Semenjak pekan yang lalu Ibnu merasa jauh lebih tentram. Mimpinya tempo hari yang sempat menggelisahkannya selama beberapa waktu, kini tidak lagi mengganggunya. Memang pertanyaan “siapa aku” masih tetap terngiang di telinganya. Namun tidak lagi meresahkan. Ibnu merasa yakin, bahwa pertanyaan itu akan terjawab pada waktunya. Persis seperti pertanyaan yang rutin datang setiap kali masa kontraknya selesai, “selanjutnya dapat uang dari mana”. Dari pengalaman, Ibnu meyakini bahwa rezeki akan datang pada waktunya, sehingga tidak perlu dirisaukan. Yang penting dilakukan adalah berusaha dan berdoa, kemudian tawakkal kepada Yang Maha Pemberi Rezeki.
Itulah yang dilakukan Ibnu. Berusaha, berdoa dan bertawakkal. Dia berusaha mencari jawaban pertanyaannya, berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa diberi petunjuk, dan bertawakkal. Dalam usahanya itu Ibnu selalu mencari jawaban, baik dari alam sekitar maupun dari kitab yang dibacanya. Dalam doanya Ibnu mengamalkan doa yang ringkas namun menurutnya adalah semacam doa sapu jagad. Yaitu seperti yang tertulis dalam Surat Thaaha (20) ayat 114 :

Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
Kini, malam ini, Ibnu kembali berada di Musholla Buya Nur. Ini adalah bagian dari usahanya untuk mendapatkan ilmu. Walaupun keresahannya sudah reda, namun Ibnu tetap berharap moga-moga malam ini Buya Nur akan memberikan jawaban yang lebih jelas atas pertanyaannya. Dalam pemikirannya, alangkah semakin melegakannya seandainya dia mendapatkan keterangan yang konkrit dari Buya atas pertanyaan tentang siapa dirinya.
Sementara menanti kedatangan Buya Nur, Ibnu mengambil mushafnya. Baru saja Ibnu membukanya secara acak, Buya Nur masuk sambil mengucapkan salam. Serta merta Ibnu berdiri dan menyongsong kedatangan gurunya sambil menjawab salam. Ibnu lalu mengulurkan kedua tangannya, dengan khidmat menyalami Buya.
Seperti biasanya, Buya Nur tersenyum dan langsung duduk. Buya mempersilahkan Ibnu untuk duduk kembali. Begitu Ibnu duduk, Buya Nur langsung mengajukan pertanyaan: “Ibnu. Ada berapakah jumlah manusia penduduk bumi?”.
Ibnu kaget. Sebetulnya dia sudah sangat sering menerima pertanyaan yang mengagetkan dari gurunya. Tetapi kali ini sungguh lebih mengagetkan. Ibnu terpana. Apa gerangan maksud Buya menanyakan jumlah manusia penduduk bumi? Semenjak kapan Buya perduli dengan statistik kependudukan? Jangan-jangan nanti Buya akan menanyakan pula negara mana yang jumlah penduduknya paling banyak. Atau berapa produk domestik bruto Indonesia. Atau berapa jumlah penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Apa hubungannya dengan pertanyaan yang selama beberapa hari ini menghantuinya?
Namun dalam kekagetannya Ibnu menjawab sesuai dengan apa yang diketahuinya: “Kalau tidak salah ada sekitar tujuh milyar Buya”.
Baru saja Ibnu selesai menyampaikan jawabannya Buya Nur langsung menyambar dengan pertanyaan berikutnya yang jauh lebih mengagetkan Ibnu: “Kamu adalah satu diantara tujuh milyar Ibnu. Berapa persenkah itu?”
Ibnu mencoba berhitung cepat. Satu dari seribu adalah 0,1%. Satu dari sejuta adalah 0,0001%. Satu dari semilyar adalah 0,0000001%. Nah kalau dari tujuh milyar, berarti keberadaan dirinya hanyalah 0,00000001% dari jumlah penduduk bumi. Suatu angka yang sangat sangat kecil. Bahkan boleh dikatakan tidak berarti.
Ibnu terdiam. Pelan pelan dia mulai dapat mengira-ngira kearah mana tujuan pembicaraan Buya malam ini. Karena itu dengan suara yang sangat pelan, seolah bergumam untuk dirinya sendiri, Ibnu menjawab: “Buya. Angkanya sangat kecil. Sedemikian kecilnya, sehingga barangkali bisa diabaikan”.
“Betul Ibnu. Sekarang engkau menangkap maksud pembicaraanku. Secara global, keberadaanmu dimuka bumi ini hampir-hampir tidak ada, sehingga dapat diabaikan. Artinya, andaikata pada saat ini engkau hilang ditelan bumi, atau engkau hancur lebur menjadi debu yang hilang ke udara, kehidupan di muka bumi ini tidak akan terpengaruh. Bilamana engkau meninggal dunia, berapa orangkah yang akan berduka? Seratus atau duaratus orang? Barangkali tidak sampai sebanyak itu. Dan apakah artinya seratus atau duaratus dibanding dengan tujuh milyar? Kehidupan dimuka bumi ini akan berjalan terus, dengan atau tanpa kamu. Lalu apakah artinya dirimu? Siapapun engkau, dalam tatanan global, engkau tidak ada artinya. Lalu apakah demikian penting untuk mengetahui siapa dirimu? ”
Sejenak mereka berdua diam. Ibnu mencoba meresapkan makna pembicaraan. Buya Nur juga diam. Kemudian beliau menghirup sorbatnya dua teguk. Setelah itu Buya kembali melanjutkan.
“Ibnu. Dari jumlah tujuh milyar itu berapa diantaranya yang kamu kenal?”
Ibnu kembali terpana. Dia tidak menduga akan ada pertanyaan seperti itu. Dan dia juga tidak pernah menghitung berapa jumlah orang yang dikenalnya. Karena itu Ibnu terdiam. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Buya. Ibnu kaget sekaligus bingung. Dia diam tidak bisa bicara.
“Ibnu. Saya bertanya, dari jumlah tujuh milyar manusia di muka bumi ini, berapa diantaranya yang engkau kenal?”, Buya mengulangi kembali pertanyaannya dengan suara yang tegas dan mata menatap tajam kepada Ibnu.
Ibnu tidak mampu menahan tatapan mata Buya. Dia menunduk. Namun tiba-tiba keberaniannya bangkit. Tanpa ragu di menjawab dengan suara yang mantap.
“Mungkin sekitar 500 atau 700 orang Buya. Yang jelas tidak akan lebih seribu orang yang saya kenal.”
“Dari seribu orang yang engkau kenal, berapakah diantaranya yang mengenalmu?”
“Mungkin tidak sampai setengahnya Buya”.
“Dibandingkan dengan jumlah penduduk bumi yang tujuh milyar, berapa persenkah jumlah orang yang engkau kenal?”
Ibnu berpikir cepat. Seribu dari tujuh milyar. Artinya dari setiap tujuh juta manusia, dia mengenal hanya satu orang.
“Hanya satu dari setiap tujuh juta orang, Buya”
“Hanya satu dari setiap tujuh juta orang. Artinya hanya 0,000014%.”, tukas Buya.
Ibnu terkesima. Alangkah tidak ada artinya. Namun belum sempat Ibnu berpikir lebih lanjut Buya Nur kembali bertanya.
“Dan orang yang mengenal kamu adalah setengah dari itu, artinya 0.000007%. Betul?”
“Betul Buya”
“Ibnu. Sekarang kita lanjutkan. Itu tadi baru dalam perbandingan dengan jumlah manusia penduduk bumi. Belum lagi kalau dibandingkan dengan seluruh makhluk: hewan, tumbuhan, dan berbagai macam benda mati. Janganlah engkau menganggap enteng hewan dan tumbuhan, serta benda-benda mati. Mereka itu adalah juga makhluk ciptaan Allah. Mereka diciptakan dengan tujuan tertentu, untuk menjalankan peranannya masing-masing. Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia. Nah ada berapakah jumlah makhluk Allah dimuka bumi?”
Ibnu kembali terdiam. Siapakah dimuka bumi ini yang mengetahui berapa jumlah makhluk ciptaan Allah? Jangankan seluruh makhluk, jumlah ikan di laut saja tidak ada yang tahu. Belum lagi semut, cacing, burung, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya. Siapakah yang tahu berapa jumlah pohon di hutan? Itu baru makhluk hidup. Nah bagaimana dengan benda mati? Siapakah yang mengetahui berapa jumlah bebatuan di sungai? Jumlah butiran pasir di pantai? Ibnu sampai pada kesimpulan adalah mustahil untuk diketahui.
“Tidak berhingga Buya. Jumlahnya tidak berhingga.”
“Nah. Dibandingkan dengan keberadaan semua makhluk lain yang tidak terbatas jumlahnya itu, seperberapakah keberadaan dirimu?”
Ibnu kembali terdiam. Dia mencoba mengingat kembali pelajaran matematika. Rasanya, kalau tidak salah, sesuatu bilangan yang dibagi dengan bilangan yang tidak berhingga, hasilnya adalah nol. Artinya tidak ada. “Subhanallah”, kata Ibnu setengah berteriak. “Jadi Buya mau mengatakan bahwa sebetulnya saya ini tidak ada?” kata Ibnu.
Buya Nur tidak menjawab pertanyaan Ibnu. Beliau malah melanjutkan: “Itu baru dibandingkan dengan keberadaan semua makhluk dimuka bumi. Sadarkah kamu bahwa bumi ini hanyalah salah satu planet diantara milyaran planet lain di galaksi kita? Dan tahukan kamu bahwa secara ilmiah para ahli meyakini bahwa ada milyaran galaksi lain di seluruh alam jagad raya yang maha maha luas ini? Sehingga dibandingkan dengan jumlah planet dan bintang yang tidak berhingga banyaknya itu, keberadaan bumi kita inipun tidak ada.”
Ibnu terperangah. Dia menyadari alangkah bodohnya dia selama ini memandang dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Yang menganggap dirinyalah yang penting. Kepentingannyalah yang paling utama. Orang lain harus mengindahkan keberadaannya, harus menghormatinya, harus memperhitungkan dirinya, harus mendahulukannya. “Oh, alangkah naifnya”, desah Ibnu.
Ibnu diam merenung. Semua yang dikatakan Buya Nur adalah kebenaran belaka. Hanya saja selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Ya, siapakah orang yang sampai berpikir mengenai keberadaan dirinya dibandingkan dengan keseluruhan manusia penduduk bumi? Dan siapakah orang yang mempunyai kesadaran yang demikian tinggi, sehingga berpikir mengenai keberadaan dirinya dibandingkan dengan seluruh makhluk ciptaan Allah? Ada berapakah jumlah orang yang mampu mencapai tingkat cosmic consciousness seperti itu?
Ibnu menjadi sadar, bahwa selama ini dia tidak pernah memikirkan dimana posisinya diantara semua makhluk. Dia hanya sekadar berpikir atas keberadaan dirinya. Keberadaan orang lain, makhluk lain, diukur dan dinilainya dari sisi keberadaannya. Sehingga dia merasa seolah-olah dialah titik pusat dunia. Seolah-olah dialah yang paling penting diatas muka bumi ini. Yang lain kalah penting dengan dirinya. Oh ya, alangkah egoisnya. Atau barangkali lebih tepat kalau dikatakan alangkah piciknya cara berpikirnya selama ini.
Seolah mengetahui apa yang berada dalam pikiran muridnya, Buya langsung menimpali: “Ibnu. Bolehkah aku mengatakan, bahwa selama ini engkau adalah makhluk hina yang tidak tahu diri? Yang dengan pongahnya berjalan menegakkan kepala dan membusungkan dada? Yang menganggap keberadaan orang lain kalah penting dengan keberadaanmu? Yang merasa bahwa dengan pengetahuanmu yang tidak seberapa engkau mengira dirimulah yang paling benar? Yang dengan angkuhnya menuding kesalahan ada pada orang lain? Yang menganggap bahwa dirimu sematalah yang benar, sehingga harus diikuti semua pendapatnya?” Buya memberikan tempaan tidak tanggung tanggung. Dengan kata kata keras dan pedas. Yang langsung menusuk ke titik pusat ego Ibnu.
Tanpa disadarinya, air mata menggenang di kedua pelupuk mata Ibnu. Dia betul-betul mendapatkan pencerahan pada malam ini. Dia bagaikan terlahir kembali dalam format yang sama sekali lain. Ya malam ini, Ibnu bukan lagi Ibnu yang seperti siang atau sore tadi. Dia merasakan dirinya semakin ringan, dan dadanya semakin lapang. Egonya sudah menguap ditimpa kesadaran baru yang diperolehnya. Dia juga merasakan bahwa dia maju selangkah lagi dalam perjalanan rohaninya. Dan itu membuat Ibnu merasa sangat bahagia. Dia bersyukur atas rahmat Allah yang diterimanya malam ini. Dia langsung merebahkan tubuhnya. Sujud. Dengan sangat khusuk Ibnu mengagungkan ke Maha Besaran dan ke Maha Pemurahan Allah.
Sementara itu Buya Nur memperhatikan Ibnu dengan perasaan sangat haru. Buya teringat masa duapulahan tahun yang lalu. Saat dia juga melakukan sujud yang sama setelah mendapatkan pencerahan dari “gurunya”. Hanya bedanya, Ibnu menerima pencerahan di Musholla, suatu tempat yang dipandang dan dianggap suci. Sedangkan dirinya, memperoleh pencerahan di tempat yang dipandang hina oleh banyak orang. Ya, Buya teringat, bahwa dia memperoleh pencerahan seperti itu di dalam sebuah sel berjeruji, di dalam penjara. Tatkala dia harus mempertanggung jawabkan perbuatan kriminalnya di depan hukum negara.
