Sinopsis BAB 1 dari buku:
33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan
(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)
penulis: Supardi Lee & Noval Ramsis
Harga buku: Rp. 40.000,-
Keputusan adalah pekerjaan mental yang paling dekat dengan tindakan. Tak ada tindakan tanpa keputusan. Seperti apa tindakan kita, ditentukan oleh keputusan yang sebelumnya kita buat.
Sebelum keputusan, ada keinginan. Keinginan – keputusan – tindakan adalah sebuah jalur dan siklus. Maka, banyak orang menginginkan sesuatu, tetapi tidak bertindak. Banyak karyawan yang ingin memiliki bisnis, tapi tak bertindak. Kenapa? Karena tidak membuat keputusan!
Inilah langkah awal kita untuk memiliki bisnis. Buat keputusan tegas.
Sebuah keinginan telah berubah menjadi keputusan bila kita telah melengkapinya dengan faktor waktu. Saya ingin memiliki bisnis. Kapan? Bulan depan! Nah, itu keputusan.
Waktu saya bekerja, saya memutuskan untuk mulai memiliki bisnis juga. Maka saya mulai bertindak. Saya beli dan baca buku-buku bisnis. Saya baca tabloid tentang berbisnis. Saya bertanya dan diskusi dengan orang-orang yang telah berbisnis. Inilah keputusan pertamanya : “Saya memutuskan untuk memiliki bisnis bulan depan.”
Keputusan kedua, berkaitan dengan bisnis apa yang akan saya mulai jalani. Maka saya mencari bisnis yang paling pas dengan kondisi saya. Kebetulan, rumah saya ada di kampung. Di samping rumah, ada lahan yang telah dibuat kolam oleh kakak ipar saya. Ia telah lebih dulu berbisnis. Lobster air tawar.
Setelah setahun ia menjalani bisnis lobster, semua lobsternya kena virus dan mati semua. Ia berhenti berbisnis lobster. Menyisakan kolam-kolam yang tak lagi dipakai. Dengan izinnya, saya bisa menggunakan kolam-kolam itu.
Saya memutuskan untuk budidaya lele. Khususnya lele sangkuriang. Kenapa lele? Pertama, saya suka makan pecel lele. Murah, enak dan bergizi. Kedua, lele tak membutuhkan air mengalir. Di ‘air mati’ pun bisa. Ini pas dengan kondisi lahan saya yang tak dilalui sungai. Ketiga, saya bertemu dengan Pak Nasrudin. Beliau ini maestro lele. Telah bergelut dengan lele bertahun-tahun lamanya. Cerita beliau tentang lele membuka wawasan saya tentang lele. Peluang pasarnya yang sangat besar. Budidayanya yang tidak terlalu repot. Faktor-faktor pendukung seperti sumber pakan, obat-obatan dan sebagainya pun tersedia. Inilah keputusan kedua saya : “Saya beternak lele sangkuriang”.
Keputusan ketiga saya buat berkaitan dengan : “Seberapa serius saya dengan bisnis ini?” Mau coba-coba aja? Kalau berhasil, baru ditingkatkan skalanya? Atau benar-benar serius. Apapun yang terjadi – kegagalan sekalipun – saya akan tetap di bisnis ini sampai benar-benar sukses?
Saya memutuskan untuk memilih yang kedua. Serius 100%. Apapun yang terjadi, saya akan terus berbisnis lele. Tidak akan setengah-setengah. Full commited. Berkomitmen penuh.
Ini saya lakukan karena beberapa alasan:
- Bila kita coba-coba dulu, “Kalau berhasil saya lanjutkan, kalau gagal saya berhenti dan mencari bisnis lain” adalah sebuah pola pikir yang keliru. Kenapa? Kita baru belajar berbisnis, tentu belum ahli. Maka kemungkinan gagalnya juga besar.
- Agar sukses, kita butuh waktu minimal untuk belajar, mengenal orang-orang kunci di bisnis itu dan mengembangkan sistem bisnis kita sendiri.
- Berganti-ganti bisnis awal hanya membuang sumberdaya percuma.
- Bisnis apapun, bahkan yang telah fokus sekalipun dan telah berjalan lama tentu masih mungkin ada masalahnya. Juga mungkin saja gagal.
- Bila kita benar-benar serius, mengambil resiko yang cukup besar, tentu kita akan berusaha optimal. Dan usaha optimal ini lah yang diperlukan untuk membuka bisnis. Apalagi kita masih tetap bekerja.
Nah, bila kita ingin memiliki bisnis dan tetap mempertahankan pekerjaan kita selama ini, maka langkah pertamanya Buat Keputusan Tegas.
Pernah nonton film Men of Honor? Film ini dibintangi Cuba Gooding Jr. dan Robert De Niro. Film ini berdasar pada kisah nyata Carl Bashier. Carl ini negro. Ia ingin menjadi penyelam. Ia memutuskan untuk bergabung dengan angkatan laut Amerika. Saat itu, tak ada negro yang bisa jadi penyelam di angkatan laut Amerika. Hanya orang berkulit putih yang boleh.
Berbagai rintangan dan permusuhan harus dihadapi Carl Bashier. Bahkan sampai membahayakan nyawanya. Tapi ia tetap bertahan. Keputusannya telah bulat dan sangat kuat. Maka berbagai rintangan berhasil ia atasi. Berbagai permusuhan bisa berubah menjadi dukungan. Cita-cita Carl Bashier pun tercapai. Untuk membangun bisnis, saya benar-benar belajar dari kisah nyata Carl Bashier ini.












