Hampir semua orang merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat. Tahu-tahu sudah sepekan semenjak Ibnu bertemu dengan Buya Nur. Memang, waktu adalah bagaikan pedang. Malam ini, Ibnu kembali berada di Musholla Buya Nur. Ibnu sebetulnya agak sedikit risau. Karena dia belum selesai menyelami kedalaman makna Surat Al-Qashash (28) ayat 77. Beberapa hari yang lalu dia memahami ada tujuh butir kandungan ayat tersebut.
Waktu itu Ibnu baru merenungkan butir nomor enam. Padahal Ibnu tahu bahwa ketujuh butir kandungan ayat itu adalah merupakan satu kesatuan yang sarat makna. Malam ini Ibnu bermaksud untuk meminta Buya menguraikan satu demi satu ketujuh butir tersebut.
Namun sewaktu Buya Nur datang dan duduk mengambil tempat, beliau langsung memberi salam dan mengajukan pertanyaan. “Ibnu”, kata Buya Nur memulai sambil menatapnya dalam-dalam. Tatapan inilah yang membuat Ibnu selalu merasa kecil di hadapan gurunya. Walaupun tatapan itu dilakukan beliau dengan senyum lembut, namun Ibnu merasa bahwa dirinya sedang dibaca oleh gurunya. Ya, sinar mata Buya bagikan sinar rontgen yang menembus diri Ibnu. “Saya ingin kamu menjawab beberapa pertanyaan”, lanjut Buya.
Ibnu terkesiap, kaget. Jangankan ditanya, untuk mengajukan pertanyaan saja dia belum tahu apa yang harus ditanyakan. “Baik Buya”, jawab Ibnu dengan sedikit gugup.
“Pernahkan engkau makan di Restoran Padang?” tanya Buya.
Ibnu bertambah kaget. Pertanyaan Buya betul-betul di luar perkiraannya. ”Pertanyaan macam apa pula ini“, gumamnya. ”Apakah maksud Buya dengan pertanyaan ini? Apakah beliau ingin dibawakan nasi padang? Atau barangkali beliau akan mengajak saya makan di restoran padang?“, begitulah yang muncul dalam benak Ibnu. Namun dia segera mengendalikan diri dan menjawab: ”Pernah Buya. Bahkan sering.“ Memang nasi padang adalah salah satu makanan kesukaan Ibnu. Dia paling senang dengan ayam gulai dan rendang. Kalau Buya mau tahu dimana restoran padang kesukaannya, Ibnu akan serta merta bisa menyebutkan dua tiga tempat.
”Makanan apa yang paling engkau sukai Ibnu?“, tanya Buya lebih lanjut.
”Ayam gulai dan rendang Buya.“
“Tahukah kamu kenapa ayam gulai atau rendang itu enak?”
Wah, malam ini betul-betul istimewa. Selama ini belum pernah Buya membicarakan soal makanan. Ibnu tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Buya. Dia sempat mengira bahwa Buya lagi kepingin nasi padang. Ya nasi padang. Siapa sih yang tidak tahu keenakan masakan padang. Dan mudah ditemukan dimana-mana. Tapi agaknya tidaklah mungkin itu yang menjadi maksud dan arah pembicaraan Buya. Karena itu Ibnu menahan diri, dan menjawab dengan lugu: “Karena yang memasaknya pintar Buya.”
”Ápa yang kamu maksud dengan itu?”, tanya Buya.
“Maksud saya, yang memasaknya sudah biasa. Juru masaknya memang ahli masakan padang dan sudah berpengalaman. Sudah terampil meracik bumbu. Sehingga masakannya enak”, jawab Ibnu berlogika.
Buya Nur diam. Ibnu pun diam. Dia mengira jawabannya tidak berkenan di hati Buya. Tapi dia harus menjawab apa lagi. Bahkan sampai detik ini, Ibnu pun masih belum tahu apa maksud dan kemana arah pembicaraan Buya. Tapi Ibnu yakin bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan beliau. Mana pernah gurunya mengatakan sesuatu yang tidak penting?
Buya memang pintar membuat analogi. Dengan caranya itu pelajaran yang rumit dibikin mudah oleh Buya. Karena pikiran pendengarnya diarahkan dan dipersiapkan terlebih dahulu dengan analogi analogi sederhana. Dalam hal ini beliau telah betul-betul mengamalkan ”yassir wa laa tuassir“. Mudahkan jangan dipersulit. Inilah yang sekarang jarang diamalkan orang. Bahkan ada sindiran yang kecut dengan ungkapan “kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah“.
Sejenak Ibnu teringat masa masa di bangku kuliah. Ibnu berjumpa dengan beberapa dosen yang nampaknya bangga kalau kuliahnya sulit dimengerti oleh para mahasiswa. Kalau ada pertanyaan dari mahasiswa, dengan angkuh sang dosen menjawab “Masak yang begitu saja kelian tidak mengerti? Coba dipikirkan lagi.“ Sang dosen bukannya membuat mudah kerumitan materi yang diajarkan, melainkan malah sepertinya membiarkan. Sang dosen merasa dirinya hebat, merasa lebih pintar, di tengah-tengah ketidak mengertian mahasiswanya.
Setelah keduanya cukup lama berada dalam diam, Buya kembali memulai pembicaraan. ”Ibnu, simak dengan baik-baik apa yang akan saya sampaikan. Kelihatannya masalah sepele. Tetapi jangan kamu anggap enteng, karena contoh yang kita bicarakan tadi mengandung butir butir pembelajaran yang penuh hikmah.“
Ibnu mengangguk dengan tidak bersuara. Dia berusaha mempersiapkan otak dan hati nya untuk mendengar pelajaran yang akan disampaikan Buya. Sebagaimana biasanya, Ibnu yakin bahwa apa yang akan disampaikan Buya pastilah sesuatu yang sangat bernilai.
”Ibnu, ayam gulai atau rendang atau masakan apa saja, terasa enak di lidah karena masing-masing bumbu ditakar oleh juru masaknya dengan pas. Cabe itu pedas, namun gurih dan membikin masakan jadi enak. Tapi kalau kebanyakan maka keseluruhan masakan akan terasa sangat pedas. Garam itu asin. Namun dalam takaran yang pas justru akan membuat keseluruhan masakan terasa enak. Tapi kalau kebanyakan garam, maka keseluruhan masakan akan terasa asin.“
Buya Nur kembali diam. Beliau menghirup sorbatnya. Setelah diam beberapa saat lagi Buya Nur melanjutkan: ”Begitu juga dengan bumbu-bumbu lainnya, Ibnu. Semuanya ada fungsinya dalam mewujudkan masakan yang enak. Namun semuanya itu berkontribusi dalam takaran yang pas. Garam memang asin. Namun garam harus tahu diri jangan sampai mengasinkan keseluruhan masakan. Begitu juga dengan cabe. Cabe memang pedas. Namun cabe harus tahu diri jangan sampai membikin pedas keseluruhan masakan.“
Ibnu diam mendengarkan petuah gurunya, sembari berpikir. Lalu Ibnu mengajukan pertanyaan. ”Maaf Buya. Garam, dan cabe, dan bumbu lainnya kan hanya sebagai obyek. Yang menakar penggunaannya adalah juru masak. Jadi kalau masakan keasinan karena garamnya kebanyakan, itu toh bukan salahnya garam. Juru masaknyalah yang bertanggung jawab. Apakah begitu Buya?“, tanya Ibnu.
Dengan tenang Buya Nur menjawab: ”Ibnu. Itulah maksudku memberikan contoh. Masing-masing bumbu mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Untuk membuat masakan yang lezat, juru masak harus tahu berapa takaran masing-masing bumbu, sehingga secara keseluruhan masakan akan terasa lezat.“
Buya Nur kembali diam. Kelihatannya beliau sedang memikirkan lanjutan jawaban yang akan disampaikannya. Ibnu segera merasa bahwa inti sari pelajaran malam ini segera akan disampaikan oleh Buya Nur. Ini adalah bagian yang paling disukai Ibnu. Menunggu saat-saat Buya akan menyampaikan inti sari pengajarannya, membuat adrenalin Ibnu terpacu. Dia merasa excited. Karena itu Ibnu pun diam, mempersiapkan seluruh syarafnya. Bagaikan seekor kucing yang diam merunduk, mempersiapkan dirinya untuk melompat menerkam mangsanya. Penuh konsentrasi.
”Ibnu. Dalam pergaulan sehari-hari, kita ini adalah bagaikan juru masak. Dalam diri setiap individu ada berbagai macam sifat, baik yang asin, yang asam, maupun yang pedas. Marah, berani, takut, malu, iri, dan lainnya adalah sifat yang secara alami ada pada setiap orang. Bahkan ada juga sifat yang tidak diperkenankan seperti tamak dan curang. Semua sifat itu memang diberikan Allah kepada semua orang untuk dipergunakan dimana perlu sesuai dengan takaran yang pas. Kitalah yang harus mengelola dan menakar semua sifat itu.“
Sampai disitu Buya berhenti dan kembali menghirup minumannya. Kemudian beliau melanjutkan: ”Tergantung pada situasi, maka kita, ibarat juru masak, akan mempergunakan sifat yang mana dengan takaran berapa. Pada situasi dimana kita harus marah, maka kita harus marah. Namun dengan takaran yang pas, tidak berlebihan, sehingga tidak sampai pada taraf mengamuk. Pada situasi dimana kita harus berani, maka kita harus memunculkan sifat berani. Namun juga harus dalam takaran yang pas sehingga tidak nekad. Demikian juga pada situasi dimana kita harus takut. Sudah sepantasnya memunculkan sifat takut dalam takaran yang sesuai. Bilamana dalam segala situasi kita selalu merasa takut dan takut, maka itu menjadi berlebihan sehingga akan membuat kita menjadi pengecut. Begitu juga dengan sifat malu. Boleh dan bahkan mesti jadi pemalu dalam situasi yang memerlukannya. Namun jangan sampai berlebihan sehingga berubah menjadi rendah diri, dan tidak berani tampil.“
Ibnu menyimak penjelasan gurunya sambil mengangguk angguk pelan. Dia bisa menangkap maksud penjelasan beliau. Tetapi ada satu hal yang mengganjal. Dan itu ingin ditanyakannya kepada Buya. Namun dia akan menunggu saat yang tepat untuk bertanya. Siapa tahu Buya masih akan menambah penjelasannya.
Sementara itu Buya Nur kembali diam. Dua tiga kali beliau menghirup minumannya. Bunyi suara seruputan bibir buya itu sangat khas. Jelas betul bahwa Buya sangat menikmatinya.
Setelah merenung sejenak, Buya Nur melanjutkan: “Ibnu, saya kira engkau akan bertanya, apa yang menjadi tolok ukur bagi takaran yang pas. Kapan harus marah dan seberapa marah. Begitu juga dengan yang lainnya, kapan dan seberapa jauh sifat tersebut dimunculkan.”
Dengan tenang dan mantap Ibnu menjawab: “Betul Buya. Itulah yang barusan ingin saya tanyakan. Mohon penjelasan Buya.”
“Begini Ibnu. Tidak ada tolok ukur untuk setiap situasi. Namun ada tolok ukur umum yang dapat kita pergunakan dalam segala situasi. Tolok ukur umum itu adalah akhlak. Atau lebih tepatnya akhlaqulkariimah, akhlak yang baik. Dan inilah yang diajarkan oleh Islam. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Bahkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sendiri pernah bersabda bahwa tidaklah beliau diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Pernyataan beliau itu tidaklah berlebihan, karena Allah pun menegaskan bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memiliki akhlak yang agung.”
Buya Nur diam sejenak. Kemudian membacakan Surat Al-Qalam (68) ayat 4:
![]()
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang luhur.
“Ibnu, bilamana Allah sudah memberikan penegasan bahwa Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang yang berakhlak yang agung, maka apakah kita masih akan mencari tauladan yang lain selain beliau?”
Ibnu mengangguk angguk kecil. Dia faham apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Dia kemudian pelan pelan melafalkan Surat Al-Ahzab (33) ayat 21:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
Buya Nur sejenak memandang jauh keluar musholla. Ibnu pun diam. Beberapa saat kemudian, Buya Nur melanjutkan: ”Ibnu, kita manusia terlahir secara alami mengandung berbagai macam sifat, yang baik maupun yang buruk. Ada berani dan takut, ada pemaaf dan pemarah, ada pemurah dan kikir, ada adil dan zholim, ada amanah dan khianat, ada tawadhuk dan sombong, dan lain-lainnya. Itu adalah sesuatu yang alami, sunnatullah.“
Ibnu diam menyimak. Dari luar udara malam yang dingin mulai merembes masuk kedalam musholla. Pikiran Ibnu berkelana. Dia melihat orang-orang dengan berbagai macam sifat yang menonjol. Ada yang kikir, namun pada waktu waktu tertentu menjadi pemurah, cepat mengulurkan tangan memberikan bantuan. Ada yang pemaaf, tetapi pada waktu waktu tertentu menjadi pemarah. Ada lagi yang selama ini dikenal penakut, pada waktu tertentu malah menjadi pemberani. Ini menunjukkan bahwa kedua macam sifat yang saling berlawanan itu, yang baik dan buruk, memang ada pada diri setiap orang. “Kalau begitu”, gumam Ibnu pelan, “lalu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki akhlak?”
Seolah olah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Ibnu, Buya berkata: “Ibnu, apa yang terlintas dalam pikiranmu adalah benar. Semua sifat, yang baik maupun yang buruk ada dalam diri setiap orang. Seseorang dikatakan berakhlak baik kalau yang menonjol dalam kesehariannya adalah kebaikan. Sebaliknya seseorang dikatakan berakhlak buruk kalau dalam kesehariannya yang menonjol adalah perilaku buruk. Kedua kutub ini akan selalu saling tarik menarik, dan ingin selalu muncul kepermukaan. Karena itu kita harus berusaha mengendalikannya. Nah inilah yang berat.”
Buya Nur diam sejenak. Ibnu menyadai kebenaran yang baru diucapkan oleh gurunya. Dalam dirinya Ibnu senantiasa mengalami perjuangan tarik menarik tersebut. Kadang kadang dia menyerah terhadap tarikan keburukan. Namun di lain kali dia bisa mempertahankan tarikan kebaikan. Suatu pertarungan yang terus menerus dan berkelanjutan.
”Ibnu“, lanjut Buya, ”tugas kita, dalam rangka memperbaiki akhlak, adalah senantiasa berusaha untuk mereduksi sifat buruk, dan menggantikannya dengan yang lebih baik. Dan hal ini tidak mudah.“
Buya berhenti untuk menghirup minumannya. Setelah menarik nafas yang dalam, sangat dalam dan panjang, pelan pelan Buya melanjutkan: ”Ibnu, usaha untuk mereduksi sifat sifat buruk dalam rangka memperbaiki akhlak itu, oleh para ulama terdahulu disebut sebagai tazkiyatun-nafs. Dan tazkiyatun-nafs yang terbaik adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, yaitu yang berlandaskan kepada iman dan taqwa.“
Setelah diam sejenak, tiba-tiba Buya melanjutkan dengan suara yang lebih tinggi, dan dengan wajah yang kelihatan sangat serius: ”Ibnu, inilah masalah yang menghimpit kita. Kita ribut membicarakan dan membahas kerusakan akhlaq ditengah-tengah masyarakat. Tetapi kita sepertinya melupakan sumber ajaran utama akhlak yang baik, yaitu Al-Quran. Dan kita sepertinya lupa bahwa contoh yang terbaik adalah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Kita sering lupa bahwa Islam adalah suatu jalan, suatu metode, suatu ajaran, yang komprehensif. Bukan hanya terbatas pada hal-hal ritual dan ibadah mahdah, tetapi juga mencakup keseluruhan aspek kehidupan bermasyarakat. Betapa banyak kita lihat, orang yang mengaku sebagai Islam tetapi melakukan hal hal yang sebetulnya tidak diajarkan, bahkan dilarang oleh Islam.“
Buya berhenti bicara. Terlihat beliau agak terbawa perasaan. Ibnu tahu bahwa gurunya sedang sangat risau. Risau melihat apa yang terjadi di tengah masyarakat yang semakin hedonis dan materialis. Hanyut di tengah arus modernisasi yang menggulung. Seolah mengikis akhlak dan budaya. Sementara orang-orang seakan kehilangan jati diri.
Melihat Buya menenangkan dirinya dengan diam, Ibnu pun diam. Dia dari tadi menyimak dengan penuh perhatian. Tanpa terasa, pelajaran yang diterimanya malam ini, yang dimulai dengan masalah yang sangat ringan, ternyata berujung kepada masalah yang sangat serius. Tiba-tiba Ibnu teringat, dia pernah mendengar ceramah Kiyai Ali pimpinan Pondok Nurulhidayah yang membahas masalah akhlak. Seketika terngiang di telinganya ucapan Kiyai Ali: ”Akhlaqulkarimah adalah perilaku terpuji yang dilandaskan atas iman dan taqwa. Tanpa iman dan taqwa, maka perilaku terpuji hanyalah sebatas budi pekerti, sebatas etika, dalam pergaulan antar manusia. Islam mempunyai konsep yang lebih dari itu.“
Ingatan Ibnu terus berkelana. Dia teringat sebuah riwayat dimana Siti ’Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah itu adalah Al-Quran. Artinya, dalam kesehariannya, beliau mengaplikasikan ajaran Al-Quran untuk diteladani oleh ummat. Beliau adalah seorang yang sangat pemaaf, sangat pemurah, dan sangat santun kepada semua orang. Kepada orang orang yang membenci, memfitnah dan memusuhinya, beliaupun selalu berlaku santun. Bahkan di dalam peperangan beliau juga menunjukkan akhlak yang baik.
Suasana malam yang hening dan dingin membuat Ibnu semakin hanyut dengan pengelanaannya. Dia seolah melupakan segala sesuatu, dia tidak lagi melihat Buya Nur. Di telinganya terdengar beruntun lantunan merdu ayat-ayat Al-Quran:
![]()
Jadilah pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Al-A’raaf, 7 : 199)

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kaum kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl, 16 : 90)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (An-Nahl, 16 : 125).

Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujaraat, 49 :12).

Hai anakku. Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang penting. (Luqman, 31 : 17).
Diluar gelap semakin pekat. Udara semakin dingin. Ibnu semakin diam. Semakin kecil. Semakin mengecil. Tiba-tiba Ibnu hilang. Hilang dalam diam dan sunyi. Dia seolah tiada. Yang ada hanyalah diam dan sunyi yang meliputi seluruh keberadaan. Kesunyian yang sangat teduh dan nyaman. Dia semakin dalam tenggelam dalam tafakurnya. Allahuakbar.
Syahril Bermawan.












May 27th, 2010 at 7:01 am
Subhanallah…. it’s an amazing story… ana sangat suka masakan negeri antum, specially padang and medan…. tapi baru kali ni ana dapat moral of the story behind masakan padang…hmmm… Big appreciation for the writer. I’ll be waiting for another journey of Ibnu… Wassalamu’alaykum.