Archive | PALANTA

Training Parenting

Posted on 24 June 2012 by novalramsis

Mengapa perlu Training Parenting:

  • Orang tua sulit menentukan pola asuh yang sesuai dengan personality anak
  • Bingung berbagi peran dalam mengasuh dan membimbing anak.
  • Sulit dalam membangun hubungan yang saling mendukung antara orang tua dengan anak

 

Tujuan pelatihan:

Membantu para orang tua dalam mengasuh dan mempersiapkan anak-anak menuju keberhasilan

 

Manfaat Pelatihan:

  • Orang tua mengetahui model parenting yang tepat sesuai dengan dirinya dan anak-anaknya.
  • Orang tua menemukan cara terbaik dalam mengasuh anak menuju keberhasilan masa depannya
  • Orang tua mampu memaksimalkan kekuatan alamiah mereka sesuai dengan personality anak

 

Durasi Pelatihan:

4-6 jam sesuai kesepakatan

 

Lokasi Pelatihan:

Jakarta & Depok.  ( Klik>> Noval Ramsis untuk lokasi lain )

 

Fasilitator:

Noval Y. Ramsis :Master Coach for Life & Business , penulis buku best Seller 1/2 Karyawan 1/2 Bos, Founder OptimasiDiri.com

Share

Comments (0)

MPP

Posted on 26 May 2012 by Zai

Nyaris semua pekerja baik pegawai negeri ataupun swasta mengenal sebuah singkatan yang sering dianggap sebagai tanda lahirnya peringatan akan waktu kerja yang akan habis. Singkatan itu adalah MPP yang merupakan kependekan dari Masa Persiapan Pensiun.

Tergantung pada tingkat jabatan kita maka bebagai pemikiran dan perasaan berkecamuk dalam benak kita saat mendekati MPP. Umumnya berupa kegelisahan, kekhawatiran, dan kegalauan, dan sedikit kesenangan. Segala upaya dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang berpotensi muncul saat melalui MPP ini. Continue Reading

Share

Comments (0)

9 Alat SEO untuk Bisnis skala Mikro

Posted on 09 May 2012 by novalramsis

 

Apakah website untuk bisnis anda yg berskala kecil telah dpt menarik ribuan pengunjung dan menghasilkan konversi, sehingga mereka yg berkunjung ke website menjadi konsumen? Jika website belum memberikan hasil, maka sudah waktunya melirik gunakan SEO utk website anda.

 

SEO melibatkan proses pencarian kata kunci bagi pelanggan potensial yg akan digunakan utk menemukan produk dari layanan yang kita jual. SEO jg merupakan proses penambahan kata kunci ke halaman website dan membangun jejaring tautan yg mengarah ke halaman website anda.

 

Kali ini kita bahas 9 alat SEO bagi bisnis skala mikro. Semua alat ini dapat mengarahkan trafik ke konten website. Sebagian besar alat tsb dari Google. Kenapa? Karena 65% pencarian di internet menggunakan Google sebagai mesin pencari.

 

Yuk kita lihat 9 alat SEO yang dapat membantu bisnis anda:

 

1.         Google Adwords Keyword

Google Adwords Keyword Tool (https://adwords.google.com/select/KeywordToolExternal) didesain bagi para pemasar yg ingin menemukan kata kunci terbaik bagi kampanye Google adwords. Tool ini juga dapat dimanfaatkan untuk pencarian Organik.

 

2.         WordPress

WordPress ( http://wordpress.org/ ) termasuk ke dalam alat SEO yg dapat digunakan. Mengapa? Search Engine mencintai blog. Jadi jika belum membuat blog, maka cobalah. WordPress adalah software web yg digunakan untuk membuat blog atau website.

 

3. Google Analytics

Jika belum punya akun google dan belum menambahkan kode pelacakan Google analytics (www.google.com/analytics) ke website atau blog, maka harus melakukannya. Dengan google analytics, dapat belajar tentang apa saja yg menarik pengunjung ke website.

 

4. Google Insight for Search

Google insight for search ( www.google.com/insights/search/ ) akan memberikan tren kata kunci.

 

5. Google Trend & Trendistic

Google Trends ( www.google.com/trends ) menampilkan topik dan kata kunci yg sedang “panas” di google.

 

6. Facebook

Sudahkah membuat halaman Facebook page ( www.facebook.com/pages/create.php ) untuk bisnis anda?

Google telah menambahkan Facebook page sbg salah satu konten yg di index.

 

7. Wordtracker Lab Keyword Questions

Saat ini semakin banyak pengguna internet yg mengetikkan kalimat pertanyaan k e search engine. Wordtracker ( https://freekeywords.wordtracker.com/keyword-questions ) akan membantu dg mengubah query data yg dimasukkan.

 

8. Google Palces for Business

Apakah bisnis anda dapat ditemukan secara local? Google Places for Business (www.google.com/local/add/businessCenter?gl=US&hl=en-US) adalah tool utk menempatkan bisnis anda di Google Maps secara search engine.

 

9. Google Webmaster

Google Webmaster atrau Webmasters-Google (www.google.com/webmasters/) menyediakan berbagai alat webmaster yg mudah digunakan. Setelah anda memverifikasi website anda, akan mendapatkan hasil diagnose utk memastikan tidak ada yg error sehingga search engine dpt mengindeks konten, sehingga konten dan website anda dapat ditemukan di search engine.

 

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

 

Tukul Arwana & buku 1/2Karyawan 1/2Bos

Tukul Arwana & buku 1/2Karyawan 1/2Bos

 

 

 

Share

Comments (3)

Seminar: Cara Dahsyat Jadi Pengusaha (bagi Karyawan), 6 Mei Depok

Posted on 23 April 2012 by novalramsis

Sekarang ini, anda masih menjadi karyawan, dan ingin mulai membangun bisnis anda sendiri?

Saat jadi karyawan adalah saat terbaik memulai bisnis.
Kenapa?
1. Anda sudah punya penghasilan.
2. Anda sudah punya keterampilan.
3. Anda terbukti dapat bekerja dengan baik.

Gaji anda dapat menghidupi keluarga. Dari gaji pula anda bisa dapat modal untuk memulai bisnis. Maka bila dari bisnis anda belum dapat penghasilan atau bahkan bisnisnya hancur,, keluarga anda tak akan kena masalah apa-apa.

Berbeda bila anda hanya berbisnis. Bisnis gagal, akibatnya pasti merembet ke keluarga.

Seminar ini akan membantu anda mewujudkan keinginan anda untuk membangun bisnis.

Topik seminar yang akan dibahas, yaitu:
1. Kenapa karyawan harus membangun bisnis.
2. Menangani resiko karyawan yg berbisnis
3. Memilih bisnis yang tepat.
4. Pemasaran bisnis
5. Merekrut dan menangani karyawan.

 

Investasi Rp. 99.000,-

Maksimal untuk 50 orang peserta.

 

Fasilitas:
1. Buku “1/2 Karyawan, 1/2 Bos” senilai Rp. 40.000,-
2. Modul Seminar.
3. Tes Kepribadian senilai Rp.150.000,-
4. Snack & Makan Siang
5. Konsultasi.

 

Tukul Arwana & buku 1/2Karyawan 1/2Bos

Tukul Arwana & buku 1/2Karyawan 1/2Bos

Waktu dan Tempat:

Minggu, 6 Mei 2012.
Pkl.09.00-15.00 WIB
Gd. BTPN, Jl.Margonda Depok.(depan kantor Walikota)

“Inilah momentum hebat memulai dan mengembangkan bisnis anda sendiri”

 

Fasilitator:

1. Supardi Lee, Pengusaha Lele sangkuriang, siaran The Power of Life di Sindo Radio Network tiap kamis 04.30, penulis buku 1/2 Karyawan, 1/2 Bos.

2. Noval Ramsis, Green Coach for Life & Business , penulis buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos

3. Budi Kusworo, Kepala Cabang BTPN Depok, Pengusaha.

 

 

Investasi pelatihan Rp. 99.000 per peserta. First Transfer, First Serve

Setor tunai atau transfer ke BCA KCP Proklamasi Depok

No rekening: 6610258041

Atas nama: Noval Youmal

Info tentang Noval Youmal klik DISINI atau cari di Google dengan keyword: Noval Y. Ramsis

Setoran tunai atau transfer investasi senilai Rp. 99.000 dengan tambahkan 3 digit angka terakhir no hape anda:  jadi setor tunai atau transfer investasi pelatihan senilai Rp. 99.xxx ,- (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)

Konfirmasi pembayaran di sms atau email ke Noval Y. Ramsis:

no hape: 085 6166 4227  – Email ke: pelatihan@buyanur.com atau novalramsis@gmail.com

Isi konfirmasi: Nama Peserta [spasi] Pengusaha [spasi] tgl transfer [spasi] 149.xxx (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)

Tukul Arwana & Noval Ramsis buku 1/2Karyawan 1/2Bos

Tukul Arwana & Noval Ramsis buku 1/2Karyawan 1/2Bos


Share

Comments (2)

Yuk Sedekah & Infak pembangunan gedung BengkelAqidah Semarang

Posted on 26 March 2012 by novalramsis

Yuk Sedekah dan Infak pembangunan gedung BengkelAqidah Semarang

Ayo investasi akhirat dengan bersedekah,

“Orang-orang yg menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al Baqarah :274)

“Bengkel  Aqidah Semarang menjadi Solusi Holistik Multidimensi segala Permasalahan Dunia”

Testimoni jamaah :”Sudah berkali kali saya di rukyah sama Ust. Adil dan Ust. Maman tapi selalu kambuh, sembuh dan kambuh, hingga di rukyah terakhir Jin anyg mengganggu sulit sekali di usir, hingga kelelahan semua, peruqyah dan yang di ruqyah, akhir dimintalah utk sholat dua rakaat dan berdoa sekhusyu’ mungkin untuk di sembuhkan, setelahnya bersedekah istimewa, karena belum ada akhirnya saya niat saja, jika sembuh akan sedekah istimewa,subhanallah… antara sadar dan tidak saya melihat sesosok berpakaian putih datang dengan cambuknya dan mulai mencambuk jin-jin yang ada ditubuh saya, si jin pun teriak lari dengan ketakutan, “malaikat datang..malaikat datang. “Alhamdulillah sampai sekarang sudah sembuh dan tidak kambuh lagi. Subhanallah…Luar biasa dahsyatnya sedekah.

Masjid Al Hayyu
Jl. Sumber Sari Rt03/RW10 no 23
Sebrang Graha Permata Surya
Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Kontak:
dr. Dasti Youmal (Yayasan AlHayyu) hp 0856 7628 775, twitter @ProSedekah
Noval Ramsis hp 085 6166 4227, twitter @NovalRamsis

ditawarkan 4.000 lembar infak senilai @Rp. 500.000,- untuk pembangunan gedung Bengkel Aqidah Semarang

Bagi yang memiliki keluangan rezeki silahkan transfer ke:

Rekening untuk infaq & sedekah pembangunan rumah dakwah & gedung bengkel aqidah:

Bank Syariah Mandiri

KCP Depok Dua

nomor rekening:  7020449092

an: Noval Youmal F

 

Bank Central Asia (BCA)

nomer Rekening 6610258041

an: Noval Youmal F

Info tentang Noval Youmal F klik DISINI atau cari di Google dengan keyword: Noval Y. Ramsis

Aktifitas Bengkel Aqidah saat ini:
-Pengobatan NonMedis Solusi Multidimensi: Akupunktur, Bekam & Terapi Ruqyah (setiap hari)
-Pengajian sabtu-ahad: Al Qur’an & Hadist (menginap di rumah singgah AlHayyu)
-TPQ utk TK, SD & SMP

Tim BengkelAqidah Semarang

Drs. H. S. Effendi, MSc, Ust. Umar Faqihudin. Ust. Migdad. MSi, Ust. Maman (Peruqyah), Ust. Adil (asst. Ruqyah, Bekam, Akupunktur & Massage), Noval Ramsis. C.LC, C.MH (Life Coach & Konselor), dr. Dasti Youmal, dr. Irvan Agung, Sugeng Haryadi, SKM (penyuluh kesehatan & web support)

lebih lengkap Proposal baca disini << klik

 

masjid Al Hayyu Semarang

masjid Al Hayyu Semarang

 

Yuk Sedekah 99ribu/paket untuk anak Yatim & dhuafa, 1 April di Depok/ Jakarta

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS:2:261)

akun twitter @ProSedekah (Provokator Sedekah) pada Minggu 1 April 2012 akan adakan acara nonton bareng film Negeri 5 Menara ( karya novelis @fuadi1 ) dgn 100 anak yatim & dhuafa asuhan pontren @RezaInspirator (Ust. Reza M. Syarief) di Bioskop XXI Depok/ Jakarta.

kami mengajak sahabat yang ada kelapangan rezeki untuk berpartisipasi pada acara ini.

nominal sedekah:  99 ribu rupiah/paket berupa:
satu tiket nonton utk satu anak yatim, 1 paket alat sekolah dan snack .

sedekah dapat ditransfer ke:
rekening BCA no 6610258041 a/n: Noval Youmal F.

dipersilahkan untuk bersedekah dgn kelipatan 99ribu rupiah

Info tentang Noval Youmal klik DISINI atau cari di Google dengan keyword: Noval Y. Ramsis

informasi & konfirmasi ke admin @ProSedekah :

dr. Dasti A. Youmal, (sms only) 085 6166 4227 atau email provokatorsedekah@gmail.com

diberikan kesempatan juga untuk jadi relawan kegiatan ini atau utk ikut menonton bersama dgn anak yatim.

InsyaLlah dapat lebih dari 100 anak yatim & dhuafa (target 100 anak) dengan keterlibatan aktif dari sahabat.

mohon bantuan sebarkan informasi ini.

follow twitter @ProSedekah& ikuti TimeLinenya untuk update info terbaru.

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS:2:262)

 

Dana sedekah yang terkumpul sampai 1 april 2012: Rp. 6.411.000

donatur:

1. Purnomo

2. Slamet S

3. Sasmoyo B

4. Dian R

5.  Nina M

6. Sally R

7. Julfizar P

8. Debby P D

9. M Arif

10. Irma R

11. Isna dkk @IstanaSedekah

12. Ferdiono J

13. Marlena

14. Etry B

15. Taty B

16. Tony H

17. Nining

18. Yudhanti

 

Dokumentasi acara NoBar film Neger 5 Menara  1 April 2012 di Cinere XXI  Depok.

 

NoBar N5M 1 april

NoBar N5M 1 april @ProSedekah

 

NoBar N5M Cinere XXI 1 April 2012

NoBar N5M Cinere XXI 1 April 2012

 

NoBar N5M Cinere XXI 1 April

NoBar N5M Cinere XXI 1 April

 

NoBar N5M Cinere XXI 1 April 2012

NoBar N5M Cinere XXI 1 April 2012

 

Ernest "Said" Samudera & fans N5M

Ernest “Said” Samudera & fans N5M

Salam Sukses Berbisnis


Share

Comments (0)

Tips SUKSES: Buka Usaha dalam 30 hari

Posted on 19 March 2012 by novalramsis

Kaya adalah kuasa.  Dengan kekayaan anda dapat melakukan banyak hal.

Lakukanlah hanya Satu Tips satu hari.

 

1. Niat memulai usaha

2. Tentukan Jenis bisnis sesuai kegemaran/hobi

3. Gali & petakan peluang di pasar

4. Cari referensi di internet, buku, serta info lain

5. Belajar dari orang yg sukses berwirausaha

6. Cari pesaing bisnis. Temukan kelemahan produk mereka.

7. Temukan pesaing lain

8. Merenung. Ide Bisnis spt apa & yg sudah digali selama ini.

9. Tentukan target calon pembeli.

10. Buat merek usaha yg mudah dibaca, diingat, bermakna baik & menarik

11. Tentukan (minimal) satu keunikan usaha.

12. Tentukan ciri produk/ merek usaha yh mudah diingat calon pembeli.

13. Cari pemasok bahan baku yg dibutuhkan.

14. Bandingkan pemasok di berbagai tempat.

15. Buat perkiraan penjualan per bulan selama satu tahun.

16. Hitung perkiraan modal awal.

17. Cek pengeluaran yg dapat ditunda.

18. Gunakan modal tunai, jangan meminjam.

19. Jika tidak punya uang sendiri, cari rekan yg memiliki modal.

20. Kalau belum juga dapat, bisa minta dukungan orangtua/ keluarga

21. Jika cara mendapat modal tidak bisa juga, minta “uang muka” dari pembeli.

22. Cari lokasi yg dibutuhkan. Sewa atau beli bergantung pd kesiapan dana dan pertimbangan untungnya.

23. Mulai merapikan toko, warung atau kantor.

24. Buat kartu nama, spanduk, brosur dan papan nama (jika dibutuhkan).

25. Pasang spanduk di tempat strategis dan pasang papan nama di tempat usaha

26. Rekrut karyawan yg dibutuhkan utk masa awal #BukaUsaha Latih mereka sesuai dg kualitas yg diharapkan.

27. Cek kembali semua persiapan, lengkapi hal yg masih kurang.

28. Berikan undangan kpd teman-teman utk pembukaan usaha, seperti voucher free

29. Persiapan akhir launching usaha, persiapkan mental dan karyawan.

30. Pembukaan usaha, catat semua uang keluar masuk dalam usaha

************************************

Peluang Usaha agen Travel Services (modal terjangkau, klik disini)

 

Baca juga buku bestSeller: 1/2 Karyawan 1/2 Bos <<klik ini

Jadi BOS Dengan Cara Aman.

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

 

Temukan HartaKarun DalamDiri Kita. klik>> http://j.mp/T4eYl2 

Belajar #OptimasiDiri dg follow twitter @KataNoval

Tukul Arwana & Noval Ramsis buku 1/2Karyawan 1/2Bos

Tukul Arwana, Noval Ramsis & buku 1/2Karyawan 1/2Bos

 

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

 

Noval Ramsis Fortune Indonesia

Noval Ramsis Fortune Indonesia

Share

Comments (6)

Terlihat Benar Tapi Belum Tentu Benar

Posted on 27 December 2011 by novalramsis

 

Catatan Kepala: ”Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar”.

Sudah cukup sering kita berhadapan dengan orang-orang yang menganggap dirinya benar. Melakukan hal-hal yang benar. Dan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Anehnya, kebenaran yang diperjuangkan itu berbenturan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam lingkup yang lebih besar. Orang-orang semacam itu tidak hanya bisa kita temui di jalan. Juga di lingkungan tempat kita tinggal. Maupun di kantor tempat kita bekerja. Orang-orang itu tidak berada jauh. Banyak yang dekat dengan kita. Ada yang sangat dekat dengan kita.

Bahkan ada yang sedemikian dekatnya sehingga jantungnya adalah jantung kita juga. Ehm, kalau begitu; orang itu adalah diri kita sendiri dong ya. Kita yang sering merasa telah berada di jalan yang benar, seolah hal lain di luar kita adalah salah.

Saya punya janji rapat presentasi program pelatihan saya dihadapan management sebuah group perusahaan. Berbekal alamat lengkap lokasi meeting, maka saya pun meluncur ke lokasi. Karena kurang faham wilayah itu, saya sesekali berhenti untuk menanyakan arah. Sesuai petunjuk orang yang ditanya, saya pun belok kanan. Alhamdulillah, nama jalannya sudah pas seperti seharusnya. Tinggal mencari menara perkantoran itu, sampailah. Namun, saya tidak kunjung menemukan menara itu, hingga nama jalan yang dilalui berubah. Saya putar arah, sampai diujung perempatan lagi. Menara itu tetap tidak ada. Apa pasal? Rupanya, jalan di seberang perampatan itu juga masih sambungannya. Seharusnya tadi saya belok kiri, karena menara itu ternyata berada di sebelah sana. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga, bahwa; “Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar.” Ini bukan sekedar soal mencari alamat tertentu, melainkan isyarat Ilahi tentang cara menelusuri sepanjang perjalanan hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami isyarat itu dalam menjalani hidup, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang berikut ini:

 

1.      Berhenti merasa benar sendiri. Misalkan saja Anda sedang berada di jalan Jenderal Sudirman. Saat menelepon teman Anda, dia mengaku jika dia pun sedang berada di jalan yang sama. Apa yang selanjutnya Anda lakukan? Anda mengatakan bahwa dia berdusta? Tidak. Mungkin malah Anda akan bertanya; “Elu ada disebelah mana? O, gitu. Ya udah elu jangan kemana-mana. Gue langsung meluncur kesana.” Kan begitu. Mudah bagi kita untuk memahami hal itu. Yang sulit adalah ketika kita merasa semua kebenaran ini milik kita seluruhnya sedangkan semua orang lain salah. Karena sama-sama ngotot, maka kita saling mempertentangkan kebenaran masing masing. Padahal, boleh jadi sebenarnya kita berada pada ‘rute jalan’ yang sama, namun  kita berada pada ‘spot’ yang berbeda. Jika Anda bisa mengatakan ‘ya udah elu tunggu aja, sebentar lagi gua kesana’ di Jalan Jenderal Sudirman itu, kenapa sih kita tidak bisa mengatakan;’Elu bener. Gue pun akan punya keyakinan serupa itu jika menggunakan sudut pandang nyang entu…” Itu loh yang sering kita sebut sebagai empati itu. Kita memahami latar belakang dan sudut pandanganya, sehingga bisa memahami pendapatnya. Dan sikap serupa itu, hanya bisa kita miliki jika kita berhenti untuk merasa benar sendiri.

 

2.      Jalan itu bukan lokasi. Kalau kita sudah berada di sebuah jalan, hal itu tidak berarti kita telah melintasi semua bagian dari jalan itu, begitulah faktanya. Saya sudah berada dijalan itu. Tapi saya tidak bisa menemukan lokasi rapat itu. Faktanya, jalan adalah lorong untuk mengantarkan kita ke lokasi yang kita tuju. Masalahnya, jika jalan hidup kita, jalan pikiran kita, jalan keyakinan kita sudah benar kita sering merasa jika kita sudah berada di ‘lokasi’ yang benar. Makanya, kebenaran sering kita amalkan secara membabi buta. Kita merasa berhak menindas orang lain atas nama kebenaran. Kita boleh memaki bawahan atas nama kebenaran. Kita boleh menghujat atasan dan pemimpin atas nama kebenaran. Dan kita, boleh ‘melakukan apapun juga’ selama kita berpijak diatas sendi-sendi kebenaran. Tidak bung. Anda baru sampai di Jalan tempat kebenaran itu ada. Namun Anda, belum sampai di lokasi kebenaran itu sendiri. Tak heran jika banyak atasan yang semena-mena. Banyak bawahan yang suka membangkang. Banyak teman yang berani melakukan apa saja demi memenangkan persaingan. Karena mereka lupa; bahwa yang mereka perjuangkan itu bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan sebuah perjalanan yang belum selesai ditempuhnya. Maka tempuhlah perjalanan menuju kebenaran itu terlebih dahulu. Pastikan Anda sampai di lokasi kebenaran itu berada. Izinkan semua orang dari berbagai penjuru bumi menggunakan bermacam alat transportasi, dan menempuh jalur-jalur yang berbeda bisa tiba ditempat yang sama. Setelah berada disana; kita baru akan menyadari jika ternyata; kita berbeda ini memiliki tujuan dan kebenaran yang sama. Oh, ternyata jalan itu, bukanlah lokasi.

 

3.      Tidak ada jawaban yang salah. Saya salah berbelok. Harusnya ke kiri, bukan ke kanan. Tapi, itu saya lakukan karena seseorang memberitahukan untuk belok kanan. Lho, kok kesalahan saya malah ditimpakan kepada orang lain yang sudah berusaha untuk memberi bantuan. Saya bertanya ‘jalan ini ada dimana?’. Dia bilang, ‘diperempatan itu, Bapak belok kanan.” Dia benar. Bahkan sekalipun orang itu menjawab salah, bukan salah dia. Yang salah adalah saya yang bertanya kepada orang yang tidak mengetahui jawabannya. Kita? Oooh, sering sekali menimpakan nasib sial, kesulitan, kegagalan, kekecewaan dan semua perasaan yang tidak menyenangkan sebagai ulah yang diakibatkan oleh orang lain. Saya melakukan ini karena istri saya tidak merawat diri. Saya melakukan itu karena suami saya tidak perhatian lagi. Karir gue mandek gara-gara teman gue suka menjilat atasan. Saya malas kerja karena suasana di kantor kurang kondusif. Saya sering telat karena teman dan boss saya juga begitu gak diapa-apain. Lha, kok semua keburukan, kesialan, dan kelemahan kita malah ditimpakan penyebabnya kepada orang lain. ‘Lantas, elo mau aja menyerahkan nasib kepada orang lain?’ Begitu saya mendengar  teguran keras dari dalam diri saya. Jikapun orang lain telah menyebabkan kita menderita; belum tentu karena mereka sengaja. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu kita dengan lebih baik. Maka ketika kita mendapatkan jawaban atau bantuan dan perlakuan apapun dari orang lain, bukan salah mereka jika kita menerimanya. Kitalah yang mesti belajar untuk memilahnya; dan menjaga diri dari dampak buruknya.

 

4.      Tidak semua pengguna jalan tertib aturan.  Orang tidak sengaja menyulitkan kita? Iya. Tapi, kadang kita bisa kecipratan dampak buruk dari perilaku kotor orang lain. Sama seperti pengendara di jalan-jalan yang kita lalui. Ada saja tingkah polah pengendara lain yang menyusahkan kita. Angkot yang berhenti sembarangan. Motor yang ngecot kiri-ngecot kanan. Bis kota yang ngetem di tikungan. Bahkan, ada juga mobil pribadi yang menggunakan sirene polisi hanya untuk menakut-nakuti. Sama seperti hidup kita. Meskipun kita sudah berada di jalan yang lurus, namun banyak juga orang yang melintasinya secara ugal-ugalan. Mereka kelihatan percaya diri dengan kengawurannya. Mereka baru meringis nangis kalau pelipisnya sudah teriris oleh kerikil dari aspal yang terkikis. Sekitar tahun 1998, saya bahkan pernah menjadi korban tabrak lari. Seperti itulah kira-kira fakta hidup kita. Jangan pernah pergi melintasi jalan manapun jika tidak ingin bertemu dengan para pengendara ceroboh dan arogan seperti itu. Jangan pergi ke kantor jika tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Jangan bekerja jika tidak mau dibentak. Jangan keluar rumah jika tidak ingin berpapasan dengan tetangga judes. Jangan keluar kamar jika ogah melihat wajah marah orang serumah. Jangan hidup jika tidak mau menghadapi konsekuensi-konsekuensi lumrah sebagai mana layaknya. Tidak semua pengguna jalan tertib aturan. Begitulah faktanya. Maka mari kita hadapi kenyataan itu. Dan mari kita lintasi semua jalan dan jalur kehidupan yang semertinya kita tempuh. Meski berhadapan dengan resiko serupa itu.

 

5.      Jalan yang tidak pernah menyesatkan. Ada banyak jalan menuju ke Roma, katanya. Itu benar. Tetapi tidak berarti bahwa semua jalan bisa membawa kita ke Roma. Semua orang boleh memilih jalan hidupnya masing-masing, katanya. Itu benar. Tetapi, tidak berarti bahwa seseorang boleh bertindak semau udele dhewek. Kenyataannya ada jalan buntu. Bahkan jalan yang menyesatkan. Kewarasan kita patut dipertanyakan jika sudah tahu itu buntu tapi masih maksa menembusnya juga. Sudah tahu itu sesat, eh ngotot saja hanya karena merasa nikmat. Makanya, meski kita boleh memilih jalan hidup; kita perlu memilih jalan hidup yang tidak pernah menyesatkan. Adakah jalan seperti itu? Ada. Yaitu, jalan yang dibentangkan berdasarkan petunjuk dan bimbingan Tuhan. Untuk menemukan jalan itu, tidak cukup sekedar bertanya kepada pemuka agama. Pertama, mereka juga manusia yang bisa salah seperti kita. Kedua, pemuka agama tidak memiliki kemampuan untuk memaksa kita mengikuti kata-katanya. Ketiga, hanya diri kita yang bisa membuka pintu hati agar isyarat dan cahaya Ilahi bisa memasuki relung terdalamnya. Kita akan bisa menemukan jalan Ilahi itu hanya jika terus mencari, menerima, menyadari, mempersiapkan dan memahami tanda-tandanya. Dan salah satu tanda itu adalah; ketika kita ikhlas menjalani peran yang sehari-hari kita mainkan. Tanpa keikhlasan itu, jelas sekali jika kita tidak sedang melangkah dalam jalan yang tidak pernah menyesatkan itu

 

Setelah sekian puluh tahun perjalanan hidup kita, sudahkah kita menemukan jalan hidup yang benar-benar tepat untuk kita lalui? Jika kita pernah salah jalan, tak usah terlampau gusar. Segeralah memutar arah, lalu ikutilah jalur yang seharusnya. Setelah berada di jalan yang kita kira benar pun, teruslah memeriksa apakah kita berada di lajur yang benar? Boleh jadi, jalan kita sudah benar, namun kita berada di lajur yang salah, atau menuju kearah yang salah,  dan mengikuti rambu yang salah.  Mengapa? Karena sesuatu yang terlihat benar itu, belum tentu benar. Hanya ada satu kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Mengapa kebenaran dari Tuhan sifatnya mutlak? Karena Tuhan itu hanya satu, sehingga kebenaran yang ditentukanNya tidak ada yang bisa mempertanyakan. Mempertentangkan. Atau memberi tandingan. Dalam jalan  kebenaran yang dilandasi petunjuk Ilahi itu; yuk, kita sama-sama melangkah.

 

Catatan Kaki:
Isyarat kebenaran Ilahi hanya bisa ditangkap oleh pribadi yang menyediakan jiwa dan raganya untuk selalu bersih dalam menjalani hidupnya.

 

penulis: Dadang Kadarusman
dikutip dari: www.cak-soetam.com
Share

Comments (1)

Menggendong Monyet

Posted on 11 December 2011 by novalramsis

Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ mereka sendiri?

Manajemen waktu

Bill Oncken di “Harvard Business Review “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa ini?” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:

  1. Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa  beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).
  2. Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).
  3. Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.

Dimana monyetnya?

Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika  salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda  perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan  mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.

Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting  tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.

Monyet pertama

Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”

Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi,  sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda  membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:

  1. Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan
  2. Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut

Rumusannya, “Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang mengawasinya.”

Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut  datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.

Monyet kedua

Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.

Monyet ketiga

Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya  pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.

Monyet keempat

Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.

Monyet kelima

Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”

Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan  setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?

Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”

Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda  mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah  TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. I love you!”.

Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.

Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda  telantarkan monyet Anda  sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.

Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst

Di mana-mana monyet

Di sekeliling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa “monyet-monyet lemparan!” Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”

Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda  sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.

Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.

Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.

Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.

Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “monyet-monyet dari samping” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri. Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “monyet-monyet dari samping” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “monyet-monyet dari atas” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.

Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya me-manage, Anda malah di-manage.

Monyet-monyet dari atas” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “Monyet-monyet dari samping” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “Monyet-monyet yang Anda sendiri” dan “Monyet-monyet yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga” adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.

***

Menangani monyet-monyet

Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:

Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya

Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:

    1. Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki. Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.

 

    1. Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya. Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

 

    1. Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer. Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik.

 

    1. Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan. Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan   memberinya umpan balik.

 

    1. Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda. Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.

 

    1. Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll). Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.

Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.

***

Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.

Pertama, kita mulai dengan huruf H (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).

Kedua, huruf W (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.

Dan, terakhir, R (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai chunking down (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).

Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?

Sumber: 
www.indonlp.com

BUKU:  1/2 Karyawan 1/2 Bos  <– klik disamping panah

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

Petuah dari kiai saya di gontor, ‘jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah yang punya pegawai.’ Buku dari saudara noval ini adalah salah satu cara mengamalkan petuah kiai saya tadi. Bacalah dan punyalah pegawai’ – ahmad fuadi, penulis trilogi negeri5menara, www.negeri5menara.com

NovalRamsis dot com  <– klik disamping panah

Consultancy & Training

business optimizing  life coaching  business coaching  self development training  leadership training

Share

Comments (0)

Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?

Posted on 16 November 2011 by novalramsis

Waryono, seorang office boy di Jakarta.  Di tengah kesibukannya bekerja, ia juga mengelola beberapa bisnis.  Berbekal modal Rp.500.000,- ia membuka toko kelontong kecil.  Ternyata, bisnisnya berjalan dengan baik.  Ia pun memutar modalnya untuk membuka warung pecel lele.

Dengan ketekunan, semangat pantang menyerah, hemat, senang belajar, Waryono pun berhasil di warung pecel lelenya.  Ia membuka warung pecel lele yang kedua.  Selain itu, ia pun punya toko tanaman hias, juga sawah dan traktor yang disewakan.

Sekarang, omset semua bisnisnya mencapai Rp. 25 juta per bulan.  Itulah bukti nyata bahwa orang yang bekerja, dapat juga membangun bisnis dan berhasil dari modal yang relatif kecil.  Waryono pun diprofil sebagai “Sosok Minggu Ini” pada acara berita di sebuah stasiun TV swasta nasional.

Lihat video liputan seorang Waryono disini –> http://www.youtube.com/watch?v=zD-YeWio8QQ

Lain lagi dengan Pak Sofyan.  Ia manajer di sebuah perusahaan farmasi.  Beberapa tahun sebelum masa pensiunnya tiba, ia telah mulai berbisnis.  Membuka peternakan ayam potong.  Ia meresikokan modal puluhan juta rupiah untuk bisnisnya ini.

Ternyata pilihannya tepat.  Bisnis ayam potongnya berjalan lancar.  Bisnis ini memang telah tersistem.  Ada perusahaan besar yang mensuplay anak ayam, pakan dan menampung hasil panennya.

Meski begitu, bukan berarti bisnisnya tanpa masalah.  Anak kandang yang cenderung “nakal”, tetangga kandang yang merongrong menjadi tantangan di awal bisnisnya.  Selain tentu masalah perawatan ayamnya sendiri.

Sosok Pak Sofyan ini memberi pelajaran penting.  Bisnis bisa dimulai di usia matang.  Usia-usia pensiun.  Dan tetap tidak mengganggu pekerjaan di tempat kerja.

Pelajaran lain adalah tentang modal.  Pak Sofyan ini yakin bisa sukses di bisnisnya.  Maka ia siap keluarkan modal besar.  Keyakinan ini muncul, tentu karena sebuah perhitungan yang matang dan pengetahuan yang cukup tentang bisnis yang akan dibukanya.

Sosok lain adalah Fauzan.  Ia mahasiswa pemenang Wirausaha Muda Mandiri Award di tahun 2010.  Bermula dari niatnya untuk mulai berbisnis saat masih mahasiswa.  Pilihannya jatuh pada budidaya lele sangkuriang.  Khususnya usaha pembenihannya.

Maka, waktu-waktu luang di tengah kesibukan kuliah ia gunakan untuk berbisnis lele ini.  Tiga orang karyawan sekarang membantunya di peternakannya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Berbagai media massa banyak yang meliput kesuksesan Fauzan.

Nah, itulah bisnis.  Ia bisa kita bangun di tengah kesibukan kita sehari-hari dalam bekerja atau kuliah.  Ada faktor delegasi yang sangat membantu.  Kuliah, tentu tak bisa diwakilkan.  Paling banter, nitip absen.  Itupun akan kena sanksi berat bila ketahuan.  Dan tentu kita rugi sendiri bila kuliahnya hanya nitip absen.  Sudah bayar mahal, ilmunya tak dapat.

tulisan diatas adalah sebagian dari isi Bab 3. Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak? buku:

1/2 Karyawan 1/2 Bos

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)

penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis

Harga buku: Rp. 40.000,-

order buku klik disini  –> Pesan Buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

Share

Comments (3)

Takut Gagal? No Way…

Posted on 11 November 2011 by novalramsis

artikel ini sebagian isi BAB 2, dari buku:

1/2 Karyawan 1/2 Bos << klik disamping panah

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

(buku baru,  diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)

penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis

Harga buku: Rp. 40.000,-

Sudah tersedia di toko buku Gramedia di kota anda. Jangan sampai kehabisan!!!

atau order OnLine disini << klik disamping

Ketakutan adalah anugerah Tuhan untuk menyelamatkan kita dari berbagai macam bahaya.  Ketika berkendaraan, kita takut untuk celaka, maka kita akan berhati-hati.  Kecepatan kendaraan kita atur dengan baik.  Kaca-kaca spion terus diperhatikan dan kita konsentrasi mengemudi.   HP di-silent lebih dulu agar tidak mengganggu konsentrasi.  Kita pun selamat sampai tujuan.  Ketakutan memberikan manfaat besar.

Tapi, bila kita dikendalikan oleh ketakutan, maka kita akan kehilangan berbagai kesempatan untuk mendapat kesuksesan, kenikmatan dan kekayaan yang lebih besar.  Merugi jadinya.

Dalam membangun bisnis, takut gagal ini bisa berdampak negatif atau positif.  Berdampak negatif bila ketakutan ini membuat kita tak jadi melangkah.  Terlalu banyak menghitung-hitung resiko.  Terlalu sering mendengar cerita kegagalan.  Terlalu berhati-hati membuat keputusan dan tindakan.  Dengan begitu, bisnis kita perlahan sekali majunya.

Sebaliknya, takut gagal ini bisa berdampak positif.  Bahkan penting.  Ketakutan yang cukup akan membuat kita berusaha optimal, tidak meremehkan dan serius agar sukses.  Maka, cerita kegagalan diri sendiri dan orang lain adalah pelajaran sangat berharga.  Tidak akan melemahkan, bahkan menambah semangat.

Bila kita dikendalikan ketakutan, itu artinya kita menarik apa yang ditakuti itu.  Jadi bila kita takut gagal, maka kegagalan justru mendekat.  Pernah lewat kuburan dan takut setan?  Wah, kita justru sedang mengundang setan untuk mendatangi kita.

Maka, kendalikan lah ketakutan.  Takut itu wajar-wajar saja koq.  Semua orang mengalaminya.  Semua orang memiliki ketakutannya masing-masing.  Orang tanpa ketakutan, justru adalah orang yang tak normal.  Pernah lihat orang gila di jalanan?  Adakah ketakutan dalam dirinya?

Kita membutuhkan kesadaran atas ketakutan kita sendiri.  Ketika kita sadar, diri kita sedang takut, maka kita memiliki kesempatan untuk mengendalikan ketakutan itu.  Tanpa kesadaran tak ada pengendalian.

Sadar atas apa?  Sadar atas jati diri kita yang sesungguhnya.  Sadar atas kemampuan kita.  Sadar atas kebaikan orang-orang di sekeliling kita.  Sadar atas kekuasaan Tuhan yang tak berbatas.  Dengan begitu, saat gagal datang, kita sadar bahwa ini cara Tuhan untuk mengingatkan dan menguatkan kita.  Kita sadar, mungkin kita belum mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.

Dalam bisnis, ada beberapa ketakutan yang harus kita sadari.

Pertama, takut dicemooh.  Ini terjadi bila kita memulai bisnis dengan skala kecil.  Lebih kecil dari citra diri kita yang terlihat oleh orang lain.  Ada teman saya yang mengalaminya.  Ketika selesai kuliah, ia memutuskan untuk berbisnis.  Jualan buku di kios kecil di pinggir jalan.

Keluarganya tidak setuju.  Orang tuanya ingin ia bekerja saja.  Menjadi orang kantoran.  Terlihat keren.  Ketidak setujuan ini segera berubah menjadi cemoohan.  Rupanya sang teman tidak tahan.  Maka ia berhenti berbisnis.

Anda mungkin juga mengalaminya.  Sudah punya pekerjaan yang enak, koq repot-repot membuat bisnis.  Bisnis kecil lagi.  Wah,…pendapat ini bisa menyurutkan langkah anda.  Apalagi bila berasal dari istri/suami, orang tua, teman-teman dan tetangga.

Apa yang harus dilakukan?  Bagaimana solusinya?

Tersenyum dan ucapkan terima kasih atas pendapat mereka.  Jadikan pendapat seperti ini sebagai pemantik tekad anda untuk membuktikan bahwa anda sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang besar dan berarti.  Terangkan maksud anda membangun bisnis dengan santun.  Jelaskan manfaat-manfaat apa saja yang anda dapatkan dari bekerja dan membangun bisnis juga.

Bagaimana bila masih dicemooh juga?  Biarkan saja.  Itu hak mereka.  Anda gunakan saja hak anda untuk melakukan sesuatu dengan bebas.  Toh, bisnis anda tidak mendapat modal pula dari mereka.  Akan datang saatnya ketika anda sukses besar dan mendapatkan kelimpahan yang luar biasa.  Bila sudah begini, tak akan ada lagi cemoohan.  Orang sukses yang baik tak dicemooh. Malah dipuji dan didekati.

Kedua, takut bangkrut.  Ini terjadi pada banyak orang.  Tentu dengan intensitas yang berbeda-beda.  Takut bangkrut terjadi karena kita pernah lihat orang yang bangkrut.  Juga karena sumberdaya kita terbatas.  “Modal ini hasil kerja keras saya menabung.  Kalau nanti gagal gimana?  Hasil kerja keras saya sia-sia dong.”

tertarik untuk pesan buku 1/2 Karyawan, 1/2 Bos?  Silahkan email ke: pelatihan@buyanur.com

Share

Comments (1)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 457014Total dibaca:
  • 233708Total pengunjung:
  • 239Pengunjung hari ini: