Categorized | Inspirasi & Motivasi

MPP

Posted on 26 May 2012 by Zai

Nyaris semua pekerja baik pegawai negeri ataupun swasta mengenal sebuah singkatan yang sering dianggap sebagai tanda lahirnya peringatan akan waktu kerja yang akan habis. Singkatan itu adalah MPP yang merupakan kependekan dari Masa Persiapan Pensiun.

Tergantung pada tingkat jabatan kita maka bebagai pemikiran dan perasaan berkecamuk dalam benak kita saat mendekati MPP. Umumnya berupa kegelisahan, kekhawatiran, dan kegalauan, dan sedikit kesenangan. Segala upaya dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang berpotensi muncul saat melalui MPP ini.

Tidak hanya kita yang menjalaninya, perusahaan tempat kita bekerjapun banyak yang aktif membantu menyelenggarakan berbagai program dalam kaitannya dengan MPP, seolah perusahaan ingin segera melihat kita berhenti bekerja karena dinilai sudah renta dan tidak lagi produktif.

Dalam konteks bekerja ini kita mengenal MPP, tapi kalau kita mau merenung lebih jauh, kita berpikir lebih luas, bagaimana dengan hidup ini? Hakekatnya hidup kita adalah suatu bentuk kerja juga. Apakah kerja kita itu? Sesuai firman Allah dalam QS Adz Dzariyat 56, kerja kita dalam hidup adalah beribadah kepada Allah. Itulah kerja kita di dunia ini. Job descriptionnya sudah jelas dalam Al Qur’an. Jika kita ingin bekerja baik dan berprestasi, maka langkah awal adalah dengan bekerja sesuai Job Description kita. Sudahkah kita memahami JD kita dalam hidup?

Kalaulah untuk bekerja di instansi di dunia ini saja kita begitu khawatir mendapat kondite buruk sehingga kita berupaya keras hingga nyaris mati untuk berprestasi dan menyenangkan boss kita, bagaimana dengan bekerja pada Allah Rabbul’alamin sbg “boss” kita?

Sudahkah kita mengeluarkan segala daya upaya dengan semua anugrah yang Allah berikan kepada kita untuk berprestasi di hadapanNYA? Bagaimana kita berprestasi di hadapan Allah?

Dalam uraian singkat ini, mari kita renungkan 1 cukilan pemikiran kecil dalam konteks berprestas ini, dan mari kita pakai istilah MPP di atas. Mengapa? Setidaknya karena 2 alasan. Yang pertama: karena istilah MPP ini sudah sangat familiar di telinga dan pikiran kita maka akan mudah diingat. Kedua: prinsipnya kita sedang bekerja (bertijarah) dgn Allah. Dan masa kerja tersebut akan sampai juga kepada masa pensiun berupa kematian. Kalaulah kita sibuk sedemikian macam dalam menghadapi MPP di kantor yang jelas dan terang waktunya, semestinya lebih dari itulah kesibukan dan keseriusan kita dalam menghadapi MPP di dunia yang bisa berlaku kapan saja dimana saja.

Adapun MPP kita bukanlah Masa Persiapan pensiun, tetapi kependekan dari Meaning – Purpose – Priority.

MEANING

Untuk semua aktifitas kita dalam kerja, baik kerja kantor atau kerja dunia, temukanlah selalu Meaning atau Makna atau Arti dari apa yang kita kerjakan tersebut. Semakin besar makna dari apa yang kita kerjakan semakin bersemangat kita melakukannya dan menyempurnakannya, sebaliknya semakin kecil arti dari apa yang kita kerjakan semakin enggan dan malas kita memulainya dan melakukannya.

Mari kita bahas beberapa contoh untuk menjelaskannya.

Jika kita akan berangkat kantor atau ke Bandara, kita memperhitungkan jam berangkat, rute yang ditempuh, dan keramaian waktu lintas pada waktu tertentu, sehingga kita terhindar dari kemacetan dan sampai tepat waktu.

Anak kecil sangat menyukai minum eskrim dan makan yang manis2, dan sulit untuk makan sayur atau buah2an. Padahal ibunya sudah berkali-kali menjelaskan manfaat dari makanan sehat dan mudharat dari makanan yang syubhat.

Jika pukul 2 nanti malam ada pertandingan final antara MU dan Chelsea, apakah yang akan kita lakukan pada siang/sore harinya? Hampir semua mengatakan mereka akan tidur awal dan bangun setelah lewat tengah malam. Menyiapkan berbagai bekal makanan ringan untuk teman nonton. Bahkan ada yang mengumpulkan teman2nya untuk nonton berjamaah.

Meaning ini pulalah yang membedakan mengapa ada Muslim yang sholat di awal waktu dan ada yang menunda-nundanya. Bahkan ada yang meninggalkannya. Naudzubillah. Meaning inilah yang menyebabkan orangtua pusing kalau anaknya sulit makan sayur/buah, karena di mata anaknya belum ada perbedaan Arti dari makanan yang masuk ke dalam perutnya.

Jika kita akan melakukan sholat tahajud, apakah yang akan kita lakukan pada siang/sore harinya? Sebagian besar juga mengatakan akan tidur dulu…dan memang tidur terus sampai subuh.

Jadi kita bisa melihat seberapa besar makna amal (perbuatan) bagi seseorang dari seberapa besar dorongan energinya dalam mempersiapkan, memulai, menjalankan, dan menyelesaikan amal tersebut.

Sungguh menarik jika kita mau mencoba menerapkan skala Makna ini ke dalam berbagai kerja kita untuk berprestasi di hadapan Allah. Seberapa besar Makna kita dalam berpuasa, berzakat, berinfaq, bersadaqah, menjadi suami, menjadi ayah, menjadi istri, menjadi ibu….?

PURPOSE

Jika Meaning atau Makna membuat kita memiliki ghirah dan termotivasi kuat dalam kerja, amal, serta perbuatan, bersemangat dalam memulai, mengerjakan, dan menyelesaikannya dengan suatu prestasi. Maka Purpose membuat kita senang dan nyaman melakukannya. Purpose juga memberikan bonus nilai yang lazim kita kenal sebagai pahala.

Ambil contoh perjalanan kita ke kantor tadi. Bisa saja pekerjaan rutin ini kita lakukan dengan lihai sehingga kita tidak pernah terlambat sampai di kantor. Ada yang kedatangannya ke kantor tersebut dengan tepat waktu karena persaingan dengan kolega untuk mendapatkan promosi dari atasan. Kita selalu ingin tampil lebih dibanding rekan kerja. Ada pula yang karena keikhlasan niat dia dalam bekerja sehingga ingin memenuhi kewajibannya bekerja sesuai peraturan kantor, tidak korupsi waktu. Tentunya tingkat kenyamanan pelaku akan berbeda pada kasus yang pertama dengan ke-dua.

Seorang Madam Theresa, begitu besar Makna membantu sesama manusia bagi dirinya. Lihatlah bagaimana semangatnya dalam melakukan apa yang dia lakukan. Dia juga mungkin merasa nyaman dan senang melakukannya, tapi yang pasti dia tidak mendapat pahala dari apa yang dia kerjakan.

Purpose dari semua amal yang kita perbuat di dunia ini haruslah karena Allah dalam koridor dinnul Islam. Allah sudah mewanti-wanti dalam QS Ali Imran 85. Bahwa segala aktifitas yang didasari oleh keyakinan selain Islam akan tertolak dan di akhirat kelak akan merugi. Bagi kita sebagai Muslim, sangat penting untuk selalu meluruskan niat karena Allah saja.

Seyogyanya kalau kita selalu memelihara niat karena Allah maka kita akan selalu ingat kepada Allah. Dan hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram (QS Ar Raad 28). Ini sudah rumusannya, sehingga jika kita menginginkan kenyamanan dan ketenangan dari apa yang kita kerjakan, sekaligus mendapat pahala dari Allah, maka lakukanlah karena Allah dengan mengharap ridha Allah saja.

PRIORITY

Sibuk adalah alasan universal yang sering digunakan manusia untuk berdalih terhadap kewajiban yang seharusnya ditunaikan. Kebanyakan manusia tertipu dalam memilih amal mana yang harus dia utamakan dan dahulukan, karena kita cenderung memilih mana yang berdampak langsung terlihat mata dan dapat dirasakan di dunia ini. Setiap kita sama2 mendapat waktu 24 jam dalam sehari, tetapi kita berbeda dari apa yang kita perbuat dalam 24 jam tersebut.

Contoh sederhana saja dalam memilih minuman ketika kita sedang haus dan kepanasan. Kalau disuruh memilih, maka kebanyakan akan meminum minuman berkarbonat yang manis dan dingin dan menyejukkan ketimbang minuman air putih yang hangat. Air berkarbonat yang manis dan dingin memang menyegarkan, tetapi efeknya hanya saat diminum. Setelah diminum rasa haus tidak juga kunjung hilang. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Sedangkan air putih yang hangat akan segera menghilangkan rasa haus, meskipun ketika diminum kurang menyegarkan.

Bagaimana Allah memberikan tuntunan dalam menentukan prioritas ini? Mana yang harus kita utamakan dan dahulukan dalam berbuat, bertindak, beramal? Amalan2 dunia untuk keberuntungan di dunia atau amalan2 untuk kebahagiaan abadi di akhirat? Sebaiknya kita tidak salah memilih karena kesalahan dalam memilih ini bisa fatal akibatnya dengan kehidupan akhirat kita.

Firman Allah dalam QS Al Qashash 77: Carilah/raihlah dengan apa yang Allah anugrahkan kepadamu pahala kampung akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Jelas benar rincian tugas pada Job Description dari Allah mengenai perbuatan kita di dunia. Setiap kali kita dihadapkan kepada pilihan antara pahala akhirat dan bagian kita di dunia, maka kita diperintahkan untuk meraih mendahulukan pahala akhirat.

Coba kita sama2 renungkan perjalanan kita sejauh ini. Berapa sering kita melakukan pilihan yang benar sesuai instruksi kerja kita? Apa yang akan terjadi pada kondite kita di kantor jika instruksi atasan kita kesampingkan dibanding kepentingan dan keinginan pribadi kita? Apakah yang akan terjadi jika hak Allah kita kesampingkan setelah pemenuhan hawa nafsu kita dalam kehidupan dunia?

Mudah2an cukilan ringkas ini bisa menjadi bahan renungan kita dalam bekerja untuk Allah, sehingga kita bisa meraih prestasi tertinggi di mata Allah dan melakukannya dengan penuh semangat, nyaman, senang, dan berpahala. Adakah lagi yang kita cari dan harapkan?

 

 

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 716331Total dibaca:
  • 411433Total pengunjung:
  • 68Pengunjung hari ini: