Archive | Renungan Malam

Puisiku

Posted on 11 March 2011 by adibustaman

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….

(Puisi terakhir WS. Rendra yang dituliskannya di atas ranjang Rumah Sakit)

Share

Comments (1)

BERBAGI HIKMAH

Posted on 22 January 2011 by novalramsis

Seorang Guru berkumpul dengan murid murid nya…

Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan:

* Pertanyaan pertama:
Apa yg paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Muridnya ada yg menjawab,, “orang tua”, “guru”, “teman”, “kerabat”…

Yang paling dekat dengan kita adalah “Kematian”…

Sebab kematian adalah PASTI !!!

* Pertanyaan  kedua:

Apa yg paling jauh dari diri kita ?

Muridnya ada yg menjawab : “Negara Amerika”, “bulan”, “matahari”…

Yang paling benar adalah “Masa Lalu”…

Siapa pun kita,,, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita… tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu…

Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari hari yang akan datang…

* Pertanyaan ketiga:

Apa yang paling besar di dunia ini ?

Muridnya ada yg menjawab “gunung”, “bumi”, “matahari”…

Yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu”…

Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya…

Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi…

Karena itu, kita harus hati hati dengan hawa nafsu ini…

* Pertanyaan keempat:
“Apa yang paling berat di dunia ini?”

Di antara muridnya ada yang menjawab “baja”, “besi”, “gajah”…

Yang paling berat adalah “Memegang Amanah”…

* Pertanyaan kelima:
“Apa yg paling ringan di dunia ini?”

Ada yang menjawab “kapas”, “angin”, “debu”, “daun daun an”

Yang paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Ibadah”…

* Lalu pertanyaan keenam:

“Apakah yang paling tajam di dunia ini?”

Muridnya menjawab dengan serentak… “PEDANG !”

Yang paling tajam adalah “Lidah Manusia”…

Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati, dan melukai perasaan orang lain…:)

Terimakasih mas Adji GoldWing

Share

Comments (1)

TIDAK INGIN APA-APA

Posted on 18 December 2010 by Syahril Bermawan

Malam yang dingin seperti ini, dengan tiupan angin kencang yang membuat curahan hujan seakan diayun ayun, selalu membuatku terkenang akan dia,  yang sekarang entah berada dimana.

Persis seperti suasana dimalam ini, duapuluhan tahun yang lalu,  aku kebetulan bertemu dengannya. Kami terlibat dalam dialog tanpa pola. Namun berujung pada proses belajar yang penuh makna.

Malam ini, aku seakan kembali berada didepannya. Terngiang  ditelinga kata-katanya yang  sederhana. Ya, demikian sederhananya, sehingga sekilas bagaikan tidak mengandung arti apa-apa.

“Bapak, apakah sebetulnya yang kita cari dalam hidup di dunia ini?”, demikian aku bertanya.

Dengan santai dia menjawab seenaknya. “Aku tidak tahu apa yang kamu cari, dan apa yang orang lainnya cari”.

“Maksud Bapak?”

“Ya terang saja aku tidak tahu apa yang kamu dan orang-orang lain cari. Karena kelian tidak pernah memberitahukannya kepadaku”.

“Tapi apakah Bapak tahu apa yang Bapak cari dalam hidup ini?”

“Kalau itu jelas aku tahu.”

“Bolehkah aku tahu apa gerangan?”

“O, jelas boleh. Dan itu tidaklah serumit yang kamu duga. Karena aku memang tidak mencari apa-apa.”

Ah, sebuah jawaban yang sederhana. Tapi dibalik kesederhanaan itu justru tersimpan kerumitan.

“Maksud Bapak dengan tidak mencari apa-apa itu?”

“Ya, aku tidak mencari apa-apa.”

“Maksud Bapak, Bapak tidak inginkan apa-apa?”

“Persis. Orang selalu bersusah payah mencari sesuatu yang diinginkannya. Nah kalau tidak ada keinginan apa-apa, kan tidak harus mencari apa-apa.”

“Tapi, apakah hidup sesederhana itu dalam pandangan Bapak?”

“Secara konseptual hidup adalah sederhana. Sangat sederhana. Namun dalam realita orang sering membuatnya menjadi ribet, kompliketid.”

“Jadi Bapak sama sekali tidak punya keinginan apa-apa?”

“Aku hanya punya satu keinginan. Hanya satu saja. Tidak ada lainnya. Dan itu membuat hidupku jadi mudah, ringan, tanpa beban. Nggak pake ribet.”

“Bolehkah aku tahu keinginan Bapak tersebut?”

“Aku ingin kembali kepadaNya dalam keadaan tanpa dosa.”

“Maksud Bapak?”

“Dulu aku terlahir ke dunia dalam keadaan suci tanpa dosa. Dan satu-satunya keinginanku adalah untuk dapat kembali kepadaNya dalam keadaan suci tanpa dosa. Persis seperti semula.”

“Jadi Bapak tidak menginginkan harta?”

“Harta? Untuk apa? Bukankah rezeki semua makhluk  telah dijaminNya?!”

“Tapi bukankah Bapak juga ingin membantu orang miskin misalnya. Atau menunaikan ibadah hajji. Itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa harta”, aku mulai berteori.

“Membantu orang adalah kewajiban. Bukan keinginan. Kenapa aku harus ingin membantu sementara membantu itu sudah diwajibkan atasku? Begitu juga dengan hajji, zakat sedekah, dan yang lainnya.”

“Tapi, maaf. Bagaimana Bapak bisa melakukan itu kalau tak punya harta?”, aku melanjutkan teoriku.

“Nak. Apakah kalau sudah punya harta engkau pasti bisa dan akan melakukan kewajiban itu? Ini adalah cara berpikir yang keliru. Berbahaya dan menyesatkan.”

“Aku tidak mengerti Pak. Dimana keliru dan sesatnya?”

“Nak. Dalam setiap keinginan terselip hawa nafsu. Sehalus dan setipis apapun nafsu itu akan menyesatkan.”

Aku tidak sepenuhnya mengerti.  Tapi tetap  melanjutkan percakapan.

“Jadi Bapak tidak punya keinginan apa-apa?”

“Tidak, kecuali satu saja. Ingin kembali kepadaNya tanpa dosa.”

“Tapi setidaknya Bapak ingin hidup dengan nyaman. Itu memerlukan harta”, aku lanjut berteori.

“Apakah menurutmu aku tidak nyaman dalam hidupku? Bahkan aku merasa lebih nyaman dari  kebanyakan orang diluar sana.”

“Apakah Bapak tidak ingin masuk surga?”, aku mencoba menyudutkannya.

“Surga? Apa yang kamu maksud dengan surga?”

“Surga. Surganya Allah. Seperti yang dinyatakan dalam banyak ayat dalam Al-Quran”, jawabku dengan semakin terseret untuk berteori.

“Kalau aku kembali menghadapNya dalam keadaan tanpa dosa, lalu dimanakah aku akan ditempatkanNya?”

Aku terdiam. Antara mengerti dan tidak. Namun lanjut berkata: “Bolehkah aku minta penjelasan?”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan Nak. Semuanya begitu sederhana. Buang semua keinginanmu. Niatkan hidup hanya untuk Dia semata.”

Aku bingung dan terpana. Diluar hujan pun sudah reda. Akhirnya kami bersalaman. Aku dan dia sama-sama melanjutkan perjalanan. Ke tujuan masing-masing. Sebelum berpisah, dengan tersenyum dia berkata pelan “Nak buang semua keinginanmu. Niatkan hidupmu hanya untuk Dia semata.” (SYB)

Share

Comments (1)

NEGERI YANG ANEH

Posted on 17 November 2010 by Syahril Bermawan

Aku tinggal di negeri yang aneh. Demikian anehnya sehingga akupun merasa aneh setiap kali melihat keanehannya. Dan kalau aku mengatakan keanehan itu, orang lain malah melihat kepadaku dengan  aneh. Itulah keanehan negeri dimana aku tinggal.

Betapa tidak. Negeri itu terkenal sebagai negeri yang subur dan kaya dengan sumber daya alam. Sehingga diberi julukan gemah ripah loh jinawi. Tetapi anehnya  rakyatnya banyak yang miskin. Bahkan ada yang hidup melarat. Sehingga banyak yang pergi ke negeri lain, bekerja demi mencari nafkah menghidupi diri dan keluarganya.  Lebih aneh lagi,  dikala mereka yang bekerja di negeri orang dinistakan, dianiaya dan dizholimi, pemimpin negeri ini seperti tidak berdaya membela dan melindunginya. Padahal  mereka diberi julukan sebagai pahlawan devisa. Aneh. Pemimpin negeri itu mau devisanya tetapi tidak mau membela dan melindungi si pahlawan devisa.

Betapa tidak. Negeri itu sedari dulu terkenal sebagai negeri dengan masyarakat yang ramah, penuh sopan santun dan seni budaya yang tinggi. Anehnya, sekarang bentrokan antar warga terjadi hampir setiap hari. Pemilihan kepala daerah hampir semua bermasalah. Semua calon ingin menang, sehingga kalau kalah hampir selalu membantah dan tidak mau menerima kekalahan. Lebih aneh lagi, berbagai kecurangan dilaporkan sementara kecurangan itu dilakukan hampir semua calon. Aneh. Mereka mau menang, tetapi tidak mau menerima kenyataan kalau  pemenang hanya satu.

Betapa tidak. Negeri itu belum mampu menggaji para aparatur  pemerintahan dengan jumlah yang mencukupi. Anehnya, banyak diantara mereka, para abdi negara itu, yang  kaya dan hidup mewah. Sampai ada yang punya villa dan apartmen serta mobil mewah. Lebih aneh lagi, orang orang memandang mereka sebagai orang yang sukses sehingga dihormati dimana mana. Aneh. Mereka yang gajinya kecil bisa kaya raya, sementara masyarakat yang bekerja keras membanting tulang tetap hidup susah.

Betapa tidak. Di negeri itu ada koruptor yang ditangkap dan dimasukkan rumah tahanan. Anehnya, dia bisa keluyuran, pulang ke apartmen mewahnya, dan bahkan plesiran sampai ke Bali. Lebih aneh lagi, aparat penegak hukum, yang seharusnya menjaga dan mengawasinya,  seperti kebingungan.  Sementara pencuri sebutir buah semangka, dapat segera disidangkan kasusnya dan divonis masuk penjara.   Aneh. Sudah jelas ada yang tidak beres dalam penegakan hukum dan keadilan, kepala negeri itu malah bilang tidak mau intervensi.

Betapa tidak.   Di negeri itu, para pegawai yang mengurusi keuangan negara diberi gaji besar melebihi yang lainnya. Katanya agar mereka tidak korupsi. Anehnya, korupsi besar-besaran justru dikalangan mereka. Dan sampai sekarang belum bisa diungkap semua.  Lebih aneh lagi, aparat penegak hukum yang punya lencana di dada dan tanda pangkat di bahu, seperti tak berdaya atas mereka. Aneh. Menteri yang seharusnya bertanggung jawab, alih-alih disuruh membenahi,  malah dibiarkan pergi bekerja ke luar negeri.

Betapa tidak.  Di negeri itu seringkali bencana menimpa. Gempa bumi, tsunami, semburan lumpur, banjir bandang, letusan gunung api datang silih berganti. Anehnya, para wakil rakyat malahan studi banding keluar negeri.  Gubernur yang seharusnya bersama rakyat dalam keadaan susah, malah berangkat keluar negeri. Lebih aneh lagi, para pejabat yang datang menjenguk korban, sepertinya setengah hati. Yang mati-matian berjuang membantu mereka yang tertimpa bencana adalah masyarakat dengan julukan sukarelawan.

Betapa tidak. Di negeri itu konon menurut undang-undang, fakir miskin dan orang terlantar dipelihara oleh negara. Tetapi di kota-kota, banyak fakir miskin dan orang terlantar berkeliaran. Lebih aneh lagi, mereka dikejar, dirazia dan ditangkapi. Bahkan konon ada larangan memberi sedekah kepada peminta-minta. Aneh. Ditengah kemewahan para aparatur negara, fakir miskin dan orang terlantar dibiarkan terlunta-lunta.

Aneh. Sungguh aneh. Dan lebih aneh lagi  di negeri itu bermukim kaum muslimin yang konon terbesar jumlahnya di dunia. Tetapi negeri itu terkenal sebagai negeri terkorup nomor satu di Asia. Aneh. Di negeri dengan mayoritas Islam, hampir tidak terlihat  nilai-nilai islami. Di jalan raya saling serobot tanpa menghormati sesama. Bahkan dalam antri mendapatkan zakat dan daging qurban saling rebut, dan injak-injakan. Aneh. Dimana itu sabar, santun, dan tawakkal yang selalu dianjurkan.

Bagiku sungguh aneh melihat keanehan itu. Sesungguhnya masih banyak lagi keanehan yang lainnya. Tapi kalau aku ceritakan, malah aku akan kelihatan semakin aneh.  Karena aku sendiri lahir, besar dan hidup di negeri yang aneh itu.  Janganlah anggap aneh kalau  aku mohon jangan bilang aku orang aneh, karena telah menceritakan semua keanehan itu.  Karena puncak dari segala keanehan adalah, kalau yang aneh itu sudah tak terlihat lagi sebagai aneh. Maka akan semakin sempurnalah keanehan negeri itu.  Karena  itu janganlah aneh aneh. (SYB)

Share

Comments (5)

KENIKMATAN DUNIA HANYA SETETES AIR DI JARI

Posted on 05 September 2010 by adibustaman

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Demi Allah, DUNIA ini dibanding AKHIRAT ibarat seseorang yang mencelupkan JARINYA ke LAUT; air yang TERSISA di JARINYA ketika diangkat itulah NILAI DUNIA (AKHIRAT = LAUT)”. (HR Muslim)

Bagaimana untuk memahami hadits di atas?

Kenikmatan di akhirat adalah kenikmatan di SURGA yang luasnya seluas LANGIT dan BUMI.

Allah SWT berfirman, “Dan BERSEGERALAH bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imron : 133)

Adakah yang sudah bisa menembus batas LANGIT?

Sampai sekarang tidak seorangpun yang mengetahui batas langit terluar. Sehingga diibaratkan LANGIT ini adalah LAUT, maka BUMI – bagian kecil dari LANGIT- hanyalah satu tetes air yang tersisa di jari bila diceupkan ke LAUT.

Dan kenikmatan yang lebih indah dari surga adalah ‘merasakan’ ridha Allah dan kesempatan berjumpa dengan ‘WAJAH” Allah, Inilah puncak segala kenikmatan. Ketika itu kita akan benar-benar memahami hadits: “Allah itu INDAH dan suka dengan KEINDAHAN”

Kenikmatan di Surga adalah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, di sana banyak keindahan yang tak pernah dilihat oleh mata, keindahan suara yang tak pernah didengar telinga, kenikmatan rasa yang tidak pernah dirasa oleh lidah, dan perasaan damai dan ketenangan yang sesungguhnya.

Janganlah Silau dengan kenikmatan Dunia yang Semu…

Semua itu hanyalah ujian dari Allah, untuk melihat siapa-siapa yang menjadi hamba-Nya dan siapa-siapa yang menjadi HAMBA DUNIA dan hawa nafsu syaithan…

Yang menjadi HAMBA-HAMBA ALLAH… mereka layak mendapatkan KENIKMATAN HIDUP yang SESUNGGUHNYA di SURGA.

Yang menjadi HAMBA-HAMBA DUNIA dan hawa nafsu syaithan… maka mereka layak bersama para SYAITHAN di NERAKA yang MENYALA.

Semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’Aala, selalu membimbing kita dan melindungi kita dari bujuk rayu SYAITHAN agar selamat dari SIKSA NERAKA dan selamat bisa menuju SURGANYA yang tiada tara, tiada terbayang, tiada terbatas NIKMATnya… amiin.

Wallahu ‘alam bishowab.

*) Diambil dari http://www.scientist-ankabut.com/siraman-rohani/110-kenikmatan-dunia-hanya-setetes-air-di-jari.html

Share

Comments (2)

PERBEDAAN KITA DENGAN RASULULLAH SAW HANYA SEDIKIT

Posted on 01 September 2010 by adibustaman

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan sosok yang istimewa. Sebagai nabi dan rasul terakhir yang juga merupakan kekasih Allah subhana wa ta’ala, beliau memiliki banyak kelebihan. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci Al-Quran menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa beliau adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tanda-tanda ini tampak pada diri beliau, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah.

Tiada setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, beliau adalah Al-Amin yang telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia. Tidak satupun mahluk yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.

Tentu masih banyak lagi kemuliaan Rasulullah Nabi Muhammad SAW, yang tentu saja kalau dituliskan semua disini … pastinya tidak akan mencukupi, …dan juga kita akan menjadi jauh dengan judul ataupun topik yang ingin dibicarakan.

Saya hanya ingin sedikit membandingkan beliau sebagai seorang manusia dengan kita, yang ternyata kalau diperhatikan, kita hanya mempunyai sedikit perbedaan dengan beliau.

Tidak percaya…?

Coba kita lihat perbandingannya dibawah ini.

Kalau Rasulullah sedikit makan, kalau kita sedikit-sedikit makan…
Kalau Rasulullah sedikit tidur, kalau kita sedikit-sedikit tidur…
Kalau Rasulullah sedikit HARTA, kalau kita sedikit-sedikit HARTA…

Kalau Rasulullah sedikit-sedikit bersedekah, kalau kita sedikit bersedekah…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit bekerja, kalau kita sedikit sekali bekerja…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit shalat, kalau kita sedikit sekali shalat…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit baca surat panjang, kalau kita sedikit baca surat panjang…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit berjuang, kalau kita sedikit sekali berjuang…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit dzikir, kalau kita sedikit sekali dzikir…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit mengalami cobaan, kalau kita sedikit sekali cobaan…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit berkorban, kalau kita sedikit sekali berkorban…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit dakwah, kalau kita sedikit sekali dakwah…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit berpuasa sunnah, kalau kita sedikit puasa sunnah…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit tahajud, kalau kita sedikit sekali tahajud…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit dhuha, kalau kita sedikit sekali dhuha…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit membaca Qur’an, kalau kita sedikit membaca Qur’an…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit mengajarkan ilmu, kalau kita sedikit mengajarkan ilmu…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit memaafkan, kalau kita sedikit sekali memaafkan…
Kalau Rasulullah sedikit-sedikit MENYAMPAIKAN, kalau kita sedikit sekali MENYAMPAIKAN.

Nah.., terlihat sekali perbedaanya hanya pada kata sedikit. Dan ini juga hanya sedikit bagian dari perbedaan kita dengan Rasulullah,… anda dapat mencari dan melengkapi perbedaan yang sedikit tersebut.

Diambil dari http://www.fasak.com/2010/03/ternyata-nabi-muhammad-dengan-saya.html dan berbagai sumber lainnya.

Share

Comments (0)

PROSES MENUJU KESEMPURNAAN

Posted on 31 August 2010 by Syahril Bermawan

Penggalan hidup di dunia adalah proses mempersiapkan diri untuk menjadi sempurna. Rukun Islam adalah tangga untuk didaki. Pijakan pertama adalah syahadat sebagai pembersih dan pemantap hati. Pijakan kedua adalah shalat sebagai pengenalan dan pengukuhan diri. Pijakan ketiga adalah shaum sebagai pengendalian nafsu dan pembersih qalbu.

Setelah hati dibenahi, diri dikukuhkan dan ego dikendalikan, lalu berlatih memberi manfaat kepada masyarakat melalui zakat. Inilah pijakan keempat, mengeluarkan zakat,  sebagai latihan untuk menjadi insan yang bermanfaat. Dan akhirnya pijakan kelima adalah hajji. Setelah hati dibenahi, diri dikukuhkan dan ego dikendalikan, lalu berlatih memberi manfaat kepada masyarakat melalui zakat. Kemudian baru diundang untuk dilantik menjadi insan kamil melalui hajji yang mabrur.

Tapi, kalau syahadat  diucapkan sambil lalu, shalat ditegakkan setengah hati, shaum direduksi hanya  sekadar puasa menahan lapar dan dahaga, dan zakat dikeluarkan dengan rasa terpaksa, dan hajji hanya perjalanan wisata tanpa makna, akankah kita diwisuda? (SYB)

Terima kasih Pak Abdullah.

Share

Comments (0)

MANUSIA MAKHLUK YANG HANIF

Posted on 26 August 2010 by Syahril Bermawan

Allah Yang Maha Pengasih telah menciptakan manusia sebagai yang sebaik-baik ciptaan. Untuk itu Dia telah melengkapi kita dengan sifat hanif, kecenderungan kepada kebaikan, dan kecenderungan untuk berbuat baik. Namun seringkali manusia terjebak dengan tipuan syaitan dan godaan hawa nafsunya sendiri. Hawa nafsu yang mendorong kearah sifat sifat jelek: serakah, tidak pernah puas, iri, dengki, pemarah, dan mencintai dunia secara berlebihan.

Semua sifat jelek yang disebabkan oleh hawa nafsu yang tidak terkendali itu, mendorong manusia untuk berlaku zholim, melanggar aturan, berbohong, menipu, berbuat kerusakan. Konsekwensinya adalah semakin lama qalbu akan semakin tertutup oleh  gelapnya dosa, sehingga tidak bisa lagi melihat bederangnya cahaya kebenaran.

Allah SWT, dengan penuh kasih dan sayang, telah memberikan  petunjuk melalui para Nabi dan Rasul, agar manusia selamat dari godaan syaitan dan hawa nafsu.  Tinggal lagi kesadaran kita untuk mau menerima petunjuk. Wallahua’lam. (SYB)


Terima kasih, Pak Abdullah

Share

Comments (0)

JANGAN LUPA MAKNA

Posted on 23 August 2010 by Syahril Bermawan

Dalam kehidupan sehari-hari orang seringkali terpesona dengan kata-kata. Apalagi kalau itu diucapkan dengan retorika yang memukau. Namun adakalanya orang lupa melihat makna, sehingga keterpesonaan itu menyeretnya pada suatu kehampaan, bahkan bukan tidak mungkin berakhir pada penyesalan.

Begitu juga dalam keberagamaan. Orang seringkali terpesona dengan atribut yang dipakai, dan ritual yang dilakukan. Namun sering lupa akan hakikatnya. Sehingga atribut yang dipakai hanyalah simbol tanpa makna. Ritual yang dilakukan itu hampa tanpa bekas. Hal ini disindir oleh Rasullah dengan ungkapan: betapa banyak yang berpuasa, namun tidak ada yang diperolehnya selain haus dan lapar.

Semoga Yang Maha ‘Alim senantiasa memberi kita kefahaman. (SYB)

*) Terima kasih Pak Abdullah.

Share

Comments (0)

BERMATA TAPI TAK MELIHAT

Posted on 09 August 2010 by novalramsis

oleh Bimbo/Taufik Ismail

Bermata Tapi Tak Melihat
bertelinga Tapi Tak Mendengar
bermulut Tapi Tak Menyapa
berhati Tapi Tak Merasa

Berharta Tapi Tak Sedekah
berbenda Tapi Tak Berzakat
berilmu Tapi Tak Beramal
berjalan Tapi Tak Terarah

Semoga Kita Terhindar
dari Hal-hal Sedemikian
semoga Kita Menjauh
dari Sikap Sedemikian

Beramal Tapi Kurang Ikhlas
berjanji Tapi Suka Lupa
bergunjing Hampir Tiap Hari
berkata Tapi Menyakitkan

Share

Comments (1)

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 456235Total dibaca:
  • 233350Total pengunjung:
  • 236Pengunjung hari ini: