(09) MEN OF THE LOWER DIMENSIONS

Posted on 12 May 2010 by Syahril Bermawan

“Ibnu. Engkau renungkan baik baik kedua ayat tadi. Insyaallah akan tersingkap kepadamu bahwa hidup di muka bumi ini betul betul tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan langit.” Itulah kata kata Buya pekan lalu sewaktu mengakhiri pertemuannya dengan Ibnu. Kedua ayat yang dimaksud adalah Surat As Sajdah (32) ayat 5, dan Surat Al-Ma’arij (70) ayat 4.

Sesuai dengan perintah gurunya, Ibnu mengulang-ulangi membaca kedua ayat tersebut. Satu hari di langit, sama dengan seribu tahun di bumi. Satu hari di langit, sama dengan limapuluh ribu tahun di bumi. Itulah kandungan kedua ayat itu yang menjadi fokus pemikiran Ibnu. Ibnu mencoba mencari maknanya. Buya Nur mengatakan bahwa kedua ayat tersebut akan menyingkapkan bahwa kehidupan dimuka bumi betul betul tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan langit.

Tiba tiba Ibnu merasa kaget. Sekelebat dia melihat kilatan cahaya yang menerangi jalan pikirannya. Ibnu menganggukkan kepalanya dan bergumam: “Subhanallah. Pantas Buya mengatakan kehidupan di muka bumi tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan langit.” Ibnu mencoba menyusun ulang jalan pikirannya yang baru saja mendapat kilatan cahaya yang menerangi. Dia mengambil kertas dan menulis catatan.

1 Hari Langit = 1.000 Tahun Bumi

Artinya kalau seseorang berusia 60 tahun, maka menurut hitungan waktu langit itu hanya sekitar 86 menit saja. Tidak sampai satu setengah jam.

Ibnu memperhatikan catatannya berulang-ulang. Seseorang yang menjalani kehidupan bumi selama 60 tahun, menurut perhitungan waktu langit itu tidak lebih dari satu setengah jam. “Ya Allah”, gumam Ibnu. “Alangkah sangat singkatnya kehidupan di muka bumi. Apalagi kalau dipakai hitungan 1 hari langit sama dengan 50.000 tahun bumi. Berarti orang yang hidup selama 60 tahun hanya setara dengan 1 menit 43 detik.”

Ibnu termenung lama. Dia merasa alangkah bodohnya manusia, bilamana menghabiskan umur dan semua potensinya hanya untuk keperluan duniawi yang sangat sangat singkat. Betapa banyak hal yang dikorbankan manusia untuk hidup yang sangat singkat. Alangkah bodohnya manusia bilamana lebih mengutamakan kenikmatan yang sangat sedikit dibanding dengan kenikmatan yang abadi di akhirat.

Ibnu melanjutkan perenungannya. Dia teringat ada banyak ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kehidupan akhirat. Bahkan ada ayat yang mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah senda gurau belaka, seperti yang disebutkan Allah dalam Surat Al-An’aam (6) : 32, dan Al-Ankabut (29) : 64. Selanjutnya Ibnu teringat beberapa ayat lain yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini sangat singkat:

Surat Al-Hajj (22) ayat 47:

Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Surat Ar-Ra’d (13) ayat 26:

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

An-Nisaa’ (4) ayat 77:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, Mengapa Engkau wajibkan berperang kepada Kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.

Al-A’laa (87) ayat 17:

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Al-Insaan (76) ayat 27:

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).

Al-Mu’miin (40) ayat 39:

Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.

Lama Ibnu merenung untuk meresapi makna ayat ayat ayat diatas. Ibnu merasakan betapa tololnya dia yang telah membuang-buang waktu untuk marah, kesal dan bahkan dendam atas kezhaliman yang pernah dialaminya dua tahun yang lalu. Dia merasa bersyukur telah diselamatkan Allah melalui pertemuannya dengan Buya Nur. Sekiranya bukan pertolongan Allah tentulah dia masih menyia-nyiakan umurnya dengan semua perasaan dan reaksi negatif itu.

Kemudian Ibnu teringat dengan orang orang yang berdimensi dua dan tiga yang pernah dijelaskan Buya Nur. Kembali terngiang di telinganya ucapan Buya Nur: “Ibnu, seperti dapat engkau lihat, mereka yang berdimensi dua dan berdimensi tiga, dalam berkiprah di tengah tengah masyarakat, yang menonjol adalah egonya. Mereka adalah kaum oportunis. Dalam segala keadaan mereka berusaha untuk mendapatkan keuntungan pribadi, walaupun dengan cara cara yang tidak benar. Mereka melupakan Allah. Seolah Allah tidak melihat dan tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Seolah Allah tidak pernah mengirimkan Kitab Pedoman, yang mengatur bagaimana seharusnya seseorang berkiprah di muka bumi ini.”

Ibnu semakin merasakan kebenaran kata-kata gurunya. Mereka yang berdimensi rendah itu adalah orang-orang yang mengutamakan dunia dan mengabaikan akhirat. Mereka itu bukan hanya oportunis, melainkan juga materialis, hedonis, dan jauh dari moral agama. Mereka adalah orang-orang yang berbuat atas dorongan hawa nafsu dan keinginan pribadinya untuk mendapatkan kemegahan duniawi. Seandainya mereka membaca ayat ayat yang menjelaskan betapa rendahnya nilai dan singkatnya masa hidup duniawi, tentulah mereka tidak akan tenggelam dalam keduniawian.

Sampai disini Ibnu teringat lagi dengan ucapan gurunya: “Ibnu. Saya kira sebagian besar di antara mereka itu adalah orang yang bisa membaca Alquran. Secara teknis mereka bisa membaca Alquran, The Guidebook from Heaven. Tetapi tanpa orientasi yang jelas, bacaan mereka tinggal sebagai kemampuan teknis semata. Seperti siswa kelas enam SD, yang disuruh membaca buku manual penggunaan dan perawatan sebuah mobil. Mereka pasti bisa membacanya, karena memang mereka sudah belajar membaca. Mereka bisa membacanya karena mereka tahu aksaranya. Nah, Ibnu, apakah yang dikatakan pembaca Alquran itu adalah orang yang kenal aksara hijaiyah? Yang tahu kaidah membaca, dan cara melafalkan masing masing huruf? Inilah Ibnu, problem kita.”

Kemudian Ibnu sadar, bahwa membaca menjadi kehilangan makna, kalau tidak diikuti dengan pemahaman atas apa yang dibaca. Sedangkan kefahaman itu, seperti pernah dikemukakan oleh Buya Nur, tergantung pada rezeki masing-masing. Rezeki yang akan diberikan Allah sesuai dengan kadar usahanya untuk mencapai kefahaman. Kalau seseorang hanya berpuas diri dengan sekadar membaca dan tahu, dan tidak berupaya untuk mencapai kandungan yang lebih dalam dari apa yang dibacanya, tentulah kefahaman tidak akan masuk ke dalam dadanya. “Alhamdulillah”, ucap Ibnu, “aku bersyukur, selama ini Buya Nur, guruku membimbing aku ke arah mencapai pemahaman bukan hanya sebatas pengetahuan.”

Malam semakin larut. Ibnu semakin hanyut dengan perenungannya. Samar-samar dalam hatinya muncul suatu kebimbangan. Dia merasa takut, jangan jangan dirinya adalah termasuk orang yang tidak diberi Allah rezeki kefahaman atas ilmu.

Ibnu bangkit berdiri untuk memperbarui wudhuknya. Wiridan satu juz Al-Quran setiap hari belum diselesaikannya. Tak lama kemudian bergemalah suara Ibnu melantunkan ayat-ayat suci. Sampai pada ayat 43 dan 44 Surat Al-Furqan (25), Ibnu berhenti sambil merenung:

Sudahkan engkau (Muhammad) melihat orang-orang yang menjadikan keinginan (hawa nafsu) nya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.

Merasakan betapa keras dan tajamnya sindiran Allah terhadap orang orang yang mempertuhankan keinginan hawa nafsunya, yang identik dengan manusia berdimensi dua dan tiga, Ibnu merasa lemas seluruh tubuhnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan memahami. Dan dalam penilaian Allah mereka hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih jelek lagi. “Naudzubillaah”, bisik Ibnu dengan khidmatnya.

Depok, medio Maret 2009

Syahril Bermawan

*) Foto diambil dari http://khaniseannisaa.files.wordpress.com/2009/09/depressed-13056.jpg

Share
Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Leave a Reply

 

 

  • Assalamu’alaikum.

    (09) KETIKA SEMUA BERJALAN MULUS SESUAI RENCANA, dan keinginan serta segala pinta seakan terpenuhi semua, sehingga diri merasa bagai hidup di sorga,  itulah saatnya kita mesti kembali ke moral agama. Ingatlah hidup bukanlah tanpa masalah, tanpa duka tanpa bencana. Karena Tuhan berjanji akan menguji hambaNya yang dicintai. Jangan-jangan apa yang diterima dan dialami adalah justru ujian dalam bentuk lain. Atau justru diberikan untuk membuat kita terbuai dan terpesona, merasa diri segala bisa dan serba kuasa, sehingga melupakan keberadaanNya. Inilah saatnya kita melakukan evaluasi diri, apakah Tuhan sudah demikian tidak menyukai, sehingga Dia enggan memberikan sedikit cobaan, tidak berkenan memberikan sekadar duka, membiarkan kita senantiasa sehat tanpa sakit. Jangan jangan semuanya adalah istidraj, yang akan membuat kita terpesona. Marilah evaluasi diri, apakah ada perbuatan kita yang tidak diridhoi. Ataukah ada rezki yang diperoleh dengan cara yang tidak syar’i. Karena memang harta yang diperoleh dengan cara yang haram sangat cepat menghalangi kita dari sayang dan ridhoNya. Janganlah sampai, sekadar menatappun Dia tak sudi. Adakah malang dan duka yang lebih dari ini? (SYB)

    Share


    (click here for view all BuyaNur Menyapa)

Announcement

 

 

Tag Clouds

Arahkan mouse ke tag di atas.

 

 

 

Follow Me

 

 

 

Statistik

  • 455792Total dibaca:
  • 233045Total pengunjung:
  • 277Pengunjung hari ini: