(14) ANNOYANCES ALONG THE ROAD

Posted on 23 June 2010 by Syahril Bermawan

Siang itu udara sangat panas. Matahari tidak kelihatan karena tertutup awan tebal. Namun suhu udara terasa panas menyesak. Ibnu bergegas turun dari angkot dan berjalan menuju pangkalan bus.

Mimpi yang dialaminya dua hari yang lalu sangat mengusiknya. Hampir setiap saat suara pertanyaan yang sama terngiang di telinganya berulang-ulang: “Aku tidak setolol yang kamu duga. Aku tahu namamu Ibnu. Aku bukan bertanya siapa namamu. Aku bertanya siapa kamu. Ibnu adalah namamu. Apakah menurutmu engkau adalah Ibnu? Apakah menurutmu Ibnu adalah engkau? Samakah nama dengan yang dinamakan?”

Setiap kali suara tersebut terngiang di telinganya, Ibnu merasakan ada sesuatu yang menyesak dalam dadanya. Dia sangat ingin segera bertemu dengan Buya Nur dan menceritakan mimpinya. Tetapi jadwal pertemuan dengan Buya masih dua hari lagi. Untuk sekadar mengurangi kegelisahannya Ibnu memutuskan untuk memenuhi undangan seorang temannya. Katanya ada diskusi kecil. Sebetulnya Ibnu tidak begitu tertarik untuk kumpul-kumpul yang belum jelas tujuannya. Tetapi kali ini dia ingin ikut, hitung-hitung untuk bersilaturrahim, dan untuk sekadar menghibur diri.

Terminal sangat ramai. Orang banyak berseliweran, dengan gaya jalannya masing masing. Ada yang bergegas sepertinya mengejar sesuatu. Ada yang berjalan pelan bergerombol seolah tidak perduli dengan orang lain yang terganggu karena terhambat jalan mereka yang santai.

Setelah melewati kerumunan orang yang lalu lalang Ibnu sampai di tempat pangkalan bus. Ia kini harus menunggu. Setelah hampir setengah jam berdiri menanti, bus yang ditunggunya masih belum muncul. Sementara itu terminal semakin ramai. Banyak orang hilir mudik. Masing masing dengan tujuannya, yang entah kemana dan untuk apa. Ibnu sempat berpikir, mau kemana saja anak manusia sedemikian banyak. Kemana tujuan mereka dan apa yang mereka cari?

Karena sudah capek berdiri, Ibnu mencoba mencari tempat duduk, namun tidak ada yang kosong. Semuanya penuh terisi. Di pojok terminal, Ibnu melihat seorang kakek yang duduk dilantai bersandar ke tiang terminal, sambil memegang botol air minum. Didepannya terletak sebuah tas yang sudah lusuh. Wajahnya menampakkan kelelahan. Ibnu menduga si kakek tentunya mau pergi jauh, ke luar kota. Atau malah barangkali baru datang. Sudah berapa lamakah si kakek menunggu?

Tidak jauh dari tempat si kakek itu terlihat sekumpulan anak muda duduk di bangku terminal. Mereka lagi asyik bercengkerama yang diselingi ketawa keras. Satu diantara mereka sedang asyik memakai hand phone. Sepertinya sedang mengirim sms. Dilihat dari tampangnya usia mereka masih belasan atau paling-paling diawal duapuluhan. Mungkin siswa SMU atau mahasiswa tahun pertama, pikir Ibnu.

Hiruk pikuk terminal semakin bertambah dengan lewatnya para pengasong dan pengamen. Di beberapa tempat juga terlihat para pedagang kaki lima sedang menunggui dagangannya. Ibnu bertanya dalam hatinya “Berapakah diantara orang yang ada di terminal ini merupakan calon penumpang?” Menurut perkiraan kasar Ibnu tidak kurang dari sepertiga orang yang memadati terminal, sesungguhnya bukan calon penumpang. “Apa kepentingan mereka berada disini?”

Itulah pertanyaan yang sulit dijawab. Ingin rasanya Ibnu melakukan suatu research kecil, untuk menjawab pertanyaan “apa tujuan keberadaan mereka disini”. Kemudian “mau kemana mereka, dan apa maksud perjalanan mereka?” Namun Ibnu sadar itu terlalu mengada-ada. Kalaulah mereka tidak ada keperluan, ya tentunya mereka tidak akan berada disini. Hanya bikin padat saja. Begitu juga dengan bus. Kenapa terlambat? Sehingga calon penumpang semakin menumpuk. Kalaulah bus datang tepat waktu, tentunya suasana terminal tidak akan sepadat ini.

Hiruk pikuk terminal terus berlanjut, tidak hirau dengan jalan pikiran Ibnu. Bus dan angkot masih terus mencari cari celah keluar dari keramaian terminal. Para kenek bagaikan tak bosan bosannya meneriakkan tujuan mereka. Penumpang naik turun dengan tujuannya masing-masing. Pengamen dengan rajin terus memetik gitarnya. Para pengasong bagaikan tak mau berhenti berkeliling dan menawarkan dagangannya. Suara petugas melalui pengeras suara seakan merupakan bagian tak terpisahkan dari hiruk pikuk terminal. Maksudnya untuk mengatur antrian bus dan angkot. Tetapi, ditengah hiruk pikuk seperti itu siapakah yang mendengarnya?

Masing masing sibuk dengan kegiatannya. Bagaikan sudah diprogram untuk melakukan itu semuanya. Dan tidak ada yang hirau dengan urusan orang lain. Ya, mereka seolah sudah diprogram untuk itu semua. Ibnu pun seperti ikut dalam arus program itu. “Apa urusan saya ingin menilai keberadaan orang di tempat di mana mereka berada?”, pikirnya.

Akhirnya bus yang akan ditumpangi Ibnu datang juga. Calon penumpang berebutan naik. Tua muda, lelaki perempuan, campur baur berebut naik. Semuanya bagaikan orang kesurupan sehingga tidak lagi menghiraukan keselamatan orang lain; bahkan keselamatan dirinya sendiri. Yang penting dapat masuk bus, dan terangkut. “Ah, andaikan terminal ini ditata dengan baik. Andaikan jadwal bus teratur dan tidak terlambat. Andaikan masing masing orang bisa lebih santun dan menghormati calon penumpang lainnya. Andaikan ……..”, Ibnu membatin dengan perasaan sedih. Dia sedih melihat suasana kacau balau dan hingar bingar itu. Dalam hatinya dia merasakan betapa harkat diri, budaya, adab, sopan santun, sama sekali tidak mencerminkan akhlak yang Islami.

Ketidak teraturan itu berlanjut. Di sepanjang perjalanan Ibnu melihat kenyataan betapa semrawutnya. Bus berenti seenaknya. Penumpang yang mau turun, dan calon penumpang yang mau naik hampir di setiap jengkal perjalanan, sehingga bus seringkali berhenti. Berhenti pada tempat yang seharusnya tidak boleh berhenti itu sangat mengganggu kendaraan lain. Sehingga semakin menambah kemacetan lalu lintas yang padat.

Ibnu sempat berpikir, berapa ribu kendaraan berjalan tersendat. Berapa banyak bahan bakar yang habis percuma, dan berapa banyak waktu masyarakat yang terbuang percuma. Bukankah itu suatu pemborosan? Ya, semuanya menimbulkan pemborosan. Pemborosan energi, pemborosan tenaga penumpang, pemborosan tenaga pengemudi, pemborosan waktu, pemborosan usia kendaraan, dan lainnya. Dan pemborosan itu adalah suatu kemubaziran. Sampai disini Ibnu teringat dengan ayat 27 dalam Surat Al-Israa’:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan. Dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al-Israa’; 17 : 27)

Ibnu merinding. Apakah semua orang yang terlibat dalam pemborosan ini, yang menyebabkan timbulnya pemborosan ini, yang bertanggung jawab atas terjadinya kemubaziran ini, dan yang membiarkan terjadinya, apakah mereka semua saudara-saudaranya syaitan?

Ibnu tidak berani menjawab pertanyaan tersebut. Namun didalam hati dia merasakan betapa Allah sangat pengasih dan penyayang, dengan memberikan peringatan. Hanya saja manusia yang tidak sadar atas kelakuannya. Manusia yang merasa dirinya hebat, yang merasa dirinya pintar, yang merasa dirinya mempunyai pangkat, kekuasaan dan jabatan, ternyata tidak mampu mengatasi dan mencegah pemborosan ini. Mereka telah mensia siakan sumber daya yang diberikan Allah. Dan kesia siaan itu adalah suatu bentuk keingkaran. Namun mereka tidak sadar. Dan mereka juga tidak sadar, bahwa dengan begitu berarti mereka membiarkan diri mereka menjadi saudara saudaranya syaitan. Atau barangkali mereka tidak perduli. “Ah, mana ada dizaman sekarang, orang yang perduli dengan hal-hal seperti ini”, pikir Ibnu dengan pessimis.

Ibnu merenung lebih dalam. Kalau begitu masyarakat yang pemboros ini adalah saudaranya syaitan. Pantasan perilakunya juga tidak menunjukkan akhlak yang baik. Bukankah menghormati dan melindungi kaum perempuan merupakan perilaku terpuji? Dikalangan masyarakat barat ada ungkapan yang mengatakan “lady first”. Artinya ini ungkapan penghormatan kepada kaum perempuan dengan mendahulukan mereka dalam segala urusan. Tetapi di terminal, di atas bus, di atas kereta api, apakah masyarakat mendahulukan perempuan? Betapa banyak kaum perempuan yang berdiri dan berdempet dempetan dengan kaum lelaki di dalam bus dan kereta api yang padat sesak dengan penumpang? Berapa banyak lelaki dan bahkan anak muda yang dengan santainya duduk padahal di depannya ada seorang perempuan atau orang tua yang untuk berdiri saja kesulitan? Bahkan tidak jarang kaum perempuan dijadikan sasaran kejahilan, sasaran pelecehan, di tengah-tengah kepadatan penumpang. Dan sudah barang tentu pencopet akan semakin mudah beroperasi.

Ibnu semakin takut. Betapa tidak. Karena ternyata orang-orang yang merasa dirinya ‘alim, orang-orang yang merasa dirinya shaleh, juga tidak mampu menyadarkan mereka yang bertanggung jawab atas terjadinya pemborosan tersebut. Sehingga pemborosan terjadi terus menerus, bagaikan sesuatu yang memang sudah seharusnya begitu. Padahal pemborosan adalah merupakan salah satu bentuk keingkaran, salah satu bentuk kekufuran.

Tapi betulkah itu hanya pemborosan? Ibnu tiba tiba berpikir bahwa semua kesemrawutan di terminal dan di jalan raya, bukan hanya sekadar pemborosan. Bahkan itu adalah suatu kezholiman. Ya, berapa banyak orang-orang yang tidak berdaya, yang harus mempergunakan fasilitas umum dalam usahanya untuk mencari nafkah, telah terzholimi?

Kalaulah ditanya para pengguna fasilitas angkutan, dan para pengguna jalan raya apakah mereka senang dengan keadaan demikian, tentulah jawaban mereka “tidak”. Siapakah orang yang suka dengan suasana padat, semrawut dan macet? Bahkan para sopir angkutan umum, yang seringkali dituduh sebagai penyebab kemacetan, mereka pun juga tidak mau. Mereka melakukan itu karena suatu keterpaksaan. Tidak ada pilihan lain. Mereka semuanya adalah korban dari suatu sistem pelayanan umum yang tidak tertata dengan baik.

Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab atas keadaan yang sangat tidak menyenangkan ini? Gubernur? Dirjen? Menteri? Atau barangkali Presiden? Ibnu tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab. Tetapi di dalam hatinya dia meyakini, bahwa para pemimpin harus bertanggung jawab, dan pasti akan mempertanggung jawabkan segala sesuatunya kelak. Bukankah setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban? Cuma kalau mau ditanya lebih jauh, siapakah pemimpin itu? Barangkali tidak ada yang bisa menunjuk orangnya. Atau barangkali orang yang ditunjuk akan mengelak, dan berlepas tangan. Bukankah ini merupakan hal yang lumrah dalam suatu birokrasi? Ah, Ibnu semakin pusing.

Mungkin karena terlalu asyik dengan pikiran dan perasaannya, tahu-tahu, Ibnu sudah sampai di tujuannya. Ibnu turun dari bus, dan berjalan menuju gang diseberang jalan, ke tempat kos teman lamanya Thamrin. Thamrin tidak lebih tua. Namun Ibnu memanggilnya dengan mas, karena cara berpikir dan bersikapnya yang lebih dewasa dari dirinya. Sikap Mas Thamrin yang menunjukkan kematangan itu membuat Ibnu merasa harus menghormatinya lebih dari sebagai teman.

Ibnu kenal dengan Thamrin sewaktu bekerja tempo hari di kantor yang sama. Setelah akhirnya Ibnu memutuskan untuk keluar, berhenti bekerja, mereka masih tetap berteman baik. Ibnu sering datang ketempat kosnya Thamrin, apakah untuk sekadar ngobrol biasa, atau untuk berdiskusi. Memasng menurut Ibnu, Thamrin adalah teman diskusi yang baik. Dia banyak belajar dan mendapatkan kearifan dari Mas Thamrin.

Setelah mengucapkan salam, Ibnu minta maaf atas keterlambatannya. Thamrin tersenyum sambil berkata “Alhamdulillah kamu bisa datang. Rasanya sudah lama kita tidak bertemu muka. Engkau sekarang kelihatan jauh lebih segar Ibnu” kata Thamrin. Ibnu tersenyum juga. Dia tahu Thamrin adalah orang yang sangat sopan dalam pergaulan. Ibnu mengetahui bahwa kata-katanya barusan tidak lain adalah suatu basa basi.

“Ya, Mas. Tapi mohon maaf. Saya belum shalat zhuhur. Busnya datang terlambat, dan di jalan macet sekali.”

“Silakan Ibnu. Kamu berwudhuk dan shalat dulu. Sementara itu saya akan ke warung di depan untuk beli nasi bungkus. Kamu pasti juga belum makan siang. Kita makan nasi bungkus bersama ya”, kata Mas Thamrin sambil bersiap untuk pergi membeli makanan.

Ibnu ke kamar mandi mengambil wudhuk. Kemudian dia melakukan shalat zhuhur. Selesai shalat Ibnu masih menyempatkan diri untuk sejenak bertafakkur. Dalam tafakkurnya, Ibnu teringat dengan ayat 43 dan 44 Surat Al-Furqan (25):

 

Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.

Ibnu larut dalam tafakurnya. Namun sesaat kemudian Thamrin kembali. Mereka pun makan berdua di ruang depan. Tempat kos itu punya dua ruangan, satu ruangan tidur dan satu lagi ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu. Kecil dan sederhana tetapi fungsional. Di belakang ada kamar mandi dan wc serta ruangan sempit yang difungsikan sebagai dapur.

“Ibnu, saya minta maaf. Satu orang lagi teman yang saya ajak datang kesini tidak bisa hadir, karena sedang keluar kota. Jadi kita santai saja”, kata Thamrin. Ibnu pun mengangguk. Lalu kedua teman lama itu pun makan siang bersama sambil ngobrol. (Obrolan Ibnu dan Thamrin akan dilanjutkan di episode mendatang)

Syahril Bermawan.

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 457752Total dibaca:
  • 234273Total pengunjung:
  • 49Pengunjung hari ini: