Categorized | Sukses, Tidak Harus Kaya

GURUKU SEORANG TUKANG BECAK

Posted on 05 September 2010 by adibustaman

Takbir bergema membuatku merinding. Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilahaa Illallaha, Wa Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamdu.

Aku menunggu istri dan anakkku yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri 1428 H bersama dengan warga Muhamadiyah. Aku sendiri duduk di luar Stadion, berkumpul dengan para Polisi yang sedang bersiaga mengamankan jemaah Muhamadiyah yang akan melaksanakan Sholat Idul Fitri tersebut. Aku sendiri masih puasa karena baru akan melaksanakan sholat Idul Fitri keesokan harinya bareng bersama dengan warga Nadhiyin.

Ketika sholat dan khotbah selesai dilakukan, berduyun-duyun jemaah berjalan keluar dari Lapangan. Mataku tertuju pada seorang tua yang agak kurus, dengan sarung dan kopiah hitam. Wajahnya tampak teduh dan putih, dahinya seekan-akan bercahaya lalu menuju ke becak. Lalu Bapak tua itu melepas sarung dan kopiah hitamnya dan kembali bercelana pendek, dan mengayuh becaknya dan lalu berhenti didepan pintu gerbang. Ternyata di pintu gerbang sudah menunggu, dua wanita, yang seorang sudah tua seumur dengannya dan yang satunya masih muda. Dari raut wajah ketahuan bahwa yang muda itu adalah anaknya sedangkan yang tua itu adalah istrinya Ternyata mereka bertiga pergi jamaah sholat Idul Fitri dengan naik becak, sedangkan yang lainnya banyak yang naik mobil mewah.

Ketika ku perhatikan lagi, ada sesuatu yang lain dari Pak Tua itu, wajah yang teduh, dengan senyum yang selalu mengembang, membuat hatiku tergetar. Ya Allah, Engkau telah memberikan sedemikian banyaknya nikmat kepadaku, dibandingkan Pak Tua itu, tetapi kenapa aku masih belum bisa bersyukur kepada-Mu.

Kubandingkan diriku dengan Pak Tua itu, Pak Tua yang sudah tua berumur 60 tahuan, sedangkan aku masih muda berumur 37 tahun, tetapi di dalam dada ini masih bersemayam kesombongan-kesombongan, emosi, ego dan harga diri. Sedangkan Pak Tua itu, meskipun sudah mulai uzur tapi masih dengan semangat pergi Sholat Idul Fitri dengan pakaian yang sederhana dan hanya dengan naik becak tua bersama dengan istri dan anaknya.

Aku masih ingat kata-kata Pak Tua itu ketika akan pulang, “Monggo Mas, kulo wangsul riyin, ngaturaken sugeng riyadi, lahir batin Mas”, (Mari Mas, saya pulang dulu. Selamat lebaran, minta maaf lahir dan batin), sambil mengulurkan tangannya. Aku tidak kenal dengan dia, tapi ketika dia pulang dengan mengayuh becak masih sempat mengucapkan pamit kepadaku yang kebetulan duduk didekat becaknya. Pak Tua itu segera mengayuh becaknya, dengan damainya dan sesekali menyapa jemaah yang berpasan dengannya, dan mataku pun mengikuti becaknya sampai becaknya berbelok dan tidak kelihatan lagi.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengutus makhluk-Mu untuk mengajar diriku, Engkau telah membuka mataku melalui Pak Tua, tukang becak itu. Pak Tua itu telah mengajariku untuk selalu senyum, rendah hati dan sabar.

*) Artikel Diambil dari http://muchtohar.wordpress.com/guruku-tukang-becak/

**) Foto diambil dari http://www.treklens.com/gallery/photo183951.htm

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

2 Comments For This Post

  1. Sabiran Says:

    Sebuah cerita yang patut diteladani…
    thanks

  2. sandior Says:

    sebuah kisah yang mencerminkan bahwa tidak semua yang mewah itu bahagia tetapi dengan rasa syukurlah yang membuat kita bahagia…

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 454723Total dibaca:
  • 232566Total pengunjung:
  • 232Pengunjung hari ini: