Categorized | Kisah Ibnu, Utama

(16) IT IS JUST A BOX

Posted on 03 August 2010 by Syahril Bermawan

Ibnu sudah semenjak tadi berada di Musholla Buya Nur. Dia akan menceritakan mimpi yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Dia ingin tahu apa pendapat gurunya. Memang yang namanya dalam mimpi ya bisa saja segala sesuatu terjadi. Tetapi itulah pertamakali Ibnu mengalami mimpi yang sangat “menggelisahkan”. Selama berhari-hari, siang dan malam, senantiasa terngiang di telinganya ucapan makhluk yang menyerupai dirinya itu: “Aku tidak setolol yang kamu duga. Aku tahu namamu Ibnu. Aku bukan bertanya siapa namamu. Aku bertanya siapa kamu. Ibnu adalah namamu. Apakah menurutmu engkau adalah Ibnu? Apakah menurutmu Ibnu adalah engkau? Samakah nama dengan yang dinamakan?”

Ibnu amat sadar, bahwa dia tidak perlu lagi memikirkan jawaban pertanyaan “makhluk” itu. Toh dia tidak akan bertemu dia dalam kehidupan nyata. Namun, yang sangat menggelisahkan Ibnu adalah pertanyaan itu sudah terlanjur berkembang menjadi pertanyaannya sendiri. Bukan lagi pertanyaan orang lain, melainkan pertanyaannya sendiri. Dia sendirilah yang ingin menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Apalagi pertanyaan kedua yang lebih menusuk: Engkau bisa menyebutkan namamu siapa saja. Bahkan engkau bisa mengganti namamu kapan saja. Namun kamu adalah kamu. Dan yang ingin saya ketahui itu adalah siapa kamu.”

Ya, siapakah diriku ini. Siapa aku sebenarnya. Ibnu telah berusaha memikirkan semuanya itu lebih dalam. Namun semakin dipikirkannya, dia bukannya menemukan jawaban, malahan menjadi lebih bingung lagi. Ibnu bahkan sampai pada pertanyaan lain yang jauh lebih rumit:

  • Sebetulnya aku itu yang mana? Yang nampak ini adalah tubuhku, jasadku.
  • Bukankah pada saat aku meninggal nanti, yang dinamakan aku ini tidak lagi disebut ‘Ibnu’, melainkan mayatnya Ibnu?
  • Lalu, aku yang bernama Ibnu  itu dimana?
  • Atau, jangan jangan malahan sang aku itu tidak ada.
  • Jangan jangan yang aku sebut sebagai aku itu hanyalah illusi belaka.

Ibnu semakin bingung. Dia sama sekali tidak menduga kalau mimpi itu akan begitu berpengaruh atas dirinya. “Ah, barangkali aku terlalu menganggap serius masalah mimpi.” desah Ibnu.

Bersamaan dengan itu, Buya Nur datang. Seperti biasanya, beliau melangkah dengan tenang menuju ke sisi kanan musholla, sambil tersenyum. Ibnu langsung berdiri mendekat dan memberi salam “Assalamu’alaikum Buya”.

“Wa’alaikumussalam Ibnu. Apa kabar? Kok wajah kamu seperti orang kebingungan? Apa yang barusan kamu pikirkan?” jawab Buya sambil langsung duduk.

Ibnu tersenyum kecut. Bagaimanapun dia berusaha menyembunyikan perasaannya, ternyata gurunya senantiasa tahu. “ Maaf Buya. Tidak ada apa apa. Hanya terganggu oleh sebuah mimpi” jawab Ibnu dengan polos sambil mengambil tempat duduk di depan gurunya.

Buya Nur tertawa renyah sambil berkata: “Ibnu, Ibnu. Masakan hanya sebuah mimpi membuat kamu bingung? Memangnya kamu mimpi apa? Diterkam harimau?”

“Bukan Buya. Dalam mimpi rasanya aku bertemu dengan seseorang yang serupa dengan diriku.”

“Wah. Itu betul betul sebuah mimpi. Seseorang bertemu dengan dirinya sendiri. Tapi saya yakin bukan bertemu dengan “dirimu” itu yang membuat kamu bingung. Bagaimana selanjutya?”

Ibnu lalu menceritakan keseluruhan mimpinya dengan lengkap. Buya Nur mendengarkan dengan serius.Sesekali dia tersenyum. Saat Ibnu menceritakan dia menjerit ketakutan sambil memanggil ‘Buya’, Buya Nur tertawa kecil.

Setelah Ibnu selesai menceritakan mimpinya Buya Nur diam sambil memejamkan matanya. Sepertinya beliau sedang berpikir. Itu berlangsung cukup lama.

Sementara itu Ibnu juga diam. Dia memperhatikan wajah gurunya yang terlihat sangat tenang. Tidak terlihat tanda kalau beliau sedang berpikir keras. Wajahnya sangat tenang dan relax. Bahkan sesekali terlihat senyum halus menghias wajah yang sangat tenang itu. Karena itu lebih tepat kalau disebut beliau sedang merenung.

Ya. Merenung adalah kata yang tepat untuk menyebut apa yang sedang dilakukan gurunya. Ibnu teringat beberapa waktu yang lalu, dalam suatu forum tanya jawab dalam pengajian dengan sekelompok orang orang muda, ada seorang jamaah yang bertanya apa perbedaan berpikir dengan merenung. Ibnu teringat bagaimana gurunya memberikan penjelasan dengan sangat sederhana.

“Berpikir”, begitu Buya Nur menjelaskan, “kita mempergunakan otak untuk mengingat dan merangkai berbagai data dan informasi. Kemudian menganalisanya, dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil dari berbagai data dan informasi tadi kita katakan sebagai hasil pemikiran. Itu benar. Tidak ada yang salah. Memang begitulah kita berpikir. Namun hati-hati. Bilamana data atau informasi yang dirangkai itu tidak benar, atau cara menganalisanya tidak benar, atau cara menarik kesimpulannya keliru, maka kesimpulan, yang kita sebut sebagai hasil pemikiran tadi, akan keliru. Inilah yang sering disebut oleh orang orang pintar sebagai logical errors. Selanjutnya, kalau kita melakukan langkah atau mengambil sikap berdasarkan kesimpulan yang keliru itu, maka dapat dipastikan bahwa langkah dan sikap kita juga akan keliru.” Begitulah Buya Nur pernah menjelaskan tentang berpikir.

Mendengar penjelasan tersebut, hadirin yang terdiri dari para mahasiswa, sarjana, pengusaha muda, dan bahkan eksekutif muda usia itu, mengangguk-angguk memahaminya. Memang mereka adalah orang-orang yang sering mempergunakan otaknya untuk berpikir, memakai logika dan menganalisa dalam kegiatan mereka sehari-hari.

Sedangkan tentang merenung Buya memberikan penjelasan yang kelihatannya tidak mudah untuk dimengerti hadirin. “Adapun merenung, kita tidak mempergunakan otak. Justru kita mendiamkan otak. Kita tidak menyuruh otak merangkai data dan informasi, tidak menyuruhnya menganalisa. Karena itu tidak ada kesimpulan yang dihasilkan seperti dalam berpikir. Yang kita lakukan dalam merenung adalah mempergunakan mata batin untuk mengamati obyek yang direnungkan. Hanya mengamati dan melihatnya dari berbagai segi. Kita membiarkan masalah itu memperlihatkan berbagai dimensinya, sementara kita terus mengamati. Tanpa dicampuri kerja otak. Dengan cara seperti ini kita akan sampai kepada kesimpulan. Kita tidak menghasilkannya, tetapi sampai kepadanya.  We do not create a conclusion, but we arrive at it. Itulah yang saya namakan sebagai kesimpulan yang holistik, yang terbebas dari logical errors.”

Mendengar penjelasan ini jamaah menjadi gaduh. Banyak yang tidak mengerti, dan banyak yang mengajukan pertanyaan. Memang, tentulah sulit bagi pendengar yang terbiasa berpikir mempergunakan logika dan sangat tergantung pada data dan informasi, untuk mengerti bagaimana mendiamkan otak. Namun seperti biasanya, Buya Nur selalu berusaha membatasi penjelasannya. Ibnu teringat persis bagaimana gurunya mengakhiri kegaduhan itu dengan  penjelasan yang penuh kerendahan hati.

“Tadi ada yang bertanya apa perbedaan antara berpikir dan merenung. Saya memberikan jawaban, sesuai dengan apa yang saya ketahui. Nah kalau ada yang bertanya lebih lanjut, bagaimana caranya menggunakan otak, dan bagaimana caranya merenung, yang justru mendiamkan otak, terus terang saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Marilah sama sama kita renungkan. Dan alhamdulillah ada diantara hadirin yang tidak sependapat dengan saya. Ini justru semakin menguatkan permintaan yang selalu saya ulangi pada setiap pertemuan ‘jangan menerima apa yang saya sampaikan sebagai suatu kebenaran’. Saya sama dengan saudara-saudara, bisa salah dan keliru.”  Begitulah Buya Nur mengakhirinya sembari mohon maaf.

Ibnu sendiri juga belum mengerti. Dia ingin sekali mendapat penjelasan lebih lanjut. Tetapi dia sudah amat akrab dengan kebiasaan gurunya. Dia faham, bahwa gurunya berpendapat belum saatnya untuk memberikan penjelasan. Atau mungkin juga beliau melihat ada diantara hadirin yang belum siap untuk menerima penjelasan lebih lanjut. Karena itu Ibnu dalam hatinya bertekad akan menanyakannya pada suatu saat nanti.

Dan kini yang sedang dilihat oleh Ibnu, adalah Buya Nur yang sedang merenung. Tidak ada sedikitpun ketegangan di wajahnya. Yang terlihat adalah keteduhan dan kedamaian. Tubuhnya diam tidak bergerak. Napasnya dalam dan pelan. Dalam penglihatan Ibnu, gurunya seolah-olah sedang mengajarinya bagaimana cara merenung.

Setelah beberapa saat Buya Nur kembali membuka matanya. Dia menatap Ibnu, seraya berkata: “Ibnu, berapa usiamu sekarang?”

Nah inilah saat yang ditunggu-tunggu Ibnu. Dia tahu, sebagaimana biasa, kalau gurunya sudah mengajukan pertanyaan yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan pokok pembicaraan, itu tandanya beliau akan memberikan pelajaran. Pelajaran yang amat berharga. Dan saat-saat seperti itu sangat ditunggu-tunggu oleh Ibnu.

“Buya, bulan Juni yang lalu saya memasuki usia yang keduapuluh lima” jawab Ibnu. Memang dia lahir di bulan Juni, 24 tahun yang lalu.

Buya Nur mengangguk-angguk pelan. Kemudian berkata: “Ibnu, bersyukurlah. Dalam usia yang semuda ini kamu telah dikaruniai Allah kesadaran untuk mencari tahu siapa dirimu. Tidak banyak orang yang seperti itu. Saya baru memperoleh kesadaran tersebut pada usia menjelang empatpuluh. Jauh lebih tua darimu. Itupun setelah menempuh perjalanan hidup yang sangat berliku dan penuh bahaya. Kalaulah tidak karena rahmat Allah, dapat  dipastikan aku tidak akan berada disini, dan kita tidak akan pernah bertemu.”

Ibnu menyimak dengan penuh perhatian. Buya mengucapkan kata-kata tersebut dengan pelan penuh perasaan. Kelihatannya beliau teringat dengan kisahnya sendiri, perjalanan hidupnya dimasa lalu. Entah bagaimana kisah perjalanan hidup Buya. Ibnu ingin tahu dan mendengar kisah gurunya. Tetapi dia belum berani bertanya. Seringkali muncul rasa ingin tahunya.tapi dia memendamnya. “Nanti suatu saat akan saya tanyakan kepada Buya” begitulah Ibnu selalu menyabarkan dirinya bilamana rasa ingin tahunya memuncak.

Betapa tidak. Sudah dua tahun dia menjadi murid Buya. Namun sosok Buya masih tetap “misterius” bagi Ibnu. Selain keluasan dan kedalaman ilmunya, selain dari kearifan dan kesabarannya, banyak hal mengenai gurunya itu yang belum diketahui Ibnu. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengajukan pertanyaan kepada Buya. Mumpung Buya lagi terkenang masa lalunya. Tetapi Ibnu merasa tidak pantas, karena saat ini justru dia sedang menanti pendapat dan nasehat Buya atas kegelisahannya mengenai siapa dirinya.

Seperti mengetahui apa yang terpikir oleh Ibnu, Buya Nur lalu berkata: “Ibnu. Mengenai diriku tidaklah penting. Aku sudah berada diusia senja. Sekarang mari kita fokus pada mimpimu yang menggelisahkan itu.”

“Baik Buya” jawab Ibnu dengan khidmatnya.

“Ibnu, mari disamakan dulu persepsi kita. Sesungguhnya bukan mimpi itu yang menggelisahkan. Melainkan penerimaan kamu atas kiriman yang disampaikan dalam kotak yang bernama mimpi itulah yang menggelisahkan. Mimpi itu hanyalah kotak tempat meletakkan sesuatu yang dikirimkan kepada kamu. It is just a box.”

Sampai disini Buya berhenti untuk menghirup minumannya. Buya menghirup sorbat susu kegemarannya beberapa kali teguk dengan jarak yang cukup lama, seolah memberi waktu kepada Ibnu untuk menerima dan mengerti penjelasannya.

Ibnu menyimak dengan saksama. Dia bisa mengerti cara pandang gurunya yang berusaha melihat sesuatu dibalik sesuatu. Yang berusaha menemukan hakikat dari suatu peristiwa. Ibnu teringat dengan buku karya Jalaluddin Rumi yang pernah dibacanya “Fihi ma Fihi”. Yang mengajak pembacanya untuk berkelana mengungkap sesuatu dibalik sesuatu. Sebuah buku yang tidak mudah untuk dibaca. Setidak-tidaknya buat Ibnu. Namun untunglah apa yang yang dikatakan gurunya, sejauh ini,  tidak terlalu sulit untuk dimengerti.

Syukurlah Ibnu. Engkau menemukan sesuatu di dalam kotak yang bernama mimpi itu. Sesuatu itu adalah kiriman untukmu. Berapa banyak orang yang tidak menemukan isi kotak yang diterimanya. Bahkan ada yang sama sekali tidak membuka kotak itu untuk melihat apa isinya. Atau bahkan lebih banyak lagi orang yang menerima kiriman kotak kosong tanpa ada isi. Dan sampai kepada kesimpulan bahwa mimpi hanyalah bunga-bunga tidur, sebagaimana yang sering dikatakan orang.”

Buya Nur kembali menghirup minumannya. Kemudian menatap jauh keluar, ke arah kegelapan malam yang mulai terasa dingin. Ibnu diam. Dia seolah sedang merekam semua ucapan gurunya. Tidak mau kehilangan satu patah katapun.

“Dan isi kotak itu, Ibnu, adalah suatu pesan yang menyuruh kamu mencari tahu siapa dirimu. Bukankah begitu?”

“Betul Buya”, jawab Ibnu sambil mengangguk.

“Alhamdulillah. Sekarang kamu semakin mengerti. Nah saya ulangi kembali. Bersyukurlah. Dalam usia yang masih muda ini engkau sudah dikirimi pesan seperti itu. Saya menerimanya pada usia yang jauh lebih tua dari kamu. Saya menerima pesan itu dalam kotak yang lain. Bukan dalam bentuk mimpi, melainkan dalam bentuk pengalaman nyata yang pahit dan bergelimang lumpur. Dan pesan tersebut dihempaskan ke wajahku. Sakit. Sungguh sakit. Namun saya bersyukur. Karena masih banyak orang lain yang sampai usia lanjut tidak menerima kiriman pesan. Atau mungkin ada menerimanya tetapi mereka tidak acuh.  Akibatnya mereka lupa untuk berpikir siapa diri mereka. Akhirnya mereka terjebak dalam kelalaian yang berkelanjutan, sehingga mereka menjadi lupa diri benaran.”

Ibnu tetap dalam diamnya. Dia betul-betul menyimak. Pada saat Buya Nur mengatakan bahwa beliau menerima kiriman pesan bukan dalam kotak berbentuk mimpi, melainkan dalam bentuk pengalaman nyata, yang pahit dan bergelimang lumpur, Ibnu melihat wajah Buya menjadi sendu. Ada segurat duka terbayang. Ibnu memperhatikan Buya, yang masih menatap jauh keluar musholla. Tak berapa lama Ibnu melihat air mata menetes pelan di pipi gurunya. Ibnu kaget. Gurunya menangis. Serta merta dia bertanya: “Maaf Buya. Kenapa menangis?”

Buya Nur tidak segera menjawab. Beliau masih tetap diam. Ibnu merasa khawatir. Apakah gerangan yang membuat gurunya menangis? Apakah tingkahnya yang melukai guru yang sangat dihormatinya itu? Rasanya tidak ada. Tetapi kenapa beliau bersedih hati sehingga meneteskan air mata? Ibnu gusar, gusar sekali.

Tapi untunglah tidak berlangsung lama. Buya Nur kembali terlihat seperti biasa. Dia mengusap air mata di pipinya. Dan bersamaan dengan itu bayangan duka di wajahnya pun hilang. Kemudian beliau berkata: “Maaf Ibnu. Saya tidak menangis. Air mata yang menetes tadi adalah air mata keharuan, karena syukur. Saya mensyukuri kiriman pesan yang pernah saya terima. Walaupun sudah lebih dari duapuluh tahun saya bertaubat, namun pada saat saat tertentu, jika kenangan tersebut kembali muncul, saya merasakan keharuan yang amat dalam.”

Ibnu terpana. Dia tidak tahu harus berkata apa. Guru yang amat dihormatinya, menangis didepannya. Dan dengan tulus mengungkapkan perasaannya. Ini semua membuat semakin bertambah hormatnya. Oh bukan. Bukan hanya hormat. Sekarang semakin jelas terasa dihatinya bahwa disamping hormat, dia ternyata juga menyayangi gurunya.

Lama kedua anak manusia itu, guru dan murid, berada dalam diam. Masing masing dengan diamnya. Ibnu diam, karena menikmati rasa hormat dan sayangnya kepada Buya. Buya Nur diam, karena sedang menata kembali perasaannya. Dan nampaknya tidak mudah bagi beliau melakukannya.

Di luar udara semakin dingin. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing bersahut-sahutan. Memang di malam bulan purnama seringkali anjing melolong. Dulu sewaktu masih kecil di kampung, Ibnu selalu takut mendengar lolongan anjing seperti itu. Orang-orang mengatakan anjing itu melihat syaitan lewat. Ada lagi yang mengatakan, anjing melolong karena mendengar jeritan penghuni kubur yang sedang disiksa karena dosa-dosanya.

Tiba-tiba Buya berkata: “Ibnu, maafkan saya tadi terpeleset kemasa lalu. Kini mari kita kembali ke masalah yang menggelisahkan dirimu.” Ibnu mengangguk pelan. Dia kembali memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan wejangan gurunya.

“Ibnu. Dari cerita kamu tadi saya menyimpulkan bahwa yang menggelisahkan kamu bukanlah mimpi itu. Melainkan pesan yang dikandungnya. Mimpi itu membawa pesan agar kamu mencari tahu siapa dirimu. Dan kamu tidak bisa menemukan jawabannya. Inilah yang menggelisahkanmu.”

“Betul Buya” jawab Ibnu. “Dan bukan hanya itu Buya. Sewaktu saya mencoba memikirkannya, malah muncul pertanyaan baru yang jauh lebih musykil. Aku pernah berpikir apakah keberadaanku ini nyata ataukah hanya ilusi. Apakah aku ini sebenarnya ada atau tidak. Kalau memang ada, siapakah dan dimanakah aku itu.” Lalu Ibnu menceritakan bagaimana dia sampai pada pertanyaan lain yang jauh lebih rumit: Sebetulnya aku itu yang mana. Yang nampak ini adalah tubuhku, jasadku. Ini tanganku, ini kakiku, ini kepalaku. Tetapi yang aku itu mana. Bukankah pada saat aku meninggal nanti, yang dinamakan aku ini tidak lagi disebut ‘Ibnu’, melainkan mayatnya Ibnu. Lalu, aku yang sebenarnya itu dimana. Atau, jangan jangan malahan sang aku itu tidak ada. Jangan jangan yang aku sebut sebagai aku itu hanyalah illusi belaka. Lalu kenapa aku berani menisbahkan sesuatu sebagai milikku, tanganku, kakiku, mataku, uangku, motorku, sementara siapa aku itu keberadaannya tidak diketahui. Begitulah Ibnu menceritakan kegelisahan dan kebingungannya. Oh bukan, bukan menceritakan, melainkan menumpahkan kegelisahan dan kebingungannya dihadapan gurunya.

Buya Nur mendengarkan Ibnu dengan sungguh-sungguh. Dia bisa mengerti dan merasakan kegelisahan dan kebingungan muridnya. Pada usia semuda itu dihantui oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan yang rumit dan berat. Buya Nur sendiri merasakan betapa rumitnya pertanyaan-pertanyaan itu.

Lebih jauh dari itu, Buya Nur juga sedang menghadapi kerumitan lain, yaitu bagaimana cara memberikan penjelasan kepada muridnya. Bilamana penjelasan atau nasehat atau pendapat yang akan diberikannya tidak disampaikan dengan hati-hati, muridnya bisa semakin bingung. Bahkan salah-salah bisa dikatakan miring.

Karena itu lama setelah Ibnu selesai menumpahkan semua kegelisahan dan kebingungannya, Buya Nur masih diam. Beliau sedang mencari kata-kata yang tepat untuk meringankan beban batin muridnya. Akhirnya dengan tersenyum dan suara yang riang Buya memberikan tanggapan.

“Ibnu. Untuk saat ini saya memberi kamu hanya dua nasehat. Ini adalah nasehat pokok yang harus kamu camkan dalam hatimu. Ingat dan amalkan selalu kedua nasehat ini dalam perjalananmu selanjutnya.”

“Baik Buya” jawab Ibnu dengan khidmat.

“Pertama, jangan serakah. Jangan terlalu bernafsu untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan, untuk mengetahui semua ilmu, untuk mencapai semua keinginan. Betapapun inginnya kamu untuk mendapatkan sesuatu, engkau harus tetap tenang. Senantiasa menjaga diri. Ingatlah selalu bahwa segala sesuatu itu ada waktunya sendiri. Sikap seperti ini adalah merupakan bagian dari sabar”

Buya Nur diam sejenak. Ibnu memperhatikan dengan sepenuh hati. Dia menunggu nasehat kedua dari gurunya.

“Kedua, jagalah adabmu didepan Allah. Kita harus selalu ingat, bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah, hambaNya yang lemah. Dhoif dan faqir. Jadi jangan sekali-kali memaksakan diri. Jangan pernah merasa bahwa kamu bisa menyelesaikan semua masalah dengan kekuatanmu, dengan kepintaranmu, bahkan tidak juga dengan bantuan gurumu. Sikap ini adalah bagian dari haya’, rasa malu.”

Begitulah Buya memberikan nasehatnya. Pertama beliau minta muridnya untuk tidak terlalu bernafsu. Ya, semangat dan ambisi yang berlebihan dalam hal apapun, dengan mudah akan dapat ditunggangi oleh nafsu. Dan bilamana nafsu sudah mulai menunggangi, maka dengan mudah manusia akan tersesat. Ini adalah salah satu jebakan yang sangat halus, yang harus disadari oleh muridnya. Kemudian Buya berusaha menyadarkan muridnya akan posisi hamba dihadapan Allah. Bagaikan orang yang lapar, yang datang diundang ke perjamuan yang diadakan oleh raja. Betapapun laparnya, dan betapapun nikmatnya makanan yang dihidangkan, harus tetap selalu menjaga adab. Bila melupakan adab, jangan-jangan nanti malah akan disuruh keluar dari istana.  Beliau mengingatkan Ibnu akan posisinya sebagai makhluk ciptaanNya yang dhoif dan faqir.

Ibnu mendengarkan nasehat gurunya dengan cermat. Kalimat gurunya singkat dan sederhana. Tetapi karena Ibnu mendengarkannya dengan hati, dia menerima kedua butir nasehat tersebut bagaikan dua butir mutiara yang indah dan sangat mahal. Betapa tidak. Berapa banyak orang yang terjebak oleh dorongan hawa nafsu justru pada saat mereka sedang menempuh jalan kebenaran. Sehingga dengan lantang menyuarakan dan melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan kebenaran. Padahal kebenarannya tidak lagi murni, karena sudah tercampur dengan dorongan nafsu mereka sendiri.

Sampai disini Ibnu teringat kisah sahabat Ali r.a., yang dalam suatu pertempuran sudah berada dalam posisi siap membunuh musuhnya. Tetapi tatkala musuhnya meludahi muka beliau r.a., serta merta beliau r.a. berpaling dan membebaskannya. Sang musuh menjadi heran dan menanyakan kenapa dia tidak jadi dibunuh. Beliau r.a. menjawab: “Tadi aku akan membunuhmu karena Allah. Tetapi pada saat engkau meludahi mukaku, maka aku takut jangan jangan aku membunuhmu karena dorongan nafsuku.” Oh, alangkah indahnya kisah itu.  Dan kini, Buya Nur, gurunya, mengingatkannya, untuk selalu waspada, bahwa dalam berusaha menuntut ilmu, berjuang mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, dan bahkan juga bermuamalah ditengah tengah masyarakat, dorongan hawa nafsu sendiri setiap saat dapat menodai kemurnian niat.

Ibnu masih terus asyik dengan dirinya sendiri. Dia melihat betapa di zaman sekarang ini orang banyak yang tertipu oleh nafsunya. Yang berbicara seolah menyuarakan kebenaran perjuangannya demi masyarakat, negara dan bangsa. Padahal sebetulnya yang mereka lakukan adalah untuk kepentingannya pribadi, kepentingan kelompoknya, kepentingan korpsnya, kepentingan partainya. Ada lagi yang melakukan sesuatu atas nama hukum, padahal sesungguhnya adalah demi segepok besar uang yang bernama suap, upeti, pungli, dan sejenisnya. Dan bahkan Ibnu semakin kecut, tatkala teringat bahwa hal serupa juga bisa terjadi pada orang-orang yang merasa sedang berdakwah. Namun tanpa disadarinya telah ditunggangi oleh hawa nafsu.

Ibnu masih terus dengan dirinya. Diluar udara semakin dingin. Tiupan angin yang lembut dan sejuk menambah kesyahduan malam yang sunyi itu. Tiba-tiba Ibnu sadar. Dia tidak lagi melihat Buya duduk di depannya. Buya sudah berada di mihrab. Sedang melakukan shalat. Sesaat kemudian beliau melantunkan Al-Fatihah dengan tartil. Suaranya pelan. Tetapi di telinga Ibnu bergema bagaikan suara gong yang ditabuh kuat kuat. Alunan getaran suaranya merambah keseluruh ruangan. Kemudian terdengar suara Buya membaca Surat Yasin. Satu demi satu ayat dilantunkan Buya dengan khidmat. Ibnu sangat menikmatinya. Di merasa seakan-akan ayat-ayat itu khusus dibacakan oleh Buya untuknya.

Sampai pada ayat 77 Ibnu mendengar suara Buya tersendat. Beliau terisak, kemudian berhenti sejenak. Kemudian mengulangi lagi ayat tersebut dengan suara yang bergetar menahan perasaan. Buya mengulangi ayat tersebut beberapa kali. Akhirnya terhenti oleh suara isak beliau. Ibnu memperhatikan Buya. Kelihatan tubuhnya berguncang menahan tangis. Rupanya kandungan ayat tersebut sangat menyentuh hati gurunya.

Tanpa disadarinya Ibnu pun ikut terisak. Air mata menetes pelan di pipinya. Kemudian dia tidak lagi melihat Buya. Dia tidak lagi mendengar suara Buya. Dia tidak lagi merasakan dinginnya udara malam. Ibnu telah ikut hanyut bersama getaran suara ayat yang pelan-pelan diucapkannya berulang-ulang:

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani). Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata.


Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

1 Comments For This Post

  1. aberafifi Says:

    subhanallah…cerita yang menggugah kesadaran akan arti hidup yang dijalani selama beberap tahun belakangan ini…penuh dengan dosa, khilaf dan sadar akan hal tersebut tetapi sulit untuk keluar dari lingkarannya…semoga Allah memberikan jalan keluar yang baik….

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 459537Total dibaca:
  • 235660Total pengunjung:
  • 263Pengunjung hari ini: