Categorized | Kisah Ibnu, Utama

(17) SPIRITUAL ADOLESCENCE

Posted on 26 August 2010 by Syahril Bermawan

Semenjak pertemuan dengan Buya Nur beberapa hari yang lalu Ibnu agak lebih tenang. Setelah berkali-kali dia mengingat kembali pembicaraannya dengan Buya Nur, kini mulai jelas bagi Ibnu permasalahan yang dialaminya. Dia sedang mengalami perkembangan batin. Dia sedang dalam proses memahami keberadaannya dimuka bumi. Dia sedang mengalami semacam “puber” secara spiritual. Dia sedang dalam perjalanan untuk menemukan jati diri. Dan alhamdulillah dalam menjalani itu semua, Ibnu memperoleh “pesan” dari alam bawah sadarnya, yang muncul kepermukaan dalam bentuk mimpi. Yang menyuruh dia untuk mengetahui dan mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya.

Selanjutnya Ibnu merasakan bahwa pesan dari alam bawah sadarnya tidaklah datang begitu saja. Ini adalah sebagai resultante dari berbagai peristiwa yang dialaminya. Perenungan yang dilakukannya. Pelajaran yang diterima dari gurunya. Kitab yang dibacanya. Ibadah yang dilakukannya. Zikir dan tilawahnya. Serta berbagai macam aktivitas kesehariannya, yang semenjak belajar dengan Buya Nur selalu diusahakannya sesuai dan sejalan dengan ajaran agama.

Ibnu merasa sangat bersyukur atas semuanya itu. Walaupun itu berawal dari peristiwa tidak menyenangkan; diberhentikan dari pekerjaan karena dianggap berbuat tidak baik. Kini Ibnu merasakan hikmah nasehat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassallam. Yang menyuruh ummatnya untuk mengucapkan alhamdulillaahi’alakullihaal (segala puji bagi Allah atas segala hal) bilamana menemui pengalaman yang tidak enak. Karena kejadian apapun pada hakekatnya adalah anugerah Allah. Cuma adakalanya terselubung dengan hal yang tidak sesuai dengan keinginan manusia. Padahal itu adalah blessings in disguised. Tegantung bagaimana kita menyikapinya.

Kemudian Ibnu merasakan peranan besar dari Buya Nur, selaku gurunya dan pembimbingnya. Dia kembali teringat saat pertama bertemu dengan Buya Nur. Waktu itu dia sedang dalam keadaan kritis rohani, kehilangan pegangan, kehilangan orientasi, dan dalam keadaan yang hampa, tidak tahu hidupnya untuk apa, harus kemana, dan bagaimana. Dia teringat kembali betapa pada hari-hari pertama bersama Buya Nur, dia merasa linglung. Merasa megap-megap, bagaikan orang yang baru ditarik dari dalam air setelah tenggelam beberapa lama.

Teringat kembali betapa dengan sabar dan penuh kasih dan pengertian, Buya Nur membimbingnya selangkah demi selangkah. Buya membukakan matanya pelan-pelan, sehingga cahaya kebenaran terlihat perlahan tanpa menyilaukan. Begitulah, akhirnya Ibnu merasakan segala sesuatu berjalan secara alamiah, tanpa goncangan besar. Sedikit demi sedikit Buya memperkenalkannya dengan Islam. Ibnu mengakui, bahwa Islam agama yang dianutnya, belum pernah didalaminya. Bahkan boleh dikatakan belum pernah dikenalnya, selain shalat dan puasa di bulan Ramadhan. Itupun dilakukannya karena orang lain melakukannya. Tanpa memahami mengapa dan untuk apa. Ya, dia beragama secara kultural, belum secara spiritual. Seperti kebanyakan orang di tengah masyarakat sekitarnya.

Dibandingkan dengan masa sebelumnnya, kini Ibnu merasakan perubahan amat besar dalam dirinya. Shalat yang ditegakkannya bukan lagi hanya sekadar sembahyang seperti yang dulu dilakukannya. Shaumnya bukan lagi sekadar puasa menahan haus dan lapar. Tilawahnya bukan lagi hanya sekadar mendendangkan bacaan Al-Quran. Zikir dan doanya bukan lagi hanya sekadar komat-kamit yang hampa makna. Sedikit demi sedikit dia mulai merasakan betapa ajaran agama adalah betul-betul sebagai pedoman hidup.

Pelan-pelan dia juga semakin merasakan kemuliaan Kitab Langit yang bukan lagi sekadar bacaan biasa. Dan pelan tetapi pasti, Ibnu pun merasakan bahwa dia tidak lagi hanya sekadar menganut agama Islam. Melainkan menjalani dan mengamalkan diinulislam. Ya, dia sekarang mulai merasakan bahwa dia adalah penempuh dan pengamal diinulislam. Dia bukan lagi seorang muslim kultural. Melainkan pelan-pelan sudah beralih menjadi muslim spiritual. Sebagai pemula, yang masih harus banyak belajar. Ibnu mensyukuri semuanya itu. Sungguh tidak ternilai rahmat Allah yang diterimanya.

Ditengah-tengah berbagai kemajuan yang dialaminya, kini Ibnu kembali mengalami gocangan. Dia mengalami puber spiritual. Dia dikagetkan oleh pertanyaan “siapa aku”. Dan untunglah kebingungannya diredam oleh Buya dengan dua nasehat. Walaupun belum menjawab pertanyaannya, tetapi cukup meredam kegelisahannya. Dia teringat kembali kata-kata Buya: “Ibnu. Untuk saat ini saya memberi kamu hanya dua nasehat. Ini adalah nasehat pokok yang harus kamu camkan dalam hatimu. Ingat dan amalkan selalu kedua nasehat ini dalam perjalananmu selanjutnya.

Waktu itu Ibnu mengharapkan Buya akan memberikan penjelasan atas mimpinya. Dia ingin segera memperoleh jawaban atas masalah yang dihadapinya. Tetapi harapan Ibnu tidak terkabul. Buya tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggelayuti pikirannya. Buya ternyata hanya memberikan dua nasehat yang hampir-hampir tidak ada hubungan langsung dengan permasalahan yang dihadapinya. Kedua nasehat Buya tersebut terngiang kembali ditelinga Ibnu: “Pertama, jangan serakah. Jangan terlalu bernafsu untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan, untuk mengetahui semua ilmu, untuk mencapai semua keinginan. Betapapun inginnya kamu untuk mendapatkan sesuatu, engkau harus tetap tenang. Senantiasa menjaga diri. Ingatlah selalu bahwa segala sesuatu itu ada waktunya sendiri. Sikap seperti ini adalah merupakan bagian dari sabar. Kedua, jagalah adabmu didepan Allah. Kita harus selalu ingat, bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah, hambaNya yang lemah. Dhoif dan faqir. Jadi jangan sekali-kali memaksakan diri. Jangan pernah merasa bahwa kamu bisa menyelesaikan semua masalah dengan kekuatanmu, dengan kepintaranmu, bahkan tidak juga dengan bantuan gurumu. Sikap ini adalah bagian dari haya’, rasa malu.”

Ibnu menyadari bahwa kedua nasehat tersebut belum menjawab pertanyaannya. Namun dengan kedua nasehat itu kini dia merasa lebih tenang. Ia menahan dirinya untuk tidak terburu-buru mencari jawaban. Dan dia mulai merasa senantiasa diawasi oleh Allah, sumber segala ilmu. Dia merasakan bahwa sebagai manusia dia adalah sangat lemah, tidak tahu apa-apa dan tidak mempunyai apa-apa.

Serta merta Ibnu teringat dengan ayat 22 Surat Yusuf (12) yang berbunyi:

Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Ibnu memperkirakan agaknya ayat tersebutlah yang telah dijadikan Buya Nur sebagai dasar dalam memberikan kedua nasehatnya. Ibnu memahami bahwa untuk dapat menerima hikmah dan ilmu, diperlukan suatu tingkat kedewasaan. Karena itu Buya menasehatinya untuk tidak bernafsu dan harus menjaga adab. Kini setelah membaca ayat 22 Surat Yusuf, Ibnu semakin merasakan kearifan gurunya. Yang tidak serta merta memberikan jawaban atas pertanyaan besar yang dihadapinya. Ibnu merasakan bahwa dalam pandangan Buya belum saatnya dia untuk menerima jawaban. Belum cukup dewasa untuk itu. Belum siap untuk itu. Namun Buya tidak mengatakan begitu. Beliau tidak mau mengecilkan hati Ibnu. Dengan penuh kearifan Buya menasehati muridnya untuk memelihara sikap sabar dan menjaga adab.

Memang ada orang-orang yang tidak sabar dalam masa puber spiritual. Mereka ingin segera mencari identitas diri secara spiritual. Lalu menempuh jalan pintas, menemui para normal, orang pintar atau yang menamakan dirinya sebagai guru spiritual. Orang-orang yang tidak sabar inilah yang sangat mudah terperosok mempelajari ilmu yang sebetulnya tidak diperlukan. Bilamana mereka menemukan guru spiritual yang benar, maka besar kemungkinan mereka akan dibimbing dengan selamat melewati masa puber tersebut. Persis seperti para teenagers yang mencari identitas diri bergaul dengan teman-teman yang dianggap bisa memuaskan dahaganya. Apabila menemukan teman yang baik tentu akan menjadi baik. Tetapi kalau menemukan teman yang tidak baik, besar kemungkinan akan terperosok dalam kesesatan, dan selanjutnya akan mengalami perkembangan yang tidak sehat.

Rupanya Buya Nur melihat bahaya seperti itu bisa terjadi pada Ibnu. Maka beliau memberi nasehat agar sabar dan menjaga adab. Memang pada hakekatnya semua ilmu adalah milik Allah. Tidak ada yang diketahui manusia melainkan apa yang diajarkan Nya. Ibnu teringat dengan ayat 32 Surat Al-Baqarah:

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.

Setelah membaca ayat tersebut berulang-ulang dan meresapkan maknanya dengan sungguh-sungguh, Ibnu kaget. Ya, dia sungguh kaget. Wajahnya menjadi tegang. Jantungnya berdebar lebih cepat. Dan seiring dengan itu dia membisikkan tasbih dan tahmid berulang-ulang. “Subhanallah walhamdulillah. Subhanallah walhamdulillah”.

Beberapa saat kemudian Ibnu kembali tenang. Kini dia semakin merasakan kearifan Buya. Dan untuk itulah dia bertasbih dan memuji Allah. Pada hakekatnya tidak ada ilmu yang diketahui manusia, melainkan sekadar apa yang dianugerahkan Allah. Ibnu menyadari betapa banyak orang belajar, tetapi tidak mendapatkan pelajaran. Betapa banyak orang yang mencari dan menuntut ilmu, tetapi tidak mendapatkan kefahaman. Karena itu belajar menuntut ilmu ada adabnya. Agar Allah berkenan mengajarkan, dan menganugerahkan kefahaman. Ibnu kembali teringat akan apa yang pernah diajarkan Buya beberapa bulan yang lalu: “….Jangan pernah membatasi diri sendiri dalam mempergunakan akalmu. Biarlah akal menjelalajah bebas, meng-eksplorasi baik realita maupun hakekat segala sesuatu. Insyaallah nanti hatimu akan membimbing dan mengarahkannya. Karena itu  hatimu harus diisi dengan iman yang benar dan yakin, harus dibersihkan dari kotoran dan penyakit. Yang berbahaya adalah kalau akalmu bebas menjelajah sementara hatimu tidak berfungsi, karena kotor atau sakit. Dalam keadaan tidak seimbang antara akal dan hati, maka seseorang akan mudah tersesat. Orang yang lebih kuat akalnya tetapi lemah hatinya, mudah tersesat di wilayah manusia bumi. Sedangkan orang yang kuat hatinya tanpa akal yang seimbang, akan mudah tersesat di wilayah manusia langit. Saya minta kamu camkan ini benar benar.”

Kini Ibnu semakin merasakan hikmah dari nasehat Buya. Dia harus menjaga keseimbangan antara akal dan hati. Dua piranti yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Yang harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya dalam menemukan kebenaran. Yang harus dipakai dalam menempuh jalan mencari kebenaran. Dan kedua nasehat Buya yang diterimanya beberapa hari yang lalu, adalah sebagai kelanjutannya. Agar dapat menjaga kualitas hati. Sehingga hati senantiasa bisa membimbing akal. Buya Nur sangat berhati-hati menjaga agar muridnya tidak sampai “tersesat di wilayah manusia langit”. Yang bukan tidak mungkin terjadi pada Ibnu sebagai spritual traveller pemula.

Kemudian Ibnu teringat dengan satu ayat Al-Quran lainnya yaitu ayat 269 Surat Al-Baqarah:

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Ibnu membaca ayat tersebut berulang-ulang. Dia berusaha memahami maknanya sehubungan dengan kondisinya. Dan Allah memberinya kefahaman. Dia menjadi semakin tenang. Kegelisahan dan kebingunganya yang disebabkan oleh mimpi minggu lalu itu, seakan akan sirna bagaikan embun ditimpa sinar matahari pagi. Dadanya terasa lapang. Hatinya menjadi lega. Kini dia merasa siap untuk menerima pelajaran selanjutnya dari Buya Nur. Dia kembali bertasbih, kemudian bersujud. Ya Ibnu melakukan sujud syukur yang amat khusyuk.

Syahril Bermawan.

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 455867Total dibaca:
  • 233093Total pengunjung:
  • 325Pengunjung hari ini: