It is better to be too big for your job than to have a job that is too big for you. (Napoleon Hill)
Posted on 13 October 2011 by derby
Oleh : Derby Dian Utama (twitter : @derbyutama)
Tidak satu-pun orang di dunia ini yang tidak ingin kaya….Semua ingin kaya, ingin punya banyak uang, ingin punya mobil bagus dan ingin punya rumah mewah….tetapi mengapa di dunia ini tidak semua orang bisa menjadi kaya…Apa sebenarnya yang membedakan orang bisa menjadi kaya dan tidak…..
Tapi….tunggu saya bukan hanya sekedar membahas kaya dari dimensi harta saja, saya ingin memandang kaya dari berbagai sisi…saya menyebutnya dengan kaya 3 dimensi….apa saja itu ? saya membaginya menjadi 3….kaya secara emosional dan intelektual, kaya secara spiritual dan kaya secara fisik dalam hal ini dilihat dari sisi harta…
Kita bisa lihat dewasa ini orang yang secara harta dia berkelimpahan namun lemah di sisi emosinal dan spiritual, misalnya saja seorang pengusaha yang kaya raya namun senang gonta ganti wanita yang bukan istri sahnya, orang itu kaya namun lemah secara spiritual karena hidupnya selalu bergelimang dengan dosa, apalagi sisi emosionalnya sama sekali tidak memiliki empati terhadap sesama, bukannya menyedekahkan uangnya untuk orang yang kurang mampu tetapi malah menghamburkan uangnya untuk perbuatan yang malah membuat dirinya berdosa…..
Orang seperti itu mungkin dipandang kelas atas tetapi blum tentu kelas atas dimata ALLOH….lantas bagaimana menjadi orang yang kaya secara tiga dimensi, saya menyebutnya jurus menjadi “sedikit” lebih kaya, kenapa sedikit….iya karena sesuatu itu bisa banyak berawal dari sedikit dan sedikit inilah yang berkualitas….saya mencoba merinci jurus itu pada masing-masing dimensi….
Kaya secara intelektual dan emosinal…gampang untuk “sedikit” kaya di dimensi ini cukup banyak membaca baik yang tersirat maupun tersurat…..bukan hanya buku yang dibaca tapi asah juga empati kita, caranya ? mungkin ada yang bertanya…..salah satu caranya adalah bergaulah dengan orang-orang yang hidupnya jauh dibawah kita….
Kaya secara spiritual…..contohlah para sahabat Rasul yang berlomba-lomba menginfaq-kan hartanya di jalan ALLOH…bahkan rela menyumbangkan seluruh hartanya dan ketika Rasul bertanya…..apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu ? mereka menjawab, cukup ALLOH dan Rasul-NYA untuk kami….itu mereka yang kecintaan pada ALLOH dan Rasul-NYA sudah tinggi….lantas bagaimana agar kita menjadi manusia yang seperti itu yang sangat kaya secara spiritual….coba latih agar hati kita selalu menyebut nama ALLOH SWT….dalam hati kita….ingatlah selalu ALLOH dalam berbagai kesempatan….baik saat berdiri, duduk maupun terlelap….semoga dengan riyadhoh ini kita menjadi manusia yang kaya spiritual….
Kaya secara harta gimana ya….gampang tindakan awal adalah silaturahmi dan terus fokus untuk menjalankan apa yang menjadi kecintaan kita….berbuat yang terbaik dalam setiap bisnis yang kita geluti…dan jangan pernah menyerah biarkan ALLOH SWT yang mengistirahatkan kita asalkan kita tetap berbuat yang terbaik selalu tanpa henti….
wallahu’alam…
Posted on 31 August 2011 by novalramsis
Secara rohani, petunjuk Tuhan (hidayah) dapat dipandang sebagai pangkal dari semua kebaikan. Manusia tidak mungkin menggapai kebaikan-kebaikan dalam hidupnya tanpa petunjuk dari Allah. Firman-Nya, ”Tuhan kami adalah Allah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kepadanya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50).
Menurut ulama besar Syekh Muhammad Abduh, petunjuk Allah itu mencakup empat macam, yaitu petunjuk instink atau naluri (hidayat al-wujdan), petunjuk pancaindera (hidayat al-hawas), petunjuk akal pikiran (hidayat al-’aql), dan petunjuk agama (hidayat al-din).
Tanpa keempat macam petunjuk di atas, manusia tentu tidak mungkin bisa hidup dan membangun
kehidupannya dengan baik di muka bumi. Rasyid Ridha, murid Abduh, menambahkan satu bentuk hidayah yang lain lagi yang dinamakan ‘inayah atau ma’unatullah, yaitu pertolongan dari Allah SWT.
Dilihat dari segi tingkatannya, hidayah itu menurut Imam Ghazali ada tiga macam. Pertama,
berupa kemampuan mengenal dan membedakan kebaikan dan keburukan. Kedua, berupa peningkatan
kualitas hidup manusia yang terus membaik dari waktu ke waktu.
Kualitas hidup itu meliputi kualitas iman, kualitas ilmu, dan kualitas kerja. Ketiga, berupa pencerahan jiwa atau semacam spiritual enlightenment. Orang yang memperoleh hidayah dalam bentuk ini mencapai
tingkat kesempurnaan dan kematangan jiwa (kamalat nafsiyah).
Bagi al-Ghazali, inilah tingkatan hidayah dalam bentuknya yang paling tinggi. ”Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?” (Al-Zumar: 22).
Posted on 31 August 2011 by novalramsis
Kehormatan negara tercoreng ketika terungkap beberapa pejabat hukum diduga telah menerima suap. Bukan hanya negara dan instansi tempat pejabat itu ditempatkan yang tercoreng, tapi juga pribadi yang bersangkutan.
Adalah pasti bahwa dalam hati nurani manusia, hidup berarti hidup secara terhormat. Islam menilai bahwa suatu kehidupan yang tak disertai kehormatan sama sekali bukanlah kehidupan. Sebaliknya, ia adalah kematian yang lebih pahit dari kematian alamiah. Dan, seseorang yang menghargai kehormatannya sendiri hendaknya meninggalkan kehidupan yang rendah dan tercela.
Dalam Islam, kita akan banyak mendapati ayat Alquran dan hadis Nabi SAW tentang keharusan berbuat jujur. Menurut Islam, seseorang yang adil jika punya kemampuan ilmiah, dia bisa menjadi hakim, gubernur, atau pemegang jabatan lain yang mengemban tanggung jawab di masyarakat.
slam yang menghormati hak-hak kepemilikan, memberikan penilaian yang tinggi terhadap mereka yang memperoleh harta secara terhormat, dan dari hasil kerja keras serta memanfaatkannya untuk kemaslahan umat. Banyak hadis Nabi memuji sahabat beliau yang kaya raya, seperti Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqas. Nabi memuji mereka karena dengan meningkatnya kekayaan, kepedulian sosial mereka juga makin tinggi.
Allah berfirman, ”…. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan, apa saja harta yang baik yang kami nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (QS Albaqarah [2]: 272).
Menurut Islam, bukan harta yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, tapi keserakahan dan pendewaan akan harta. Ada orang yang mendapatkan harta dengan cara yang halal, ada juga yang mendapatkannya dengan jalan pintas dan menabrak semua rambu-rambu agama dan kepatutan.
Sesungguhnya, kita dapat menyaksikan perbedaan yang nyata antara dua orang; orang yang amin(dapat dipercaya) dan orang yang khain(pengkhianat). Orang yang aminadalah tempat kepercayaan dan penghormatan manusia, orang yang khainadalah pusat kemarahan dan penghinaan mereka.
Pemikir Islam, Sayid Jamaluddin Al-Afghani berkata, ”Adalah jelas diketahui bahwa kelangsungan jenis manusia didasarkan pada muamalat dan pertukaran manfaat kerja. Ruh keduanya adalah amanah.” Mari kita berkaca
Posted on 31 August 2011 by novalramsis
Oleh Yuminah Rohmatulllah
Malu adalah suatu sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau kurang sopan. Malu merupakan salah satu kategori akhlak yang terpuji (akhlak mahmudah). “Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR al-Hakim dan Baihaqi).
Perasaan malu itu meliputi tiga hal. Pertama, malu kepada diri sendiri, yakni perasaan malu di dalam hati, di kala akan melanggar larangan Allah. Kedua, malu kepada orang lain, yakni menjaga semua anggota badan dan gerak-geriknya dari hawa nafsu. Setiap akan melakukan perbuatan yang rendah, ia akan tertegun, tertahan, dan akhirnya tidak jadi berbuat. Karena desakan malunya, takut berbuat yang buruk, takut menerima siksaan Allah di akhirat kelak. Ketiga, malu kepada Allah, artinya jika ia melakukan kekejian akan mendapat siksa yang pedih. Malu kepada Allah merupakan sendi utama dan dasar budi pekerti yang mulia. “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR Tirmidzi).
Setiap orang mempunyai rasa malu, entah besar ataupun kecil. Malu itu merupakan kekuatan preventif (pencegahan) guna menghindarkan diri dalam kehinaan atau terulangnya kesalahan serupa. Akan tetapi, rasa malu itu bisa luntur dan pudar, hingga akhirnya lenyap (mati) karena berbagai sebab. Jika malu sudah mati dalam diri seseorang, berarti sudah tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari dirinya. Ibarat kendaraan, remnya sudah blong atau tidak dapat berfungsi lagi. “Jika engkau tidak tahu malu lagi, perbuatlah apa saja yang engkau kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dapat dibayangkan, bila rasa malu itu telah hilang dalam diri seseorang, segala perilakunya makin sulit dikendalikan. Sebab, dia akan melakukan berbagai perbuatan tak terpuji, seperti korupsi, menyontek, menipu, mempertontonkan aurat dengan pakaian yang seksi dan mini, berzina, mabuk-mabukan, pembajakan, pelecehan seksual, dan pembunuhan. Mereka sudah dikuasai oleh nafsu serakah. Orang yang sudah dikuasai nafsu serakah dan tidak ada lagi rasa malu dalam dirinya maka perbuatannya sama dengan perilaku hewan yang tidak punya akal, kecuali sekadar nafsu.
Hilangnya rasa malu pada diri seseorang merupakan awal datangnya bencana pada dirinya. “Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, maka dicabutnya rasa malu dari orang itu. Bila sifat malu sudah dicabut darinya, maka ia akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan orang benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya, maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk maka lepaslah tali Islam darinya.” (HR Ibnu Majah).
“Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR al-Hakim dan Baihaqi). Hilangnya rasa malu, berarti mulai menipisnya rasa keimanan dalam dirinya. Dan, jika keimanan sudah semakin hilang, perbuatannya akan jauh dari rida Allah SWT. Naudzubillah.
Posted on 31 August 2011 by novalramsis
Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Ilham
Salah satu doa yang dianjurkan dibaca menjelang berbuka dan dalam setiap munajat Ramadhan adalah permintaan ridha dan surga-Nya. Allahumma inna nas-aluka ridhaaka wal jannah wa na’uudzubika min syakhotika wan naar, “Ya Allah hamba mohon ridha-Mu dan surga-Mu dan hamba mohon perlindungan dari murka dan siksa neraka-Mu.”
Setiap orang yang beriman pada Allah dan hari akhir pasti merindukan surga. Ia merindukan surga bukan karena sudah bosan hidup di dunia, tetapi karena ia memahami dan meyakini bahwa kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah kehidupan surga (QS al-A’la, 87: 17).
Surga dengan segala personifikasinya adalah tempat yang dirindukan oleh seluruh makhluk Allah. Tempat yang tidak terdengar di dalamnya perkataan yang tak berguna, sia-sia, dan dusta. Di dalamnya, ada mata air yang mengalir, sungai susu yang mengalir di bawah tanah (QS al-Hijr: 45-48), takhta-takhta yang ditinggikan, gelas-gelas berisi minuman yang selalu tersedia, bantal-bantal sandaran yang tersusun rapi (al-Kahfi: 30-31), permadani-permadani yang terhampar, kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis sebaya bermata indah dan menyenangkan (QS Shad: 49-54).
Seluruh kenikmatan surga tersebut ternyata pada bulan diijabahnya semua doa ini adalah yang diminta secara khusus; kiranya kita adalah yang tercatat sebagai penghuni sahnya. Masalahnya, apakah surga merindukan kita? Rasul memberikan jawaban bahwa ada empat golongan manusia yang dirindukan surga.
Pertama, orang yang senantiasa membaca Alquran (taaliy al-Qur’an). Tampaknya wajar jika surga merindukan ahli Alquran ini karena sejak di dunia saja mereka sudah dipilih oleh Allah dengan dikepakkan sayap malaikat yang selalu menaunginya, dicurahkan kasih sayang-Nya, diliputi ketenangan hati, dan selalu diingat oleh-Nya (HR Bukhari). Bahkan, di mata Rasulullah, orang terbaik di dunia dan akhirat tidak lain adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya (HR Bukhari Muslim).
Kedua, orang yang senantiasa menjaga lisannya (haafizhul lisaan). Tidaklah struktur kata yang keluar dari lisannya kecuali berorientasi kepada rahmat hikmah dan berkah. Pantang baginya berkata kotor, angkuh, dan menyakitkan. Bukankah di surga tidak akan ada kata-kata yang sia-sia dan dusta? Keselamatan hidup, baik di dunia maupun akhirat, di antaranya ditentukan karena terjaganya lisan, salaamatul insaan fi hifzhil lisaan.
Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan (muth’imuth tho’aam). Sungguh, Allah Yang Maha Berterima Kasih (Syakuur) akan membalas sekecil apa pun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan, Allah akan memberi kita minum pada Hari Kiamat nanti pada saat orang-orang sedang dilanda dahaga hebat.
Keempat, orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan (shooimur ramadhaan). Di bulan yang mulia dan penuh berkah ini, Allah menjanjikan kepada kita akan pembebasan dari panasnya api neraka, bila kita berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan shalat, qiro’at dan taqarrub, serta ibadah apa pun dengan hanya mengharap ridha-Nya.
Bahkan, di surga ada satu gerbang indah lagi kokoh yang disebut dengan gerbang ar-Royyan, ternyata hanya dipersiapkan untuk mereka yang berpuasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas karena Allah.
Posted on 31 August 2011 by novalramsis
Oleh Salahuddin El Ayyubi MA
Suatu ketika pelayan Imam Hasan Al-Bashri menyampaikan bahwa seseorang telah menjelek-jelekkan namanya. Mendengar hal tersebut, sang Imam kemudian memanggil pelayan dan memintanya untuk memberikan kurma pada orang tersebut. Pelayan berkata, “wahai imam, bukankah dia telah menjelekkanmu di hadapan orang banyak. Tapi kenapa engkau malah memberinya kurma?” Sang imam pun menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku memberikan hadiah bagi orang yang telah membuat diriku di sisi Allah SWT”.
“Apa maksud semua ini wahai Jibril?” Tanya Rasul SAW pun ketika turun ayat: “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199). Jibril pun menjawab, “Wahai Rasul Allah, sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, dan menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya denganmu”.
Jadilah pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang lembut, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan. Itulah yang ditunjukkan oleh Rasul SAW ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu. Beliau malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa).
Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah atau emosi. Apalagi kemudian membalasnya dengan hal yang sebaliknya. Tidak semua orang mampu melakukannya. Sehingga ketika Abdullah bin Amr menanyakan hal apakah yang bisa menjauhkannya dari murka Allah? Rasulullah menjawab: “Laa taghdhab (Janganlah kau marah)” (HR Imam Ahmad)
Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan puasa, Rasulullah SAW bersabda: “…Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah, “Saya sedang berpuasa. Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi….”. (HR Bukhari).
Mulut yang senantiasa mengucapkan kata-kata indah bukan kata-kata kotor, kata-kata yang menyejukkan bukan yang menyakiti, kata-kata yang menenangkan bukan yang menggelisahkan, kata-kata yang memaafkan bukan yang mendendam, kata-kata yang memuliakan bukan yang menghinakan.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (Surah Fussilat: 34-35).
Penulis adalah cendekiawan Muslim
dikutip dari Republika.co.id
Posted on 23 August 2011 by Syahril Bermawan
“Lapar, bila diterima dengan hati yang lapang, akan melahirkan taman berpikir, tambang hikmah, dan hidup yang cerdas, serta pelita bagi qalbu” (Nudzaffar al-Qurmisainy)
Posted on 23 August 2011 by Syahril Bermawan
“Lapar adalah makanan para penempuh zuhud. Sedangkan zikir adalah makanan orang-orang arif” (Abdullah al-Kharraz)
Posted on 11 May 2011 by Syahril Bermawan
The only limit to our realization of tomorrow will be our doubts of today. Let us move forward with strong and active faith. (Franklin D. Roosevelt)


