“Wilayah BOC adalah wilayah manusia langit dimana terdapat jalan-jalan yang ditempuh oleh orang orang yang berorientasi akhirat. Inilah jalan bagi orang orang yang meyakini keberadaan hari akhir. Jalan yang ditempuh untuk menuju kepada Tuhan, Maha Pencipta, sumber segala yang ada, yaitu Dia, Pemilik dan Penguasa seluruh alam.”
Itulah hal pertama yang terbersit dalam pikiran Ibnu saat dia menelaah wilayah manusia langit. Sebetulnya Ibnu ingin Buya Nur menjelaskan mengenai wilayah ini. Tetapi pekan lalu, sebelum dia sempat menyampaikan permintaannya, Buya Nur sudah lebih dahulu menyuruhnya untuk mempelajari. Ibnu mencoba melakukan explorasi dengan mempergunakan segala yang sudah diketahui dan pernah dipelajarinya.
“Orang orang yang menempuh jalan yang berada di wilayah ini adalah mereka yang memperoleh pencerahan. Mereka yang dengan perkenan Allah telah keluar dari kegelapan menuju kepada terang benderang.”
Dalam gambarnya, pada bagian bawah terdapat catatan Buya Nur:
• Onward -> dimensi II -> Aku dan Kelian
• Upward -> dimensi III -> Aku, Kelian, dan Mereka
• God-ward -> dimensi IV -> Aku, Kelian, Mereka, dan DIA
Ibnu mencoba menelaah apa maksud Buya dengan catatan tersebut. Namun dia belum bisa. Apalagi dikaitkan dengan dimensi dua, tiga dan empat. Karena itu Ibnu meninggalkan bagian itu dan melanjutkan melihat bagian lain dari gambar Buya.
Sampai disini Ibnu serta merta teringat beberapa ayat Al-Quran yang nampaknya berkaitan erat dengan gambar Buya. Memang Buya menuliskan beberapa nomor surat dan ayat di dalam gambarnya. Tetapi Ibnu justru teringat ayat ayat lain yang belum tercantum.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim; 14 : 1)

Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan seizin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus (Al-Maa’idah; 5 : 16).

Dialah yang memberi rahmat kepadamu, dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman (Al-Ahzab; 33 : 43).

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (Al-Hadid; 57 : 9).
Setelah merenungkan arti ayat-ayat tersebut Ibnu merasa inilah yang dijadikan acuan oleh Buya dalam membuat gambar yang membagi wilayah manusia bumi dan wilayah manusia langit.
Selanjutnya Ibnu sepertinya melihat ada hubungan erat antara keluar dari kegelapan menuju kepada cahaya dengan kitab yang diturunkan Allah. Artinya Al-Quran adalah merupakan petunjuk untuk menuju cahaya. Dengan kata lain, seseorang yang ingin menuju cahaya, dimana berada jalan¬jalan yang ditempuh manusia langit, mau tidak mau mestilah mempedomani Al-Quran. “Oh ya, memang nama lain dari Al-Quran adalah Al-Huda, petunjuk”, gumam Ibnu.
Ibnu merasa kesimpulannya benar. Karena itu gambar yang telah dibikinnya pekan lalu dilengkapinya menjadi seperti berikut:

Artinya, manusia bumi yang akan men-transformasi diri menjadi manusia langit, haruslah dengan mempedomani Al-Quran, the guidebook from heaven. Alquran, kitab yang diturunkan dari langit, kitab samawi, untuk keperluan manusia secara keseluruhan. “Adalah sangat logis, kalau untuk melakukan perjalanan ke wilayah langit, kita memakai buku petunjuk dari langit”, ucap Ubnu pada dirinya sendiri.
Ibnu masih ingin melanjutkan pentelaahan. Dia ingin melanjutkan membaca ayat ayat Alquran yang nomor surat dan ayatnya dicantumkan Buya Nur. Namun catatan Buya mengenai dimensi II, III dan IV, membuat dia sangat penasaran. Dia belum mampu menelaahnya.
Ibnu termenung. Dia berpikir alangkah indahnya kalau saat ini dia bersama Buya, sehingga bisa ditanyakan langsung. Namun kemudian Ibnu teringat pesan Buya Nur: “Jangan memaksakan diri.” Nasehat Buya tersebut menjadi alasan yang sangat baik bagi Ibnu untuk menghentikan pentelaahannya. Dia mengakui terus terang ketidak mampuannya. Dengan demikian dia bisa meminta Buya untuk menjelaskannya.
Ibnu menyimpan kertas kertasnya. Dia bangkit untuk memperbaharui wudhuknya. Tak berapa lama kemudian segala sesuatu menjadi senyap. Tidak ada suara, tidak ada gerak. Semuanya hening dan diam. Sehening dan sediam sujud Ibnu.
Depok, awal Februari 2009
Syahril Bermawan.











