Di sebuah perempatan jalan. Lampu lalu lintas menyala merah, ketika itu. Otomatis, saya menghentikan laju mobil. Mobil saya berada paling depan. Begitu berganti hijau, saya kembali melajukan mobil. Tiba-tiba seorang tukang becak memotong jalan di depan mobil saya. Sontak, saya menginjak rem. Amarah saya langsung memuncak. Dongkol.
Tapi, kalbu saya berbisik dan mengisyaratkan agar saya mencermati tukang becak itu. Saya pun mencoba memperhatikannya. Ternyata, tukang becak itu berusaha menyongsong bus kota yang akan berhenti di perempatan jalan tersebut.
Usai melihat tukang becak itu, sembari mengendarai mobil saya mengerti satu hal: demi mencari nafkah seadanya bagi keluarganya, tukang becak itu berani mengambil risiko dengan menyerobot jalan di depan saya. Karena itu saya panjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa: “Ya Allah, cukupkan rezekinya sesuai dengan kehendakMu.”
Selesai memanjatkan doa, amarah saya padam. Dan tanpa saya duga hati saya langsung dipenuhi empati kepadanya, dan pada gilirannya kepada sesama manusia.
Ah, pengalaman ini membuat saya berkesimpulan:
“Doakanlah mereka yang pernah membuatmu jengkel atau dongkol. Mohonkan kepada Allah agar Ia senantiasa memberkahi dan melapangkan jalan segala apa yang mereka cari.”-
*)Dikutip, dengan seizin penulisnya, dari buku “Dengarkan Hatimu Berbisik” karangan Muhammad Kuswanda. Diterbitkan oleh Penerbit Zaman.











