Archive | PALANTA

Terlihat Benar Tapi Belum Tentu Benar

Posted on 27 December 2011 by novalramsis

 

Catatan Kepala: ”Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar”.

Sudah cukup sering kita berhadapan dengan orang-orang yang menganggap dirinya benar. Melakukan hal-hal yang benar. Dan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Anehnya, kebenaran yang diperjuangkan itu berbenturan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam lingkup yang lebih besar. Orang-orang semacam itu tidak hanya bisa kita temui di jalan. Juga di lingkungan tempat kita tinggal. Maupun di kantor tempat kita bekerja. Orang-orang itu tidak berada jauh. Banyak yang dekat dengan kita. Ada yang sangat dekat dengan kita.

Bahkan ada yang sedemikian dekatnya sehingga jantungnya adalah jantung kita juga. Ehm, kalau begitu; orang itu adalah diri kita sendiri dong ya. Kita yang sering merasa telah berada di jalan yang benar, seolah hal lain di luar kita adalah salah.

Saya punya janji rapat presentasi program pelatihan saya dihadapan management sebuah group perusahaan. Berbekal alamat lengkap lokasi meeting, maka saya pun meluncur ke lokasi. Karena kurang faham wilayah itu, saya sesekali berhenti untuk menanyakan arah. Sesuai petunjuk orang yang ditanya, saya pun belok kanan. Alhamdulillah, nama jalannya sudah pas seperti seharusnya. Tinggal mencari menara perkantoran itu, sampailah. Namun, saya tidak kunjung menemukan menara itu, hingga nama jalan yang dilalui berubah. Saya putar arah, sampai diujung perempatan lagi. Menara itu tetap tidak ada. Apa pasal? Rupanya, jalan di seberang perampatan itu juga masih sambungannya. Seharusnya tadi saya belok kiri, karena menara itu ternyata berada di sebelah sana. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga, bahwa; “Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar.” Ini bukan sekedar soal mencari alamat tertentu, melainkan isyarat Ilahi tentang cara menelusuri sepanjang perjalanan hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami isyarat itu dalam menjalani hidup, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang berikut ini:

 

1.      Berhenti merasa benar sendiri. Misalkan saja Anda sedang berada di jalan Jenderal Sudirman. Saat menelepon teman Anda, dia mengaku jika dia pun sedang berada di jalan yang sama. Apa yang selanjutnya Anda lakukan? Anda mengatakan bahwa dia berdusta? Tidak. Mungkin malah Anda akan bertanya; “Elu ada disebelah mana? O, gitu. Ya udah elu jangan kemana-mana. Gue langsung meluncur kesana.” Kan begitu. Mudah bagi kita untuk memahami hal itu. Yang sulit adalah ketika kita merasa semua kebenaran ini milik kita seluruhnya sedangkan semua orang lain salah. Karena sama-sama ngotot, maka kita saling mempertentangkan kebenaran masing masing. Padahal, boleh jadi sebenarnya kita berada pada ‘rute jalan’ yang sama, namun  kita berada pada ‘spot’ yang berbeda. Jika Anda bisa mengatakan ‘ya udah elu tunggu aja, sebentar lagi gua kesana’ di Jalan Jenderal Sudirman itu, kenapa sih kita tidak bisa mengatakan;’Elu bener. Gue pun akan punya keyakinan serupa itu jika menggunakan sudut pandang nyang entu…” Itu loh yang sering kita sebut sebagai empati itu. Kita memahami latar belakang dan sudut pandanganya, sehingga bisa memahami pendapatnya. Dan sikap serupa itu, hanya bisa kita miliki jika kita berhenti untuk merasa benar sendiri.

 

2.      Jalan itu bukan lokasi. Kalau kita sudah berada di sebuah jalan, hal itu tidak berarti kita telah melintasi semua bagian dari jalan itu, begitulah faktanya. Saya sudah berada dijalan itu. Tapi saya tidak bisa menemukan lokasi rapat itu. Faktanya, jalan adalah lorong untuk mengantarkan kita ke lokasi yang kita tuju. Masalahnya, jika jalan hidup kita, jalan pikiran kita, jalan keyakinan kita sudah benar kita sering merasa jika kita sudah berada di ‘lokasi’ yang benar. Makanya, kebenaran sering kita amalkan secara membabi buta. Kita merasa berhak menindas orang lain atas nama kebenaran. Kita boleh memaki bawahan atas nama kebenaran. Kita boleh menghujat atasan dan pemimpin atas nama kebenaran. Dan kita, boleh ‘melakukan apapun juga’ selama kita berpijak diatas sendi-sendi kebenaran. Tidak bung. Anda baru sampai di Jalan tempat kebenaran itu ada. Namun Anda, belum sampai di lokasi kebenaran itu sendiri. Tak heran jika banyak atasan yang semena-mena. Banyak bawahan yang suka membangkang. Banyak teman yang berani melakukan apa saja demi memenangkan persaingan. Karena mereka lupa; bahwa yang mereka perjuangkan itu bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan sebuah perjalanan yang belum selesai ditempuhnya. Maka tempuhlah perjalanan menuju kebenaran itu terlebih dahulu. Pastikan Anda sampai di lokasi kebenaran itu berada. Izinkan semua orang dari berbagai penjuru bumi menggunakan bermacam alat transportasi, dan menempuh jalur-jalur yang berbeda bisa tiba ditempat yang sama. Setelah berada disana; kita baru akan menyadari jika ternyata; kita berbeda ini memiliki tujuan dan kebenaran yang sama. Oh, ternyata jalan itu, bukanlah lokasi.

 

3.      Tidak ada jawaban yang salah. Saya salah berbelok. Harusnya ke kiri, bukan ke kanan. Tapi, itu saya lakukan karena seseorang memberitahukan untuk belok kanan. Lho, kok kesalahan saya malah ditimpakan kepada orang lain yang sudah berusaha untuk memberi bantuan. Saya bertanya ‘jalan ini ada dimana?’. Dia bilang, ‘diperempatan itu, Bapak belok kanan.” Dia benar. Bahkan sekalipun orang itu menjawab salah, bukan salah dia. Yang salah adalah saya yang bertanya kepada orang yang tidak mengetahui jawabannya. Kita? Oooh, sering sekali menimpakan nasib sial, kesulitan, kegagalan, kekecewaan dan semua perasaan yang tidak menyenangkan sebagai ulah yang diakibatkan oleh orang lain. Saya melakukan ini karena istri saya tidak merawat diri. Saya melakukan itu karena suami saya tidak perhatian lagi. Karir gue mandek gara-gara teman gue suka menjilat atasan. Saya malas kerja karena suasana di kantor kurang kondusif. Saya sering telat karena teman dan boss saya juga begitu gak diapa-apain. Lha, kok semua keburukan, kesialan, dan kelemahan kita malah ditimpakan penyebabnya kepada orang lain. ‘Lantas, elo mau aja menyerahkan nasib kepada orang lain?’ Begitu saya mendengar  teguran keras dari dalam diri saya. Jikapun orang lain telah menyebabkan kita menderita; belum tentu karena mereka sengaja. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu kita dengan lebih baik. Maka ketika kita mendapatkan jawaban atau bantuan dan perlakuan apapun dari orang lain, bukan salah mereka jika kita menerimanya. Kitalah yang mesti belajar untuk memilahnya; dan menjaga diri dari dampak buruknya.

 

4.      Tidak semua pengguna jalan tertib aturan.  Orang tidak sengaja menyulitkan kita? Iya. Tapi, kadang kita bisa kecipratan dampak buruk dari perilaku kotor orang lain. Sama seperti pengendara di jalan-jalan yang kita lalui. Ada saja tingkah polah pengendara lain yang menyusahkan kita. Angkot yang berhenti sembarangan. Motor yang ngecot kiri-ngecot kanan. Bis kota yang ngetem di tikungan. Bahkan, ada juga mobil pribadi yang menggunakan sirene polisi hanya untuk menakut-nakuti. Sama seperti hidup kita. Meskipun kita sudah berada di jalan yang lurus, namun banyak juga orang yang melintasinya secara ugal-ugalan. Mereka kelihatan percaya diri dengan kengawurannya. Mereka baru meringis nangis kalau pelipisnya sudah teriris oleh kerikil dari aspal yang terkikis. Sekitar tahun 1998, saya bahkan pernah menjadi korban tabrak lari. Seperti itulah kira-kira fakta hidup kita. Jangan pernah pergi melintasi jalan manapun jika tidak ingin bertemu dengan para pengendara ceroboh dan arogan seperti itu. Jangan pergi ke kantor jika tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Jangan bekerja jika tidak mau dibentak. Jangan keluar rumah jika tidak ingin berpapasan dengan tetangga judes. Jangan keluar kamar jika ogah melihat wajah marah orang serumah. Jangan hidup jika tidak mau menghadapi konsekuensi-konsekuensi lumrah sebagai mana layaknya. Tidak semua pengguna jalan tertib aturan. Begitulah faktanya. Maka mari kita hadapi kenyataan itu. Dan mari kita lintasi semua jalan dan jalur kehidupan yang semertinya kita tempuh. Meski berhadapan dengan resiko serupa itu.

 

5.      Jalan yang tidak pernah menyesatkan. Ada banyak jalan menuju ke Roma, katanya. Itu benar. Tetapi tidak berarti bahwa semua jalan bisa membawa kita ke Roma. Semua orang boleh memilih jalan hidupnya masing-masing, katanya. Itu benar. Tetapi, tidak berarti bahwa seseorang boleh bertindak semau udele dhewek. Kenyataannya ada jalan buntu. Bahkan jalan yang menyesatkan. Kewarasan kita patut dipertanyakan jika sudah tahu itu buntu tapi masih maksa menembusnya juga. Sudah tahu itu sesat, eh ngotot saja hanya karena merasa nikmat. Makanya, meski kita boleh memilih jalan hidup; kita perlu memilih jalan hidup yang tidak pernah menyesatkan. Adakah jalan seperti itu? Ada. Yaitu, jalan yang dibentangkan berdasarkan petunjuk dan bimbingan Tuhan. Untuk menemukan jalan itu, tidak cukup sekedar bertanya kepada pemuka agama. Pertama, mereka juga manusia yang bisa salah seperti kita. Kedua, pemuka agama tidak memiliki kemampuan untuk memaksa kita mengikuti kata-katanya. Ketiga, hanya diri kita yang bisa membuka pintu hati agar isyarat dan cahaya Ilahi bisa memasuki relung terdalamnya. Kita akan bisa menemukan jalan Ilahi itu hanya jika terus mencari, menerima, menyadari, mempersiapkan dan memahami tanda-tandanya. Dan salah satu tanda itu adalah; ketika kita ikhlas menjalani peran yang sehari-hari kita mainkan. Tanpa keikhlasan itu, jelas sekali jika kita tidak sedang melangkah dalam jalan yang tidak pernah menyesatkan itu

 

Setelah sekian puluh tahun perjalanan hidup kita, sudahkah kita menemukan jalan hidup yang benar-benar tepat untuk kita lalui? Jika kita pernah salah jalan, tak usah terlampau gusar. Segeralah memutar arah, lalu ikutilah jalur yang seharusnya. Setelah berada di jalan yang kita kira benar pun, teruslah memeriksa apakah kita berada di lajur yang benar? Boleh jadi, jalan kita sudah benar, namun kita berada di lajur yang salah, atau menuju kearah yang salah,  dan mengikuti rambu yang salah.  Mengapa? Karena sesuatu yang terlihat benar itu, belum tentu benar. Hanya ada satu kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Mengapa kebenaran dari Tuhan sifatnya mutlak? Karena Tuhan itu hanya satu, sehingga kebenaran yang ditentukanNya tidak ada yang bisa mempertanyakan. Mempertentangkan. Atau memberi tandingan. Dalam jalan  kebenaran yang dilandasi petunjuk Ilahi itu; yuk, kita sama-sama melangkah.

 

Catatan Kaki:
Isyarat kebenaran Ilahi hanya bisa ditangkap oleh pribadi yang menyediakan jiwa dan raganya untuk selalu bersih dalam menjalani hidupnya.

 

penulis: Dadang Kadarusman
dikutip dari: www.cak-soetam.com

Comments (1)

Menggendong Monyet

Posted on 11 December 2011 by novalramsis

Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ mereka sendiri?

Manajemen waktu

Bill Oncken di “Harvard Business Review “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa ini?” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:

  1. Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa  beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).
  2. Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).
  3. Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.

Dimana monyetnya?

Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika  salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda  perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan  mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.

Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting  tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.

Monyet pertama

Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”

Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi,  sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda  membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:

  1. Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan
  2. Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut

Rumusannya, “Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang mengawasinya.”

Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut  datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.

Monyet kedua

Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.

Monyet ketiga

Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya  pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.

Monyet keempat

Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.

Monyet kelima

Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”

Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan  setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?

Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”

Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda  mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah  TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. I love you!”.

Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.

Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda  telantarkan monyet Anda  sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.

Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst

Di mana-mana monyet

Di sekeliling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa “monyet-monyet lemparan!” Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”

Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda  sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.

Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.

Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.

Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.

Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “monyet-monyet dari samping” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri. Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “monyet-monyet dari samping” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “monyet-monyet dari atas” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.

Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya me-manage, Anda malah di-manage.

Monyet-monyet dari atas” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “Monyet-monyet dari samping” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “Monyet-monyet yang Anda sendiri” dan “Monyet-monyet yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga” adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.

***

Menangani monyet-monyet

Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:

Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya

Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:

    1. Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki. Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.

 

    1. Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya. Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

 

    1. Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer. Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik.

 

    1. Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan. Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan   memberinya umpan balik.

 

    1. Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda. Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.

 

    1. Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll). Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.

Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.

***

Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.

Pertama, kita mulai dengan huruf H (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).

Kedua, huruf W (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.

Dan, terakhir, R (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai chunking down (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).

Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?

Sumber: 
www.indonlp.com

BUKU:  1/2 Karyawan 1/2 Bos  <– klik disamping panah

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

Petuah dari kiai saya di gontor, ‘jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah yang punya pegawai.’ Buku dari saudara noval ini adalah salah satu cara mengamalkan petuah kiai saya tadi. Bacalah dan punyalah pegawai’ – ahmad fuadi, penulis trilogi negeri5menara, www.negeri5menara.com

NovalRamsis dot com  <– klik disamping panah

Consultancy & Training

business optimizing  life coaching  business coaching  self development training  leadership training

Comments (0)

Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?

Posted on 16 November 2011 by novalramsis

Waryono, seorang office boy di Jakarta.  Di tengah kesibukannya bekerja, ia juga mengelola beberapa bisnis.  Berbekal modal Rp.500.000,- ia membuka toko kelontong kecil.  Ternyata, bisnisnya berjalan dengan baik.  Ia pun memutar modalnya untuk membuka warung pecel lele.

Dengan ketekunan, semangat pantang menyerah, hemat, senang belajar, Waryono pun berhasil di warung pecel lelenya.  Ia membuka warung pecel lele yang kedua.  Selain itu, ia pun punya toko tanaman hias, juga sawah dan traktor yang disewakan.

Sekarang, omset semua bisnisnya mencapai Rp. 25 juta per bulan.  Itulah bukti nyata bahwa orang yang bekerja, dapat juga membangun bisnis dan berhasil dari modal yang relatif kecil.  Waryono pun diprofil sebagai “Sosok Minggu Ini” pada acara berita di sebuah stasiun TV swasta nasional.

Lihat video liputan seorang Waryono disini –> http://www.youtube.com/watch?v=zD-YeWio8QQ

Lain lagi dengan Pak Sofyan.  Ia manajer di sebuah perusahaan farmasi.  Beberapa tahun sebelum masa pensiunnya tiba, ia telah mulai berbisnis.  Membuka peternakan ayam potong.  Ia meresikokan modal puluhan juta rupiah untuk bisnisnya ini.

Ternyata pilihannya tepat.  Bisnis ayam potongnya berjalan lancar.  Bisnis ini memang telah tersistem.  Ada perusahaan besar yang mensuplay anak ayam, pakan dan menampung hasil panennya.

Meski begitu, bukan berarti bisnisnya tanpa masalah.  Anak kandang yang cenderung “nakal”, tetangga kandang yang merongrong menjadi tantangan di awal bisnisnya.  Selain tentu masalah perawatan ayamnya sendiri.

Sosok Pak Sofyan ini memberi pelajaran penting.  Bisnis bisa dimulai di usia matang.  Usia-usia pensiun.  Dan tetap tidak mengganggu pekerjaan di tempat kerja.

Pelajaran lain adalah tentang modal.  Pak Sofyan ini yakin bisa sukses di bisnisnya.  Maka ia siap keluarkan modal besar.  Keyakinan ini muncul, tentu karena sebuah perhitungan yang matang dan pengetahuan yang cukup tentang bisnis yang akan dibukanya.

Sosok lain adalah Fauzan.  Ia mahasiswa pemenang Wirausaha Muda Mandiri Award di tahun 2010.  Bermula dari niatnya untuk mulai berbisnis saat masih mahasiswa.  Pilihannya jatuh pada budidaya lele sangkuriang.  Khususnya usaha pembenihannya.

Maka, waktu-waktu luang di tengah kesibukan kuliah ia gunakan untuk berbisnis lele ini.  Tiga orang karyawan sekarang membantunya di peternakannya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Berbagai media massa banyak yang meliput kesuksesan Fauzan.

Nah, itulah bisnis.  Ia bisa kita bangun di tengah kesibukan kita sehari-hari dalam bekerja atau kuliah.  Ada faktor delegasi yang sangat membantu.  Kuliah, tentu tak bisa diwakilkan.  Paling banter, nitip absen.  Itupun akan kena sanksi berat bila ketahuan.  Dan tentu kita rugi sendiri bila kuliahnya hanya nitip absen.  Sudah bayar mahal, ilmunya tak dapat.

tulisan diatas adalah sebagian dari isi Bab 3. Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak? buku:

1/2 Karyawan 1/2 Bos

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)

penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis

Harga buku: Rp. 40.000,-

order buku klik disini  –> Pesan Buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

Comments (2)

Takut Gagal? No Way…

Posted on 11 November 2011 by novalramsis

artikel ini sebagian isi BAB 2, dari buku:

1/2 Karyawan 1/2 Bos << klik disamping panah

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

(buku baru,  diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)

penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis

Harga buku: Rp. 40.000,-

Sudah tersedia di toko buku Gramedia di kota anda. Jangan sampai kehabisan!!!

atau order OnLine disini << klik disamping

Ketakutan adalah anugerah Tuhan untuk menyelamatkan kita dari berbagai macam bahaya.  Ketika berkendaraan, kita takut untuk celaka, maka kita akan berhati-hati.  Kecepatan kendaraan kita atur dengan baik.  Kaca-kaca spion terus diperhatikan dan kita konsentrasi mengemudi.   HP di-silent lebih dulu agar tidak mengganggu konsentrasi.  Kita pun selamat sampai tujuan.  Ketakutan memberikan manfaat besar.

Tapi, bila kita dikendalikan oleh ketakutan, maka kita akan kehilangan berbagai kesempatan untuk mendapat kesuksesan, kenikmatan dan kekayaan yang lebih besar.  Merugi jadinya.

Dalam membangun bisnis, takut gagal ini bisa berdampak negatif atau positif.  Berdampak negatif bila ketakutan ini membuat kita tak jadi melangkah.  Terlalu banyak menghitung-hitung resiko.  Terlalu sering mendengar cerita kegagalan.  Terlalu berhati-hati membuat keputusan dan tindakan.  Dengan begitu, bisnis kita perlahan sekali majunya.

Sebaliknya, takut gagal ini bisa berdampak positif.  Bahkan penting.  Ketakutan yang cukup akan membuat kita berusaha optimal, tidak meremehkan dan serius agar sukses.  Maka, cerita kegagalan diri sendiri dan orang lain adalah pelajaran sangat berharga.  Tidak akan melemahkan, bahkan menambah semangat.

Bila kita dikendalikan ketakutan, itu artinya kita menarik apa yang ditakuti itu.  Jadi bila kita takut gagal, maka kegagalan justru mendekat.  Pernah lewat kuburan dan takut setan?  Wah, kita justru sedang mengundang setan untuk mendatangi kita.

Maka, kendalikan lah ketakutan.  Takut itu wajar-wajar saja koq.  Semua orang mengalaminya.  Semua orang memiliki ketakutannya masing-masing.  Orang tanpa ketakutan, justru adalah orang yang tak normal.  Pernah lihat orang gila di jalanan?  Adakah ketakutan dalam dirinya?

Kita membutuhkan kesadaran atas ketakutan kita sendiri.  Ketika kita sadar, diri kita sedang takut, maka kita memiliki kesempatan untuk mengendalikan ketakutan itu.  Tanpa kesadaran tak ada pengendalian.

Sadar atas apa?  Sadar atas jati diri kita yang sesungguhnya.  Sadar atas kemampuan kita.  Sadar atas kebaikan orang-orang di sekeliling kita.  Sadar atas kekuasaan Tuhan yang tak berbatas.  Dengan begitu, saat gagal datang, kita sadar bahwa ini cara Tuhan untuk mengingatkan dan menguatkan kita.  Kita sadar, mungkin kita belum mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.

Dalam bisnis, ada beberapa ketakutan yang harus kita sadari.

Pertama, takut dicemooh.  Ini terjadi bila kita memulai bisnis dengan skala kecil.  Lebih kecil dari citra diri kita yang terlihat oleh orang lain.  Ada teman saya yang mengalaminya.  Ketika selesai kuliah, ia memutuskan untuk berbisnis.  Jualan buku di kios kecil di pinggir jalan.

Keluarganya tidak setuju.  Orang tuanya ingin ia bekerja saja.  Menjadi orang kantoran.  Terlihat keren.  Ketidak setujuan ini segera berubah menjadi cemoohan.  Rupanya sang teman tidak tahan.  Maka ia berhenti berbisnis.

Anda mungkin juga mengalaminya.  Sudah punya pekerjaan yang enak, koq repot-repot membuat bisnis.  Bisnis kecil lagi.  Wah,…pendapat ini bisa menyurutkan langkah anda.  Apalagi bila berasal dari istri/suami, orang tua, teman-teman dan tetangga.

Apa yang harus dilakukan?  Bagaimana solusinya?

Tersenyum dan ucapkan terima kasih atas pendapat mereka.  Jadikan pendapat seperti ini sebagai pemantik tekad anda untuk membuktikan bahwa anda sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang besar dan berarti.  Terangkan maksud anda membangun bisnis dengan santun.  Jelaskan manfaat-manfaat apa saja yang anda dapatkan dari bekerja dan membangun bisnis juga.

Bagaimana bila masih dicemooh juga?  Biarkan saja.  Itu hak mereka.  Anda gunakan saja hak anda untuk melakukan sesuatu dengan bebas.  Toh, bisnis anda tidak mendapat modal pula dari mereka.  Akan datang saatnya ketika anda sukses besar dan mendapatkan kelimpahan yang luar biasa.  Bila sudah begini, tak akan ada lagi cemoohan.  Orang sukses yang baik tak dicemooh. Malah dipuji dan didekati.

Kedua, takut bangkrut.  Ini terjadi pada banyak orang.  Tentu dengan intensitas yang berbeda-beda.  Takut bangkrut terjadi karena kita pernah lihat orang yang bangkrut.  Juga karena sumberdaya kita terbatas.  “Modal ini hasil kerja keras saya menabung.  Kalau nanti gagal gimana?  Hasil kerja keras saya sia-sia dong.”

tertarik untuk pesan buku 1/2 Karyawan, 1/2 Bos?  Silahkan email ke: pelatihan@buyanur.com

Comments (1)

Buat Keputusan Tegas

Posted on 31 October 2011 by novalramsis

Sinopsis BAB 1 dari buku:

1/2 Karyawan 1/2 Bos

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan

(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)

penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis

Harga buku: Rp. 40.000,-

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos

Keputusan adalah pekerjaan mental yang paling dekat dengan tindakan.  Tak ada tindakan tanpa keputusan.  Seperti apa tindakan kita, ditentukan oleh keputusan yang sebelumnya kita buat.

Sebelum keputusan, ada keinginan.  Keinginan – keputusan – tindakan adalah sebuah jalur dan siklus.  Maka, banyak orang menginginkan sesuatu, tetapi tidak bertindak.  Banyak karyawan yang ingin memiliki bisnis, tapi tak bertindak.  Kenapa?  Karena tidak membuat keputusan!

Inilah langkah awal kita untuk memiliki bisnis.  Buat keputusan tegas.

Sebuah keinginan telah berubah menjadi keputusan bila kita telah melengkapinya dengan faktor waktu.  Saya ingin memiliki bisnis.  Kapan?  Bulan depan!  Nah, itu keputusan.

Waktu saya bekerja, saya memutuskan untuk mulai memiliki bisnis juga.  Maka saya mulai bertindak.  Saya beli dan baca buku-buku bisnis.  Saya baca tabloid tentang berbisnis.  Saya bertanya dan diskusi dengan orang-orang yang telah berbisnis.  Inilah keputusan pertamanya : “Saya memutuskan untuk memiliki bisnis bulan depan.”

Keputusan kedua, berkaitan dengan bisnis apa yang akan saya mulai jalani.  Maka saya mencari bisnis yang paling pas dengan kondisi saya.  Kebetulan, rumah saya ada di kampung.  Di samping rumah, ada lahan yang telah dibuat kolam oleh kakak ipar saya.  Ia telah lebih dulu berbisnis.  Lobster air tawar.

Setelah setahun ia menjalani bisnis lobster, semua lobsternya kena virus dan mati semua.  Ia berhenti berbisnis lobster.  Menyisakan kolam-kolam yang tak lagi dipakai.  Dengan izinnya, saya bisa menggunakan kolam-kolam itu.

Saya memutuskan untuk budidaya lele.  Khususnya lele sangkuriang.  Kenapa lele?  Pertama, saya suka makan pecel lele.  Murah, enak dan bergizi.  Kedua, lele tak membutuhkan air mengalir.  Di ‘air mati’ pun bisa.  Ini pas dengan kondisi lahan saya yang tak dilalui sungai.  Ketiga, saya bertemu dengan Pak Nasrudin.  Beliau ini maestro lele.  Telah bergelut dengan lele bertahun-tahun lamanya.  Cerita beliau tentang lele membuka wawasan saya tentang lele.  Peluang pasarnya yang sangat besar.  Budidayanya yang tidak terlalu repot.  Faktor-faktor pendukung seperti sumber pakan, obat-obatan dan sebagainya pun tersedia.  Inilah keputusan kedua saya : “Saya beternak lele sangkuriang”.

Keputusan ketiga saya buat berkaitan dengan : “Seberapa serius saya dengan bisnis ini?”  Mau coba-coba aja?  Kalau berhasil, baru ditingkatkan skalanya?  Atau benar-benar serius.  Apapun yang terjadi – kegagalan sekalipun – saya akan tetap di bisnis ini sampai benar-benar sukses?

Saya memutuskan untuk memilih yang kedua.  Serius 100%.  Apapun yang terjadi, saya akan terus berbisnis lele.  Tidak akan setengah-setengah.  Full commited.  Berkomitmen penuh.

Ini saya lakukan karena beberapa alasan:

  1. Bila kita coba-coba dulu, “Kalau berhasil saya lanjutkan, kalau gagal saya berhenti dan mencari bisnis lain” adalah sebuah pola pikir yang keliru.  Kenapa?  Kita baru belajar berbisnis, tentu belum ahli.  Maka kemungkinan gagalnya juga besar.
  2. Agar sukses, kita butuh waktu minimal untuk belajar, mengenal orang-orang kunci di bisnis itu dan mengembangkan sistem bisnis kita sendiri.
  3. Berganti-ganti bisnis awal hanya membuang sumberdaya percuma.
  4. Bisnis apapun, bahkan yang telah fokus sekalipun dan telah berjalan lama tentu masih mungkin ada masalahnya.  Juga mungkin saja gagal.
  5. Bila kita benar-benar serius, mengambil resiko yang cukup besar, tentu kita akan berusaha optimal. Dan usaha optimal ini lah yang diperlukan untuk membuka bisnis.  Apalagi kita masih tetap bekerja.

Nah, bila kita ingin memiliki bisnis dan tetap mempertahankan pekerjaan kita selama ini, maka langkah pertamanya Buat Keputusan Tegas.

Pernah nonton film Men of Honor? Film ini dibintangi Cuba Gooding Jr. dan Robert De Niro.  Film ini berdasar pada kisah nyata Carl Bashier. Carl ini negro.  Ia ingin menjadi penyelam.   Ia memutuskan untuk bergabung dengan angkatan laut Amerika.  Saat itu, tak ada negro yang bisa jadi penyelam di angkatan laut Amerika.  Hanya orang berkulit putih yang boleh.

Berbagai rintangan dan permusuhan harus dihadapi Carl Bashier.  Bahkan sampai membahayakan nyawanya.  Tapi ia tetap bertahan.  Keputusannya telah bulat dan sangat kuat.  Maka berbagai rintangan berhasil ia atasi.  Berbagai permusuhan bisa berubah menjadi dukungan.  Cita-cita Carl Bashier pun tercapai.  Untuk membangun bisnis, saya benar-benar belajar dari kisah nyata Carl Bashier ini.

Comments (0)

Kenapa Orang Sulit Berubah?

Posted on 20 October 2011 by novalramsis

Perubahan.  Ini topik yang terus dibahas.  Kenapa?  Karena memang sangat penting.  Untuk siapa?  Untuk kehidupan pribadi, perusahaan, masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia.  Prinsip pertama dalam perubahan, yaitu: Siapapun yang tak berubah akan punah.  Pada dasarnya, setiap mahluk hidup tak ingin punah.  Itu salah satu sebab, kenapa mahluk hidup mampu bereproduksi.

Perubahan adalah keharusan untuk manusia di setiap kondisi.  Dalam kondisi buruk, manusia harus berubah.  Bahkan dalam kondisi baik, perubahan tetap sebuah keharusan.  Kenapa?  Karena manusia layak untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Maka setiap orang tahu akan pentingnya perubahan.  Tapi tak setiap orang bisa benar-benar berubah dan mendapat manfaat dari perubahannya itu.  Kenapa?

Saya memilih lima penyebab kenapa orang sulit berubah :

1.          Mekanisme Pertahanan Diri

Pertama sekali, perubahan harus terjadi di pikiran sadar.  Berubah dari tidak tahu menjadi tahu.  Dari tidak mau menjadi mau.  Ini perubahan yang relatif mudah.  Berikutnya, perubahan harus terjadi di pikiran bawah sadar.  Nah, di sini masalah terjadi.  Pikiran bawah sadar manusia dewasa telah terbentuk.  Karenanya, pikiran ini membuat mekanisme pertahanan dirinya agar tak terganggu.  Maka setiap ide perubahan akan dilawan.  Setiap orang tahu bahwa merokok itu buruk.  Banyak yang juga ingin berhenti.  Kenapa tak bisa?  Karena pikiran bawah sadar menolak penghentian ini dengan berbagai alasan.  Maka bila energi perubahannya tak cukup besar, perubahan pun tak terjadi.  Bila pun terjadi, hanya sebentar saja.

 

2.          Kenikmatan Sekunder.

Seluruh kebiasaan buruk sebenarnya menimbulkan penderitaan.  Tapi, ia juga mendatangkan kenikmatan.  Namanya kenikmatan sekunder.  Orang ditato itu sakit.  Kenapa dilakukan?  Karena tato memberikan kenikmatan.   Merasa jadi terlihat keren, biar disebut ikut mode, dan sebagainya.  Marah-marah itu sakit dan tidak menyenangkan.  Kenapa orang melakukannya?  Karena ada kenikmatan sekunder.  Puas bisa membalas.  Merasa berkuasa.  Bisa mengendalikan, dan sebagainya.

 

3.          Tak Punya Alasan Kuat.

Berubah bermodal keinginan saja tak akan efektif.  Kita harus bisa memutuskan dengan tegas. Nah, agar bisa memutuskan dengan tegas, kita butuh alasan yang sangat kuat.  Ada dua alasan.  Satu, untuk mendapat kesenangan. Dua, untuk menghindari penderitaan.  Kenapa orang bisa disiplin bekerja?  Pertama, karena disiplin adalah dasar bagi peningkatan karier.  Kedua, karena bila tak disiplin bisa di-PHK.  Ingin karier kita meningkat dan takut kena PHK menjadi alasan kuat dibalik disiplin banyak karyawan.

 

4.          Godaan Terlalu Kuat

Godaan adalah penghambat yang terasa enak.  Karena enaknya ini, maka godaan jadi sangat sulit untuk dilawan.  Seorang yang ingin lepas dari kecanduan narkoba harus menjauhi teman-temannya yang pecandu narkoba.  Bila tidak, teman-teman ini akan menggoda.  Perubahan pun gagal.  Pemerintah kita ingin memberantas korupsi.  Sulit sekali.  Kenapa?  Karena para koruptor terus menggoda para pemberantas korupsi untuk ikut menikmati hasil korupsi itu.  Maka, banyak pemberantas korupsi malah jadi koruptor.

 

5.          Tak Ada Teman

Perubahan akan sangat terbantu bila ada teman.  Berubah sendiri jelas sulit.  Berubah berdua, tetap sulit tapi kesulitannya lebih kecil daripada berubah sendiri.  Maka teman bisa menjadi sumber energi perubahan satu sama lain.  Bisa saling mengingatkan, menguatkan dan membantu.  Maka, pilih lah teman yang tepat.  Teman yang bisa membantu kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.  Lebih penting dari itu, jadilah teman yang tepat untuk orang lain.

Nah, semoga bermanfaat.

Comments (0)

Jurus Menjadi “Sedikit” Lebih “Kaya”

Posted on 13 October 2011 by derby

Oleh : Derby Dian Utama (twitter : @derbyutama)

Tidak satu-pun orang di dunia ini yang tidak ingin kaya….Semua ingin kaya, ingin punya banyak uang, ingin punya mobil bagus dan ingin punya rumah mewah….tetapi mengapa di dunia ini tidak semua orang bisa menjadi kaya…Apa sebenarnya yang membedakan orang bisa menjadi kaya dan tidak…..

Tapi….tunggu saya bukan hanya sekedar membahas kaya dari dimensi harta saja, saya ingin memandang kaya dari berbagai sisi…saya menyebutnya dengan kaya 3 dimensi….apa saja itu ? saya membaginya menjadi 3….kaya secara emosional dan intelektual, kaya secara spiritual dan kaya secara fisik dalam hal ini dilihat dari sisi harta…

Kita bisa lihat dewasa ini orang yang secara harta dia berkelimpahan namun lemah di sisi emosinal dan spiritual, misalnya saja seorang pengusaha yang kaya raya namun senang gonta ganti wanita yang bukan istri sahnya, orang itu kaya namun lemah secara spiritual karena hidupnya selalu bergelimang dengan dosa, apalagi sisi emosionalnya sama sekali tidak memiliki empati terhadap sesama, bukannya menyedekahkan uangnya untuk orang yang kurang mampu tetapi malah menghamburkan uangnya untuk perbuatan yang malah membuat dirinya berdosa…..

Orang seperti itu mungkin dipandang kelas atas tetapi blum tentu kelas atas dimata ALLOH….lantas bagaimana menjadi orang yang kaya secara tiga dimensi, saya menyebutnya jurus menjadi “sedikit” lebih kaya, kenapa sedikit….iya karena sesuatu itu bisa banyak berawal dari sedikit dan sedikit inilah yang berkualitas….saya mencoba merinci jurus itu pada masing-masing dimensi….

Kaya secara intelektual dan emosinal…gampang untuk “sedikit” kaya di dimensi ini cukup banyak membaca baik yang tersirat maupun tersurat…..bukan hanya buku yang dibaca tapi asah juga empati kita, caranya ? mungkin ada yang bertanya…..salah satu caranya adalah bergaulah dengan orang-orang yang hidupnya jauh dibawah kita….

Kaya secara spiritual…..contohlah para sahabat Rasul yang berlomba-lomba menginfaq-kan hartanya di jalan ALLOH…bahkan rela menyumbangkan seluruh hartanya dan ketika Rasul bertanya…..apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu ? mereka menjawab, cukup ALLOH dan Rasul-NYA untuk kami….itu mereka yang kecintaan pada ALLOH dan Rasul-NYA sudah tinggi….lantas bagaimana agar kita menjadi manusia yang seperti itu yang sangat kaya secara spiritual….coba latih agar hati kita selalu menyebut nama ALLOH SWT….dalam hati kita….ingatlah selalu ALLOH dalam berbagai kesempatan….baik saat berdiri, duduk maupun terlelap….semoga dengan riyadhoh ini kita menjadi manusia yang kaya spiritual….

Kaya secara harta gimana ya….gampang tindakan awal adalah silaturahmi dan terus fokus untuk menjalankan apa yang menjadi kecintaan kita….berbuat yang terbaik dalam setiap bisnis yang kita geluti…dan jangan pernah menyerah biarkan ALLOH SWT yang mengistirahatkan kita asalkan kita tetap berbuat yang terbaik selalu tanpa henti….

wallahu’alam…

Comments (0)

Belajar Dari Gelapnya Malam

Posted on 07 October 2011 by derby

Oleh : Derby Dian Utama (twitter @derbyutama)

Apa sebenarnya yang diajarkan ALLOH SWT pada kita lewat gelapnya malam….bahkan ALLOH SWT menjadikan malam sebagai salah satu surat di Al-Qur’an….Begitu pentingnya peran malam sehingga banyak pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya….dan apa saja keajaiban yang terjadi pada waktu malam….mungkin pertanyaan bisa dijawab melalui perenungan lewat tulisan ini…

Malam, terutama di sepertiga malam terakhirnya adalah waktu yang sangat dinanti….pada waktu itulah ALLOH SWT turun ke langit-langit bumi…waktu menjelang fajar itu ALLOH turun ke langit bumi sampai subuh….untuk menyaksikan hambaNYA yang shalat di waktu itu dan untuk mendengar hambaNYA yang berdo’a kepadaNYA…. ALLOH SWT akan mengabulkan do’a hamba-hambaNYA pada saat itu….ah sungguh sangat sayang ALLAH SWT pada hamba-hambaNYA….tapi jarang hambaNYA yang memanfaatkan saat-saat itu….

Malam juga mengajarkan kita untuk istirahat…agar tubuh kita kembali bugar….agar keletihan kita terobati….untuk bisa menenangkan pikiran dari semua permasalahan yang kita hadapi….agar saat fajar terbit kita punya semangat untuk bangkit….

Mengapa ALLAH SWT mengajarkan malam menjadi waktu untuk istirahat dan berdo’a penuh harap kepadaNYA….

Sungguh kalau kita mau menyadari bahwa malam adalah solusi dari ujian hidup kita…bahwa malam mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi permasalahan dalam hidup kita….

Istirahat malam untuk menghilangkan kejenuhan, menenangkan pikiran, dan mengobati kelelahan adalah bentuk pengajaran ALLOH SWT agar kita sabar…karena semua permasalahan hidup untuk mengatasinya perlu kesabaran dan ketenangan….bukan ketergesa-gesaan….sebagaimana ALLAH SWT sering katakan dalam firmanNYA sabar adalah salah satu penolong kita…..adanya malam yang akan diakhiri dengan terbitnya matahari dari timur…juga mengajarkan kita bahwa sabar dengan tetap menggantungkan harapan dan terus berbuat yang terbaik akan mengantarkan kita pada solusi terhadap permasalahan hidup kita….sabar dengan meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan….mengantarkan kita meraih kesuksesan…itulah yang diajarkan malam….bahwa gelapnya malam akan segera berakhir dengan terbitnya matahari….begitu juga dengan himpitan hidup akan segera berakhir….ketika kita mampu sabar dan ikhlas menerimanya…sambil terus berharap bahwa semua himpitan akan berakhir….dan terus berikhtiar berbuat yang terbaik untuk meraih semua…impian-impian kita…..

Jadi benar-lah apa yang dikatakan ALLOH SWT….jadikan-lah sabar dan shalat sebagai penolongmu…itulah yang diajarkan malam pada kita….senantiasa sabar penuh harap akan terbitnya fajar kesuksesan dengan tetap berusaha sebaik mungkin sambil tak lupa mengadahkan tangan meminta kepada Pemilik Alam Semesta ALLOH SWT….wallahu’alam

Comments (0)

Berbagi Cerita Sukses

Posted on 03 October 2011 by novalramsis

Berbagi Cerita Sukses

 

Mari berinteraksi dengan Komunitas Minang Berbagi, komunitas anak nagari Minangkabau di ranah dan rantau, yang ingin sama-sama belajar, berbagi , melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif dan menumbuhkan inspirasi!

Komunitas ini terbuka untuk siapapun, bahkan untuk yang tidak punya darah Minang, tapi tertarik untuk belajar bersama.

 

Narasumber:

- Ahmad Fuadi (Penulis novel Negeri 5 Menara).  info lebih lengkap siapa Ahmad Fuadi, baca Disini.

“dari Sumatra ke Amerika, dari jurnalis ke novelis”

 

- Iim Fahima (CEO Virtual Consulting & Digital Creative Entrepreneur), akun twitter: @iimfahima

 

- Iqbal Farabi (Komtap Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Ketua III), akun twitter: @iqbalfarabi1

 

14 Oktober 2011 jam 19.00 – 21.00

Rumah Damai Indonesia

Jl. Sa’abun no 20 Jatipadang, Jakarta Selatan

–> lihat peta di BB Maps: http://bit.ly/rrtl1l  atau

Google Maps: http://bit.ly/j0mVrF .

 

Akan ada obrolan seru uni Iim tentang kesuksesannya sebagai pengusaha di bidang digital creative, cerita uda Iqbal tentang perjalanannya di dunia usaha, serta uda Fuadi yang berpetualang dari Sumatera ke Amerika, dari jurnalis hingga novelis. Sambil ngobrol, nikmati Pisang Goreng Katan dan Kawa Daun, sajian ringan khas Palanta Minangkabau. Semoga muncul inspirasi untuk lebih produktif & jalinan silaturahmi untuk melakukan kegiatan produktif itu bersama-sama.

 

Investasi Rp. 20.000,- per orang, mulai 6 oktober 2011

Mandiri 125-000-6420-640

BCA 5210309677

a/n Nurhidayati.

mohon simpan dan bawa bukti transfer pada saat hadiri acara tgl 14 okt 2011.

Setoran tunai atau transfer investasi senilai Rp. 20.000 dengan tambahkan 3 digit angka terakhir no hape anda:  jadi setor tunai atau transfer investasi senilai Rp. 20.xxx ,- (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)

 

Segera konfirmasi kedatangan ke minangberbagi@gmail.com, karena tempat terbatas untuk 100 orang!

Informasi:

Beni – 0813 9805 0523

Badai – 0812 7207 8787

Salam Berbagi. Belajar. Bersikap.

@minangberbagi

Comments (0)

Surat Untuk Muslimah

Posted on 29 September 2011 by derby

Oleh Derby Dian Utama

(Sahabat jika kau telah menikah atau sedang mencari pasangan hidup renungkan tulisan ini)

 

Sahabat…..suami yang baik bukanlah suami yang sangat menyayangi dan mencintai anda….tapi suami yang baik adalah suami yang menempatkan cinta dan sayang kepada anda setelah cinta dan sayang kepada ALLOH SWT dan Rasul-NYA….

Sahabat….suami yang baik juga bukanlah suami yang mencintai dan menyayangi anda 100%…….tapi suami yang baik adalah suami yang dapat membuat anda mencintai ALLOH SWT dan Rasul-Nya 100% dalam hati anda…..

Sahabat….suami yang baik juga bukan suami yang selalu memberikan anda barang mewah dan mengajak anda pergi tamasya ke tempat indah….tapi suami yang baik adalah suami yang mampu memberikan sejadah cinta untuk mengajak anda tamasya ke surga….

Sahabatku….Wahai para wanita….jangan-lah kalian merasa bangga ketika ada laki-laki yang menyatakan cinta dan sayang kepada anda….tapi tanyakan kepada laki-laki itu mana yang lebih dia sayang, anda atau ALLOH SWT dan Rasul-NYA….

Jangan tanyakan juga apakah dia akan selalu setia dan menyayangi anda…tapi tanyakan kepada-nya….apakah dia sanggup untuk setia dan membuat anda juga tetap setia dan selalu cinta pada ALLOH SWT dan Rasul-NYA….

Wahai para wanita…janganlah kalian merasa bangga ketika ada laki-laki yang menyatakan bahwa cinta dan sayang-nya hanya untuk anda dan tidak akan pernah pudar selamanya…itu adalah pernyataan PALSU…..karena pernyataan sejati adalah aku akan selalu membuat kamu mencintai ALLOH SWT dan Rasul-NYA melebihi cintamu kepada-ku….

Sahabat…saya ingat ada seorang guru saya…ulama besar yang sangat bersahaja dan telah dipanggil ALLOH SWT, berkata dalam sebuah majelis ilmu….sebuah kalimat ini….

“MENCINTAI YANG DICINTAI OLEH YANG KITA CINTAI ADALAH KESEMPURNAAN CINTA”

(seorang suami lemah yang akan selalu berusaha mengajak istri-nya mencintai ALLOH SWT dan Rasul-NYA)

Comments (2)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (07) KETIKA RASA MALU SUDAH TIDAK ADA, sehingga orang berbuat semaunya sendiri, mengikuti ego pribadi, dan hawa nafsu menjadi panutan diri, itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Malu adalah pembeda antara hewan dengan manusia. Tanpa malu, manusia tak ubahnya hewan lainnya. Kenapa mesti ego dikedepankan? Kenapa hawa nafsu dipertuhankan? Kenapa semua syahwat dilampiaskan? Tak lain adalah karena malu sudah tiada. Tiadanya rasa malu, membuat manusia menjadi monster menakutkan. Setiap pikiran, ucapan dan perbuatan, pasti akan menhancurkan peradaban. Muamalah tak lebih dari sekadar kakulasi untung rugi materi. Tatkala seperti itu akankah manusia masih mengaku dirinya insan yang ber-iman? Tidak, saudaraku. Dikala malu sudah tiada, siap siaplah, Dia akan membiarkan kita, menjadi manusia durhaka, yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Marilah segera kembali ke jalan yang benar. Pakaian malu jangan ditanggalkan. Karena memang malu adalah bagian dari iman. (SYB)


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 224106Total dibaca:
  • 95530Total pengunjung:
  • 116Pengunjung hari ini:

Palanta Discussion Forum Schedule

February 2012
S M T W T F S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829EC

 

Upcoming Discussion

  • No events.