Sudah beberapa hari ini Ibnu tidak keluar rumah. Disamping memang tidak ada kegiatan yang penting, kebetulan cuaca juga sangat basah. Lagipula Ibnu mengalami sedikit gangguan kesehatan. Mungkin karena daya tahan tubuhnya yang menurun karena kelelahan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Karena itu dia memilih untuk diam di rumah, berkontemplasi merenungkan dirinya dan alam sekitar.
Diluar hujan turun dengan sangat derasnya, disertai angin kencang dan petir. Musim hujan sungguh merepotkan bagi penduduk kota yang sistem drainasenya tidak baik. Hujan sedikit saja telah menyebabkan terjadinya genangan air di jalan-jalan. Apalagi kalau hujan turun seharian. Pastilah jalanan berubah menjadi seperti sungai. Banyak kendaraan mogok, sehingga menyebabkan kemacetan yang semakin parah. Kegiatan masyarakat tersendat. Perjalanan yang biasanya satu jam akan menjadi dua atau bahkan tiga jam. Itupun ditempuh dengan susah payah. Menghabiskan banyak energi. Dan sudah tentu waktu, biaya, dan juga emosi.
Itulah yang terjadi semenjak beberapa minggu ini. Hujan turun hampir setiap hari. Artinya genangan air di jalan-jalan juga terjadi setiap hari. Dan penduduk kota yang melakukan kegiatan di luar juga mengalami siksaan setiap hari. Bilamana langit sudah gelap, karena mendung, banyak orang akan menggerutu: “Ah, mau hujan lagi”. Seolah hujan membawa bencana, bukannya rahmat. Padahal kalau dipikir lebih jauh, hujan sesungguhnya adalah rahmat. Hanya akan menjadi bencana kalau air yang dicurahkannya tidak dikelola dengan baik.
Sebetulnya apa sih yang sulit dalam mencegah agar air hujan tidak menjadi bencana? Ikuti saja hukum alam. Yang namanya air pasti akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Air sangat patuh akan hukum gravitasi. Kalau air banyak dan tempat yang rendah tidak ada, ya jelas dia akan menggenangi wilayah sekitarnya. Seandainya tersedia tempat yang lebih rendah, air tidak akan repot-repot menggenang di jalan atau di daerah pemukiman. Itu memang bukan fitrahnya air. Pasti dengan segala senang hati, tanpa ribut dan tanpa minta ongkos, air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah tadi. Air hanya membutuhkan sekadar saluran untuk menuju ke tempat yang rendah. Sudah tentu saluran yang memadai, yang tidak mampet.
Namun manusia sangat serakah. Lagi pula seringkali lalai dari menghormati keberadaan makhluk lain. Manusia dengan keserakahan dan kesombongannya seringkali mengabaikan alam sekitarnya. Mereka cenderung mempunyai persepsi dan sikap yang keliru dalam berinteraksi dengan alam. Mereka bersikap seolah alam harus mengabdi untuk kepentingan mereka. Seolah alam tidak mempunyai hak apa-apa. Pohon-pohon ditebangi. Hutan digunduli demi mendapatkan dollar untuk meperkaya diri. Tidak cukup itu saja. Hutan bakau juga dijarah dengan alasan akan melakukan reklamasi.
Uang yang diperoleh dari mengeksploitasi alam mereka pergunakan untuk membiayai apa yang mereka sebut sebagai pembangunan. Wilayah kota berubah menjadi hutan beton. Rawa diuruk dijadikan daerah pemukiman mewah. Daerah resapan air disulap menjadi real estate. Pada sisi lain air tanah dieksploitasi tanpa henti. Sampai berapa lamakah alam mampu menanggung keangkara-murkaan yang seolah tanpa henti ini?
Sampai disini Ibnu teringat dengan Surat Ar-Ruum (30) ayat 41 yang berbunyi:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Ruum; 30 : 41)
Banjir bukanlah karena hujan. Bahwa hujan menurunkan air, ya. Tetapi bahwa air akan menjadi banjir, itu adalah ulah tangan-tangan manusia. Karena mereka telah memperkosa alam dengan semena-mena. Jadi banjir adalah akibat dari ulah manusia, bukan karena hujan. Alangkah naif dan egoisnya manusia menimpakan kesalahan kepada hujan. Dan lebih aneh lagi, ada istilah yang sulit diterima akal sehat, yaitu banjir kiriman. Apa memang ada banjir kiriman? Siapa yang mengirimnya?
Padahal ini hanyalah hukum alam biasa. Logikanya sangat sederhana. Air mengalir menuju ke tempat yang rendah. Ini hukum alam yang tidak bisa dipungkiri. Lalu kenapa daerah rendah yang akan menjadi tujuan air itu diuruk dan dibangun menjadi daerah hunian? Kenapa wilayah hunian air dirampas? Dan bersamaan dengan itu, di wilayah dimana hujan turun, hutan juga disulap menjadi villa mewah. Sehingga curahan hujan tidak meresap ke dalam tanah melainkan mengalir menjadi air permukaan. Siapa yang mebangun villa? Bukan hujan dan bukan air. Lalu siapakah yang membuat bencana? Kenapa hujan yang disalahkan?
“Subhanallah”, Ibnu bertasbih. Dia merasakan betul bahwa manusialah sesungguhnya sumber bencana. Manusialah yang durhaka, yang tidak amanah dan tidak adil dalam mengelola lingkungannya. Manusialah yang menzholimi alam. Dan pada akhirnya merekalah yang menzholimi diri mereka sendiri.
Ibnu masih hanyut dalam perenungannya. Dia teringat dengan ayat 44 dalam Surat Yunus (10) dimana Allah menegaskan bahwa sesungguhnya manusia lah yang berbuat zholim atas diri mereka.

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zholim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia Itulah yang berbuat zholim kepada diri mereka sendiri. (Yunus; 10 : 44)
Salah satu penyebab kezholiman itu adalah keserakahan. Ya, manusia memang mempunyai sifat serakah. Tetapi hanya keserakahan yang dipelihara dan diikuti yang akan mendatangkan kezholiman. Ibnu teringat dengan beberapa nama yang sedang diadili dengan tuduhan korupsi dan menerima suap. Apakah yang menyebabkan seseorang mau melakukan korupsi, menggerogoti uang negara, kalau bukan keserakahan? Bukankah mereka sudah digaji bahkan dengan jumlah yang lebih dari cukup? Bukankah kalau mereka tidak masuk kerja karena sakit, gajinya tetap dibayarkan? Sedangkan para pelaku ekonomi di sektor informal seperti petani, buruh, pedagang kecil, abang becak, pengojek, juru parkir, kalau tidak bekerja, tidak akan mendapatkan penghasilan.
Bukankah mereka disediakan ruangan kerja yang nyaman, ber-AC, dan disediakan peralatan kerja yang mendukung? Sementara orang lain harus bekerja di tengah terik panas atau curahan hujan, dan alat kerja harus mereka peroleh sendiri. Bahkan seorang petani harus membeli sendiri cangkulnya, pengojek harus mencicil sendiri motornya, sopir angkutan umum harus menyetor sebagian pendapatannya sebagai sewa kendaraan yang dipakainya. Tidak ada satu sen pun uang negara mereka pergunakan.
Bukankah mereka diberi hak cuti setiap tahun dengan gaji tetap dibayar penuh? Sementara kalau petani, pedagang kecil, abang beca dan pengojek bilamana melakukan cuti tidak akan ada penghasilan selama cutinya.
Bukankah mereka kalau melakukan perjalanan dinas dibayarkan biaya transport, sewa kamar hotel dan bahkan diberi uang harian? Sementara gajinya tetap jalan terus? Bukankah kalau mereka dimudahkan Allah untuk berangkat menunaikan ibadah hajji, gajinya tetap utuh dibayarkan? Bukankah pada saat sudah tua dan harus menjalani pensiun uang pensiunnya dibayarkan? Bahkan sampai mati?
Darimana semua dana untuk membiayai itu? Dari keuangan negara, yang berasal dari para pembayar pajak. Dari pelaku-pelaku ekonomi yang diwajibkan membayar pajak. Lalu mengapa mereka masih tega juga mengambil yang bukan haknya? Bahkan menyalahgunakan kewenangan yang diamanahkan negara kepada mereka untuk mengambil uang negara dan melakukan pungutan liar kepada masyarakat yang justru harus mereka layani. Apakah itu bukan karena keserakahan? Dan bukankah itu kezholiman?
Lalu kenapa disaat harus melayani orang-orang kecil yang tidak seberuntung mereka, masih dipersulit? Masih dibebani biaya yang lebih? Bukankah secarik keterangan yang bernama KTP, SIM, Akta Kelahiran, Surat Nikah, IMB, SITU, atau apapun namanya, diwajibkan atas mereka? Lalu kenapa harus dibebani biaya? Dan bahkan kadang masih dipersulit pula? Belum lagi soal lapangan kerja yang tidak tersedia, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang hampir-hampir menjadi barang mewah.
Ibnu tidak mengerti urusan administrasi kepemerintahan. Dia tidak mengerti soal birokrasi. Namun dia melihat ketidak adilan yang nyata. Sampai berapa lama semua ini akan berlangsung?
Ibnu terus hanyut dengan renungannya. Dia melihat banyak kezholiman di tengah masyarakat, yang sepertinya dibiarkan. Ataukah mereka yang bertanggung jawab tidak berdaya mengatasi dan mencegahnya? Atau barangkali mereka yang diberi amanah untuk mengurus masyarakat juga terlibat dalam kezholiman itu?
Dia sangat prihatin dengan kenyataan yang terlihat sehari-hari. Ketidak adilan demikian telanjang dan merajalela. Apakah asal muasalnya? Apakah penyebab utamanya? Ibnu sampai pada kesimpulan bahwa penyebab utamanya adalah ego yang berlebihan. Yang menganggap diri mereka lebih penting, super penting, dan karena itu harus diberi keutamaan.
Karena pangkat dan jabatannya tinggi, mereka mengira dirinya lebih penting ketimbang orang lain. Karena ilmu dan titelnya banyak mereka merasa yang lain tidak lebih penting dari diri mereka. Mereka merasa berhak untuk diutamakan, diistimewakan, dan dilayani. Anggapan keliru dan kekanak-kanakan yang muncul bersamaan dengan ego yang dibiarkan tumbuh membesar seiring dengan naik dan bertambahnya pangkat, jabatan, ilmu, pengaruh, harta, dan segala sesuatu aksesori duniawi. Dan ego itu diperalat oleh hawa nafsu yang menjerumuskan, serta ditiup-tiup oleh syetan yang menyesatkan. Sehingga mereka lupa akan peringatan Allah:

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim; 14 : 42)
Bukankah ayat tersebut sangat gamblang menyatakan bahwa Allah tidak lalai atas perbuatan mereka? Tapi dunia memang mempesona; dan mereka hanyut dalam keterpesonaan itu. Bahkan mabuk berat. Sehingga berusaha meraih dan menghimpunnya dengan segala cara. Tidak perduli haram, zholim, maupun bathil. Kalau perlu fitnah dilontarkan kiri kanan, tipu daya dimainkan siang dan malam, aturan hukum ditabrak, dan alam diexploitasi. Hanya untuk memperoleh kepuasan syahwat duniawi. Memenuhi ego yang tidak terkendali.
Apakah mereka tidak tahu bahwa semuanya itu pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Adil? Kalau sekarang seolah belum dihukum, seolah belum ditegur, jangan dianggap hukum itu tidak ada. Jangan tertipu. Dia Yang Maha Menghukum sedang memberi “tangguh sejenak”.
Namun sampai kapan mereka akan sadar? Bukankah mereka sudah diberi peringatan? Ataukah mereka belum membaca firman Allah:

Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (As-Sajdah; 32 : 22)
Sampai disini Ibnu teringat akan pertemuannya dengan Buya Nur pekan yang lalu. Ketika egonya diluluh lantakkan oleh Buya. Ibnu merasakan betul kearifan gurunya. Buya tahu persis bahwa jauh di dalam dirinya tersimpan ego, yang kalau dibiarkan tumbuh akan menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit hati. Bukankah keangkuhan, kesombongan, keserakahan, dan lain-lain penyakit hati berasal dari ego yang membesar tidak terkendali? Apalagi kalau sampai diperalat oleh hawa nafsu dan dihembus-hembus oleh syetan. Bukankah ego seperti ini yang membuat Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan? Bukankah ego seperti ini yang membuat Qarun menolak perintah Rasulullah untuk mengeluarkan zakat? Dan bukankah ego yang sama yang telah membuat banyak manusia bagaikan fir’aun-fir’aun kecil? Bagaikan qarun-qarun kecil?
Terngiang kembali di telinga Ibnu kata kata Buya: “Ibnu mulai saat ini engkau bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seorang hamba yang hina tanpa daya.” Secara sepintas lalu, sepertinya Buya melakukan penistaan, dengan mengatakan dirinya seorang yang hina. Sepertinya Buya ingin menghancurkan harga dirinya, dan ingin membuat dia tidak punya rasa percaya diri. Orang lain mungkin akan berkomentar: “Ah guru macam apa ini, yang membuat muridnya merasa hina dan kehilangan harga diri”.
Namun syukurlah, dalam perjalanan rohani yang sedang ditempuhnya, Ibnu sudah mencapai suatu tahap dimana dia dapat menerima kearifan dengan rendah hati. Sehingga dia faham bahwa yang disampaikan Buya tidak lain adalah untuk membangunkan kesadarannya. Ibnu menyadari bahwa secara tidak langsung sebetulnya Buya mengingatkan dia akan dua ayat Al-Quran yang sebetulnya sudah sering terbaca, namun belum meresap ke dalam hatinya:
![]()
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (Al-Mursalat; 77 : 20)
![]()
Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (As-Sajdah; 32 : 8 )
Dengan pemahaman seperti itu, Ibnu malahan menjadi semakin arif. Kesadarannya seakan bertambah dalam upaya pencarian jati dirinya. Dan dia langsung teringat dengan ayat yang lain tertulis dalam Kitab Langit:
![]()
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setetes mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (Yaasin; 36 : 77)
Tiba-tiba Ibnu terkesiap sambil bertasbih: “Subhanallah”. Apakah ini maksud Buya dengan kalimat penistaan tersebut? Yaitu untuk mengingatkan dirinya agar jangan sampai menjadi penantang Maha Pencipta? Ibnu merasakan dirinya menggigil. Kemudian dengan sepenuh hati dia melantunkan doa: “Ya Allah. Janganlah Engkau biarkan aku menantangMu, dalam bentuk apapun. Janganlah Engkau biarkan aku melupakan asal kejadianku. Dan janganlah Engkau biarkan aku, walau hanya sekejap saja, merasa mampu berbuat tanpa bantuanMu. Dan berilah aku kemudahan untuk mengabdi kepadaMu, dengan segala kelemahan dan kekuranganku”.
Kemudian dia melantunkan dua ayat yang sarat dengan kandungan hikmah yang selama ini belum difahaminya:
![]()

Maha Suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun, (Al-Mulk; 67 : 1-2)
Ibnu terus mengulang-ulangi kedua ayat tersebut. Dia berusaha menyelami kedalaman maknanya, yang bagaikan lautan tanpa dasar. Semakin dia selami, semakin terasa keindahannya. Kerisauan dan kegundahan yang dirasakannya atas berbagai ketidak adilan yang diamatinya di tengah masyarakat, bagaikan sirna. Dia betul-betul menikmati pengembaraan rohaninya. Merenangi lautan hikmah yang disajikan dua ayat yang agung itu. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dan memang, itu semuanya hanya untuk dirasakan, bukan untuk diungkapkan.
Sementara itu, tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan Ibnu, di luar hujan masih tercurah bagaikan tak mau berhenti. Dan Ibnu juga bagaikan tak kuasa keluar dari perenungannya. (SYB)











