(10) THE FOUR DIMENSION MEN

Posted on 16 May 2010 by Syahril Bermawan

Malam ini Ibnu kembali berada di Musholla Buya Nur. Dia sudah tidak sabar menanti penjelasan gurunya mengenai manusia dengan empat dimensi. Menurut Ibnu ini adalah merupakan salah satu tahap dalam perjalanan hidup, yaitu menjadi manusia berdimensi empat. Sementara menanti kehadiran Buya Nur, Ibnu merenung.

Dari penjelasan Buya sebelumnya, Ibnu sudah mengerti bahwa bagi manusia berdimensi dua dan bahkan tiga, dunia ini adalah sempit. Yang ada dalam wawasan kepentingan mereka adalah aku (kami, bila berkelompok), dan kamu (kelian, bila berkelompok). Tingkat kesadaran mereka rendah sekali.

Ibnu membiarkan imaginasinya berkelana untuk mengidentifikasi siapa siapa mereka ini di dalam masyarakat. Dia tersenyum manakala bisa menemukan beberapa contoh. Namun kemudian senyum Ibnu menjadi kecut, tatkala dia menyadari bahwa dirinya pun pada saat-saat tertentu juga berdimensi rendah. Pada saat saat tertentu egonya sangat dominan, tanpa menghiraukan kepentingan pihak lain. Misalnya dalam berkendaraan di jalan raya. Karena diburu waktu untuk segera sampai di tempat tujuan, Ibnu seringkali tidak mengindahkan keperluan orang lain. Bahkan kadang-kadang dia menyerobot jalan yang semestinya menjadi hak pengendara lain. Parahnya lagi, dia melakukannya tanpa merasa bersalah. “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang dhoif ini”, gumamnya menyadari kesalahan dan kekurangannya.

Dia melanjutkan renungannya. Tiba-tiba dia tersentak kaget, dan beristighfar. “Astaghfirullaah”, gumamnya. “Alangkah bodohnya aku. Aku telah tertipu karena egoku sendiri.” Ibnu teringat seringkali dirinya terlalu ambisius untuk mendapatkan posisi saf paling depan dalam shalat berjamaah di masjid. Adakalanya dia tidak menghiraukan jamaah lain. Bahkan jamaah lain yang lebih tua, yang pantas dihormati. Ibnu terobsesi dengan tujuan mengejar keutamaan saf paling depan. Obsesi ini membuat dia lupa, bahwa karena memang saf pertama ini mempunyai keutamaan seperti yang pernah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya, artinya dia harus bersikap perwira untuk memberikan keutamaan tersebut kepada jamaah lain, yang mungkin lebih pantas. Dalam rangka ikramulmuslimin seyogyanya dia mendahulukan saudaranya yang lain.

Rupanya dalam renungannya, Ibnu mendapat secercah pencerahan. Ketika dia menyadari kesalahan dan kekurangannya, dengan sejujurnya, maka pada saat itu Allah membukakan pintu ke arah kesadaran yang lebih tinggi. Sehingga dia bukan saja merasa bersalah ketika menyerobot hak orang lain, tetapi lebih dari itu, dia merasa bersalah dikala mendahulukan dirinya dalam mencari keutamaan untuk dirinya sendiri, tanpa menghiraukan orang lain.

“Ibnu, lagi mikiran apa?” Tiba tiba dia mendengar suara Buya Nur yang sudah hadir di depannya. Ibnu kaget dan tersipu. Sembari membenarkan duduknya agar lebih khidmat dikala berhadapan dengan gurunya, Ibnu menjawab, “Nggak ada apa apa Buya. Hanya teringat dengan orang orang yang berdimensi rendah seperti yang Buya jelaskan. Saya baru saja menyadari bahwa saya pun masih bersikap seperti mereka.”

“Alhamdulillah”, kata Buya Nur. “Dikala Allah memperlihatkan kepada seseorang kesalahan dan kekurangannya, maka berarti pada saat itu Dia membukakan pintu taubat dan menunjukkan jalan untuk peningkatan diri. Seorang hamba seyogyanya segera menangkap peluang ini dengan segera bertaubat, dan selanjutnya berjuang lebih sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas rohaninya”.

Ibnu merenungkan kalimat gurunya. “Jadi aku harus segera membersihkan diri, dan berjuang untuk meningkatkan kualitas rohaniku. Aku tidak boleh mensia-siakan kesempatan ini”, bisik Ibnu pada dirinya sendiri.

Buya Nur pun diam seolah memberikan kesempatan kepada Ibnu untuk memahami pelajaran yang baru saja disampaikannya. Dia merasa bahagia diberi amanah untuk membimbing seorang murid yang cerdas seperti Ibnu. Memang semenjak awal pertemuannya dengan Ibnu, Buya Nur sudah bisa membaca tanda tanda bahwa Ibnu seorang yang cerdas. Pada waktu bertemu dengan Ibnu di suatu masjid sehabis shalat Jumat, sekitar dua tahun yang lalu, Buya Nur memperoleh ilham untuk mengajaknya mampir ke musholla. Ya, firasat Buya Nur adalah firasat seorang mu’min.

Setelah agak lama sama sama berdiam diri, Ibnu memberanikan diri mulai bicara. “Buya”, katanya. “Mohon dijelaskan tentang manusia dengan empat dimensi Buya”, pinta Ibnu.

“Baik Ibnu”, jawab Buya. “Agar lebih mudah memahaminya, saya minta kamu mengingat kembali gambar yang dulu saya berikan kepadamu. Arahkanlah perhatianmu pada gambar mirip piramida yang berada pada sudut kanan bawah.”

Ibnu mencoba membayangkan kembali gambar yang pernah diterimanya dari Buya. Pada sudut kanan bawah ada gambar sebagai berikut:

“Nah Ibnu, beginilah kira kira bentuknya mereka yang berdimensi empat. Dalam kehidupannya. Mereka menyadari ada empat pihak: Aku, Kelian, Mereka, dan DIA. Kalau dilihat dari arah atas, maka gambarnya seperti yang ada pada pojok kanan atas.”

Ibnu membayangkan kembali gambar yang ada pada pojok kanan atas sebagai berikut:

”Ibnu, seperti kamu lihat, bagi orang berdimensi empat, ada satu pihak lain disamping tiga pihak, Aku, Kelian, Mereka. Yaitu . Dengan demikian, dalam berinteraksi dengan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari, acuan mereka yang berdimensi empat adalah Untung / Rugi, Kebaikan, dan satu lagi yaitu Ridho Allah. Mereka tidak mau hanya untung sekadar untung, atau kebaikan sekadar kebaikan. Tetapi semuanya itu harus memperoleh ridho Allah. Bahkan mereka siap untuk rugi asalkan itu mendatangkan ridho Allah. Bagi mereka kebaikan pun seakan tidak ada makna tanpa disertai ridho Allah.”

Ibnu berdiam diri. Dia menyimak baik baik penjelasan gurunya. Pelan-pelan kini mulai semakin jelas apa yang dimaksud gurunya dengan manusia berdimensi empat. Mereka adalah orang orang yang dalam berinteraksi dengan sesama selalu menjadikan Allah sebagai acuan utama. Orientasi mereka adalah ridho Allah.

Kemudian Ibnu membuka mushafnya. Dia mencari surat ke 28 ayat 77 seperti yang tertulis dalam catatan Buya Nur.

Al-Qashash (28) ayat 77:

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Sementara Ibnu membaca ayat tersebut dalam hatinya, Buya Nur berkata : “Ibnu, coba engkau nyaringkan suaramu membacanya, saya juga ingin mendengarnya.” Maka Ibnu pun mengulangi membaca ayat itu dengan suara lebih keras agar dapat didengar oleh gurunya.

Sampai pada bagian ayat yang terakhir, suara Ibnu bergetar. Dia teringat betapa banyak orang yang melakukan kerusakan di bumi, pembalak hutan, pembuat makanan yang mengandung zat berbahaya, pembuat dan pengedar narkotika, pemalsu obat, pembuat kabar bohong, pelaku adu domba, pemfitnah, dan lainnya perbuatan negatif, yang berarti melakukan kerusakan di bumi.

Buya Nur mengerti kalau Ibnu tersentuh dengan ayat yang barusan dibacanya. Ya, memang, siapapun yang membaca ayat tersebut dengan hati yang bening dan ingat kepada Allah, dapat dipastikan bahwa mereka akan tersentuh. Sentuhan yang akan menghanyutkan pembacanya dalam arus muhasabah.

Dan itulah yang terjadi pada Ibnu. Qalbunya tersentuh, sehingga suaranya bergetar. Selanjutnya Ibnu merasa seolah tidak sedang berada di depan Buya Nur. Dia merasa sedang berada di jalan raya, di pasar, di masjid, dan di lokasi bencana alam yang barusan terjadi, dan entah dimana lagi. Ya, Ibnu lagi hanyut dalam tafakkur dan tadabbur.

Buya Nur sangat faham apa yang sedang terjadi dengan Ibnu. Dia membiarkan Ibnu menyelami makna ayat tersebut lebih dalam. Pelan dan tenang, sebagaimana biasanya, Buya Nur bangkit berdiri dan berjalan menuju mihrabnya. Tak lama kemudian Buya Nur sudah tenggalam dalam munajah yang panjang. Sementara itu Ibnu seolah sedang menjelajah kawasan baru yang selama ini belum dikunjunginya. Tidak ada yang tahu entah berapa lama kedua orang itu, guru dan murid, akan tenggelam dengan keasyikannya masing-masing.

Depok, akhir Maret 2009

Syahril Bermawan.

*) Foto diambil dari http://www.iluvislam.com/v1/includes/jscripts/tiny_mce/plugins/imagemanager/library/umum/islamic/pray.jpg

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 459344Total dibaca:
  • 235500Total pengunjung:
  • 103Pengunjung hari ini: