Archive | Artikel Umum

LUANGKAN WAKTU BERBINCANG DENGAN AYAH

Posted on 14 October 2010 by novalramsis

Peran ayah bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Meskipun pada masa awal-awal kelahiran, anak lebih banyak bergantung pada ibu, bukan berarti Ayah menjadi sosok yang bisa dikesampingkan.

Terutama ketika anak mulai bisa bermain dan membutuhkan sosok panutan di masa remaja, Ayah seringkali menjadi pilihan utama.

Anak-anak dan remaja yang mengaku mereka berbicara serius pada ayah mereka hampir setiap hari, memperoleh skor 87 persen pada skala kebahagiaan, dibandingkan dengan mereka yang jarang berbicara dengan ayahnya dengan cara demikian, hanya memperoleh skor 79 persen pada skala kebahagiaan.

Penemuan itu merupakan analisis dari penelitian untuk survei British Household Panel terhadap 1.200 anak muda di Inggris, berusia 11-15 tahun, yang dirilis oleh Children Society menjelang hari Ayah atau Father’s Day, akhir pekan nanti.

Hampir separuh dari remaja yang diwawancarai yaitu 46 persen, mengatakan mereka jarang berbicara dengan ayah mereka mengenai topik yang penting, dibandingkan dengan 28 persen yang jarang berbicara dengan ibu mereka tentang hal yang dianggap paling penting.

Hanya 13 persen yang mengaku berkomunikasi dengan ayah mereka hampir setiap hari, menurut analisis tersebut.

Studi yang dilakukan oleh University of York menunjukkan, anak dan remaja semakin sedikit berbicara dengan ayah mereka seiring dengan pertambahan usia.

Data menunjukkan, 42 persen anak berusia 11 tahun lebih banyak berbicara dengan ayah mereka setiap minggu, dibandingkan hanya 16 persen dari anak berusia 15 tahun.

Analisis itu juga mengungkap, terdapat perubahan dalam beberapa tahun terakhir dengan proporsi yang sama. Sekitar 30 persen dari anak remaja berbicara hal penting dengan ayah mereka lebih dari satu kali perminggu pada tahun 2007-2008 dibanding 2003-2004.

Yayasan tersebut mengatakan, hasil penelitian itu sangat signifikan seiring dengan hasil studi yang menunjukkan kemapanan seorang anak di masa depan tergantung hubungan masa remaja dengan ayah juga ibunya.

Penelitian itu dirillis di Inggris bersamaan dengan dibentuknya Fatherhood Commission yang didalamnya termasuk anak-anak, para ahli serta masyarakat agar mereka memahami berbagai rintangan yagn seringkali mengganggu hubungan anak dan ayah.

Ketua Children Society, Bob Reitmeier mengatakan, penelitian ini menunjukkan, kebahagiaan dari para remaja terkait erat dengan seberapa sering mereka berbicara dengan ayah mereka tentang hal-hal yang dianggap penting.

“Namun, seringkali yang terjadi saat ini, anak-anak mengucilkan diri atau tinggal terpisah dari ayah mereka,” ujarnya.

“Hal itu yang menjadi alasan Children Society untuk memanggil anak-anak, ahli dan masyarakat untuk melihat hasil penelitian kami tentang perang ayah,” tambahnya.

Bob menuturkan, komisi itu juga masih akan meneruskan penelitian mengenai bagaimana peran ayah yang terkait dalam kegiatan sehari-hari anak dapat berpengaruh, yang akan kami publikasikan nanti demi mengatasi halangan dalam hubungan ayah dan anak.

dikutip dari Republika.co.id

Share

Comments (0)

REMAJA ISLAM, REMAJA PEJUANG

Posted on 02 October 2010 by novalramsis

dikutip dari catatan Priscilla “haura Humaira” Auldrine , Jimbaran, Bali

Islam adalah satu-satunya dien yang diridhoi oleh Allah. Karena dien ini murni berasal dari Allah, maka banyak banget hal-hal yang selaras dengan fitroh manusia. Misalnya saja fitroh manusia untuk tampil berani dan anti pengecut. So, Islam menciptakan banyak sosok-sosok pejuang berjiwa pahlawan ketika keimanan itu benar-benar meresap dalam diri.

Tak terhitung banyaknya pejuang, pahlawan, syuhada, hero, atau apa pun sebutan mereka yang rela berkorban jiwa raga demi kejayaan Islam saja. Kamu pernah dengar motto ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’? Yupz…motto ini keren banget. Pilihan yang ada sama-sama oke, baik dalam kondisi hidup ataupun mati. Hidup seorang muslim itu harus mulia, tidak boleh terhina sedikit pun juga. Ketika kemuliaan hidup itu tidak didapatkan, maka pilihan mati pun bukan sia-sia tapi menjemput kesyahidan. Yang namanya syahid tentu saja surga donk imbalannya. Keren banget kan?

Kedua pilihan dalam motto di atas, terkandung makna dalam banget tentang aktifitas yang harus dilakukan oleh manusia yaitu berjuang. Berjuang untuk menjadi mulia dalam hidup atau syahid ketika memang ‘harus’ mati. Mulia dalam konteks ini bukan berarti seseorang yang kaya raya, rumah mewah dan jabatan bergengsi. Mulia disini maksudnya adalah mulia dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan. Mulia ketika manusia itu hanya tunduk dan taat pada aturan Allah saja.

Pilihan kedua yaitu mati syahid. Kesyahidan disini bukan berarti bebas mengebom rakyat yang tak berdosa seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri muslim. BUKAN. Itu mah salah sasaran. Kalo mau ngebom, tempat yang tepat adalah ke Israel yang telah merampas Palestina dan membunuhi banyak kaum muslimin disana, atau kerap dilakukan mujahidin di chechnya dan negeri muslim yang sedang di invasi AS dan sekutunya. Tapi bukan di Indonesia dan mayoritas negeri muslim yang bukan area perang, maka gak boleh donk seenaknya mengebom dan membunuh rakyat sipil.

Kesyahidan disini adalah syahid dalam rangka memperjuangan kembalinya kehidupan Islam yang akan menjalankan seluruh syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Loh, yang namanya syahid ya pasti berjihad donk, mungkin itu pikiran kamu. Mana bisa disebut mati syahid kalau bukan berjihad dalam makna perang? Ada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan “Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)

Wah…ternyata memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar di hadapan penguasa yang dzolim bisa meraih ‘gelarl syuhada loh.

Dan aktifitas tersebut ada pada yang namanya berdakwah alias menyeru atau mengajak. Jadi, sebagai remaja muslim, kamu kudu rajin mengajak teman-temanmu, keluargamu, guru-gurumu dan siapa saja untuk berbuat makruf dan menjauhi kemungkaran.

Sejak dini, Islam memang mengajarkan pemeluknya untuk menjadi sosok pejuang yang tangguh. Terbukti kan tidak ada alternatif ketiga misalnya untuk menjadi pengecut dengan hidup penuh kehinaan, apalagi mati sebagai pecundang. Ih…naudzubillah. So, tanamkan dalam diri kamu wahai remaja Islam bahwa menjadi pejuang adalah satu-satunya pilihan untuk menempuh kemuliaan hidup atau berkalang tanah dengan predikat syuhada, insya Allah ^_^

Share

Comments (0)

MENDAKI GUNUNG MASALAH

Posted on 01 October 2010 by novalramsis

oleh Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Sore itu Budi lagi uring – uringan di kantornya, waktu menjelang pulang kantor, dia masih duduk di kursi dalam ruang kerjanya.  Pikirannya menerawang tidak menentu, berbagai masalah campur aduk.  Pagi tadi dia mendapatkan telefone dari adiknya, yang mengabarkan dirinya telah di lamar oleh teman kuliahnya.  Antara bahagia bercampur haru dan resah, menelisik ruang sanubari Budi.

Bahagia, adiknya telah mendapatkan pasangan hidupnya, haru karena sebagai kakak dia bisa menunaikan kewajiban pesan terakhir ayahnya, sebelum beliau wafat.  Resah karena saat ini dia sendiri pun belum juga mendapatkan bidadari pujaan hatinya. Sebagai lelaki yang terbilang sukses untuk ukuran desanya, Budi disela – sela bekerjanya, menyempatkan untuk menikmati hidup seperti rekan – rekan sekantornya.  Sudah tidak terkira, berapa wanita yang sempat singgah di hatinya.  Tetapi belum ada satupun yang cocok dengan karakter dirinya.

Jika sekedar mencari pasangan, bukannya Budi mau menyombongkan diri, dengan titel yang disandangnya, dengan karir gemilang yang telah dia rintis selama 15 tahun berselang, banyak para camer (calon mertua) yang sudah siap untuk menjadikannya sang calon menantu idaman.  Tetapi entah kenapa, hatinya merasa ada yang kurang, sosok ideal yang dia dambakan belum juga dia temukan.

Pernah suatu hari, ketika dia sudah merasa cocok dengan wanita teman beda lantai satu apartemennya, si wanita malah sudah di lamar orang.  Hanya karena saat itu, dia sedang giat – giatnya meniti karir dibidang IT.

Semenjak itu, hidup Budi menjadi hambar, terasa ada yang kering.  Uangnya yang banyak, kasur empuk yang saban hari dia tiduri, tidak menjadikannya merasa bahagia, malah kalau boleh memilih, dia ingin seperti anak kecil lagi, polos, hidup tanpa masalah.

Benar kata pepatah, kita bisa membeli kasur empuk yang model apa pun ketika kita punya uang, tetapi kita tidak bisa membeli bagaimana rasa nyenyak tidur ketika kita terkena insomnia.

Tetapi hidup haruslah terus dijalani, apa pun resiko yang telah menghadang di depan sana.

Mitra sejati, alangkah banyak tipe manusia seperti Budi yang saban hari kita temui, apalagi di kota besar seperti Jakarta.  Alih – alih ingin semuanya tersedia dahulu, baru melaksanakan rencananya, tetapi malah sebaliknya, yang dia cari dan di kejar, belum tentu dapat, sementara yang seharusnya di tangan sudah terlepas.  Seperti Budi, seharusnya jangan menunggu punya segalanya dahulu baru memikirkan menikah, tetapi menikahlah maka semuanya (apa pun yang di cita – citakan, selagi masih berkeyakinan kepada Allah SWT), Insya Allah itu akan terpenuhi.

Sekarang kita bayangkan, perbandingan cukup ekstrim, ada rekan saya yang dahulunya kerja bangunan.  Sejak tamat sma dari daerah Batu Retno, Wonogiri dia merantau ke Jakarta.  Ketika berkesempatan silahtuhrahiim ke gubuknya, istilah yang dia pakai untuk menggambarkan rumah harapan yang dia bangun setelah menikah, dia berbagi cerita kepada saya.

Waktu pertama kali ke Jakarta, yang ada dipikirannya, hanya kerja dan kerja.  Kerja keras yang memang secara fisik dia lakukan, seperti tidak membawa hasil apa – apa.  Jika menurut perhitungannya, 10 tahun pun dia bekerja, upah harian atau pekanan yang kadang molor itu, tidak bakalan mencukupi biaya pernikahannya.  Boro – boro mau menghidupi anak istri, untuk menghidupi diri sendiri saja dia tidak jelas.

Berfikir seperti itu, di usianya yang ke 22, dia memberanikan diri untuk melamar gadis teman bermainnya waktu kecil.  Saat ini dia sudah berusia 32 tahun, memiliki 2 orang anak, dengan “gubuk” dan sepeda motor yang saban hari mengantarkannya bekerja di sebuah perusahaan IT terkenal di bilangan Jakarta Selatan.

Dari seorang buruh bangunan, walau hari ini tetap berhubungan dengan bangunan juga, hanya bedanya, dia mengawasi dan mementenance komplek gedung yang menjadi tanggung jawabnya sehari – hari.

Perlu waktu 2 tahun pertama hidup di Jakarta, dia dan istrinya pontang panting untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi Jakarta yang serba cepat.  Jika ketika masih sendirian, tidak ada yang mengatur dan mengingatkan dirinya, dikarenakan tempat proyek yang sering pindah dan tempat penampungan buruh bangunan yang jauh dari layak, tetapi setelah dia punya istri, ritme hidupnya mulai berubah. Walau tetap dengan kondisi standar upah buruh tidak berubah, seperti ketika dia masih lajang, tetapi anehnya ada saja rezeki yang di bawa, hingga setelah hidup berumah tangga selama 10 tahun,

Kuncinya, kata dia menggarisbawahi tentang pernikahan, dia memiliki kesamaan pandangan, dengan membuat komitmen di awal nikahnya dengan isteri tercinta.

Disamping istri yang punya bekal keterampilan menjahit untuk bisa menopang ekonomi suaminya, maka kehidupan pasangan itu terasa lebih baik dan bermakna.

Ketika berbicara kepada saya, dalam dirinya, tidak ada kesan canggung dan minder, jika mengingat bahwa dulunya dia hanya buruh bangunan dari satu proyek ke proyek lainnya.

Gunung masalah

Memang saya ingin membandingkan sebuah kondisi dimana, faktor finansial, kedudukan, jabatan dan fisik tidak menjadikan seseorang untuk bisa berubah.  Jika pada kasus Budi, semua simbol – simbol kemewahan hidup ada pada dirinya dan dia belum berani memutuskan menikah, sementara pada diri sang buruh bangunan teman saya, justru keterpurukan & kekurangan menjadi kekuatan inti dirinya, meminjam istilah Habibie afsyah, sang ikon AYO MANDIRI, seorang internet marketer sukses dari Indonesia, yang sehari – harinya duduk di kursi roda.

Mitra sejati, ada 3 tipe orang ketika menghadapi masalah, menurut Paul G. Stolz,Phd dalam bukunya “Adversity Quotient”   sebuah tawaran kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk bisa sukses mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup.

Dia menganalogikan seperti ketika kita naik gunung, ada 3 model manusia disana :

1.    Quitters/penyerah, kelompok orang – orang yang berhenti diperjalanan model mudah menyerah dan putus asa.  Pesimis dalam melihat kehidupan

2.    Campers/pekemah, mereka yang mudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya, kurang menyukai tantangan, cenderung mencari situasi yang aman bagi dirinnya.  Orang – orang ini sering diistilahkan sebagai barisan status quo.  Barisan yang mencari kemapanan dan tidak siap mengalami perubahan akibat kenikmatan yang telah diperolehnya bertahun – tahun

3.    Climbers/pendaki, kelompok orang – orang yang mempunyai obsesi untuk maju, antusias dalam menghadapi setiap permasalahan, optimis dalam menatap masa depan.  Tidak mudah merasa puas, selalu menempatkan dirinya dalam jajaran  di atas rata – rata (non mediocre).  Mereka inilah yang oleh Profesor Maslow digolongkan orang yang telah mendapatkan aktualisasi diri.

Mari kita lihat satu per satu dari pendekatan SOsial – spiritUaL (soul), yang pertama : manusia tipe quitters, tipe manusia pembalik badan.  Ketika semua teman – teman dari kelompoknya sedang berjalan, dia perlahan – lahan meninggalkan barisan, karena merasa tidak siap untuk melanjutkan perjalanan.  Tipe pertama ini, adalah tipe yang disenangi oleh Iblis laknatullah wa syetan jahannam.  Orang – orang yang tidak mau menyelesaikan kehidupannya di dunia sesuai dengan kaidah – kaidah langit.

Sisi positif dari tipe manusia model ini, masih bisa di insyafkan dengan cara merepositioning, mengambil arah berbeda dari orang kebanyakan untuk mencari petunjuk jalan yang sebenar – benarnya, yang berpedoman pada Al Quran dan As Sunnah.  Memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan, adalah ciri orang yang taubat, sebenar – benar taubat. Ketika sudah menemukan jalan lain yang benar, maka jalan itu harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan


Kedua, manusia tipe campers, tipe manusia jalan di tempat, tidak bergerak ke depan, tidak juga ke belakang.  Tipe manusia ini, terlalu asyik dengan masalah hingga lupa solusi.  Bahwa kita berkemah itu perlu untuk mengistirahatkan hati, fisik, pikiran, perasaan dan semangat kita.  orang – orang yang terlalu bersemangat juga tidak baik, karena akan memboroskan energi, sementara perjalanan masih panjang.

Sisi positifnya, manusia tipe ini bisa melakukan muhasabah, stop and thinking (berhenti dan berfikir) sejenak, untuk mengevaluasi, sejauh mana kita meninggalkan tempat asal kita hingga telah sampai di tengah – tengah gunung.  Sisi positifnya juga, kita bisa memberi tahu kepada orang yang baru mau mendaki atau yang telah kita temukan di jalan, sama seperti kita, untuk saling menguatkan, bahwa jangan memboroskan energi.  Karena semakin tinggi puncak gunung, maka semakin kuat halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Adapun yang ketiga, tipe manusia yang sering disebut climbers, dimana manusia tipe ini melihat sebuah masalah sebentar saja dan mereka mengatasi masalah seakan – akan tanpa masalah.

Halangan dan rintangan yang muncul di perjalanan tidak menjadikan mereka berputus asa, karena mereka melihat puncak gunung lebih indah, ketimbang memikirkan nyamuk yang menggigit tubuhnya, ular yang menghadang atau binatang buas lain.  Karena sikap teguhnya yang tanpa kenal takut, membuat para binatang pengganggu segan untuk menghadangnya, bedakan dengan orang yang ketakutan ketika melihat binatang buas. Si climbers, tadi Insya Allah tidak akan tergoyahkan walau lautan api yang menghadangnya.

Setelah akhirnya sampai pada salah satu puncak  dari gunung masalah tersebut, mereka melihat ada keindahan yang sesungguhnya, yang menjadi obat penawar dari hari – hari menjalani pendakian.  Setelah puas, mereka terus mencoba untuk menapaki satu demi satu puncak untuk menemukan sumber kebahagiaan.  Karena mereka berkeyakinan, di setiap puncak yang di lewati, terasa kenikmatan yang sukar untuk divisualisasikan akan kemaha kekuasaan dan kemaha kemurahan Allah SWT.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

*) Foto diambil dari http://portalmalang.com/assets/images/mount climb.jpg


Share

Comments (0)

SENI PERANG, MENANG TANPA PERANG

Posted on 15 September 2010 by novalramsis

oleh  Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Tulisan ini terinspirasi dari kata – kata Sun Tzu, ahli strategi perang dari China, dia mengungkapkan “Seni berperang adalah menang tanpa berperang.”

Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Jogjakarta, ada seorang mantan anggota DPRD Jogja menyatakan, “Seni tertinggi dalam pergaulan di masyarakat adalah komunikasi.  Adu kekuatan fisik sejati adalah mengalahkan, tanpa orang tersebut merasa kalah,” tambahnya.  Beliau mencontohkan, untuk mengalahkan seorang prajurit berbadan kekar yang memiliki banyak teman, cukup dengan berkomunikasi dengan komandannya yang berpangkat kapten, maka Insya Allah prajurit tersebut akan tunduk dan patuh.  Baru seorang kapten saja sang prajurit tangguh sudah bisa ditaklukkan, apalagi jika tempat kita berkomunikasi adalah dengan seorang jendral.  Maka milikilah kemampuan seorang jendral buat menundukkan ribuan prajurit. Artinya, punyailah kemampuan seorang pemimpin, maka pengikut yang berapapun banyaknya akan mengikut, tunduk dan patuh pada kita.


LIMA UNSUR DALAM TUBUH MANUSIA

Mitra sejati, dalam kehidupan kita bermasyarakat, persoalan kejengkelan sederhana, ketidaksenangan pada seseorang atau sebuah komunitas yang akhirnya berujung pada sebuah dendam, merupakan indikasi manusia yang tidak stabil.  Secara psikologis, ada unsur – unsur di tubuhnya yang mengalami kerusakan, untuk itu perlu diperbaiki.


Unsur tersebut antara lain :

  1. Unsur fisik

Manusia diciptakan dari segenggam tanah, dalam perspektif Sunnatullah tanah ini merupakan bentuk lain dari bumi.  Di bumi yang maha luas ini bertentangan dengan unsur langit yang tinggi.  Jika di bumi, karena merasa diri rendah, sifat yang paling kelihatan adalah rasa malas.  Malas berbuat sesuatu, malas untuk mengejar cita – cita, malas berusaha, malas ber’ibadah dan segala macam bentuk rasa malas yang timbul dari fisik atau tubuh.  Cara melawan rasa malas ini dengan menggerakkan hati, dikarenakan hati adalah raja, maka ketika hati sudah bergerak, maka rasa malas yang ditimbulkan oleh fisik tubuh menjadi hilang.  Bergeraklah dengan hati yang bersih, hilangkanlah kemalasan dalam diri.


2. Unsur psikis

Agar kehidupan di bumi menjadi semarak, dibutuhkan air yang mengalir, yang menghidupi bumi.  Bahkan masalah air ini menjadi isyu utama di beberapa negeri.  Ketersediaan air menjadi mutlak pada sebuah masyarakat.  Dengan memiliki sumber mata air, bisa timbul sebuah peradaban.  Seperti sejarah pendirian ka’bah, yang nantinya melahirkan pendekar – pendekar peradaban dalam era Makkah dan Madinah.  Bahkan ekspedisi manusia ke planet – planet lain di luar bumi, bertujuan mencari air untuk kelangsungan hidup dari generasi ke generasi.  Sehingga fenomena air menjadi isyu global.


Pada tubuh manusia, yang 70% terdiri dari air (baca : darah), akan bergolak menjadi kacau jika kondisi psikisnya tidak stabil.  Ini diekspresikan dalam bentuk marah.  Lihatlah orang yang sedang marah, selain napasnya yang tidak teratur, darah di tubuhnya menjadi tidak beraturan dan tidak lancar, sehingga mudah sekali dipengaruhi.  Orang yang sedang marah, mudah sekali disusupi syetan, untuk menanggulanginya dengan menyalurkannya pada tempat yang benar atau diam.  Seperti di Jepang, ada namanya destroyer room, ruangan perusak. Di dalam ruangan ini, orang yang lagi marah, disediakan meja, kursi dan alat – alat yang sengaja buat dihancurkan sebagai pelampiasan rasa marahnya.  Jika kondisi ini kita alami, sebaiknya mengistirahatkan fisik. Bahkan benar sekali apa yang ucapkan Rasulullah Muhammad SAW, jika kita lagi marah, berwudhulah dengan air, lalu shalatlah.  Jika air ketemu dengan air, akan kembali ke asalnya.  Sebuah air sungai yang bergejolak, ketika sampai di lautan lepas, menjadi tenang, berkumpul pada teman – temannya.  Bahkan laut yang ganas sekalipun, akan takluk di bumi, yang ini bisa kita analogikan akan tubuh fisik kita yang melakukan gerakan shalat.  Jika masih marah juga, tidurlah, berarti unsur air dan unsur bumi dalam tubuh kita menjadi diam.


3. Unsur emosi

Dalam bahasa Quran, emosi ini bermakna nafsu.  Di bumi yang mengandung unsur tanah dan air, sehingga kita sebut tanah air, bisa diperjuangkan jika memiliki pemicu. Pemicu ini disimbolkan dengan api.  Api memiliki sifat pembakar, baik sebagai cahaya (baca : matahari) atau api sebagai semangat.  Karena tugasnya menyemangati, kedua unsur yaitu tanah dan air, maka nafsu ini perlu dikendalikan pada tingkatan yang wajar.  Seseorang harulah memiliki ambisi, dengan memiliki ambisi, menjadi strum pemicu orang berusaha lebih giat lagi.  Dalam batasan wajar, ambisi menjadi positif, tetapi jika over dosis, ambisi menjadi ambisius, sehingga orang yang terlalu semangat akan menyerang balik dirinya sendiri.  Seperti Iblis laknatullah, karena terlalu berambisi menjadi makhluq paling mulia, maka menjadi sombong ketika ada makhluq lain yang menyaingi eksistensinya (baca : Nabi Adam AS, dari tanah), sehingga bertindak menurutkan nafsu, hingga dikeluarkan dari syurga.


Orang yang terlalu bersemangat, biasanya menunjukkan rasa takut, takut kalau – kalau tidak bisa mencapai ambisi tersebut. Sementara cara meredam rasa takut dengan mengembalikan ke unsur psikis yang terdiri dari air.  Sebagaimana hawa nafsu yang bisa dikekang dengan shaum.  Ketika nafsu, dihukum dengan siksaan panasnya api neraka, yang terjadi adalah semakin menjadi – jadi ambisinya, pun di siksa dengan dinginya api neraka, tertawa tawa oleh rasa geli, tetapi ketika disiksa dengan rasa lapar dan haus, maka ambisi yang terlalu dan merendahkan orang lain menjadi ciut dan mengemis – ngemis minta ampun.  Ketika rasa marah yang berakibat rasa takut ada pada diri kita, jalan keluar terbaiknnya dengan bershaum, menahan diri agar kita menjadi orang – orang yang bertaqwa.


4. Unsur perubahan

Tidak ada yang statis di dunia ini, semuanya berubah menjadi dinamis kecuali perubahan.  Dengan kata lain, tidak ada kepastian di dunia ini, kecuali kepastian akan perubahan itu sendiri. Ibarat angin yang terus berpindah – pindah, maka perubahan akan terus mengalami bentuk.

Hari ini kita berdiri di puncak kehidupan, kemungkinan esok bisa jadi kita terduduk pada serendah – rendah kehidupan.  Angin perubahan akan bisa menjadi jinak, ketika di iringi oleh api semangat positif dalam diri manusia.

Di dalam tubuh manusia, terdapat dua hormon yang bekerja, satu bernama endorphine, yang satu lagi bernama adrenaline.  Hormon endorphine akan bekerja, ketika kita mengalami titik kenikmatan.  Orang – orang yang bertipe ini, baru bergerak dan muncul kreativitasnya ketika di beri inspeksi/visualisasi kenikmatan.  Jika bekerja sebagai seorang profesional, maka tawaran gaji yang tinggi, kedudukan yang meningkat menjadi obsesi dirinya.  Begitupun dengan visualisasi akhirat, maka tipe ini harus diasosiasikan dengan visualisasi dimensi syurgawi.


Jika bertipe adrenaline, kreatifitas dan pergerakannya terjadi ketika diberi tantangan dan kesukaran.   Semakin menantang dan sukar sebuah masalah, semakin menarik dan kreatif hidupnya.  Jika bekerja sebagai seorang pebisnis, tipe ini akan menaklukkan tantangan yang dihadapinya dengan tetap tersenyum serta menikmati di tiap kondisi dan keadaan terpahit sekalipun.  Visualisasi akhiratnya adalah diasosiasikan dengan visualisasi dimensi nerakawi, yang menyakitkan.  Semakin sakit penderitaan, maka semakin nikmatlah hidupnya.

Orang – orang yang memiliki dimensi kreatifitas ini terkadang hanya sampai pada tingkatan simpati.  Dimana tangga menuju puncak simpati, pertama antipati, kedua simpati, ketiga empati, dan puncaknya adalah telepati.  Antipati adalah sebuah keadaan yang berlawanan dengan apa yang kita pikir dan rasakan (no think and not fell as you not think and you not feel), sementara simpati kebalikan dari antipati, berpikir seperti apa yang dia pikirkan, dan merasakan seperti apa yang dia rasakan (think as you think, fell as you feel).  Sedangkan empati adalah suatu kondisi aksi dari berfikir dan merasakan (think as you think, fell as you feel, and act you want them to act).  Terakhir adalah telepati, sebelum dia berfikir dan merasakan, kita lakukan aksi kongkrit (before them think & fell, you act now).


5. Unsur produktivitas

Manusia agar bisa survive di dunia, haruslah memiliki keturunan sebagai pewaris dari estafeta kepemimpinannya.  Tanpa adanya keturunan, berarti bumi ini akan punah, karena tidak ada lagi yang menghidupinya. Karena memiliki keturunan merupakan bagian dari produktivitas dan reproduktivitas seorang manusia hidup, maka ketika di beri napas kehidupan, haruslah mempunyai nilai – nilai keberartian atau kesignifikan hidup untuk ber’ibadah kepada Allah SWT dalam bentuk memperdalam ilmu yang dimiliki sebagai bekal akhirat.  Dengan memiliki ilmu, maka otomatis produktivitas akan terjadi, ketika produktivitas terjadi maka pencapaian – pencapaian hakiki sebagai makhluq mulia akan terjadi.  Bukan terjebak pada sanjungan semu, tetapi pada sanjungan abadi dari sang maha abadi, Allah SWT.  Ketika produktivitas ini dipahamai sebagai kemuliaan semu, maka tunggulah saat kehancuran, ketika kita di sanjung di bumi karena ada maksud terselubung bukan sanjungan tulus, karena kita memang pantas mendapatkannya, maka kemuliaan akan menghampiri kita.


Lawanlah setiap sanjungan dengan senyum ketulusan, berikan energi yang berlebih di diri kita buat kemanfaatan buat orang lain.

Mitra sejati, ketika kita diharuskan berperang, dalam bentuk fisik, lawan terbesar dari diri kita bukan orang lain yang berada diluar diri kita, tetapi rasa malas yang menumpuk pada diri kita.  Ketika berperang dalam bentuk psikis, lawan terbesarnya adalah rasa amarah yang sewaktu – waktu bisa muncul pada saat yang tidak kita kehendaki. Sedangkan berperang dalam bentuk emosi, melawan rasa takut yang berlebihan, Buat berperang dengan unsur perubahan, lawanlah rasa antipati dengan telepati.  Terakhir unsur produktivitas, lawanlah sanjungan dengan senyum ketulusan.


Setelah berperang dengan kelima sifat tadi, memenangkan peperangan tanpa peperangan adalah ciri seorang pejuang sejati.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

http://p3kcheckup.com/

Share

Comments Off

REZEKI AKHIR RAMADHAN

Posted on 07 September 2010 by novalramsis

oleh Hari ‘Soul’ Putra

Seorang bapak sedang berfikir di rumahnya yang sederhana di daerah Purwakarta.  Seperti  biasa di akhir ramadhan 10 hari terakhir, selalu ada masalah klasik yang muncul.  Dari tahun ke tahun, setiap menjelang bulan Syawal, selalu dipusingkan dengan 1 pertanyaan, apakah akan mudik lebaran ke kampung halamannya di Jawa sana, ataukah menghabiskan 10 hari yang tersisa untuk tekun ber’ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika harus mudik lebaran, berarti siap – siap membawa uang ekstra buat keluarga yang ada di Jawa, sekaligus mengalami kemacetan, berdesak – desakkan dengan penumpang bis lainnya.  Belum lagi antara idealisme untuk tetap shaum di bulan ramadhan atau kah membatalkan shaum dikarenakan bepergian sebagai musafir.  Fisik sudah semakin tua, tenaga sudah jauh berkurang, jika harus dipaksakan mudik, setelah pulang dari kampung halaman, berarti harus mengetatkan kembali anggaran belanja keluarga buat bulan – bulan berikutnya.

Jika harus memilih tekun i‘tikaf 10 hari terakhir, yang merupakan masa – masa pengampunan dosa dan terbebas dari api neraka, konsekuensinya, dapur susah untuk ngebul dikarenakan pendapatan yang tidak pasti.  Jika tahun lalu hampir saja mereka tidak sanggup bayar zakat fitrah, dikarenakan kebutuhan sehari – hari yang tidak kenal kompromi, apakah di tahun ini akan mengalami hal yang sama.

Pertanyaan itu selalu menjadi beban dari seorang kepala keluarga seperti dia, yang harusnya sudah memasuki masa pensiun, mengemong cucu, beraktivitas dan berinvestasi buat akhirat, malah terjebak rutinitas ritual budaya yang tidak jelas sumbernya.

Mitra sejati, jika kita lihat sejenak cerita tentang seorang bapak di atas, mungkin kita, saudara, teman, atau kerabat kita pernah mengalami kondisi yang sama, entah kemaren, hari ini atau mungkin lusa, yang kita tidak pernah tahu kapan.

Setiap dari kita, tentu mengalami dilema di atas, beraktivitas buat kehidupan dunia atau berinvestasi buat akhirat.  Momentum yang dihasilkan selalu tepat pada saat yang bersamaan.  Menjalankan perintah agama, sesuai syariat ataukah menjalani ritual budaya yang telah mengakar kuat di masyarakat.

Semuanya itu memiliki suatu konsekuensi yang tidak bisa di anggap remeh.  Karena umur tidak pernah ada yang bisa memprediksikan, bisa jadi seorang kakek tua yang kita anggap sudah bau tanah akan meninggal, malah oleh Allah SWT di beri umur panjang.  Ada anak muda yang kita anggap memiliki masa depan cerah dan umur panjang, mengalami kecelakaan di usia yang relatif masih muda.  Itulah misteri dari illahi, jika Allah SWT berkehendak hari ini, terjadi, maka terjadilah.

Kembali ke cerita bapak di atas, ketika dalam ketermaguan memikirkan langkah apa yang harus di ambil, masuk sms di inbox hp nya suatu pesan.  Setelah membaca pesan tersebut, sambil berkata lirih, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, “ tidak terasa menetes air mata dari wajah yang semakin menua.

Dalam kepanikan yang hampir memuncak, Allah SWT dengan cara tidak terduga, mengirim bala bantuan melalui temannya, mengabarkan, ada order sebagai pendamping awak bis mudik gratis dari Jakarta menuju Yogyakarta.

Seperti menerima durian runtuh, masalah klasik yang menghantui tiap tahun, terselesaikan dengan cara yang tidak terduga.

Sebagai lelaki yang bertanggung jawab kepada keluarga, dia bisa mengajak anak istrinya untuk pulang kampung.  Sebagai kompensasi dari kerja sebagai pendamping awak bis, dia mendapatkan honor yang lumayan, buat bekal di kampung dan makan buat bulan depan.  Bisnya AC berangkat 2 hari sebelum syawal, artinya masih ada kesempatan mendapatkan malam lailatul qadar di malam – malam ganjil, 21, 23, 25, 27 – tahun itu.  Zakat fitrah langsung bisa dibayarkan, ketika mendapat persekot atau DP dari usahanya.  Allahu Akbar.

Sebagai penutup, saya kutip Quran Surat Yaasiin ke 36 : 82

“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia “.

Jika Allah SWT menghendaki rezeki seseorang cair pada saatnya, tidak ada yang bisa menghalanginya dan tidak ada yang bisa menahannya.  Allahu Akbar.

Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K

*) Foto diambil dari http://2.bp.blogspot.com/s1600/rezeki.jpg


Share

Comments (1)

JADILAH ORANG TUA YANG BAIK

Posted on 02 September 2010 by adibustaman

Dewi adalah sahabatku, ia adalah seorang mahasiswi yang pintar. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yg terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” itu mottonya.. bahkan Dewi dapat beasiswa untuk studi Hukum Internasional di luar negri.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila.., nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya aku pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil utk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, aku sudah mengantisipasi segala sesuatunya dgn sempurna”. “Everything is OK!, Don’t worry Everything is under control kok!” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yg tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yg berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik utk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka blm memungkinkan utk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.

Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yg bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi padaku, Bayu selalu menyambut kedatangannya dgn penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yg bahagia, pikirku. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dgn penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, aku jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya, “Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dgn penuh harap.

Karuan saja Dewi, yg detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dgn permintaan anaknya. Ia dgn tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dgn baby sitternya. Bayu dgn penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku!” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?”, kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang diperiksa di Ruang Emergency”.

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi Sayang … terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah beberapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yg sangat penting.

Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku. Di tengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., hari ini Bunda mandikan Bayu ya…Sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..”. Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil.. Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitarnya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”. Aku yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yg mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!”, lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat di atas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ke tanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya. Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini aku menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris. “Bangunlah Bayu sayangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?”, pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu Sayang…. Tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?”. Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yg sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yg menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini… Tapi apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

*) Diambil dari milis tetangga, ditulis oleh Dinda Melinda

**) Foto diambil dari http://rizkisaputro.files.wordpress.com/2008/02/bunga-kamboja-kuning.jpg

Share

Comments (0)

SANG BUNDA DAN SANG BAYI (UNTUK PARA PENDIDIK DAN PEMBELAJAR)

Posted on 04 August 2010 by novalramsis

Oleh M Apud Kusaeri, Dipl.Rad. SPd. MSi.

Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.

Renungan ini mengantarkanku pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka .

Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.

Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik  menjadi semakin cerdas.

Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang  putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata,”Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…”Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang  baru dicapai anak didik kita?

Sosok sang ibu sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?

Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.

Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.

Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagaimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?

Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendoakan kebaikan untuk setiap anak didik kita?

Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita pahami. Renungkanlah…

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.

Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu? Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang sahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau: “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya”Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….

Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi,  adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang  baru kita capai saat ini selaku pembelajar?

Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak  itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang di luar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.

Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.

dikutip dari Dakwatuna

*) Foto diambil dari http://farm4.static.flickr.com/3473/3399375218_c2d634d71a.jpg


Share

Comments (1)

KEAJAIBAN SALAM

Posted on 12 July 2010 by novalramsis

*) oleh Dr. Setiawan Budi Utomo

Cinta adalah sesuatu benih yang hidup dalam hati dan tumbuh muncul ke permukaan dalam bentuk ekspresi kongkret dan perilaku riil. Cinta memerlukan ekspresi tersendiri dan esensi syariat Salam dalam Islam lebih dari sekadar simbol formalitas verbal tetapi sebuah ekspresi tulus yang lahir dari perasaan cinta, kasih sayang, doa, harapan, suka cita, motivasi, kepedulian, perhatian, penghargaan dan ikatan batin yang tulus dalam berbagai bentuknya.

Alice Gray memberikan tips mengawetkan hubungan romantis pasangan dalam bukunya List To Live By For Every Married Couple (2002) yaitu dengan memelihara komunikasi efektif melalui berbagai ekspresi perasaan, sukacita, dam keprihatinan yang terdalam. Menurutnya, pernikahan itu dibangun di atas ekspresi-ekspresi kecil penuh kasih sayang dengan menekankan pentingnya ucapan-ucapan selamat dalam berbagai pengalaman penting dan momentum berarti (munasabat) serta sebaliknya mengabadikan kartu ucapan selamat yang terkirim untuk pernikahan, ulang tahun, ulang tahun pernikahan ataupun ucapan spesial apapun merupakan hal yang bermanfaat sebagaimana saran Angela Dean Lund, konsultan kenangan-kenangan kreatif.

Salam merupakan salah satu bentuk pemberian motivasi yang sangat berarti dalam sebuah hubungan agar dapat meningkatkan semangat dalam vitalitas kehidupan fisik material maupun psikologis spiritual, maka karena cinta memerlukan motivasi yang intens dan kontinyu agar tercipta hubungan yang harmonis dan bergairah sepanjang musim, seperti diungkapkan oleh John Gray dalam Men are From Mars, Women are from Venus (1992) sehingga memerlukan manajemen salam dan seni memahami entry point serta titik-titik sensitif serta sentimentil untuk mengeratkan hati pasangan ataupun orang lain (ta’liful qulub). Namun demikian, patut disayangkan, banyak kalangan umat dan aktivis dakwah yang melewatkan dan menyiakan entry point ini membina dan mengeratkan hubungan dengan orang-orang dekatnya serta lingkungan pergaulannya sehingga tercipta hubungan yang loyal, bergairah dan indah.

Sebagai seorang muslim, adalah telah menjadi sebuah keharusan syar’i dan keniscayaan pergaulan untuk memahami manajemen salam dengan saling membudayakan salam secara positif dan efektif. Banyak sekali dalil syar’i, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada siapa pun termasuk yang kita belum kenal apalagi orang-orang dekat yang telah lama kita kenal. (QS.24:27)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah Islam yang paling baik itu? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih )

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umat Islam untuk memelihara tujuh perkara yaitu; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yang dizhalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang (memohon dengan sumpah kepada Allah). (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ibnu Hibban (w.354 H.) dalam Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala menegaskan bahwa Islam sangat menganjurkan budaya Salam pada hubungan sosial secara umum, karena mengandung hikmah dapat mengikis rasa kebencian, kemarahan dan mencerahkan pergaulan sebagaimana riwayat hadits Nabi saw yang mengatakan bahwa Salam merupakan salah satu nama agung Allah yang dihamparkan di muka bumi, maka tebarkanlah Salam di antara kalian.

Manajemen salam secara baik akan melatih seseorang dapat mengoptimalkan upaya membudayakan salam yang merupakan salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan khususnya antara sesama muslim, menambah perasaan saling cinta antar sesama orang beriman. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menegaskan bahwa tidak akan masuk surga sehingga orang telah beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai cara efektif untuk dapat saling mencintai adalah dengan menyebarkan salam. ( HR. Muslim )

Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People (1979) mengajarkan bagaimana cara memelihara dan mengeratkan hubungan sosial khususnya ikatan mahligai perkawinan di antara dengan saling memberi salam berupa ucapan selamat dan pujian yang ikhlas serta memberikan perhatian-perhatian pada hal-hal kecil yang menarik pasangan seperti ketika hari ulang tahun peristiwa pernikahan dan kelahiran.

Menghidupkan budaya salam secara kreatif dan inisiatif bagi pribadi pendamba keshalihan akan tumbuh secara mandiri karena keyakinan bahwa salam merupakan kebiasaan tersebut termasuk sebuah ibadah yang dapat menghantarkan kepada surga sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Hai manusia, sebarkanlah salam, berdermalah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan (silaturahim), shalat malamlah pada saat orang-orang sedang tidur lelap niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tradisi Salam lahir dan hidup sepanjang sejarah hubungan manusia berlangsung sejak zaman Nabi Adam as. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT telah selesai menciptakan Adam as, maka Allah SWT memerintahkan kepada Adam as. untuk menemui dan memberi Salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk menunggu untuk kemudian Adam as diminta mendengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai penghormatan kepadanya. Salam yang diucapkan para malaikat kepada Adam as. adalah salam hormat kepadamu dan salam hormat kepada keturunanmu (yang beriman). Maka Adam as berkata: “Assalamu’alaikum” dan mereka menjawab: “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. ( HR. Bukhari )

Pada dasarnya, hukum memberi salam dan menjawabnya adalah berbeda. Memberi salam adalah sebuah sunnah yang dianjurkan sedangkan menjawabnya adalah wajib sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abdil Barr bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Ketentuan syariat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pemeliharaan hubungan dengan mengajarkan pentingnya menghargai ekspresi positif orang lain berupa ucapan selamat dengan cara membalasnya dengan ucapan salam senada atau lebih baik lagi sebagaimana hadits tentang permulaan salam di atas sehingga para ulama sepakat bahwa menambahkan kalimat dalam menjawab salam adalah sesuatu yang dianjurkan memberikan balasan salam yang lebih baik sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap inisiator salam. Firman Allah SWT : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. 4:86)

Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff for Women (2001) mengkritik kebiasaan dan sikap sementara orang yang kurang arif dalam menerima salam berupa pujian dan kata selamat dengan berbagai respon negatif bahkan pasif, padahal kita dapat menyambutnya dengan ucapan “terima kasih”. Dalam hal ini sunnah Nabi saw lebih jauh mendorong kebiasaan positif dalam menyikapi ucapan salam dengan menjawabnya tidak sekadar “terima kasih” tetapi memberikan ucapan selamat kembali kepada penyampai dan orang yang mengucapkannya minimal setara bobot ucapannya.

Esensi prosedur salam dalam syariat Islam yang berupa tatacara memberi salam yaitu orang yang berkendaraan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama’ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua sebagaimana hadits dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih mengajarkan kepribadian rendah hati dan peduli etika pergaulan dengan memahami posisi diri dan orang lain serta tanggap terhadap ekspresi menghargai orang lain sebagai point entry untuk dihargai dan media perekat hubungan sosial sehingga lahir keshalihan yang memancarkan akhlaq yang baik (khiyarukum ahasinukum akhlaqan).

Persoalan fiqih yang kadang mengganjal dalam manajemen salam adalah salam antar jenis yang bukan mahram. Bila kita perhatikan teks-teks dalil yang menganjurkan untuk menyebarkan salam pada dasarnya bersifat umum dan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, jika ada seorang lelaki yang secara tulus ikhlas mengucapkan salam kepada seorang wanita, maka wanita itu sesuai dengan nash Al-Qur’an wajib membalasnya dengan jawaban yang lebih baik atau minimal yang serupa dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian hijab gender tidak bisa mengoyak ajaran dan doktrin Salam serta filosofisnya.

Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Ummu Hani binti Abi Thalib berkata: “Saya mengunjungi Rasulullah pada tahun al-Fath (penaklukan kota Mekah), ketika itu beliau sedang mandi sementara Fatimah, putrinya, sedang menutupi tempat mandi beliau dengan tabir, lantas saya mengucapkan salam kepada beliau, lalu beliau bertanya, ‘siapa itu?’ saya menjawab, ‘Ummu Hani binti Abi Thalib’, kemudian beliau berkata, ‘selamat datang Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada istrinya Aisyah bahwa malaikat Jibril mengucapkan salam kepadanya, maka ‘Aisyah ra. menjawab salamnya dengan ucapan “wa’alaikum salam warahmatullah”.

Imam Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Fathul Bari-nya hadits Asma’ binti Yazid yang mengatakan bahwa Nabi saw pernah melewati kami kaum wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa ketika sahabat Mu’adz tiba di Yaman, ia didatangi seorang perempuan dengan dua belas anaknya seraya mengucapkan salam kepada Mu’adz.

Demikian yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya tentang memberi salam kepada kaum wanita atau sebaliknya meskipun terdapat sebagian ulama yang mensyaratkan kebolehan itu dengan kondisi ‘aman dari fitnah’ seperti Imam Al-Hulaimi dan Al-Mihlab. Dari sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama zaman dahulu tidak mengharamkan mengucapkan salam kepada wanita, khususnya jika laki-laki itu berkunjung ke rumah si wanita untuk urusan tertentu yang syar’i, untuk mengobati, mengajar, dsb. Berbeda dengan wanita yang bertemu dengan laki-laki di jalan umum, maka si lelaki sebaiknya tidak mengucapkan salam kepada wanita, kecuali jika antara mereka ada hubungan yang kuat, seperti hubungan nasab, kekeluargaan, semenda, dll. Sedangkan alasan yang paling kuat yang dijadikan sandaran oleh golongan yang melarangnya adalah karena ‘takut fitnah’ yang sudah seyogyanya dijaga oleh setiap muslim semampu mungkin untuk menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya. Hal itu, sebenarnya, pangkal tolaknya adalah hati nurani dan daya tahan iman seorang muslim itu sendiri, karena itu hendaklah ia bertanya pada dirinya sendiri.

Dalam persoalan kasus salam antar beda jenis yang bukan mahram beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjaga kemurniaan dan efektivitas positifnya adalah bahwa salam itu diucapkan ataupun disampaikan dalam kerangka birr wat taqwa (kebajikan dan ketakwaan), salam itu tepat waktu dan kondisi, salam itu dilandasi ketulusan ikhlas dan aman dari potensi fitnah.

Dalam konteks ini, pendapat kalangan yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat sehingga mutlak tidak boleh ada kontak komunikasi antar jenis adalah tidak relevan karena tidak adanya dalil khusus yang melandasi pelarangan tersebut dan tidak ada seorang pun ulama mu’tabar (eligible) yang berpendapat begitu. Bagaimana dikatakan suara wanita itu aurat, sedang Allah berfirman: “… apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…” (Al-Ahzab:53).

Ini berarti bahwa mereka, para istri nabi, menjawab permintaan tersebut dari belakang tabir. Demikianlah yang biasa dilakukan Aisyah dan Ummul Mu’minin lainnya, menjawab pertanyaan, meminta sesuatu dan meriwayatkan hadits serta menceritakan sisi-sisi kehidupan Rasulullah, padahal semestinya aturan yang berlaku atas mereka lebih ketat dan lebih berat daripada wanita lainnya. Sebaliknya, banyak pula kaum wanita yang bertanya dan berbicara di majelis terbuka Nabi saw. Betapa banyaknya peristiwa sejarah yang tidak terhitung jumlahnya pada zaman Nabi saw dan sahabat, yang menunjukkan bahwa kaum wanita dapat dan biasa berbicara dengan kaum laki-laki, berdialog, berdiskusi, mengucapkan dan menjawab salam. Tidak seorang pun yang berkata kepada wanita, ‘diamlah, karena suaramu itu aurat’.

Seni memberi dan menjawab ucapan selamat dalam manajemen salam merupakan salah satu bentuk setoran efektif untuk bank emosi kita dalam kebiasaan proaktif untuk menarik simpati orang lain dan membina berbagai hubungan sebagaimana ditegaskan Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Efective Families (1999). Bahkan menurutnya sebagai media sinergi untuk mewujudkan sistem kekebalan keluarga perlu dihidupkan budaya kreatif ucapan selamat sebagai bagian implementasi lima cara mengekspresikan cinta yaitu; 1. berempati, 2. berbagi rasa, 3. meyakinkan dan motivasi, 4. berdoa, 5. berkorban.

Jangan pernah melewatkan satu kesempatan dari peristiwa apapun yang dialami oleh orang-orang yang kita kasihi atau kita kenali untuk memberikan salam yang dapat menyumbangkan rasa kebahagiaan dan motivasi pada mereka sebagai suatu pengikat batin yang dahsyat sekaligus amal yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi saw yang mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah memberikan rasa kebahagiaan pada hati orang lain. Sesuatu yang remeh dan kecil bukan sebagai alasan untuk kita lewatkan meskipun hanya menulis satu coretan kecil, satu baris pesan melalui SMS, satu kalimat telepon, satu, satu kartu ucapan selamat yang sederhana, kalau hal itu memang dapat memberikan kebahagiaan orang lain, bukankah Nabi saw melarang kita untuk meremehkan dan tidak menghiraukan hal-hal positif apapun sekalipun remeh dan kecil.

Dalam optimalisasi fungsi manajemen salam dan untuk mengetahui secara proaktif momentum yang tepat bagi ekspresi salam, agar menjadi salam yang efektif maka diperlukan proses pembelajaran, pengenalan dan saling memahami (tafahum) antar kekasih, sahabat dan relasi. Barbara De Angelis dalam The 100 Most Asked Questions About Love, Sex and Relationships menekankan pentingnya kerjasama dan keyakinan bersama bagaimana perasaan cinta diekspresikan secara benar sehingga dapat membahagiakan pasangan dan sahabat. Oleh karena itu kita perlu ‘ngeh’, ‘ngerti’ dan tahu (ta’aruf) hari-hari, momentum dan saat-saat yang tepat untuk memberikan ucapan dan ungkapan selamat kepada orang-orang sekitar kita. Dan kita harus arif dalam memilih kata, media dan cara penyampaian salam agar tidak mengurangi keberkahan dan efektivitas salam. Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah. []

dikutip dari dakwatuna

*) Foto diambil dari http://1.bp.blogspot.com/s400/Bersalaman.jpg


Share

Comments (1)

HIKAYAT PENSIL

Posted on 16 June 2010 by adibustaman

Seorang cucu bertanya pada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

“Nenek lagi nulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?”. Si nenek berhenti menulis dan berkata pada cucunya, “Sekarang nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yg lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”

“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti,” ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu lalu melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

“Tapi nek, kayaknya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” kata si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung dari kamu melihat pensil ini. Pensil ini punya lima kualitas yang bisa memberimu semangat dalam menjalani hidup, kalo kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”

Si nenek kemudian menjelaskan lima kualitas sebuah pensil.

“Pertama, pensil ingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.”

“Kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani terima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”

“Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk memakai penghapus untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”

“Keempat, bagian yang paling penting sebuah pensil bukanlah luarnya, tapi karbon yang ada di dalam pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan sadari hal-hal di dalam dirimu.”

“Kelima, sebuah pensil selalu tinggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar, kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakanmu”.

(Paulo Coelho)

*) Foto diambil dari http://2.bp.blogspot.com/s400/PENSIL2.jpg

Share

Comments (1)

SEMANGKUK MIE

Posted on 16 June 2010 by adibustaman

Malam itu, Ina bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ina segera kabur dari rumah. Saat berjalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Dan saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tapi ia tidak punya uang. Pemilik kedai melihat Ina berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tapi, aku tidak membawa uang”,  jawab Ina dgn malu…

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu”, jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ina segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa”, aku hanya terharu jawab Ina sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri”, katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ina, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya?”

Ina, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tsb? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli padanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

Ina, segera menghabiskan bakminya, lalu pamit dan tak lupa berterimakasih pada si pemilik kedai. Ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ina, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ina kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ina tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya….

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita harus berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

*) Cerita diambil dari email yang dikirim oleh Dinda Melinda

**) Foto diambil dari http://mimbarsaputro.files.wordpress.com/2008/12/bakmi_ayam_acang.jpg

Share

Comments (0)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 256899Total dibaca:
  • 113400Total pengunjung:
  • 187Pengunjung hari ini:

Palanta Discussion Forum Schedule

May 2012
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031EC

 

Upcoming Discussion

  • No events.