Sepekan telah berlalu semenjak Ibnu memaparkan hasil telahannya kepada gurunya. Buya Nur merasa senang atas kecerdasan Ibnu, muridnya. Sebuah catatan adalah bersifat pribadi. Catatan tidak sama dengan suatu tulisan yang mengungkapkan jalan pikiran penulis, untuk dibaca dan dimengerti oleh orang lain. Catatan adalah coretan coretan seseorang untuk mengingatkannya mengenai hal hal yang berada dalam pikirannya. Jadi ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebuah catatan bersifat subyektif dan personal, untuk kepentingan sendiri. Orang lain yang melihat cacatan seseorang mungkin saja akan membaca hal yang berbeda di balik catatan itu. Dan itulah yang terjadi pada Ibnu. Dia melihat dan membaca hal yang tidak dicantumkan Buya Nur. Sebaliknya Ibnu tidak bisa membaca hal yang justru tertulis di dalam cacatan Buya.
Malam ini Ibnu kembali berada di depan Buya. Ibnu memberanikan diri untuk mengatakan kepada Buya kesulitannya dalam menelaah catatan Buya mengenai dimensi-dimensi. Ibnu tidak banyak beralasan. Dengan terus terang dia mengakui ketidak mampuannya dan mohon agar Buya memberikan penjelasan. Ini adalah adab yang dipelajari Ibnu selama hampir dua tahun menjadi murid Buya. Seorang murid tidak sepantasnya banyak bicara di depan guru.
Buya Nur berdiri menuju rak bukunya. Dia membawa map yang dulu pernah diambilkan oleh Ibnu. Dari dalam map itu Buya mengeluarkan selembar kertas yang sama lusuhnya dengan kertas yang dulu. Buya memberikan kertas itu kepada Ibnu. Ibnu menerimanya dengan khidmat, tanpa bicara sepatah katapun.
Setelah diam sejenak, Buya Nur berkata: “Ibnu. Apa yang engkau katakan pekan lalu adalah benar. Alquran adalah buku panduan, the guidebook, bagi manusia bumi yang ingin mentransformasi diri menjadi manusia langit. Itulah sebabnya, yang pertama tama diajarkan adalah membaca Alquran. ”
Buya berhenti untuk menghirup sorbat kesukaannya. Kemudian melanjutkan: “Cuma sayangnya kita banyak yang kehilangan orientasi. Banyak guru-guru, apalagi murid dan juga orang tuanya, merasa sudah mempelajari Alquran kalau sudah pandai membacanya. Apabila sudah benar tajwidnya, sudah lurus makhrajnya, dianggap sudah pandai. Sudah khatam Alquran, katanya. Kalau di kampung kampung diadakan kenduri, kenduri khatam Alquran. Si anak yang khatam Alquran dan orang tuanya, merasa sudah diwisuda, sudah selesai. Semenjak itu praktis Alquran tidak lagi dipelajari. Hanya kadang kadang dibaca pada waktu waktu tertentu. Baru baru ini saya dengar, di beberapa daerah akan diadakan test baca Alquran bagi pejabat pemerintahan daerah. Nah ini gejala apa lagi. Semangatnya bagus, tetapi orientasinya tidak jelas. Saya khawatir, bilamana tidak dimaknai dengan orientasi yang jelas, jangan jangan hanya akan menambah deretan seremoni. Seperti pengambilan sumpah, yang terkesan sebagai seremoni tanpa makna. ”
Kembali Buya menghirup sorbatnya. Nampak beliau sedang berusaha mengendalikan perasaannya. Ibnu sudah terbiasa melihat, kalau wajah gurunya yang teduh itu beriak, berarti beliau sedang risau. Bagi orang lain mungkin sulit mendeteksi perubahan wajah Buya Nur. Tetapi tidak demikian dengan Ibnu. Dia sudah sangat mengerti bahasa tubuh gurunya.
“Tapi sudahlah Ibnu. Mari kita kembali ke pokok pembicaraan malam ini”, lanjut Buya sambil bersandar ke dinding Musholla. Buya Nur sudah dapat mengendalikan perasaannya dan kembali terlihat rileks.
“Sekarang mari kita lihat dimana kesulitanmu. Dalam gambar terdahulu, pada bagian bawah saya membuat catatan:
• Onward -> dimensi II -> Aku dan Kelian
• Upward -> dimensi III -> Aku, Kelian, dan Mereka
• God-ward -> dimensi IV -> Aku, Kelian, Mereka, dan DIA.”
“Manusia bumi yang menempuh jalan onward, dapat dikatakan manusia berdimensi dua, dengan pergerakan maju – mundur dan kiri – kanan. Dalam hubungan antar manusia mereka hanya mengenal dua pihak, yaitu Aku dan Kelian, yaitu dengan siapa sang aku berinteraksi. Tolok ukur utamanya adalah untung / rugi.”
“Sedangkan mereka yang menempuh jalan upward dapat dikatakan manusia berdimensi tiga, dengan pergerakan maju – mundur, kiri – kanan dan naik – turun. Dalam hubungan antar manusia mereka mengenal tiga pihak, yaitu Aku, Kelian dan Mereka. Jadi orang-orang ini dalam berinteraksi sudah memperhitungkan pihak ketiga (mereka). Artinya sudah ada semacam kepedulian sosial. Tolok ukur utamanya adalah untung / rugi dan kebaikan.”
“Adapun mereka yang menempuh jalan God-ward adalah manusia yang dapat dikatakan berdimensi empat. Dengan pergerakan maju – mundur, kiri – kanan, naik – turun, dan tambah satu lagi, yaitu bergerak ke arah Tuhan. Dalam hubungan antar manusia mereka mengenal empat pihak, yaitu Aku, Kelian, Mereka, dan DIA. Tolok ukur utamanya untung / rugi, kebaikan dan ridho Allah.”
Begitulah Buya Nur menerangkan dengan ringkas. Ibnu menyimak dengan sangat serius. Sedikit-sedikit dia mulai mengerti. Kini dia memperhatikan gambar yang barusan diberikan Buya. Di atas kertas yang sama usangnya, yang mungkin sudah lebih dari belasan tahun tersimpan, Ibnu melihat coretan gambar yang dibikin buya..

”Harap diingat Ibnu. Kalau saya mengatakan manusia berdimensi dua, tiga dan empat, itu yang saya maksud bukanlah orangnya. Yang saya maksudkan adalah kualitas spiritualnya. Jangan sampai engkau lupakan ini”, lanjut Buya.
Ibnu semakin mengerti. Sambil memperhatikan gambar yang ada di tangannya, dia berusaha untuk menyerap penjelasan Buya. Di luar hujan turun lagi. Udara terasa semakin dingin. Setelah meneguk sorbatnya, terlihat Buya menghirup napas dalam dan pelan. Dengan halus sekali Buya menghirup napas dalam dalam. Setelah ditahan sejenak, Buya mengeluarkan napas dengan sangat lembut dan pelan melalui kedua lobang hidungnya. Demikian pelan dan lembut, seolah Buya tidak sedang bernapas.
“Ibnu”, lanjut Buya. “Kamu pelajarilah gambar tersebut baik baik. Lihatlah apa yang ada di balik gambar itu. Suruhlah gambar itu berbicara. Jangan terpaku dengan penampakannya. Karena gambar itu hanyalah sebuah model, sebuah penyederhanaan.”
Buya berhenti bicara. Dia menerawang, melihat jauh keluar. Ibnu melihat sepertinya Buya sedang tidak hadir didepannya. Buya sedang kembali ke masa silam. Ke masa belasan atau bahkan mungkin puluhan tahun yang lalu, sewaktu beliau membuat coret-coretan di atas kertas itu. Mungkin Buya sedang teringat gurunya yang memberikan pelajaran yang sama kepada beliau.
Setelah agak lama terdiam, Buya kembali melanjutkan: “Sebagai sebuah model, gambar itu adalah penyederhanaan Ibnu. Persis seperti grafik demand dan supply yang dibuat oleh para ekonom. Engkau yang pernah belajar di Fakultas Ekonomi tentu tahu, bahwa transaksi antara penawaran dan permintaan yang sesungguhnya terjadi di pasar tidak sesederhana grafik itu. Tetapi grafik itu diperlukan untuk menjelaskan apa yang terjadi di pasar. Karena itu, engkau harus membaca apa yang ingin disampaikan gambar itu.”
Ibnu terdiam. Dia memang sudah menduga bahwa gambar gambar yang diberikan Buya kepadanya, bukanlah merupakan hal yang sederhana seperti kelihatannya. Karena itulah Buya menyimpannya selama bertahun tahun. Ibnu bisa merasakan bahwa bagi Buya gambar gambar itu mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan rohaninya. Dan sekaligus juga sebagai kenangan terhadap guru gurunya. Ibnu merasa sangat beruntung. Buya telah mempercayakan kertas lusuh yang sangat berharga itu kepadanya.
Tiba tiba Ibnu mengangkat kedua telapak tangannya. Dengan khidmat dia membisikkan doa: ”Ya Allah, tolonglah aku untuk memahami pelajaran yang diberikan guruku. Bimbinglah aku selalu, ya Allah, dalam menempuh perjalanan untuk mendekatkan diri kepadamu. Dan sayangilah guruku, ya Allah. Rahmatilah dia.“
Tanpa disadarinya air mata Ibnu berlinang. Dia merasa bahagia bercampur haru. Sementara itu Buya Nur sudah berada di mihrabnya. Malam semakin larut. Di luar hujan semakin lebat. Suara takbir Buya Nur seolah hilang ditelan gemuruh curahan hujan di atas atap musholla. Namun getarannya pasti sampai ke atas sana. Ibnu pun bangkit untuk qiyamullail.
Depok, medio Februari 2009
Syahril Bermawan
*) Foto diambil dari http://inapcache.boston.com/universal/site_graphics/blogs/bigpicture/ramadan_08_26/r04_20084049.jpg












May 17th, 2010 at 8:25 am
Terima kasih untuk blog yang menarik