Di luar udara sejuk beranjak menjadi dingin. Angin bertiup ringan menimbulkan desisan halus disela-sela dedaunan. Ibnu masih tenggelam dalam sujudnya. Buya Nur membiarkan muridnya menumpahkan rasa syukur dan bahagianya ke hadirat Ilahi. Sementara itu Buya Nur sendiri bersyukur telah berhasil meluluh lantakkan ego Ibnu. Dengan mata batinnya Buya melihat bahwa Ibnu segera akan mengalami kemajuan lebih pesat dalam perjalanan rohaninya. Kalau egonya masih ada, itu akan menjadi bahaya potensial. Karena betapapun manusia adalah manusia. Ego yang dibiarkan tetap ada akan ikut berkembang dengan berkembangnya tingkat rohani Ibnu. Itu akan menjadi musuh yang sangat berbahaya. Karena itu Buya Nur dengan sengaja berupaya untuk menghancurkan ego Ibnu, sampai pada suatu kondisi yang tidak lagi membahayakan. Dan kondisi itu nampaknya tercapai pada malam ini. Inilah puncak kebahagiaan Buya Nur sebagai seorang guru. Yaitu pada saat dia berhasil merobohkan ego muridnya disaat muridnya akan tinggal landas, menempuh perjalanan selanjutnya.
Setelah beberapa saat Ibnu bangkit dari sujudnya. Wajahnya terlihat cerah tanpa beban. Dia memandang Buya seraya berkata: “Terima kasih Buya…..” Ibnu tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Tangisnya pecah menjadi isak yang sangat mengharukan. Dia merebahkan kepalanya kepelukan Buya Nur. Inilah ungkapan terima kasih dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Buya Nur ikut terharu. Tetapi beliau segera dapat mengendalikan diri. Tugasnya belum selesai. Beliau masih harus melakukan finishing touch. Memberikan tempaan terakhir sewaktu besinya masih panas.
Setelaah beberapa saat Ibnu menelungkupkan wajahnya di haribaan Buya dia kembali duduk dan menghadapkan wajahnya kepada Buya. Dia berhenti menangis. Mulutnya terkunci tidak bisa mengeluarkan isakan. Dengan pandangan yang nanar dia melihat wajah Buya yang serius. Dia hanya bisa mengangguk. Kemudian dia menekurkan kepalanya sehinggga dagunya menempel sampai ke dada.
Buya Nur diam. Dia memperhatikan pengaruh kata-katanya yang pedas tadi atas diri Ibnu. Melihat Ibnu mengangguk dan tertunduk, Buya merasa bahwa kata-kata yang tajam tadi efektif meruntuhkan keakuan Ibnu. Buya Nur puas. Dengan mengucapkan hamdalah beliau memegang pundak Ibnu sambil berkata dengan lembut: “Ibnu mulai saat ini engkau bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seorang hamba yang hina tanpa daya. Di saat engkau mengangkat kedua tanganmu dan mengucapkan takbir, bayangkanlah alam semesta yang maha luas. Lihatlah dirimu satu dari tujuh miliar manusia yang berdiam di atas muka bumi, sebuah planet yang tidak lebih besar dari sebutir debu di tengah alam semesta yang maha luas. Dan tancapkan dalam hatimu bahwa engkau berdiri shalat adalah menghadap kepada Sang Pencipta alam yang maha luas itu. Engkau berdiri menghadap kepada Dia yang tidak membutuhkanmu. Jangankan Dia, bahkan makhluk ciptaanNyapun tidak membutuhkan engkau. Engkaulah yang membutuhkanNya. Dia tidak membutuhkan shalatmu, tidak memerlukan shaummu, tidak menghendaki zakat, infaq dan shadoqahmu, tidak memerlukan hajimu, tidak membutuhkan zikirmu. Sebaliknya Ibnu. Justru engkaulah yang membutuhkan Dia. Engkau yang memerlukan rahmat dan kasih sayangNya. Dengan semua amalmu yang tidak seberapa itu, yang seringkali engkau lakukan tanpa keikhlasan, sebetulnya engkau tidak pantas menghadap kepadaNya. Engkau tidak pantas menerima rahmatNya. Namun Dia adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia menatap kehadiranmu walaupun engkau lalai dihadapanNya. Karena itu janganlah engkau handalkan amal ibadahmu. Janganlah engkau banggakan semua kebaikanmu. Sering-seringlah memohon ampunanNya atas kelalaianmu.”
Selesai menyampaikan wejangannya, Buya Nur berdiri dan berjalan pelan menuju mihrabnya. Ibnu tetap diam tertunduk mendengarkan nasehat Buya. Dia merasa dirinya sedang melayang entah dimana. Dia sempat mendengar suara takbir Buya. Tetapi kemudian dia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Dirinya seolah hilang ditelan kesunyian. Dan seperti dikatakan Buya tadi, tidak ada yang perduli. Bumi tetap berputar sebagaimana mestinya. Malam terus merangkak menuju pagi. Kehidupan tetap berlanjut seperti biasanya. Nun jauh disana, entah di langit keberapa, bintang-bintang tetap memancarkan cahayanya dengan kelap-kelip yang sendu. Tidak perduli “whoever you are”. (SYB)











