Archive | Artikel Islami

Mengambil Manfaat yang Optimal

Posted on 27 April 2013 by novalramsis

khutbah jumat  26 april 2013, Andalusia islamic center Sentul City Bogor

oleh abu Ziyan

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala

Alhamdulillah, kembali kita memuji dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di kesempatan, di waktu yang mulia ini kembali Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita, mengumpulkan kita di satu tempat. Di salah satu dari rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan karena dunia yang mengumpulkan kita. Bukan karena senasab atau bukan karena satu keturunan kita bertemu di tempat yang penuh berkah ini. Tapi kita bertemu karena mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merealisasikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala...

Umur yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita ternyata di suatu saat nanti, di akhirat kelak, akan dimintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pertanggungjawabannya.  Dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. at-Tirmidzi)

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Umur dan kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita di dunia ini ternyata di suatu saat akan ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan di dalam Surah Faathir Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakankan kepada kita tentang orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam neraka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berhujjah dengan umur dan kesempatan yang diberikan kepada mereka. Di ayat 36 dari Surah Faathir Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Faathir: 36)

Di ayat 37 Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan:

”Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”.

 

Kemudian Allah membantah mereka:

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (‘adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”

 

Jama’ah jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kesempatan dan umur yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita ternyata suatu saat akan ditanyakan. Umur umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang apabila dibandingkan dengan umur umat-umat terdahulu, umur umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih relatif singkat. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Umur umatku adalah antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu” (HR. Imam at-Turmudzy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)

Umur yang 60 atau 70 tahun ini bila dibandingkan dengan umur umat-umat terdahulu maka sangat pendek. Cobalah kita lihat dan baca surah Al-‘Ankabut yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kepada kita tentang Nabi Nuh.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun…” (QS. al-‘Ankabut: 14)

Atau dengan bahasa kita 950 tahun. 950 tahun bila dibandingkan dengan 60 tahun, dibandingkan dengan 70 tahun sungguh sangat pendek umur umat ini. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam mendakwahi Raja  Fir’aun laknatullah ‘alaihi selama kurang lebih 500 tahun. Maka bila dibandingkan dengan umur umat ini sangatlah pendek. Namun Maha Kasih Sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap umat ini walaupun dihitung dari segi jauh dan tahun umat ini umurnya sangat pendek namun pada hakikatnya bila mereka memanfaatkan dan memaksimalkan kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya umur mereka bisa melebihi 1000 tahun dari segi hakikat atau dari segi kualitas.

Misalnya di bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dalam satu surah yaitu Surah Al-Qadr, dimana ada suatu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Kalau kita yang telah melewati kesempatan itu mengisi dengan amalan-amalan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Satu malam bagaikan 1000 bulan. Satu malam bagaikan 83 tahun 4 bulan. Kalau dua kali kita melewati, dua tahun kita melewati  Ramadhan maka sudah 160 tahun lebih. Kalau 20 tahun, umur kita mungkin 40 tahun, 20 tahun pertama di habiskan dengan senda gurau dihabiskan dengan berfoya-foya. Kemudian 20 tahun yang terakhir barulah diisi dengan penuh ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 20 kali kita bertemu dengan lailatul qadr. 20 tahun kita bertemu dengan Ramadhan dan kita manfaatkan kesempatan itu dengan baik maka seolah-olah sebenarnya kalau dihitung 20 x 83  berarti 1660 lebih. Kalau 20 tahun kita lewati dan kita manfaatkan kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita maka seolah-olah umur kita melebihi 1000 tahun.

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dalam hadits yang lain sebagai kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan begitu pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan kepada umat ini amalan-amalan, perbuatan-perbuatan yang apabila diamalkan pahalanya akan terus mengalir walaupun dia sudah menjadi tanah. Walaupun dia sudah berada di alam kubur. Perjalanan manusia berhenti setelah berpisahnya antara ruh dan jasad. Namun  ada beberapa amalan yang pahalanya tetap mengalir, tetap berjalan walaupun manusia itu sudah berada di alam barzakh. Hadits yang sangat masyhur yang sering kita dengarkan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasululllah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

”Apabila Manusia meninggal Dunia maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya”.

 

Jama’ah jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Intinya adalah bagaimana memanfaatkan, memaksimalkan kesempatan dan umur yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita. Meskipun Umur yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita sangatlah pendek bila dibandingkan dengan umur orang-orang terdahulu yang kita sebutkan tadi. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kepada kita beberapa amalan yang disebutkan dalam hadits tersebut,  yang pahalanya terus mengalir.  Hal ini merupakan kesempatan untuk mengamalkan semua yang disebutkan dalam hadits tersebut atau memilih salah satunya.

 

Khutbah Kedua

Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebelum menutup khutbah kedua ini, saya ingin menyampaikan sebuah kisah permisalan. Ada seorang nelayan yang kebiasaannya mendapatkan atau mengambil ikan di laut kemudian dijual ke pasar. Penghasilannya adalah dari mencari ikan di laut. Di satu saat ia mendapatkan ikan namun ia tidak menjualnya kepasar, ikan tersebut ia bawa ke rumah setelah sampai di rumah ia membelah ikan itu dan mendapatkan dalam ikan itu sebuah mutiara. Sebuah mutiara yang sangat mahal. Mutiara yang sangat cantik. Ketika dia melihat mutiara itu, istri si nelayan kemudian berangan-angan akan membeli rumah, akan membeli mobil dan akan membeli yang lainnya.untuk kebutuhannya dan tidak lagi menjadi nelayan.

Kemudian ia pun pergi menemui tetangganya yang mana tetangganya adalah seorang penjual emas setelah diperlihatkan berapa harga kira-kira harga dari mutiara itu sang penjual emas itu mengatakan bahwa mutiara itu adalah mutiara yang asli, yang sangat mahal, seluruh benda yang ada di rumah saya, emas yang ada di rumah saya bahkan seluruh isi rumah saya tidak mampu untuk menghargai mutiara yang anda dapatkan. Maka pergilah ke fulan karena ia  lebih kaya dari saya. Kemudian ia berangkat ke si fulan, penjual emas yang lebih kaya dari yang pertama. Namun jawabannya sama bahwa mutiara yang anda bawa adalah mutiara yang sangat mahal yang kami tidak mampu membelinya. Kemudian tinggal satu solusi, seorang raja yang memiliki harta yang sangat banyak mudah-mudahan ia bisa menghargai mutiara yang anda dapatkan.

Ketika sampai dihadapan raja dan ia memperlihatkan mutiara itu, raja pun mengatakan, “Sebenarnya saya juga tidak mampu memberikan harga yang tepat  pada mutiara yang anda bawa. Tapi saya memberikan anda pilihan, saya memiliki rumah yang memiliki tiga ruangan yang mana di dalam rumah itu ruangan pertama dipenuhi dengan emas dan perhiasan. Ruangan yang kedua dipenuhi dengan tempat tidur yang nyaman dan yang ketiga diisi dengan makanan yang lezat. Maka sang raja memberikan kesempatan kepada nelayan tersebut selama tujuh jam untuk mengeluarkan seluruh isi dari rumah itu. Apapun yang dikeluarkan maka itu menjadi haknya akan menjadi harga dari mutiara itu.

Maka nelayan itu berkata tujuh jam terlalu panjang, satu jam saja sudah cukup untuk mengeluarkan semua isi dari rumah itu. Tapi raja mengatakan tidak, tetap tujuh jam. Anda saya berikan kesempatan untuk mengeluarkan isi dari rumah itu selama tujuh jam. Sehingga orang ini masuk ke dalam rumah, ketika masuk ke dalam rumah ia melihat ada  emas, ada kasur yang sangat empuk, ada  makanan yang lezat yang ia tidak pernah dapatkan sebelumnya. Maka setelah sampai pada ruangan pertama, ruangan emas, dia mengatakan waktunya  masih lama, masih tujuh jam, belakangan saja. Kemudian sampai ke kasur yang empuk dia mengatakan nanti saja. Sampai kepada makanan dia tertarik dan mengatakan saya sudah berjam-jam melalui perjalanan menuju ke sini dan saya sangat lapar dan makanan ini saya  tidak pernah  makan sebelumnya maka lebih baik saya makan dulu. Maka dia pun makan dengan sekenyang-kenyangnya dan satu jam berlalu.

Setelah satu jam berlalu ia kembali ke ruangan kedua dia mengatakan ini adalah kasur yang sangat empuk yang mana saya tidak pernah tidur di atas kasur seempuk ini maka ia pun membaringkan badannya  di atas kasur yang  empuk itu dan ia tertidur dan ia tidak terbangun kecuali setelah mendengarkan peringatan dari sang algojo yang mengatakan, “anda harus keluar dari rumah ini karena sudah lewat tujuh jam”. Dan ia pun keluar dari rumah tanpa membawa emas dan tempat tidur. Yang dibawa hanyalah makanan yang dua jam kemudian akan berubah menjadi kotoran.

Maksud dari kisah ini adalah; mutiara tadi adalah nyawa kita. Mutiara tadi itulah ruh kita yang sangat mahal yang tidak bisa dihargai dengan dunia dan seluruh isinya. Rumah tadi adalah dunia kita yang diisi 3 ruang/ hal yaitu dengan amal shalih yaitu emas, yang diisi dengan kelalaian yaitu kasur & yang diisi dengan syahwat yaitu makanan. Dan tujuh jam tadi adalah merupakan  kesempatan dan umur kita. Tujuh jam kita diberikan  untuk masuk ke dalam rumah, yang mana kita akan dikeluarkan dari dalam rumah itu. Mana pilihan kita; emas yang merupakan amal shalih atau tempat tidur (kita habiskan waktu untuk kelalaian) atau makanan,  kita tinggal memilih.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

*********************

Ayo investasi akhirat dengan bersedekah,

“Orang-orang yg menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al Baqarah :274)

“Bengkel  Aqidah Semarang menjadi Solusi Holistik Multidimensi segala Permasalahan Dunia”

Testimoni jamaah :”Sudah berkali kali saya di rukyah sama Ust. Adil dan Ust. Maman tapi selalu kambuh, sembuh dan kambuh, hingga di rukyah terakhir Jin anyg mengganggu sulit sekali di usir, hingga kelelahan semua, peruqyah dan yang di ruqyah, akhir dimintalah utk sholat dua rakaat dan berdoa sekhusyu’ mungkin untuk di sembuhkan, setelahnya bersedekah istimewa, karena belum ada akhirnya saya niat saja, jika sembuh akan sedekah istimewa,subhanallah… antara sadar dan tidak saya melihat sesosok berpakaian putih datang dengan cambuknya dan mulai mencambuk jin-jin yang ada ditubuh saya, si jin pun teriak lari dengan ketakutan, “malaikat datang..malaikat datang. “Alhamdulillah sampai sekarang sudah sembuh dan tidak kambuh lagi. Subhanallah…Luar biasa dahsyatnya sedekah.

Masjid Al Hayyu
Jl. Sumber Sari Rt03/RW10 no 23
Sebrang Graha Permata Surya
Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

ditawarkan 4.000 lembar infak senilai @Rp. 500.000,- untuk pembangunan gedung Bengkel Aqidah Semarang

Bagi yang memiliki keluangan rezeki silahkan transfer kesini <<klik disamping ini

Share

Comments (1)

Memperbaiki Rasa Malu

Posted on 04 October 2012 by novalramsis

Oleh: Muhammad Khoirul Munadi

Manusia memiliki sifat malu yang dapat menggerakkan nalurinya, menilai mana yang benar dan salah. Dengan rasa malu itu, setiap manusia berjalan di atas ketetapan fitrah dari Rabbnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu tak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”  Beliau juga mengatakan bahwa salah satu dari bagian iman adalah sifat malu.

Jika manusia dibekali malu untuk hidup, lain halnya dengan binatang. Allah memberikan nikmat kepada binatang sesuai dengan kebutuhannya. Hewan hanya memiliki insting dipadu dengan nafsu untuk hidup.

Ia tak butuh malu karena memang Allah tidak memberikan sifat itu. Begitulah Allah telah mengatur hamba-Nya untuk menjalani hidup di alam fana ini.

Malu dapat menjamin kualitas batin manusia. Karena itu, manusia tak pernah terpisahkan dengan sifat malu dan malu selalu berkaitan erat dengan ketebalan iman seseorang terhadap Rabb-nya.

Sebagian besar sahabat Rasulullah SAW menjaga dan mengedepankan rasa malunya di atas kepentingan duniawi mereka. Usman RA, misalnya, dia adalah sahabat yang paling besar sifat malunya hingga Nabi SAW pun sangat menghormatinya.

Di masa hidupnya, Rasul pernah berbaring di pangkuan istrinya, lalu datang Abu Bakar RA sedang bagian tubuhnya terbuka, tetapi nabi membiarkan hingga datang sahabat Umar RA. Akan tetapi, ketika datang Usman RA, Rasulullah dengan serta-merta merapikan pakaiannya agar tak terlihat olehnya.

Ketika ditanya istrinya mengapa berbuat demikian kepada Usman dan tidak kepada Abu Bakar dan Umar, Nabi menjawab bahwa Usman sangat pemalu. Di lain waktu, nabi pun menyanjung keistimewaan Usman di hadapan para sahabat beliau. Usman terhormat karena menjaga malu yang melebihi malunya seorang gadis.

Kekuatan iman seorang Muslim dapat dilihat dari sifat malu dalam dirinya. Seorang Muslim hakiki akan menjaga dirinya dengan benteng malu terhadap Tuhannya bila berbuat dosa.

Ia akan menaati semua perintah-Nya sekuat tenaga. Ia akan sangat menyesal, merasa bersalah dan malu kepada Rabbnya jika meninggalkan satu saja syariat-Nya. Begitulah ciri kehidupan seorang Muslim yang teguh hati menjaga malunya.

Sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW, seorang Muslim yang tidak punya rasa malu sama sekali, dipersilakan  berbuat sesuka hatinya. Mereka telah terlepas dari tali umat Muhammad yang menghormati kalam Allah dan sabda beliau, mereka akan dikirim ke dalam azab-Nya yang pedih dan menyakitkan, kehinaan mereka peroleh di dunia dan siksaan mereka terima di neraka.

Dunia seakan telah mejadi rumah abadi bagi manusia-manusia rakus dan pengekor hawa nafsu. Mereka tak lagi memikirkan siapa Rabb-nya dan apa saja perintah serta larangannya.

Harta, tahta, dan wanita memang tombak serang setan untuk menyerang manusia. Maka dari itu, mari kita hargai diri dengan menjaga sifat malu sebagai fitrah manusia. Wallahu a’lam.

 

dikutip dari republika online

Share

Comments (0)

Kisah Kedermawanan

Posted on 14 September 2012 by novalramsis

Oleh: Moch Hisyam

Suatu ketika, dalam perjalanan dari Syam menuju Hijaz, Abdullah bin Abbas dan rombongan singgah di suatu tempat. Mereka kehabisan bekal.

“Pergilah ke dusun yang terdekat. Mudah-mudahan kau berjumpa dengan orang yang mempunyai susu atau makanan,” kata Ibnu Abbas kepada seorang anggota rombongan.

Bersama beberapa pelayan, orang itu pun pergi. Di dusun terdekat, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua.

Mereka bertanya, “Apakah Anda mempunyai makanan yang dapat kami beli?” Perempuan itu menjawab bahwa dia tidak menjual makanan, tetapi dia mempunyai makanan (roti bakar) sekadar untuk keperluannya dan anak-anaknya.

Utusan Ibnu Abbas meminta sebagian dari roti bakar yang dimiliki keluarga perempuan itu. Tetapi, sang perempuan itu mengatakan, ia tidak akan memberikan roti bakar itu sebagian. “Kalau mau semuanya, ambillah,” jawabnya. Ia menambahkan, “Memberi sebagian adalah suatu kekurangan sedangkan memberi semua itu adalah kesempurnaan dan keutamaan.”

Singkat cerita, perempuan itu pun bertemu Ibnu Abbas dan mengatakan bahwa dia berasal dari kabilah Bani Kalb. Ibnu Abbas bertanya tentang kondisinya dan anak-anaknya. “Jika malam tiba, aku bertahan untuk tidak tidur. Aku melihat segalanya menyenangkan dan dunia ini tidak ada artinya, kecuali seperti yang saya peroleh.”

Ibnu Abbas bertanya lagi. “Apa yang Anda simpan untuk anak-anakmu jika mereka datang nanti?” Perempuan itu menjawab, dia belajar dari pesan yang disampaikan oleh Hatim al-Thay’i. “Ada kalanya aku tidur kelaparan berkepanjangan sehingga aku dapatkan makanan-makanan yang baik-baik.”

Ibnu Abbas kagum akan jawaban perempuan itu. Lalu, ia bertanya lagi, “Jika anak-anakmu datang dalam keadaan lapar, apa yang akan Anda lakukan?” Perempuan itu berkata, “Rupanya Tuan telah membesar-besarkan roti itu sehingga Tuan banyak bicara dan memikirkannya. Hilangkan itu, sebab hal itu dapat merusak jiwa dan menyeret ke arah kehinaan.”

Atas hal ini, Ibnu Abbas memerintahkan anggota rombongan untuk mengundang anak-anak perempuan itu. Setelah tiba, Ibnu Abbas berkata, “Aku bermaksud akan memberikan sesuatu yang dapat kalian pergunakan untuk memperbaiki keadaan kalian.”

Mereka menjawab, “Hal ini jarang terjadi, kecuali karena diminta atau karena membalas budi.” Ibnu Abbas mengatakan, dia tidak bermaksud seperti itu, kecuali sekadar berbagi sebagai sesama tetangga di tempat itu dan pada malam itu.

“Hai Tuan, kami hidup dalam berkecukupan, karena itu berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya. Tetapi, jika Tuan mau memberikannya juga tanpa diminta, kebaikan Tuan itu akan kami terima dan kami syukuri.” Ibnu Abbas kemudian memberikan 10 ribu dirham dan 20 ekor unta kepada perempuan itu.

Kisah diatas memberi pelajaran kepada kita bahwa sifat dermawan tidak muncul dari kekayaan materi, tapi dari keimanan dan kekayaan jiwa. Semiskin dan sefakir apa pun keadaan seseorang, bila sifat dermawan melekat dalam dirinya, ia akan memberikan apa pun yang ia punya dan itu bisa meringankan beban orang lain.

dikutip dari ROL

Share

Comments (0)

Esensi Takwa

Posted on 09 September 2012 by novalramsis

Oleh: Maman Abdurrahman

Kata takwa sering dimaknai dengan khasyyatullah (takut pada Allah). Selain itu, ia juga dimaknai secara definitif sebagai imtitsalul awamir wa ijtinabun-nawahi (melaksanakan segala perintah [Allah dan Rasul] serta menjauhi segala larangan-Nya).

Dalam membangun karakter bangsa, kata takwa ini harus menjadi fondasi. Karena takwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakter yang dibutuhkan. Dan, ibadah yang diperintahkan pun bertujuan untuk meraih predikat takwa.

Secara rinci, sifat-sifat takwa secara spiritual dan sosial diterangkan Alquran dan hadis Rasulullah SAW. Pada awal surah al-Baqarah [2], misalnya, masalah ketakwaan serta sifat-sifatnya, di antaranya, disebut pada ayat 2-4 (muttaqin). Orang yang bertakwa itu akan memperoleh al-falah (kebahagiaan), baik di dunia maupun akhirat.

Pada surah Ali Imran [3]: 133-135 disebutkan pula sifat takwa itu, yakni orang yang selalu menafkahkan hartanya pada waktu senang dan susah, menahan amarah, dan pemaaf terhadap orang lain, selalu zikir pada Allah, dan bertaubat ketika telah melakukan kesalahan.

Keberhasilan membangun karakter muttaqin adalah kesuksesan membangun umat dan bangsa. Takwa merupakan fondasi penting dalam membangun karakter bangsa ini. Ketakwaan harus menjadi bekal dalam kehidupan keseharian, baik sosial maupun politik.

Rasulullah SAW selalu membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan takwa ketika menasihati calon pengantin. “Takwalah kepada Allah dalam (menghadapi) perempuan-perempuan. Sesungguhnya mereka adalah “mitra” yang ada dalam penguasaan kalian.”

Haji adalah ibadah yang dilakukan pada waktu  dan tempat tertentu, serta dengan tata cara yang khusus dan banyak berinteraksi dengan yang lain. (QS al-Baqarah [2]: 197). Dalam ayat ini, jamaah dilarang berkata rafats (ucapan dan perbuatan tidak senonoh, walau pada istri); tidak fasiq (berbuat dosa), dan jidal (konflik). Maka, takwa harus menjadi bekal untuk para calon haji tersebut.

Tanpa bekal takwa ini haji yang mahal dengan menunggu waktu dan penantian yang panjang serta perjalanan yang jauh dan menguras tenaga, maka hajinya akan menjadi tanpa makna. Takwa yang dibawa ketika berhaji dan menjadi bekal utama, harusnya dibawa kembali ke tempat asal (daerah), sehingga ia menjadi pribadi muttaqin.

Karakter muttaqin ini sangat didambakan setiap para haji. Sebab, hanya dengan karakter takwa yang akan menjadi penjaga dan pemelihara dirinya, keluarganya, bangsa, dan negara.

Dengan takwa, tidak akan ada tindakan yang haram di negeri ini, seperti korupsi, perampokan, dan zina. Karena banyak yang sudah muttaqin dan bergelar haji yang sudah mampu memelihara ketakwaannya.

Haji mabrur adalah harapan setiap orang yang melaksanakan haji. Karena kemabruran itulah yang akan membebaskan dirinya dari api neraka, bahkan dijamin masuk surga. Nilai-nilai haji mabrur yang bersumber dari ketakwaan ini, hendaknya tertanam dalam setiap hati umat untuk membangun karakter bangsa yang maju dan kuat. Wallahu a’lam.

Share

Comments (0)

Kebanggaan Dunia dan Akhirat

Posted on 04 September 2012 by novalramsis

Oleh: Bobby Herwibowo

Malam itu saya dan istri sedang mampir di sebuah warung es kelapa di pinggir jalan. Di sana terlihat seorang pria tengah menikmati es kelapa.

Pemilik warung itu adalah sepasang suami-istri asal Medan yang saya duga dari logat bicaranya. Kami berdua memesan es kelapa.

Tak lama kemudian, datang seorang bocah berusia sekitar tujuh tahun. Ia lalu mencium tangan pemilik warung, yang ternyata adalah orang tua si bocah. Dari pakaiannya terlihat kalau bocah ini baru usai mengaji karena memakai baju koko dan peci.

Pria pembeli yang datang sebelum kami membuka pembicaraan. “Itu anak bapak, ya?” kata dia kepada pemilik warung es kelapa.

Bapak pemilik warung itu pun membenarkannya. Ia kemudian menyapa si bocah. “Habis pulang ngaji ya, Nak?” Bocah itu mengangguk. “Ngajinya sudah sampai surah apa?” tanya pria tadi. Bocah itu menjawab bahwa ia sudah mengaji hingga Surah al-Mulk.

Mendengar jawaban bocah itu, saya dan istri mulai tertarik dan pasang telinga. Kami melihat mimik bangga yang tersirat di wajah si pemilik warung itu. Pria ini kembali melanjutkan pertanyaan. “Apakah kamu hafal Surah al-Mulk?”

Anak itu kembali mengangguk. Maka, mulailah pria ini menguji hafalan si bocah. Pria itu membaca penggalan awal ayat ke-16 dari Surah al-Mulk dan meminta bocah tersebut untuk melanjutkannya. Bocah itu membaca dengan fasih ayat ke-16 itu hingga selesai.

Saya dan istri terpesona dengan hafalan anak itu. Kedua orang tuanya tampak bangga atas hafalan anaknya. “Subhanallah… boleh saya minta kamu baca satu ayat lagi?” pinta pria tadi.

Anak itu pun tanpa sungkan membaca kelanjutan ayat ke-17. Dan, tatkala ayat ke-17 usai dibaca oleh sang bocah, kami semua bertasbih memuji Allah SWT dengan suara yang lebih keras.

Si pria ini pun kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang untuk si bocah. “Aku ingin memberi hadiah untukmu karena kamu sudah hafal Surah al-Mulk.”

Bocah itu pun dengan senang hati menerimanya. Si pria ini setengah bercanda kepada kedua orang tua si bocah. “Kalau anaknya hafal Surah al-Mulk, pasti kedua orang tuanya lebih banyak lagi hafalannya?!” ujar pria itu.

“Wah, boro-boro hafal, Pak. Baca Alquran saja kami tidak bisa,” jawab ayah si bocah. Namun demikian, pria ini tetap memberikan semangat kepada kedua orang tuanya bahwa sang anak akan menjadi perisai keduanya kelak di akhirat nanti.

Saya pun dan istri bangkit dari duduk untuk membayar es kelapa yang telah kami minum. Pria pembeli tadi berkata saat melihat kami bangkit. “Maaf Pak… Bu…, izinkan saya mentraktir kalian berdua. Saya amat bahagia malam ini,” ujarnya.

Kami berdua lalu menyampaikan terima kasih kepadanya sebelum berpamitan. Sesaat akan meninggalkan warung itu, saya menyaksikan kedua orang tua itu mengelus kepala si bocah. Di sana tersirat kebanggaan dari keduanya akan kemampuan anaknya.

Anak itu telah membuat ayahnya bangga di hadapan makhluk saat di dunia. Dan saya yakin, anak ini juga telah membuat bangga kedua orang tuanya di hadapan Allah sebab hafalan Alquran yang dimilikinya. Subhanallah.

dikutip dari republika online

Share

Comments (0)

Menggapai Petunjuk Tuhan

Posted on 31 August 2011 by novalramsis

Secara rohani, petunjuk Tuhan (hidayah) dapat dipandang sebagai pangkal dari semua kebaikan. Manusia tidak mungkin menggapai kebaikan-kebaikan dalam hidupnya tanpa petunjuk dari Allah. Firman-Nya, ”Tuhan kami adalah Allah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kepadanya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50).

Menurut ulama besar Syekh Muhammad Abduh, petunjuk Allah itu mencakup empat macam, yaitu petunjuk instink atau naluri (hidayat al-wujdan), petunjuk pancaindera (hidayat al-hawas), petunjuk akal pikiran (hidayat al-’aql), dan petunjuk agama (hidayat al-din).

Tanpa keempat macam petunjuk di atas, manusia tentu tidak mungkin bisa hidup dan membangun
kehidupannya dengan baik di muka bumi. Rasyid Ridha, murid Abduh, menambahkan satu bentuk hidayah yang lain lagi yang dinamakan ‘inayah atau ma’unatullah, yaitu pertolongan dari Allah SWT.

Dilihat dari segi tingkatannya, hidayah itu menurut Imam Ghazali ada tiga macam. Pertama,
berupa kemampuan mengenal dan membedakan kebaikan dan keburukan. Kedua, berupa peningkatan
kualitas hidup manusia yang terus membaik dari waktu ke waktu.

Kualitas hidup itu meliputi kualitas iman, kualitas ilmu, dan kualitas kerja. Ketiga, berupa pencerahan jiwa atau semacam spiritual enlightenment. Orang yang memperoleh hidayah dalam bentuk ini mencapai
tingkat kesempurnaan dan kematangan jiwa (kamalat nafsiyah).

Bagi al-Ghazali, inilah tingkatan hidayah dalam bentuknya yang paling tinggi. ”Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?” (Al-Zumar: 22).

Share

Comments (0)

Hidup Terhormat

Posted on 31 August 2011 by novalramsis

Kehormatan negara tercoreng ketika terungkap beberapa pejabat hukum diduga telah menerima suap. Bukan hanya negara dan instansi tempat pejabat itu ditempatkan yang tercoreng, tapi juga pribadi yang bersangkutan.

Adalah pasti bahwa dalam hati nurani manusia, hidup berarti hidup secara terhormat. Islam menilai bahwa suatu kehidupan yang tak disertai kehormatan sama sekali bukanlah kehidupan. Sebaliknya, ia adalah kematian yang lebih pahit dari kematian alamiah. Dan, seseorang yang menghargai kehormatannya sendiri hendaknya meninggalkan kehidupan yang rendah dan tercela.

Dalam Islam, kita akan banyak mendapati ayat Alquran dan hadis Nabi SAW tentang keharusan berbuat jujur. Menurut Islam, seseorang yang adil jika punya kemampuan ilmiah, dia bisa menjadi hakim, gubernur, atau pemegang jabatan lain yang mengemban tanggung jawab di masyarakat.

 

slam yang menghormati hak-hak kepemilikan, memberikan penilaian yang tinggi terhadap mereka yang memperoleh harta secara terhormat, dan dari hasil kerja keras serta memanfaatkannya untuk kemaslahan umat. Banyak hadis Nabi memuji sahabat beliau yang kaya raya, seperti Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqas. Nabi memuji mereka karena dengan meningkatnya kekayaan, kepedulian sosial mereka juga makin tinggi.

Allah berfirman, ”…. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan, apa saja harta yang baik yang kami nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (QS Albaqarah [2]: 272).

Menurut Islam, bukan harta yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, tapi keserakahan dan pendewaan akan harta. Ada orang yang mendapatkan harta dengan cara yang halal, ada juga yang mendapatkannya dengan jalan pintas dan menabrak semua rambu-rambu agama dan kepatutan.

Sesungguhnya, kita dapat menyaksikan perbedaan yang nyata antara dua orang; orang yang amin(dapat dipercaya) dan orang yang khain(pengkhianat). Orang yang aminadalah tempat kepercayaan dan penghormatan manusia, orang yang khainadalah pusat kemarahan dan penghinaan mereka.

Pemikir Islam, Sayid Jamaluddin Al-Afghani berkata, ”Adalah jelas diketahui bahwa kelangsungan jenis manusia didasarkan pada muamalat dan pertukaran manfaat kerja. Ruh keduanya adalah amanah.” Mari kita berkaca

Share

Comments (0)

Matinya Rasa Malu

Posted on 31 August 2011 by novalramsis

Oleh Yuminah Rohmatulllah
Malu adalah suatu sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau kurang sopan. Malu merupakan salah satu kategori akhlak yang terpuji (akhlak mahmudah). “Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR al-Hakim dan Baihaqi).

Perasaan malu itu meliputi tiga hal. Pertama, malu kepada diri sendiri, yakni perasaan malu di dalam hati, di kala akan melanggar larangan Allah. Kedua, malu kepada orang lain, yakni menjaga semua anggota badan dan gerak-geriknya dari hawa nafsu. Setiap akan melakukan perbuatan yang rendah, ia akan tertegun, tertahan, dan akhirnya tidak jadi berbuat. Karena desakan malunya, takut berbuat yang buruk, takut menerima siksaan Allah di akhirat kelak. Ketiga, malu kepada Allah, artinya jika ia melakukan kekejian akan mendapat siksa yang pedih. Malu kepada Allah merupakan sendi utama dan dasar budi pekerti yang mulia. “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR Tirmidzi).

 

Setiap orang mempunyai rasa malu, entah besar ataupun kecil. Malu itu merupakan kekuatan preventif (pencegahan) guna menghindarkan diri dalam kehinaan atau terulangnya kesalahan serupa. Akan tetapi, rasa malu itu bisa luntur dan pudar, hingga akhirnya lenyap (mati) karena berbagai sebab. Jika malu sudah mati dalam diri seseorang, berarti sudah tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari dirinya. Ibarat kendaraan, remnya sudah blong atau tidak dapat berfungsi lagi. “Jika engkau tidak tahu malu lagi, perbuatlah apa saja yang engkau kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dapat dibayangkan, bila rasa malu itu telah hilang dalam diri seseorang, segala perilakunya makin sulit dikendalikan. Sebab, dia akan melakukan berbagai perbuatan tak terpuji, seperti korupsi, menyontek, menipu, mempertontonkan aurat dengan pakaian yang seksi dan mini, berzina, mabuk-mabukan, pembajakan, pelecehan seksual, dan pembunuhan. Mereka sudah dikuasai oleh nafsu serakah. Orang yang sudah dikuasai nafsu serakah dan tidak ada lagi rasa malu dalam dirinya maka perbuatannya sama dengan perilaku hewan yang tidak punya akal, kecuali sekadar nafsu.

Hilangnya rasa malu pada diri seseorang merupakan awal datangnya bencana pada dirinya. “Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, maka dicabutnya rasa malu dari orang itu. Bila sifat malu sudah dicabut darinya, maka ia akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan orang benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya, maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk maka lepaslah tali Islam darinya.” (HR Ibnu Majah).

“Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR al-Hakim dan Baihaqi). Hilangnya rasa malu, berarti mulai menipisnya rasa keimanan dalam dirinya. Dan, jika keimanan sudah semakin hilang, perbuatannya akan jauh dari rida Allah SWT. Naudzubillah.

Share

Comments (1)

Rindu Surga

Posted on 31 August 2011 by novalramsis

Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Ilham


Salah satu doa yang dianjurkan dibaca menjelang berbuka dan dalam setiap munajat Ramadhan adalah permintaan ridha dan surga-Nya. Allahumma inna nas-aluka ridhaaka wal jannah wa na’uudzubika min syakhotika wan naar, “Ya Allah hamba mohon ridha-Mu dan surga-Mu dan hamba mohon perlindungan dari murka dan siksa neraka-Mu.”

Setiap orang yang beriman pada Allah dan hari akhir pasti merindukan surga. Ia merindukan surga bukan karena sudah bosan hidup di dunia, tetapi karena ia memahami dan meyakini bahwa kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah kehidupan surga (QS al-A’la, 87: 17).

Surga dengan segala personifikasinya adalah tempat yang dirindukan oleh seluruh makhluk Allah. Tempat yang tidak terdengar di dalamnya perkataan yang tak berguna, sia-sia, dan dusta. Di dalamnya, ada mata air yang mengalir, sungai susu yang mengalir di bawah tanah (QS al-Hijr: 45-48), takhta-takhta yang ditinggikan, gelas-gelas berisi minuman yang selalu tersedia, bantal-bantal sandaran yang tersusun rapi (al-Kahfi: 30-31), permadani-permadani yang terhampar, kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis sebaya bermata indah dan menyenangkan (QS Shad: 49-54).

 

Seluruh kenikmatan surga tersebut ternyata pada bulan diijabahnya semua doa ini adalah yang diminta secara khusus; kiranya kita adalah yang tercatat sebagai penghuni sahnya. Masalahnya, apakah surga merindukan kita? Rasul memberikan jawaban bahwa ada empat golongan manusia yang dirindukan surga.

Pertama, orang yang senantiasa membaca Alquran (taaliy al-Qur’an). Tampaknya wajar jika surga merindukan ahli Alquran ini karena sejak di dunia saja mereka sudah dipilih oleh Allah dengan dikepakkan sayap malaikat yang selalu menaunginya, dicurahkan kasih sayang-Nya, diliputi ketenangan hati, dan selalu diingat oleh-Nya (HR Bukhari). Bahkan, di mata Rasulullah, orang terbaik di dunia dan akhirat tidak lain adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya (HR Bukhari Muslim).

Kedua, orang yang senantiasa menjaga lisannya (haafizhul lisaan). Tidaklah struktur kata yang keluar dari lisannya kecuali berorientasi kepada rahmat hikmah dan berkah. Pantang baginya berkata kotor, angkuh, dan menyakitkan. Bukankah di surga tidak akan ada kata-kata yang sia-sia dan dusta? Keselamatan hidup, baik di dunia maupun akhirat, di antaranya ditentukan karena terjaganya lisan, salaamatul insaan fi hifzhil lisaan. 

Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan (muth’imuth tho’aam).  Sungguh, Allah Yang Maha Berterima Kasih (Syakuur) akan membalas sekecil apa pun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan, Allah akan memberi kita minum pada Hari Kiamat nanti pada saat orang-orang sedang dilanda dahaga hebat.

Keempat, orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan (shooimur ramadhaan). Di bulan yang mulia dan penuh berkah ini, Allah menjanjikan kepada kita akan pembebasan dari panasnya api neraka, bila kita berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan shalat, qiro’at dan taqarrub, serta ibadah apa pun dengan hanya mengharap ridha-Nya.

Bahkan, di surga ada satu gerbang indah lagi kokoh yang disebut dengan gerbang ar-Royyan, ternyata hanya dipersiapkan untuk mereka yang berpuasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas karena Allah.

Share

Comments (0)

Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Posted on 31 August 2011 by novalramsis

Oleh Salahuddin El Ayyubi MA

Suatu ketika pelayan Imam Hasan Al-Bashri menyampaikan bahwa seseorang telah menjelek-jelekkan namanya. Mendengar hal tersebut, sang Imam kemudian memanggil pelayan dan memintanya untuk memberikan kurma pada orang tersebut. Pelayan berkata, “wahai imam, bukankah dia telah menjelekkanmu di hadapan orang banyak. Tapi kenapa engkau malah memberinya kurma?” Sang imam pun menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku memberikan hadiah bagi orang yang telah membuat diriku di sisi Allah SWT”.

“Apa maksud semua ini wahai Jibril?” Tanya Rasul SAW pun ketika turun ayat: “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199).  Jibril pun menjawab, “Wahai Rasul Allah, sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, dan menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya denganmu”.

Jadilah pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang lembut, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan. Itulah yang ditunjukkan oleh Rasul SAW ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu. Beliau malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa).

Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah atau emosi. Apalagi kemudian membalasnya dengan hal yang sebaliknya. Tidak semua orang mampu melakukannya. Sehingga ketika Abdullah bin Amr menanyakan hal apakah yang bisa menjauhkannya dari murka Allah? Rasulullah menjawab: “Laa taghdhab (Janganlah kau marah)” (HR Imam Ahmad)

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan puasa, Rasulullah SAW bersabda: “…Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah, “Saya sedang berpuasa. Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi….”.  (HR Bukhari).
Mulut yang senantiasa mengucapkan kata-kata indah bukan kata-kata kotor, kata-kata yang menyejukkan bukan yang menyakiti, kata-kata yang menenangkan bukan yang menggelisahkan, kata-kata yang memaafkan bukan yang mendendam, kata-kata yang memuliakan bukan yang menghinakan.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (Surah Fussilat: 34-35).

 

Penulis adalah cendekiawan Muslim

dikutip dari Republika.co.id

Share

Comments (0)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 459065Total dibaca:
  • 235279Total pengunjung:
  • 263Pengunjung hari ini: