Posted on 12 May 2010 by Syahril Bermawan
“Ibnu. Engkau renungkan baik baik kedua ayat tadi. Insyaallah akan tersingkap kepadamu bahwa hidup di muka bumi ini betul betul tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan langit.” Itulah kata kata Buya pekan lalu sewaktu mengakhiri pertemuannya dengan Ibnu. Kedua ayat yang dimaksud adalah Surat As Sajdah (32) ayat 5, dan Surat Al-Ma’arij (70) ayat 4.
Sesuai dengan perintah gurunya, Ibnu mengulang-ulangi membaca kedua ayat tersebut. Satu hari di langit, sama dengan seribu tahun di bumi. Satu hari di langit, sama dengan limapuluh ribu tahun di bumi. Itulah kandungan kedua ayat itu yang menjadi fokus pemikiran Ibnu. Ibnu mencoba mencari maknanya. Buya Nur mengatakan bahwa kedua ayat tersebut akan menyingkapkan bahwa kehidupan dimuka bumi betul betul tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan langit. Continue Reading
Posted on 11 May 2010 by Syahril Bermawan
Waktu terasa berjalan cepat. Malam ini Ibnu kembali berada di Musholla Buya Nur. Sudah sepekan pula berlalu semenjak dia menerima penjelasan Buya Nur mengenai tiga kelompok manusia berdasarkan dimensinya. Dalam sepekan ini Ibnu berulang kali mencermati gambar yang diberikan Buya Nur. Setiap kali melihat gambar itu, terngiang kembali di telinganya ucapan Buya Nur: “Lihatlah apa yang ada dibalik gambar itu. Suruhlah gambar itu berbicara. Jangan terpaku dengan penampakannya. Karena gambar itu hanyalah sebuah model, sebuah penyederhanaan.”
Sementara menunggu kehadiran gurunya, Ibnu merenung: “Kenapa kadang-kadang waktu berlalu cepat; namun adakalanya terasa lambat?” Tiba tiba Ibnu tersedot kedalam terowongan waktu; dua tahun yang lalu. Dia sedang duduk termenung di teras masjid. Walaupun baru saja menyelesaikan shalat Jumat, dadanya masih terasa sesak diamuk kemarahan. Dia merasa sangat terpukul dengan perlakuan yang diterimanya. Dia merasa dizholimi. “Mungkin aku bersalah. Dan harus dihukum. Tetapi kenapa harus dizholimi?”, katanya setengah berbisik. Continue Reading
Posted on 11 May 2010 by Syahril Bermawan
Sepekan telah berlalu semenjak Ibnu memaparkan hasil telahannya kepada gurunya. Buya Nur merasa senang atas kecerdasan Ibnu, muridnya. Sebuah catatan adalah bersifat pribadi. Catatan tidak sama dengan suatu tulisan yang mengungkapkan jalan pikiran penulis, untuk dibaca dan dimengerti oleh orang lain. Catatan adalah coretan coretan seseorang untuk mengingatkannya mengenai hal hal yang berada dalam pikirannya. Jadi ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebuah catatan bersifat subyektif dan personal, untuk kepentingan sendiri. Orang lain yang melihat cacatan seseorang mungkin saja akan membaca hal yang berbeda di balik catatan itu. Dan itulah yang terjadi pada Ibnu. Dia melihat dan membaca hal yang tidak dicantumkan Buya Nur. Sebaliknya Ibnu tidak bisa membaca hal yang justru tertulis di dalam cacatan Buya.
Malam ini Ibnu kembali berada di depan Buya. Ibnu memberanikan diri untuk mengatakan kepada Buya kesulitannya dalam menelaah catatan Buya mengenai dimensi-dimensi. Ibnu tidak banyak beralasan. Dengan terus terang dia mengakui ketidak mampuannya dan mohon agar Buya memberikan penjelasan. Ini adalah adab yang dipelajari Ibnu selama hampir dua tahun menjadi murid Buya. Seorang murid tidak sepantasnya banyak bicara di depan guru. Continue Reading
Posted on 11 May 2010 by Syahril Bermawan
“Wilayah BOC adalah wilayah manusia langit dimana terdapat jalan-jalan yang ditempuh oleh orang orang yang berorientasi akhirat. Inilah jalan bagi orang orang yang meyakini keberadaan hari akhir. Jalan yang ditempuh untuk menuju kepada Tuhan, Maha Pencipta, sumber segala yang ada, yaitu Dia, Pemilik dan Penguasa seluruh alam.”
Itulah hal pertama yang terbersit dalam pikiran Ibnu saat dia menelaah wilayah manusia langit. Sebetulnya Ibnu ingin Buya Nur menjelaskan mengenai wilayah ini. Tetapi pekan lalu, sebelum dia sempat menyampaikan permintaannya, Buya Nur sudah lebih dahulu menyuruhnya untuk mempelajari. Ibnu mencoba melakukan explorasi dengan mempergunakan segala yang sudah diketahui dan pernah dipelajarinya. Continue Reading
Posted on 28 April 2010 by Syahril Bermawan
Ibnu merasa sangat lega setelah dia memaparkan hasil telaahannya kepada Buya Nur. Seperti biasanya, Buya hampir hampir tidak berkomentar. Hanya sesekali Buya mengajukan pertanyaan agar Ibnu menambah penjelasan uraiannya.
Dalam hal ini Ibnu yakin bahwa Buya bertanya bukannya tidak tahu, atau butuh keterangan tambahan. Ibnu yakin bahwa Buya bertanya adalah untuk menunjukkan atensinya. Inilah salah satu akhlak Buya yang dikagumi Ibnu. Kapan saja, dan kepada siapa saja, Buya selalu menunjukkan atensi, perhatian penuh saat mendengarkan orang itu bicara. Buya tidak pernah membedakan apakah dia menghadapi orang awam atau orang berilmu. Perlakuan dan perhatian Buya sama kepada orang kaya atau orang miskin, pejabat atau rakyat biasa. “Bukankah ini merupakan buah dari akhlak yang terpuji?”, bisik Ibnu pada dirinya sendiri. Continue Reading
Posted on 28 April 2010 by Syahril Bermawan
Sudah semenjak pekan yang lalu Ibnu berulang ulang menelaah kertas yang diberikan Buya Nur. Sesuai dengan pesan gurunya, Ibnu mempergunakan imaginasinya. Gambar di atas kertas yang kelihatan kusam itu disederhanakan oleh Ibnu, dengan maksud agar dia bisa berpikir analitis. Pelan pelan dia mulai bisa menangkap pesan apa yang disampaikan gurunya.

Karena pekan yang lalu Ibnu tidak jadi menyampaikan telaahannya kepada Buya Nur, kini Ibnu memperoleh kesempatan untuk lebih memperdalamnya. Karena takut akan kehilangan hasil bacaannya, Ibnu mulai menuangkan apa yang telah bisa dipahaminya di atas kertas.
Ibnu terus menelaah. Kertas kusam dari Buya Nur beberapa kali diamati kembali dan dibandingkan dengan hasil telaahannya, takut takut ada yang terlewat. Akhirnya Ibnu berhasil menyederhanakan apa yang diberikan gurunya. Continue Reading
Posted on 27 April 2010 by Syahril Bermawan
Malam itu hujan sangat lebat. Ibnu hampir tidak jadi berangkat ke Musholla Buya Nur. Namun karena sudah sangat ingin menyampaikan hasil telaahannya atas gambar dan coretan Buya Nur, akhirnya dia memutuskan untuk menempuh hujan. Ibnu berpikir, biarlah basah daripada harus menunggu sampai pekan depan.
Ibnu mendapat jadwal hanya sekali dalam sepekan untuk ketemu secara privat dengan Buya Nur. Diluar malam yang telah ditentukan itu, Buya Nur banyak menerima tamu disamping mengajar beberapa murid lain. Tamu dan murid Buya Nur datang dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, dosen, pedagang, pegawai negeri, dokter, kontraktor dan bahkan polisi atau tentara. Belum lagi tamu yang datang dari luar kota, yang adakalanya tidur menginap di musholla Buya Nur. Kesibukan Buya Nur ditambah lagi dengan orang yang datang untuk berobat. Ya disamping sebagai guru, entah semenjak kapan mulainya, Buya Nur juga dikenal masyarakat sebagai tempat mengadu bagi orang orang yang sudah hampir putus harapan untuk sembuh. Buya sendiri sebetulnya tidak suka dianggap sebagai healer. Tetapi Buya lebih tidak suka lagi membiarkan orang berputus asa.
“Ibnu, sudah berapa lama kita belajar bersama?”, Tanya Buya Nur begitu beliau duduk menyandar. Ibnu sedikit kaget dengan pertanyaan tersebut. Dia memperkirakan Buya akan menanyakan hasil telahaannya atas pelajaran pekan lalu. Tapi kok tiba tiba malah Buya menanyakan hal yang hampir tidak ada hubungannya. Continue Reading
Posted on 27 April 2010 by Syahril Bermawan
Hari ini, adalah hari yang senantiasa ditunggu oleh Ibnu. Malam nanti adalah saat dimana Ibnu memperoleh kesempatan untuk men-cas inner self-nya. Ini adalah saat dimana dia bisa bertemu dengan gurunya, Buya Nur. Entah kenapa wajah tua Buya Nur senantiasa dirindukannya. Kalau ada istilah soul mate, barangkali ada pula istilah soul teacher. Entahlah. Tetapi itulah Buya Nur. Bagi Ibnu, Buya Nur adalah seorang guru sejati.
Walaupun sudah faham, Ibnu belum merasa puas dengan penjelasan gurunya pekan lalu. ”Hidup memang suatu perjalanan; perjalanan spiritual”, Ibnu membatin. “Tetapi apakah pernyataan tersebut sudah bisa memberikan pencerahan? Bagi saya yang awam, jelas belum memadai”, lanjut Ibnu dalam hatinya. Perasaan ini telah menggelayutinya selama sepekan. Untuk pertemuan malam ini Ibnu sudah mempersiapkan diri untuk menerima penjelasan lebih lanjut dari Buya Nur.
“Ibnu, sepertinya kamu mau mengatakan sesuatu. Sebelum saya mulai, lebih baik kamu bicara duluan. Pada saat pikiranmu disibukkan oleh sesuatu, saya percaya apa yang kamu dengar hanya akan lewat saja melalui telinga jasmani mu. Tidak akan sampai menggetarkan gendang telinga rohani mu“, Itulah kalimat pembuka yang diucapkan Buya Nur, saat Ibnu sudah duduk bersila dihadapannya. Continue Reading
Posted on 27 April 2010 by Syahril Bermawan
Malam akhir tahun segera datang dalam hitungan jam. Ibnu tidak ada acara kemana mana. Dia ingin menanti detik detik pergantian tahun dengan iktikaf di mushalla di kediaman gurunya, Buya Nur.
Ya, malam itu adalah malam pergantian tahun. Banyak orang yang bersukaria dengan berbagai cara. Menyambut tahun baru lebih heboh dari menyambut kedatangan mempelai, ataupun menyambut jamaah hajji pulang dari tanah suci. Ada ada saja ide mereka. Mulai dari bakar jagung, bikin sate, pesta musik sambil berjoget, sampai dengan kebut kebutan, dan bakar petasan. Dan puncaknya adalah pesta kembang api pada detik detik awal tahun baru.
Bagi Ibnu semuanya menimbulkan hiruk pikuk yang dangkal hampa makna. Berapa banyak waktu, energi, dan uang yang dihamburkan; entah untuk apa. Karena itu dia ingin mendapatkan pencerahan dari gurunya, yang sering disapa orang dengan sebutan Buya Nur. Continue Reading