Categorized | Artikel Islami

MENJADI ’ABDAN SYAKURA

Posted on 19 May 2010 by Syahril Bermawan


“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang”. (An-Nahl; 16 : 18)

Mengingat bahwa nikmat Allah itu tidak berhingga, maka manusia tidak akan pernah bisa cukup bersyukur karena memang kodrat kita sebagai makhluk adalah terbatas dalam segala hal. Namun Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Sebagai contoh betapa seringnya kila lupa (atau melupakan) nikmat Allah marilah sama-sama kita renungkan beberapa penggal waktu dalam hidup keseharian kita sebagai berikut:

´ Ketika pagi hari kita terbangun dan membuka mata; sepantasnya kita bersyukur karena mata bisa terbuka. Bagaimana kalau mata tidak bisa dibuka? Na’uzubillah,

´ Ketika mata telah terbuka dan kita bangkit duduk; sepantasnyalah kita bersyukur karena bisa duduk. Bagaimana kalau kita tidak bisa duduk? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita berdiri; sepantasnyalah kita bersyukur karena bisa berdiri. Bagaimana kalau kita tidak bisa berdiri? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita berjalan ke kamar mandi; sepantasnyalah kita bersyukur karena bisa melangkah. Bagaimana kalau kaki tidak bisa dilangkahkan? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita (maaf) buang air; sepantasnyalah kita bersyukur karena bisa melakukannya. Bagaimana kalau Allah menahannya? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita mandi; sepantasnyalah kita bersyukur. Bagaimana kalau air ditahan oleh Allah? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita berwudhuk dan shalat; sepantasnyalah kita bersyukur. Bagaimana kalau iman dan hidayah dicabut oleh Allah dan tidak dapat melakukan shalat? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita sarapan; sepantasnyalah kita bersyukur. Bagaimana kalau Allah menahan rezqi pagi itu? Na’uzubillah,

´ Kemudian kita berangkat mencari nafkah; melakukan kegiatan sehari hari, sampai sore bahkan sampai malam. Dan disetiap saat kita senantiasa memperoleh nikmat dari Allah.

´ Bahkan keberadaan kita di masjid menunaikan shalat berjamaah, dan mengikuti majelis taklimpun sesungguhnya adalah nikmat Allah.

Itu hanyalah sekelumit kecil dari nikmat Allah yang kita sering tidak ingat bahwa semuanya itu adalah nikmat-Nya, sehingga tidak bersyukur. Masih banyak lagi, dan sungguh tidak mungkin bisa dihitung. Bagaimana kalau udara menjadi tipis sehingga O2 tidak cukup tersedia? Bagaimana kalau minyak bumi mengalir seperti sungai bukannya disimpan oleh Allah dalam bumi?

Sungguh benar apa yang telah dikatakan Allah dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhan-nya”
(Al-‘Aadiyah; 100 : 6)


“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’; 17 : 67)

Mengingat itu semua sudah seharusnya kita malu. Allah sampai mengulang-ulang pertanyaan sebanyak 31 kali dalam Surat Arrahman (surat ke 55):

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Sekarang permasalahannnya adalah ”Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi ‘abdan syakura (hamba yang pandai bersyukur)?”

Marilah kita cermati pendapat para ulama sebagai berikut:

´ Selalu mengingat dan menyadari sepenuhnya dalam hati bahwa semua nikmat itu semata-mata anugerah Allah,

´ Selalu melantunkan ucapan pujian kepada Allah yang telah memberikan nikmat-Nya,

´ Senantiasa mempergunakan nikmat-nikmat Allah semata-mata hanya untuk kebaikan dan kethaatan, bukannya untuk keingkaran dan kemaksiatan.

Akhirnya marilah kita semua sama-sama merenungkan ayat berikut ini:


Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Luqman;  31 : 12)

Semoga kita dimasukkan oleh Allah kedalam golongan orang orang yang pandai dan selalu bersyukur. (SYB)

*) Foto asli diambil dari http://media.photobucket.com/image/nikmat%20allah/songgojiwo/doa.jpg

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 459504Total dibaca:
  • 235631Total pengunjung:
  • 234Pengunjung hari ini: