Archive | Renungan Malam

SENANTIASA INGAT AL-KHALIQ

Posted on 23 June 2010 by Syahril Bermawan

Keseluruhan alam adalah ciptaan Allah. Dari yang besar sampai yang sangat sangat besar, dari yang kecil sampai yang sangat sangat kecil, yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, yang nyata maupun yang tidak nyata, semuanya adalah makhluq ciptaan Al-Khaliq.

Dalam ke-Esaannya, Dia Maha Mengatur, Maha Merajai, Maha Melindungi, Maha Memelihara, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Tinggi dan Maha Besar. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak satu lembar daunpun yang gugur melainkan semuanya dalam pengetahuanNya.

Kita manusia sebagai salah satu makhluq ciptaanNya, diberi  kemuliaan selaku khalifah dimuka bumi. Maka sepatutnyalah, dalam setiap tindak tanduk, dalam setiap sikap dan perbuatan, bahkan dalam setiap ucapan dan pikiran,  kita senantiasa ingat kepada Nya. Ingat kepada Nya dalam segala keadaan, baik pikiran, ucapan dan perbuatan, baik dalam beribadah maupun dalam bermuamalah.

Dengan senantiasa ingat kepada Nya, insyaallah Dia pun akan mengingat kita. Sesungguhnya inilah hakekat zikir. Dengan zikir seperti ini, insyaallah keseluruhan diri kita dan hidup kita, akan diberkati Nya. Insyaallah. (SYB)

*) Terima kasih Pak Abdullah

Share

Comments (1)

KEWAJIBAN SHALAT SEBAGAI ANUGERAH

Posted on 16 May 2010 by Syahril Bermawan

Tidak dapat dipungkiri bahwa shalat diwajibkan. Sehingga menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf. Tetapi haruskah kita selalu melihatnya sebagai suatu kewajiban? Sehingga sering merasa sebagai beban? Atau bisakah kita melihatnya sebagai suatu anugerah dari Yang Maha Pemurah?

Bukankah dalam shalat kita berhadapan dan berdialog dengan Yang Maha Kuasa? Bukankah dalam shalat kita menghadapkan wajah kepada Yang Maha Pencipta? Bukankah dalam shalat kita melantunkan pujian dan menyampaikan harapan kepada Dia, Maharaja Diraja? Bukankah shalat sebagai upaya pengukuhan diri selaku hamba, agar mampu melaksanakan tugas kekhalifan?

Sesungguhnya shalat adalah salah satu dimensi kekhalifan. Tanpa shalat mustahil manusia mampu mengemban tugas kekhalifan dengan baik.

Kalau begitu, bukankah shalat itu sesungguhnya anugerah dari Yang Maha Pemurah? Wallahua’lam. (SYB)

*) Terima kasih Pak Abdullah

*) Foto diambil dari http://pakarfisika.files.wordpress.com/2008/12/sholat_jamaah_pakarfisika.jpg

Share

Comments (0)

HIDUP ITU SINGKAT

Posted on 09 May 2010 by Syahril Bermawan

Dalam salah satu ayat Alquran yang penuh makna, Allah menginformasikan bahwa satu hari akhirat setara 50.000 tahun waktu dimuka bumi. Artinya kalau kita berusia 70 tahun, itu tidaklah lebih dari 2 (dua) menit waktu akhirat.

Apalah arti hidup yang 2 menit ini dibandingkan dengan keabadian akhirat. Sesenang-senangnya hidup di dunia fana ini, hanya berlangsung 2 menit saja, kemudian berakhir. Sebaliknya sesusah-susahnya hidup itupun akan berakhir dalam 2 menit ukuran waktu akhirat. Selanjutnya kita akan menjalani kesenangan yang abadi (sorga), atau kesusahan yang abadi (neraka).

Karena itu sudah sepantasnyalah kalau orientasi hidup adalah akhirat yang abadi. Yaitu dengan mempergunakan dunia secara warak (hati-hati) dan zuhud (tanpa mencintai) dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat  dengan raja’ (penuh harap kepada Dia Yang Maha Pengasih) dan khauf (penuh rasa takut kepada Dia Pemilik hari pembalasan).

Semoga kita selamat dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.  (SYB)

Share

Comments (0)

DIALOG MURID DAN GURU

Posted on 07 May 2010 by Syahril Bermawan

Murid: Guru! ada serigala di kamarku, siap menerkam sewaktu-waktu, apa harusnya upayaku?

Guru: Anakku, serigala yang ada di kamarmu juga ada di mihrabku, tidak ada dayaku, jangankan untuk membunuh, mengusirnya pun aku tak mampu. Paling aku ikat dengan tambang istighfar, aku jinakkan dengan siraman tasbih, aku tumpulkan taringnya dengan belati zikir, kini dia jinak tak lagi mengganggu…. untuk sementara waktu….

Murid: ……….. (masih berusaha memahami semua perkataan gurunya)

Guru: Bagimu anakku, kurung dia sementara dengan shaum, minum oleh mu madu taqwa yang engkau pungut dari Pohon Paling Rindang, usap wajahmu dengan cendana sabar yang engkau petik dari Kebun Paling Subur, kemudian jalinlah tambang istighfar, asahlah belati zikir, lakukan senam qiyamullail, latih nafasmu dengan tilawah, pakailah sarung tawadhuk, berenanglah di telaga syukur dan peganglah tongkat tawakkal….

Murid: …….. (mulai mengerti dan memahami maksud gurunya)

Guru: Anakku, kasih dan doaku untukmu selalu.-

(SYB)

Share

Comments (0)

MENAKLUKKAN EGO

Posted on 07 May 2010 by Syahril Bermawan

Hidup dimuka bumi adalah sangat singkat. Karena itu jangan tertipu seolah kita akan tinggal selamanya disini. Sehingga menghabiskan waktu hanya untuk mencari dan mengumpulkan materi, memuaskan syahwat duniawi.

Seyogyanya kita tidak hanya mendaki gunung dan menaklukkan lautan. Tidak hanya meniti karir dan mengelola bisnis. Tidak hanya mengumpulkan materi dan memuaskan hawa nafsu.

Pada saat yang telah ditentukan, kita semua akan melangkah ke tahapan hidup selanjutnya, dimana semua yang dikumpulkan di dunia akan ditinggalkan. Tak satupun yang bisa dibawa.

Karena itu seyogyanya kita juga mendaki puncak spiritual dengan menaklukkan ego. Beramal, dan  melawan hawa nafsu. “Berjalan” kedalam diri dan mencapai pencerahan. Mempersiapkan bekal bagi perjalanan hidup tahap berikutnya.

Semoga kita berada di jalan yang lurus untuk berjumpa dengan Yang Maha Pengasih. (SYB)

*) Terimakasih Pak Abdullah

Share

Comments (0)

ISLAM TANPA IMAN?

Posted on 05 May 2010 by Syahril Bermawan

Mengaku Islam tanpa beriman pada hakekatnya adalah suatu kebohongan. Karena itu janganlah berpuas diri dengan hanya mengaku Islam  tanpa beriman.

Al-quran diturunkan bagi orang yang beriman. Shalat, zakat, puasa, dan hajji  adalah bagi orang yang beriman. Bahkan dalam suatu ayat yang penuh hikmah, Allah masih saja menyeru orang-orang yang beriman, untuk betul betul bertaqwa. Dan memperingatkan agar jangan mati sebelum betul betul “berserah diri”.

Melihat kenyataan yang ada ditengah-tengah masyarakat saat ini, rasa-rasanya kita semua harus lebih sering ber-muhasabah, melakukan introspeksi dan evaluasi diri:

  • apakah kita sudah betul-betul beriman?,
  • apakah kita sudah termasuk dalam kelompok orang yang diseru Allah dengan “Ya ayyuhalladzinaamanu”?,
  • apakah seruan tersebut sudah kita respon menurut semestinya?

Wallahua’lam. (SYB)

*)  Terima kasih kepada Pak Abdullah

Share

Comments (0)

SAATNYA UNTUK MEMAKMURKAN MASJID

Posted on 04 May 2010 by Syahril Bermawan

Masjid adalah “rumah” Allah.. Setiap saat pintu rumahNya terbuka bagi siapa saja untuk datang berkunjung. Bahkan lima kali sehari dikumandangkan adzan, sebagai undangan untuk datang ke masjid.

Namun seringkali “aku” tidak memenuhi undanganNya. “Aku” demikian angkuh, sombong, dan lalai, sehingga membiarkan begitu saja undangan demi undangan. Bahkan sedemikian sibuknya, sehingga tidak punya waktu untuk merenung: “Siapakah aku? Siapakah Yang Mengundang?”

Demikianlah, kadang kadang, bahkan seringkali, “sang aku” begitu angkuh. Seringkali melupakan siapa aku yang sebenarnya. Padahal aku seringkali membaca surat Yaasiin, namun belum tersentuh dengan ayat 77:

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. (Yaasiin; 36 : 77)

Yang Mengundang aku datang ke masjid adalah Allah, Pencipta, Pemilik dan Penguasa seluruh alam. Dia yang mengundang, adalah Dia Yang Maha Mengetahui, baik yang gaib maupun yang nyata, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Maha Suci, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaulhusna, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Hasyr; 59 : 22 – 24).

Masyaallah. Mengingat keangkuhan dan kelalaian itu, sudah sepantasnyalah aku menyandang predikat sebagai: “yang berbuat zalim atas diri sendiri” (lihat QS Yunus; 10 :44), “yang sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah” (lihat QS Ibrahim; 14 : 34), “yang senantiasa tidak berterima kasih” (lihat QS Al-Isra’; 17 : 67), “makhluk yang paling banyak membantah” (lihat QS Al-Kahfi; 18 : 54), “yang tidak besyukur” (lihat QS Saba’; 34 : 13), “yang benar-benar melampaui batas” (lihat QS Al ’Alaq; 96 : 6), “yang sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhan-nya” (lihat QS Al-‘Aadiyah; 100 : 6)

Wahai. Alangkah celakanya. Kemanakah aku nantinya akan mengadu setelah nyawa berpisah dari badan? Padahal mau tidak mau, aku akan kembali kepada Nya (lihat QS Ar –Ruum; 30 : 11). Bagaimanakah nasib aku pada hari kiamat? Sedangkan kiamat itu pasti terjadi (lihat QS Al-Mukmin; 40 :59). Siapakah yang akan menjadi penolong aku? Sedangkan hari yang tiada pertolongan itu pasti akan aku lalui (lihat QS Luqman; 31 : 33).

Sudah saatnya aku mesti merubah sikap. Keangkuhan dan kelalaian tidak ada gunanya. Bahkan hanya akan membawa malapetaka. Alangkah meruginya, bilamana masih mengabaikan panggilan untuk memakmurkan masjid. Padahal hanyalah orang orang yang memakmurkan masjid itulah orang yang beruntung memperoleh petunjuk Maha Pencipta:

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Surat At-Taubah; 09 : 18)

Ya Allah. Ampunilah hambaMu yang dhaif ini. Maafkanlah kelalaianku. Dan mohon kiranya Engkau merahmati aku dan saudara-saudaraku sesama muslim, dengan rasa cinta pada masjid, serta memberikan kemudahan untuk datang memakmurkan masjid, dan menjadikan hati kami senantiasa terpaut pada masjid. Aamiin. (SYB)

*) Foto diambil dari http://banglaphoto.wordpress.com/2009/05/

Share

Comments (0)

BERSEGERA MENUJU AMPUNAN

Posted on 03 May 2010 by Syahril Bermawan

Dunia memang mempesona. Bahkan memabukkan. Ada yang berusaha meraihnya dengan segala cara. Tidak perduli haram, zholim, maupun bathil. Fitnah dilontarkan kiri kanan. Tipu daya dimainkan siang dan malam. Aturan hukum ditabrak, manusia dizholimi, alam diexploitasi. Demi kepuasan syahwat duniawi.

Namun semuanya itu pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Adil. Kalau sekarang seolah belum dihukum, seolah belum ditegur, jangan dianggap hukum itu tidak ada. Jangan tertipu. Dia Yang Maha Menghukum sedang memberi “tangguh sejenak”. Dia Yang Maha Pengampun justru sedang menunggu hambaNya bertaubat.

Bilamana takaran sudah penuh, pasti perhitunganNya akan tiba. Ketika saat itu tiba, pintu taubat ditutup, karena telah “melampaui batas”. Dan hukumanNya pasti akan ditimpakan.

Karena itu alangkah arifnya, kalau kita segera bertaubat, bersegera menuju ampunan Allah, sebelum terlambat. (SYB)

Share

Comments (1)

Hukum Truk Sampah…

Posted on 30 April 2010 by novalramsis

Sebuah tulisan yang diambil dari milis tetangga….

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut.

Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. Saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!”

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tsb mengenai apa yg saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dgn semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kpd anda. Jgn ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, do’akan mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jgn ambil sampah mereka utk kembali membuangnya kpd orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan. Intinya, orang yg sukses adl orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dgn penyesalan, maka sayangi dan kasihilah orang yg memperlakukan anda dgn benar, berdoalah bagi yang tidak.

Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dlm hujan.

Selamat menikmati hidup, semoga kita selalu mendapat ridho Allah subhana wa ta’ala, sehingga langkah-langkah kita bebas dari “sampah”.

Share

Comments (0)

HIDUP BERIMBANG

Posted on 30 April 2010 by Syahril Bermawan

Sebagai manusia kita mempunyai dua dimensi kehidupan, yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani. Diakhir hayat, jasmani kita akan kembali kedalam tanah, sedangkan rohani akan masuk kealam roh untuk kembali ke Yang Maha Pencipta.

Selama kehidupan di muka bumi, jasmani kita perlu dirawat agar dapat berfungsi dengan baik.  Namun rohani kita juga perlu dirawat, karena setelah jasmani habis usia pakainya, rohani akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke pangkuanNya.

Dengan demikian, sikap hidup yang benar adalah yang berimbang. Tidak meninggalkan dunia karena semata mengejar akhirat, dan tidak pula sebaliknya melupakan akhirat karena asyik mengejar dunia.

Keduanya, dunia dan akhirat perlu diusahakan, namun dengan cara yang:  amanah, jujur, adil, bermanfaat, dan tidak exploitative. Semoga Allah senantiasa menunjuki dan membimbing kita. (SYB)

Share

Comments (1)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 256898Total dibaca:
  • 113400Total pengunjung:
  • 187Pengunjung hari ini:

Palanta Discussion Forum Schedule

May 2012
S M T W T F S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031EC

 

Upcoming Discussion

  • No events.