Serang) lewat Gong Publishing, salah satu lini usaha Rumah Dunia.

Anda tahu dari mana soal permintaan BSR itu?

Facebook, e-mail (surat elektronik), ada yang mengirim SMS (pesan pendek). “Ayo dong diterbitkan lagi.” Lalu saya umumkan, akan neh tapi print on demand (dicetak setelah ada pemesanan) untuk 1.000 orang. Ternyata yang memesan sekitar 500. Saya buka akhir Februari. Sabar saya tunggu, terus saja, saya sendiri tidak tahu kapan akan diterbitkan. Akhirnya, Sabtu (15 Mei) kemarin, memperingati hari kebangkitan buku, saya luncurkan kembali. Alhamdulillah, dukungan para pembaca bagus.

Ada yang ditambahkan di BSR kedua?

Hanya ada tambahan esai orang yang menulis tentang BSR. Ada bab testimoni, komentar di grup Facebook BSR. Menunya jadi lebih variatif. Total jadi 600 halaman.

Menurut Anda, tema yang diangkat dalam BSR masih relevan untuk sekarang ini?

Awalnya saya juga bilang begitu. Tetapi lalu ada anak muda dari Solo (Jawa Tengah), namanya Anggit, umur 19 tahun. Dia bela-belain datang ke sini sekitar akhir tahun lalu. Sebelumnya kami tidak saling kenal. Dia bercerita, suatu hari mencari sebuah buku di pasar loak. Tetapi yang ia temukan buku BSR seri keempat berjudul Bad Days. Menurut dia, (buku itu) membangkitkan semangat dia. Mata kiri dia ini buta akibat kecelakaan. Lalu dia memburu dari yang pertama sampai ketiga, dan mencari karya-karya saya. Saya tanya, “Emang masih relevan?” Kata dia, masih, kalau dibaca orang di luar Jakarta. Orang-orang kampung menilai BSR masih bagus. Kecil kemungkinan orang metropolis yang tidak mengenal sungai-gunung untuk menyukai Roy. Kehadiran Anggit meyakinkan saya, BSR masih relevan.

Ada contoh lain?

Ada seorang perempuan yang aktif di Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam). Menurut saya, dia ini generasi kedua, kalau Anggit generasi ketiga dari BSR. Dia datang ke sini memborong 35 buku BSR untuk anak-anak Mapala UI (Universitas Indonesia).

Dulu, apa yang membuat Anda berhenti melanjutkan BSR?

Ada komentar miring yang berasal dari orang tua. Ini yang membuat saya berhenti menulis BSR. Pada 1994, banyak orang tua datang ke saya. Mereka cerita, anak-anaknya keluar dari sekolah (setelah membaca BSR). Ada juga anak-anak datang ke rumah, cerita dengan bangga tidak naik kelas seperti Roy. Padahal BSR ini kan ideologinya keluar dari sekolah karena tak punya guru inspiratif. Dia merasa jadi korban kurikulum kala itu. Sekolah itu tidak diajari pintar, hanya statistik. Itu yang saya mau dobrak. Kalau mau belajar sosiologi, pergi saja ke luar, gabung sama tukang becak. Belajar marhaen, pergi saja ke petani.

Ideologi perlawanan itu kemudian diterima remaja kala itu….

Pada awalnya saya suka. Ideologi saya masuk, menggiring anak sekolah pada kehidupan. Tapi, ketika bertemu orang tua di suatu kota, atau memprotes lewat surat, mereka mengingatkan kembali tentang pertanggungjawaban. Lalu saya konsultasi ke orang tua, dan berhenti. Padahal masih ada peluang (melanjutkan).

Dan Anda memutuskan menghentikan serial itu?

Saya ini berasal dari keluarga yang berkecukupan secara moril. Kami berdiskusi di meja makan. Punya moto hidup sederhana: kalau lebih, ya, membantu. Ketika masuk dunia penulis, pesan orang tua: “Tulislah hal yang baik.” Kalau kita menulis yang jelek, akan membebani, lalu akan ada pertanggungjawaban. Saya ini tidak taat agama, tapi rupanya ini mempengaruhi dan membebani saya.

Sebenarnya bagaimana figur Roy yang Anda bentuk?

Roy itu di wilayah abu-abu. Tokoh Roy itu manusiawi saja seperti kebanyakan remaja Indonesia. Kalau ditolak cewek, patah hati, mabuk, lalu tobat lagi. Tapi Roy adalah remaja yang melawan ketidakadilan. Kala itu remaja Indonesia seperti itu. Mau baca buku Pram (Pramoedya Ananta Toer) dilarang. Memang banyak yang kecewa buku ini dihentikan.

Anda sendiri memang ingin menghentikannya?

Biarlah sampai di situ. Setelah menulis BSR juga muncul dampak-dampak positif. Misalkan, (ada yang) keluar dari ketergantungan obat. Ada yang semangat bekerja di outdoor, misalkan di hutan. Ini membuktikan pembaca Roy beragam. Saya senang orang mengambil spiritnya.

Tidak tergoda menulis Roy lagi melihat larisnya tetralogi Laskar Pelangi, misalnya?

Saya sudah mengalami (kesuksesan) semacam itu. Masa itu cukup bagus, dengan akses toko buku yang sedikit. Itu sulit diulang. Buku-buku saya paling cetakan ketiga. Setiap masa ada orangnya (penulis hebat) masing-masing. Andrea Hirata juga meyakini dia tidak akan mampu mengulang lagi. Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-ayat Cinta) juga. Juga sebelum saya, Ali Topan. Pasti nanti ada lagi giliran orang lain. Saya yakin ada lagi. Mudah-mudahan adik-adik di Rumah Dunia.

Anda terdengar ingin realistis….

Godaan itu ada. Tetapi saya tahu diri, harus realistis. Itu proses alam kemampuan berpikir. Orang selalu beranggapan membuat buku itu tidak mengerahkan pikiran, energi, waktu, dan sebagainya. Saya kira saya sudah mendapatkan kesempatan itu. Dan kesempatan itu tidak datang dua kali.

Peluncuran BSR kembali ini sebagai respons atas bacaan remaja sekarang yang didominasi chick lit?

Waktu saya menulis BSR memang dengan maksud itu. Sekarang menerbitkan lagi juga dengan maksud itu. Mudah-mudahan yang membeli itu memberikan kepada keponakannya, adiknya, anaknya. Entah bagaimana sirkulasi buku ini.

Mengapa Anda memiliki maksud seperti itu?

Ada satu kecemasan saya, karena saya pernah di media massa, bagaimana (kerja) industri ini. Kita sebagai generasi muda dilemahkan oleh globalisasi, dengan iming-iming modernisasi. Kita ini tidak kuat dari segi kurikulum pendidikan. Jati diri kita tidak kuat. Orang tua cenderung konsumtif sehingga anak-anaknya dibiarkan tidak memiliki karakter. Tentu itu mencemaskan, (apalagi) saya sekarang menjadi orang tua. Saya rasa ini kecemasan hampir (ada pada) semua orang tua, bagaimana anaknya menjadi anak rumahan. Teknologi, di satu sisi, melemahkan generasi muda di negara berkembang. Ini saya terapkan di sini. Saya tidak anti-asing. Tapi, kalau kita tinggal di Indonesia, kita harus kuat.

Toh, di di era globalisasi ini pula tidak sedikit siswa Indonesia berprestasi di perhelatan internasional?

Anak-anak saya sekolah di sekolah konvensional, begitu saya mengistilahkan. Biar ada sekolah alternatif di sini, saya coba sekolahkan mereka ke sekolah itu. Ternyata mereka ingin pindah ke sekolah alam, terbuka, tidak ada dinding. Padahal anak saya sudah kelas tiga, terpaksa turun lagi ke kelas dua. Beberapa orang tua, ketika mendengar anak-anak saya sekolah di sana, ikutan pindah. Lalu saya ditanya mana yang bagus. Ini selera.

Anda kritis terhadap sekolah “konvensional”?

Saya tidak menyebut konvensional itu jelek, banyak orang sukses dari cara itu. Saya juga termasuk produk itu. Orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya di sekolah konvensional, tapi di rumah disediakan buku-buku. Kalau mau mengukur, seharusnya sukses semua. Kenapa sedikit yang sukses? Karena kita ini cuma user, epigon, gurunya tidak inspiratif, kurikulumnya tidak membebaskan, mengekang. Seharusnya sekolah konvensional harus lebih sukses. Tapi sayang, ukuran kesuksesan itu dari lomba. Di kita, ini selalu dilombakan. Juara-juara di event-event internasional itu kan lomba. Aplikasinya seperti apa? Orang-orang digiring ke statistik, angka, juara-juara.

Anda menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Apa yang bisa Anda lakukan dengan posisi itu?

Saya menyadari masih ada yang berpikiran menjalankan TBM itu berbasis proyek, seremonial, kunjungan ke sana kemari. Saya langsung bikin perubahan. Saya minta ketua umum di masing-masing kota provinsi harus punya TBM. Mereka harus menggali potensi bacaan masyarakat, dana, fund raising. Kalau tidak, coret! Kebanyakan jualannya proposal. Pidato pertama saya mengatakan kita harus pakai otak kanan. Mulai sekarang tidak ada lagi gaya-gaya birokrat. Mulai sekarang kita harus mengelola TBM ini (secara) gila, harus informal.

Forum TBM konon mencanangkan Gerakan Literasi. Apa maksudnya?

Problem utama Indonesia itu adalah pendidikan. Partisipasi kami secara informal lewat TBM. Bagaimana mengaktifkan TBM dalam bentuk kegiatan literasi. Orang menganggap literasi itu sekadar mengeja. Ini harus diubah. Teater juga kegiatan literasi, tapi fasenya lebih tinggi. Kalau orang Indonesia masih mengurus ejaan, kita akan tertinggal terus. Diknas ini mempermasalahkan akan banyak orang yang kembali buta huruf. Nah, TBM ini memfasilitasi. Yang sudah tidak buta aksara digiring agar tidak buta informasi. Mereka harus dimulai misalkan lomba menulis puisi. Di Rumah Dunia, sudah ada semua itu. Ini yang dinamakan Gerakan Indonesia Membaca. Sehingga ada gempa-gempa literasi di kota-kota Indonesia.

Selemah apa sih budaya membaca di Indonesia ini?

Setelah 10 tahun ini, saya makin yakin aksesnya yang sulit. Tahun 1980-an sulit, karena jarang toko buku. Misalkan di sekolah saya di Serang, hanya tiga orang yang berani mendatangi Kompas dan majalah Haiuntuk mengirim puisi. Pemerintah tidak mampu memfasilitasi ini. Minat membaca masyarakat (sebenarnya) ini tinggi. Di perpustakaan juga begitu, jarang buku sastra, novel. Padahal di sana kita bisa belajar sosiologi dan filsafat.

Dari mana budaya membaca itu harus dimulai?

Membaca ada tingkatannya. Anak kecil tidak perlu dibebani membaca yang berat. Mereka bermain saja. Tapi orang tua mengajari, caranya orang tua harus membaca. Nanti berjalan alami mereka akan ikut. Saya tidak suka dengan yang terjadi di Singapura. Di sana mereka membaca sampai bikin individualis. Menjadi asosial.

Rumah Dunia didirikan untuk mewujudkan idealisme Anda itu?

Tahun 1992-1993, saat saya jadi wartawan, saya melihat Sekolah Muthahari, miliknya Jalaluddin Rahmat. Saya ingin bikin seperti itu. Nah, sekarang jadi Rumah Dunia. Idealisme itu butuh ongkos. Saya sudah mencari donor. Sekarang kami mengais-ngais di sini. Cara kreatif untuk mendapatkan dana salah satunya ini (menerbitkan buku). Anak-anak di sini tidak saya bebani memikirkan operasional, sekarang mereka bertumbuhan.

Apakah masa lalu kuat mempengaruhi diri Anda? Seperti apa?

Orang tua selalu memberitahukan gajinya. Pertama yang dipotong adalah untuk orang lain, 2,5 persen untuk orang lain. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayah juga punya perpustakaan, tapi tidak memaksa untuk membaca. Ayah saya sedikit bicara, dia mencontohkan dengan tindakan. Misalkan ketika dia membuat kolam. Saya bingung buat apa. Tapi ketika mulai besar, saya belajar menangkap ikan. Ada ayam, ditanami pohon. Ayah saya ingin mengajari dengan cara meraba, memegang. Setelah cukup umur, dihancurkan dibuat yang lain yang sesuai umur.

Anda pernah bertualang menjelajahi Indonesia dan Asia. Apa yang Anda peroleh?

Saya melihat masyarakat bergotong-royong, memahami wisdom-nya. Saya pantang hanya melewati daerah. Harus dijelajahi. Berbeda dengan backpacker. Saya memilih tinggal dan bekerja mencari uang. Saya lihat orang baik dan jahat ada di mana-mana. Kita tidak perlu takut. Pada akhirnya itu menjadi instinct. Karena kita memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, kita bisa mencari solusi sendiri. Memang akan lebih bagus itu berpendidikan. Kelemahan saya, tidak berpendidikan.

Anda menyesal meninggalkan kuliah?

Saya agak sulit menjawab ini, kadang-kadang saya tergoda. Kalau saya bergelar, barangkali akan menjadi lebih mudah. Tapi memang jebakan-jebakannya berbahaya juga. Ternyata tidak bisa semua porsi itu diambil semua. Kalau ada yang seperti itu, luar biasa.

Orang tua Anda kecewa?

Ya. Karena saya cacat, orang tua berpikir saya harus memiliki kelebihan, yaitu pendidikan. Tapi saya justru berhenti.

Kini, dengan sakit yang ditanggung, bagaimana Anda beraktivitas?

Saya harus menggunakan neck collar (penyangga leher) untuk menopang leher saya. Tapi sekarang sudah tidak. Saya tidak boleh menulis terlalu lama. Kadang Tias yang menulis, saya yang mendikte. Duduk dan tidur pun tidak boleh salah posisi. Kalau salah duduk, bisa merasakan kesetrum lagi. Saya tidak menjalani pengobatan modern, setiap minggu saya harus terapi. Terapinya berendam di air panas, minum jus setiap hari. Saya sendiri berusaha senang, gembira, pokoknya yang melupakan sakit. Sering saya main hujan bersama anak-anak, menulis di Facebook untuk melampiaskan saja. Setiap pagi saya jalan-jalan.


BIODATA

Nama: Heri Hendrayana Harris
Nama pena: Gol A Gong
Tempat dan tanggal lahir: Purwakarta, 15 Agustus 1963
Istri: Tias Tatanka (dengan 4 anak)
Alamat: Kompleks Hegar Alam 40, Ciloang, Serang, Banten 42118
Pekerjaan: penulis
Jabatan lain:

  • Mantan wartawan di berbagai media massa
  • Asisten manajer di Banten TV
  • Direktur GONG Publishing
  • Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia
  • Penasihat Rumah Dunia.

KARYA:
Sebanyak 70 karya tulis, di antaranya:

  • Balada Si Roy (1989″1994, 2004, 2010)
  • Happy Valentine (1991)
  • Perjalanan Asia (1992)
  • Kutunggu di Yogya (1993)
  • Menulis Skenario Itu Gampang (1993)
  • Tembang Kampung Halaman (1992)
  • Surat (1995)
  • Langit Tak Lagi Mendung (1993)
  • Lukisan (2001)
  • Peni (2001)

Sinetron

  • Pada-Mu Aku Bersimpuh (2002)
  • Al Bahri (2002)
  • Keluarga Van Danoe (1996)
  • Ikhlas (1996)
  • Dua Sisi Mata Uang (1998)
  • Anak Gudang (2002)
  • Maharani (2002)
  • Luv (2002)

PENGHARGAAN:

  • Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2007)
  • Tokoh Perbukuan pada Islamic Book Fair (2007)
  • Anugerah Literasi World Book Day 2008 dari Komunitas Literasi Indonesia pada Hari Buku Internasional (2008)
  • XL Indonesia Berprestasi Award Bidang Pendidikan (2008)
  • Insan Peduli dari Radio Elshinta (2010).

Keliling Indonesia Bermodal Raket Badminton

Jiwa petualang dimiliki Gol A Gong sejak kecil. Dia memimpikan bisa berkeliling dunia setelah membaca novel Jules Verne, Keliling Dunia dalam 40 Hari. Sampai SMP, saban Sabtu-Ahad dan hari libur, dia berkeliling Banten dengan sepedanya. Pada 1987, ia mengelilingi Indonesia sendirian, dari Purwakarta sampai Irian Jaya. Dan selama sembilan bulan pada 1991-1992, ia berkeliling delapan negara Asia (Malaysia, Thailand, Burma, India, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal) dengan sepeda.

Petualangan benar-benar mengasahnya instingnya. Menurut dia, dengan memasuki tempat-tempat yang tidak diajarkan di sekolah, dia terbiasa mencari solusi sendiri. Ini dibuktikannya ketika kehabisan bekal dalam perjalanan keliling Indonesia, ia manfaatkan keterampilannya bermain bulu tangkis.

Sebagai juara kedua kejuaraan bulu tangkis se-Banten, Gol A Gong selalu membawa raket badmintonnya. Raket itu ia gunakan untuk menantang para atlet badminton di daerah yang ia singgahi. Sebelum bertarung, Gol A Gong dan lawannya bersepakat: yang kalah membayar. Dari cara ini Gol A Gong bisa mengantongi uang Rp 10-20 ribu.

Soal jagoan badminton se-Banten itu, bukan sekadar gertakan untuk calon lawannya. “Saya punya sertifikatnya,” ujarnya. Surat resmi itu juga sering dibawanya saat bertualang, supaya orang-orang yang ditantangnya percaya.

Gol A Gong memang punya beragam cara bertahan hidup dalam petualangannya. Selain menjual barang perlengkapannya, seperti pemutar kaset kecil, kamera, hingga menjual celana, dia kerap menjadi buruh cuci piring di warung-warung makan. “Upahnya makan gratis,” katanya. Kadang dia bernasib mujur, ditraktir orang yang bersimpati.

Untuk transportasi selama perjalanan, Gol A Gong selalu menumpang truk dan mobil pick-up. Dia juga kerap tidur di jalan, terminal, stasiun, dan pasar. Tapi, yang tidak pernah ia lupakan, dia selalu mengunjungi kantor pemerintah untuk meminta stempel sebagai tanda bukti bertamu di daerah tersebut. “Supaya tidak dicurigai,” ujarnya. Akbar Tri Kurniawan

 

Share

Comments (6)

KISAH TUKANG BAKSO

Posted on 21 May 2010 by novalramsis

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?

“Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”

“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?

Menurur saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri ebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.

“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Sahabat…..
Cerita perjalanan spiritual ini sangat sederhana dan jadi inspirasi. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amien……..

Dalam hadits Qudsi,
“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhari Muslim)

Share

Comments (10)

BUNDEL BALADA SI ROY (2010)

Posted on 21 May 2010 by novalramsis

GONG Publishing dengan bangga mempersembahkan;

Novel fenomenal. BUNDEL 10 BUKU BEST SELLER INDONESIA “BALADA SI ROY” Karya Gol A Gong.

Baca artikel dari Koran Tempo tentang Gol A Gong –> Idealisme Itu  Butuh Ongkos

Cover buku ini dibuat oleh Andi Trisnahadi Suhud. Foto sampul oleh: Noval Y. Ramsis (www.novalramsis.com).

Novel yang sudah menginspirasi jutaan pembacanya. Cermin remaja Indonesia yang selalu bangkit setiap kali jatuh. Dan bersemangat mencari jati dirinya.

”Balada Si Roy adalah legenda dan generasi Jaguar” (Majalah HAI)

Harga Rp. 125 ribu / bundel buku

DAPAT PESAN LANGSUNG KE: studionoval@gmail.com

HOTLINE (hanya) SMS pesan buku: 085 6166 4227

[ dapatkan juga Di TB Gramedia (Jabodetabek) dan Tisera]

Spesifikasi: hard cover, 680 hlm, ukuran 15 cm x 23 cm, kertas HVS 70 gram


DAFTAR ISI MENU PEMBUKA

(i) Persembahan

(ii) Pengantar Penerbit

(iii) Kepada Avonturir Muda

(iv) Roy, Dunia Baru, dan Petualangan

MENU UTAMA:

Buku 1: JOE

Buku 2 : AVONTURIR

Buku 3 : RENDEVOUZ

Buku 4 : BAD DAYS

Buku 5 : BLUE RANSEL

Buku 6 : SOLIDARNOS

Buku 7 : TELEGRAM

Buku 8 : KAPAL

Buku 9 : TRAVELLER

Buku 10 : EPILOG

MENU TAMBAHAN #1: Essay Balada Si Roy

MENU TAMBAHAN #2 : Apa Kata Mereka Tentang Roy

MENU TAMBAHAN #3 : Masih Ingat Dengan Balada Si Roy?

MENU TAMBAHAN #4 : Di Balik Layar

EPILOG:

1. Tentang Seorang Lelaki

2. Aneka Rasa Roy

3. Bio Data Pengarang

Terbit Mei 2010. Launchingnya di HARI KEBANGKITAN BUKU, 15 Mei 2010, pukul 13.00 di Rumah Dunia.  Spesifikasi; hard cover, 680 hlm, ukuran 15 cm x 23 cm, kertas HVS 70 gram. Keuntungan royalti pengarang 25% disumbangkan ke Rumah Dunia.
Dapat pesan ke: studionoval@gmail.com .
Thanks supportnya ke rumah dunia!
Media support: Radan Banten, Banten Raya Post, BR TV, Kompas.Com, Antara News, Barometerbooks, Tokobuku Gramedia, Tisera, PT. Bhakti Pancawarna, Forum Lingkar Pena, Suhud Media Promo, Forum Taman bacaam Masyarakat, XL, Yayasan Tunas Cendekia, Good Read Idonesia, Gen-ID, Majalah HAI, SNP merchandise

 

Share

Comments (4)

PELATIHAN “EXCELLENT PROGRAM FOR WRITING”

Posted on 21 May 2010 by novalramsis

Mengapa Excellent Program for Writing ini diperlukan ? Menulis novel dan TV Program (production book dan scenario) sekarang sedang digandrungi anak muda. Tiba – tiba saja banyak anak muda yang ingin jadi wartawan (non fiksi) , penulis cerpen atau novel, serta menulis skenario TV. Blog, website, dan akun pribadi di facebook atau twitter menjamur. Terutama menulis fiksi (cerpen, novel, dan puisi). Profesi menulis kini selain menjanjikan ketenaran, memberi masukan keuangan yang menjanjikan jika karya (novel) jadi best seller, juga merupakan profesi intelektual dan bermartabat. Siapa tidak tergiur seperti Andrea Hirata (Laskar Pelangi) dan Habiburrahman El-Shirazy (Ayat-ayat Cinta). Tapi rata –rata mereka belum memahami bagaimana menulis fiksi atau non fiksi yang baik. Mengapa excellent program for writing ini diperlukan, karena pelatihan ini dilengkapi dengan metode Learning by doing not hearing (full multi media), menuju terbentuknya pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan pengalaman (experience) yang akan membawa kebermaknaan dan keberkahan dunia dan akhirat dan mampu mengaplikasikan konsep pencerahan sumber daya insani dan Mardhatillah ( berharap ridha Allah SWT ) di dalam kehidupan sehari – hari.

Tujuan & Sasaran Excellent Program for Writing Seusai mengikuti pelatihan ini, peserta akan dibantu dibimbing menjadi REAL BE A WRITER, agar berhasil membuat karya. Jika karya – karya peserta BE A WRITER berupa cerita pendek dan novel bagus, peserta akan di bantu menyalurkannya ke penerbit atau menerbitkannya secara swadaya jadi buku. Bisa juga di salurkan ke GONG Publishing, yang bisa jadi solusi untuk menerbitkan novel atau buku non fiksi dengan cara penulis menyediakan 500 pembeli buku dimuka. Penulis akan mendapatkan royalty pada umumnya sebesar 10 % dari harga buku di kali jumlah buku yang terjual. Buku – buku akan di display di TB Gramedia.

Metodologi Program excellent program for writing ini dirancang dengan menggunakan pendekatan “Manajemen Orang Dewasa atau Adult Based Approach” guna menjamin transformasi proses belajar yang optimal pada peserta secara dinamis serta memungkinkan terjadinya Enlightment of Program di dalam diri peserta setelah selesainya program. Pendekatan ini telah banyak membantu membongkar hambatan mental individu untuk memulai menulis. Kekuatan utama program ini adalah proses belajar yang menyenangkan, pelibatan emosi peserta yang tinggi serta pembentukan Kecerdasan Pribadi (personality intelligence) dengan mengedepankan Brainstorming, Discussion and Practice kearah perbaikan terus menerus. Apa Saja yang Disajikan ? Materi dibagi dalam 2 kelompok besar, fiksi dan non fiksi yaitu sebagai berikut : Menulis Itu Gampang

  • Pekenalan penulis dan peserta
  • Tujuan Menulis
  • Tema popular
  • Target pembaca
  • Target media
  • Profesi menulis

Dengan pendukung :

  • Pemutaran film dokumenter Gol A Gong
  • Kelas Interaktif
  • Simulasi membuat nama pena, filosofi nama pena dll

Unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya fiksi :

  • Menggali ide dengan 5W + 1H (metode jurnalistik)
  • Sinposis, karakter, alur, latar waktu – tempat, dialog, konflik, ending

Unsur-unsur ekstrinsik dalam sebuah karya fiksi :

  • Pentingya membaca
  • Observasi
  • Riset pustaka dan riset lapangan
  • Memahani social – budaya cerita

Dengan pendukung :

  • Simulasi menerapkan ekstrinsik ke dalam intrinsik (tentang latar tempat & tokoh)

Bagaimana memulai menulis

  • Sudut pandang/Point of view
  • Majas/diksi

Dengan pendukung :

  • Kelas Interaktif
  • Beberapa peserta akan praktek menulis alur, plot, dalog, kalimat pembuka

Semua materi di atas akan di bawakan dengan observasi, games, simulasi, task, interaksi dan refleksi. Fasilitator

Tempat & Waktu Penyelenggaraan

Lokasi : PSJ (Pusat Studi Jepang) UI Depok

Waktu : Sabtu, 10 Juli 2010 M Jam : 13.00 – 17.00 Wib

Investasi : Rp. 150.000,- ( Rp. 100.000,- jika TRANSFER sebelum 1 Juli 2010)

(dapat 1 buku Be A Writer #1 karya Gol A Gong + kit materi)

TEMPAT TERBATAS

Transfer Investasi dengan tambahkan 3 digit terakhir no HP ANDA

CONTOH –> No Hp 085 6166 4227 –> transfer investasi sejumlah Rp. 100.227 ke:

Bank Central Asia (BCA) KCP PROKLAMASI DEPOK

a/n: NOVAL YOUMAL F

norek: 6610258041

KONFIRMASI TRANSFER KE (SMS ONLY, NO CALL PLEASE): 085 6166 4227

Keunggulan Program

  • Kurikulum dikembangkan secara tepat oleh Team Pengajar, Peneliti, dan Pengembangan di Sekolah Kepenulisan
  • Kesinambungan (alur) setiap sesi pertemuan di desain dengan apik sehingga kompetensi inti yang diharapkan akan diserap dengan baik oleh peserta program
  • Sistem pembelajaran adalah Learning by doing not hearing, peserta akan menyerap teori melalui Brainstorming, Discussion, Practice dengan simulasi, praktik dilapangan, kasus, dan tugas yang dibimbing oleh seorang mentor berpengalaman
  • Sebagian besar waktu tatap muka adalah untuk peserta bereksplorasi, hal ini untuk menjamin bahwa peserta mampu melakukan langsung, bukan hanya mengetahui.

Informasi & Contact Person Informasi mengenai program Sekolah Kepenulisan ini dapat dilakukan secara langsung melalui alamat : YUAIWI enterprise – SSQ Center House of Writing Gema Pesona Estat Blok R/17 Jl. Tole Iskandar No. 45 Depok 16412 HOTLINE : 0815 1999 4916 Email : studionoval@gmail.com

Share

Comments (0)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 256899Total dibaca:
  • 113400Total pengunjung:
  • 187Pengunjung hari ini:

Palanta Discussion Forum Schedule

May 2012
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031EC

 

Upcoming Discussion

  • No events.