Ibnu dan Thamrin bercengkerama sambil makan. Kedua sahabat tersebut terlihat menikmati makan siangnya, walau hanya nasi bungkus. Mereka bicara bermacam hal mulai dari masalah politik, masalah ekonomi, masalah kehidupan. Namun akhirnya pembicaraan menukik ke masalah yang mereka hadapi dalam hidup.
“Ibnu”, kata Thamrin, “ rasanya sudah lama kita tidak bertemu.”
“Betul Mas. Sudah lama sekali. Semenjak pertemuan kita terakhir rasanya sekitar tiga bulan.”
“Ya, sekitar tiga bulan. Apa kamu masih seperti dulu? Belum ada niatan untuk cari pekerjaan tetap?”
“Ya Mas. Masih freelance. Saya belum ada niatan untuk cari pekerjaan tetap. Pertama karena ingin fokus dulu belajar sama Buya Nur. Kedua, ya saya masih trauma untuk bekerja menjadi bawahan kayak dulu Mas.”
Ibnu memang masih merasakan pahitnya menjadi bawahan. Kebetulan dulu itu dia mendapatkan atasan langsung seseorang yang dianggapnya tidak bermoral. Mau ngelawan, dia atasan. Mau patuh, berlawanan dengan kata hati. Dan akhirnya toh harus keluar untuk menghindari kejadian yang lebih buruk.
Thamrin bisa mengerti perasaan Ibnu. Dia tahu bahwa dulu itu Ibnu sama sekali tidak bersalah. Sebetulnya yang bersalah adalah atasannya. Namun sang atasan dengan ringannya merekayasa kasus sehingga seolah-olah Ibnu yang salah. Ibnu dipojokkan, sehingga akhirnya dia memutuskan berhenti.
“Ibnu, kamu masih ingat kan atasan kamu dulu?”
“Wah mana bisa saya lupa Mas. Saya sudah memaafkannya Mas, tetapi masih belum bisa melupakan kasusnya.”
“Ya. Itulah hidup Ibnu. Sekitar dua bulan yang lalu bapak itu diberhentikan dengan tidak hormat. Kasus yang serupa terulang lagi. Tetapi orang yang menggantikan posisi kamu tidak mau terima salah. Dia fight habis-habisan sebelum mengundurkan diri. Akhirnya kasus itu terbuka dan bagian personalia menjadi tahu permasalahannya. Dia diberhentikan dengan tidak hormat.”
Ibnu terdiam mendengar cerita Thamrin. Dia merasakan kebenaran suatu ungkapan bijak yang pernah dibacanya dalam sebuah buku: Anda bisa membohongi banyak orang pada banyak waktu; tetapi tidak bisa membohongi semua orang sepanjang waktu. Memang segala kebusukan pada akhirnya akan terungkap. Lagi pula kesalahan yang dilakukan terus menerus dibenci Allah. Ibnu serta merta teringat dengan beberapa ayat Al-Quran. Dia merenungkan ayat-ayat tersebut, dan merasakan bahwa Al-Quran adalah betul-betul sebuah kitab yang menjadi petunjuk, yang memberikan peringatan, dan menerangi kehidupan bagi mereka yang mau membuka hatinya.
Melihat Ibnu terdiam, Thamrin merasa agak bersalah. Jangan jangan informasi tadi membuka kembali luka Ibnu. Memang dia tahu persis betapa pahitnya bagi Ibnu pengalamannya dulu itu. Merasa berbuat benar, tidak berbuat yang salah, namun malah dituduh telah melakukan kesalahan, dan disuruh mengakuinya. Namun setelah beberapa saat keduanya berada dalam diam, Thamrin memulai kembali pembicaraan: “Ibnu, apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah informasiku tadi kembali membuatmu sedih dan marah?”
Ibnu menghela nafas dalam dalam. Kemudian menjawab pertanyaan Thamrin: “Tidak Mas. Aku tidak sedih dan tidak marah. Hanya saja aku teringat dengan peringatan Allah dalam Al-Quran. Dan itu membuat aku semakin yakin bahwa Al-Quran adalah kitab yang memberi petunjuk, yang menjelaskan perbedaaan antara yang benar dan salah.”
Thamrin diam diam mengagumi temannya yang satu ini. Alangkah pesat perkembangan rohaninya. Apapun yang terjadi dan menjadi perhatiannya, dia serta merta teringat dengan Al-Quran. Jelas ini adalah hasil didikan Buya Nur gurunya.
Thamrin belum pernah bertemu Buya Nur. Tetapi dari cerita yang dia dengar dari Ibnu, dia sudah dapat mengira-ngira bahwa Buya Nur adalah seorang yang pantas untuk dikagumi dan digugu. Alangkah beruntungnya Ibnu bertemu dengan Buya Nur. Apakah itu suatu kebetulan? Ataukah itu memang jalan yang harus ditempuh oleh seorang anak manusia yang bernama Ibnu? Sehingga peristiwa demi peristiwa yang terjadi telah menggiringnya untuk bertemu Buya Nur tanpa suatu perencanaan. “Ya, barangkali itulah yang dinamakan suratan takdir.” Yang jelas Thamrin merasa ada benarnya ungkapan bijak yang pernah didengarnya “Bilamana murid sudah siap, guru datang sendiri”. Begitulah Thamrin menarik kesimpulan sementara.
Ya kesimpulan sementara. Karena dia sendiri juga belum faham mengenai jalan hidup yang ditempuhnya. Banyak hal yang telah direncakannya tidak dapat direalisir. Namun dibalik itu banyak pula hal hal yang tidak pernah dibayangkannya, eh tahu tahu muncul menjadi kenyataan. Dalam suatu perenungannya Thamrin pernah sampai pada suatu pengakuan bahwa hidup itu adalah suatu misteri. Entah betul entah tidak, Thamrin tidak tahu. Tetapi sepanjang yang dialaminya, dia bisa menyimpulkannya begitu. Termasuk dengan apa yang akan dia lakukan dan hadapi dalam beberapa pekan mendatang.
“Ibnu, bolehkah aku tahu bagaimana bunyi ayat yang teringat olehmu?”
Ibnu lalu mengambil mushafnya dari dalam ransel dan membaca Surat An-Naazi’at (79) ayat 37 – 39:
![]()
Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.
Mendengar lantunan ayat-ayat tersebut yang dibacakan Ibnu dengan fasih, dan setelah mendengarkan terjemahannya Thamrin pun termenung. Pantas saja Ibnu tadi diam begitu lama, tercekam dengan kandungan ayat yang teringat olehnya. Sepertinya ketiga ayat tersebut ditujukan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Mas”, kata Ibnu dengan suara yang berat, “Sebagai manusia, tidak ada seorangpun yang bisa luput dari berbuat salah. Namun orang-orang yang terus-terusan melakukan kesalahan, atau bahkan ada diantaranya yang sehari-hari berkubang dalam dosa dari kesalahan yang berulang-ulang dilakukannya, maka mereka termasuk dalam kelompok orang yang melampaui batas. Dan salah satunya adalah mantan atasan saya dulu. Yang dengan ringannya mengulang lagi perbuatannya menzholimi bawahannya, entah yang keberapa kalinya. Dan itu semua dia lakukan demi memperoleh imbalan materi, yang kalau ditilik benar benar, tidaklah seberapa. Tidak sebanding dengan apa yang harus dia korbankan untuk membayarnya.”
Mendengar penjelasan Ibnu, Thamrin semakin terpana. Dia melihat Ibnu, temannya yang dulu terpuruk akibat dizholimi, sekarang betul-betul telah berubah. Dia bisa melihat hikmah dibalik peristiwa yang terjadi. Sebelumnya dia menduga bahwa Ibnu akan senang mendengar orang yang menzholiminya kini harus membayar “utangnya”. Namun diluar dugaan, Ibnu justru melihat hikmah dibaliknya, secara obyektif. Dari komentar Ibnu barusan, Thamrin tidak melihat sedikitpun pendapat pribadi yang subyektif. Dia hanya mengemukakan kebenaran seperti yang dilihatnya dibalik peristiwa tersebut. Dia bisa mengacu kepada Al-Quran untuk memahami apa yang terjadi. “Dalam waktu dua tahun, Ibnu sudah mengalami transformasi diri yang begitu hebat”, gumam Thamrin dalam hatinya. Dia sekarang mempunyai mata hati yang jernih, sehingga dapat segera membaca pelajaran dari sesuatu yang dilihat dan didengarnya. “Oh, sesungguhnya saya yang harus memanggil dia Mas, bukan sebaliknya”, desah Thamrin dengan sedikit rasa malu.
“Ibnu. Terima kasih atas pandanganmu yang mengacu kepada kitab suci. Sebetulnya informasi tadi itu sudah harus saya sampaikan kepadamu beberapa waktu yang lalu. Tetapi kita belum ada kesempatan bertemu. Kini saya ingin menyampaikan informasi lain. Menyangkut diri saya” kata Thamrin.
Ibnu tersenyum sambil berkata “Silakan Mas. Saya juga ingin mengetahui bagaimana perkembangan keadaan Mas.”
“Terus terang Ibnu. Sewaktu kamu dulu mengundurkan diri saya merasa agak terpukul. Karena saya merasa kamu lebih satria, lebih konsekwen, dan lebih berprinsip. Saya juga mencium sesuatu yang tidak sedap. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tahu saat itu saya sedang mengikuti program S-2. Jadi saya masih sangat perlu pekerjaan untuk menunjangnya.”
Ibnu menimpali: “Ya Mas. Mas dulu juga pernah cerita kepada saya. Tapi kan sudah selesai semenjak tahun lalu?”
“Alhamdulillah, walau dengan sedikit susah payah. Tapi itulah poin nya. Semenjak selesai S-2 timbul masalah baru. Saya rasanya kepingin pulang kampung. Saya tidak ingin melanjutkan hidup di kota yang hingar bingar dan semrawut ini. Saya ingin menghindar untuk sementara.”
Ibnu kaget. Dia tidak menduga sama sekali kalau Mas Thamrin, setelah memperoleh ijazah S-2 malah ingin balik pulang kampung. Bukankah dengan modal ijazah tersebut, dia bisa memperoleh posisi yang lebih baik, atau bahkan mencari pekerjaan lain yang lebih baik? Tapi kini kok malah ingin pulang kampung. Hasrat ingin tahu Ibnu terpicu dan segera menukas: “Mas. Apa saya nggak salah dengar? Apa alasan Mas mau pulang?”
Thamrin tersenyum sambil menjawab: “Aneh ya, aku ini Ibnu. Orang dengan ijazah S-2 biasanya berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih baik, jabatan yang lebih tinggi, yang imbalannya lebih besar. Tetapi itulah Ibnu, masalahnya. Aku sudah tidak tahan dengan hidup seperti ini.”
Sejenak mereka berdua diam. Ibnu bisa memakluminya. Namun dia ingin menggali lebih lanjut, lalu bertanya: “Bisa diperjelas Mas?”
“Ibnu, aku merasa hidupku hampa tanpa makna. Setiap hari aku berangkat sehabis subuh. Pulangnya sehabis magrib. Kelelahan. Itu aku jalani setiap hari kerja. Akhir bulan terima gaji. Aku bayar semua tagihan dan aku sisihkan semua biaya yang diperlukan untuk menyambung hidup sebulan kedepan. Kemudian aku mulai lagi rutinitas tersebut. Begitulah dari bulan ke bulan. Apa yang aku peroleh?”
Ibnu diam mendengarkan dengan serius. Dia tidak ingin minimpali kata kata Thamrin. Dia ingin tahu lebih jauh apa yang sedang terjadi dalam diri temannya ini.
“Hanya satu yang saya peroleh Ibnu. Yaitu umurku semakin lanjut. Aku merasa hidupku bagaikan seekor binatang sirkus. Melakukan atraksi dengan baik, memperoleh tepuk tangan penonton, dan kemudian mendapat makan, dan kemudian masuk kandang. Dan selanjutnya menunggu masa tua untuk dipensiunkan dan digantikan dengan yang lebih muda.”
Setelah berhenti sejenak Thamrin kembali melanjutkan: “Sudah hampir satu tahun perasaan itu saya pendam. Tapi belakangan ini saya sudah tidak tahan lagi. Saya merasa hidup saya kering, hampa tanpa makna. Secara materi saya merasa cukup. Namun secara rohani saya mengalami kegersangan. Saya sepertinya belum menemukan jalur yang tepat dalam kehidupan saya. Saya tidak tahu hidupku ini sebetulnya untuk apa.”
Ibnu mendengarkan ungkapan isi hati temannya. Dia merasakan betapa Mas Thamrin juga sedang mengalami proses transformasi diri. Namun sampai memutuskan untuk berhenti kerja adalah diluar dugaannya. Karena dia mengetahui bahwa Mas Thamrin adalah orang yang pintar, “terpakai” dan dihormati banyak orang di kantor.
“Mas, bahwa hidup di kota yang hingar bingar ini menyesakkan, dan kadangkala menimbulkan kebosanan, saya bisa faham Mas. Tetapi kalau Mas sampai memutuskan untuk berhenti dan pulang kampung, apakah itu tidak berlebihan Mas?” tanya Ibnu.
Thamrin diam. Nampaknya dia agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan Ibnu. Pertanyaan yang sama juga berkecamuk dalam pikirannya sebelum sampai kepada keputusan akhir. Masalahnya kini adalah bagaimana menjelaskan proses pengambilan keputusannya kepada Ibnu. Karena itu Thamrin diam berpikir mencari kalimat yang tepat.
Akhirnya Thamrin menjawab: “Ibnu. Secara lahiriah saya setuju bahwa keputusan untuk berhenti dan pulang kampung adalah berlebihan. Namun setelah mempertimbangkan sisi terdalam dari permasalahan yang selama ini menggelisahkan, saya berkesimpulan bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Saya tidak melihat bahwa tanpa kehadiran saya, denyut kehidupan kota ini dan perusahaan tempat saya bekerja akan terhenti. Bilamana saya pergi, mereka akan jalan terus. Ada ratusan atau bahkan ribuan orang lain yang siap dan bisa menggantikan. Sementara itu saya bisa menempuh jalan yang lebih sesuai dengan kata hati. Yang lebih bermakna bagi kehidupan spiritualku. Sebelum terlambat. Sebelum saya hanyut lebih jauh dalam arus kehidupan yang gersang ini.”
Ibnu menyimak penjelasan Thamrin dengan penuh perhatian. Dia memahami kesulitan temannya itu dalam mencari kata kata untuk menjelaskan jalan pikirannya. Persis seperti yang pernah dialaminya sewaktu terjadi perjuangan batin dalam dirinya. Perjuangan diantara mengikuti pikiran logis dan dorongan ego untuk melawan kezholiman atas dirinya, dengan bisikan halus dalam hatinya yang menyuruh dia menyingkir dari situasi tersebut. Kalaulah pada waktu itu orang bertanya apa yang dia pikirkan, maka dia pun akan mengalami kesulitan untuk merumuskannya dengan kata-kata. Karena itu Ibnu mengalihkan pertanyaannya.
“Lalu, apa rencana Mas di kampung?”
“Ibnu, yang jelas saya akan menemani kedua orang tuaku yang sudah beranjak tua. Membantu mereka mengurus ladangnya. Kemudian pelan pelan akan saya pelajari apa yang bisa dilakukan. Mungkin membuka usaha, entah apa. Atau bahkan sangat mungkin akan mengajar di madrasah yang ada di kampungku. Dulu memang mereka pernah minta aku untuk membantu mengurus dan mengajar.”
Ibnu diam lagi. Dia merasakan bahwa yang akan dilakukan oleh Mas Thamrin bukanlah suatu “kenekatan”. Setidak-tidaknya dia mempunyai orang tua. Dia bisa berkhidmat kepada mereka. Dan orang tuanya mempunyai sawah ladang. Dia bisa ikut membantu mengolahnya. Bahkan ada sekolah yang membutuhkan bantuannya. Artinya untuk kebutuhan hidup sehari-hari tidaklah akan kesulitan. Dan dengan sedikit perjuangan, dia yakin, Mas Thamrin akan menemukan kegiatan produktif yang bermanfaat, tanpa harus mengorbankan kehidupan spiritualnya.
Pada sisi lain, Mas Thamrin insyaallah akan menemukan pula jalan rohani yang tidak gersang. Yang sesuai dengan kata hatinya. Dan siapa tahu dia akan bertemu pula dengan seorang guru yang akan membimbingnya. Bukankah kalau murid sudah siap, guru akan datang sendiri.
“Ibnu. Itulah sedikit mengenai diriku. Aku sudah mantap, untuk sementara akan menata hidupku di desa. Kalau toh nanti jalan hidup membawaku lagi ke kota, insyaallah aku sudah akan lebih siap secara rohani. Nah sebentar lagi waktu ashar akan masuk. Marilah kita bersiap. Kita shalat di masjid. Setelah itu akan saya bonceng kamu ke terminal. Agar bisa segera sampai di rumahmu sebelum maghrib.”
“O ya ada satu lagi Ibnu. Sebelum berangkat meninggalkan kota ini, saya ingin bertemu dengan Buya Nur. Untuk berkenalan dan meminta nasehat beliau. Bisakah kamu mengaturnya?”
“Insyaallah Mas. Kasi tahu saya kapan Mas siap untuk bertemu beliau. Nanti akan saya sampaikan dan mohon kesediaan beliau.”
“Alhamdulillah. Baik. Ayo silakan kamu berwudhuk duluan.”
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara mua’azzin mengumandangkan ‘azan. Kedua sahabat itu terlihat berboncengan menuju masjid.
Syahril Bermawan.
*) Foto diambil dari http://zulfadli.files.wordpress.com/2008/02/padang-pariaman-1.jpg











